Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Pelengkap Hati.


__ADS_3

Stella berdiri di balkon kamar Xander, menatap keindahan malam dengan ditemani semilir angin yang sangat sejuk. Cukup lama Stella berdiri di sana hingga ia merasakan sesuatu yang hangat menempel punggungnya, disusul tangan kekar yang melingkar diperutnya.


"Xander?" ucap Stella terkejut dan langsung menoleh hingga wajahnya berdekatan dengan suaminya.


"Sedang apa disini?" tanya Xander menyandarkan dagunya dengan manja di bahu Stella.


"Hanya melihat pemandangan, kamu udah selesai?" tanya Stella kembali melihat langit malam yang bertaburan bintang.


"Ya, maafkan aku. Aku berjanji akan menyelesaikan ini dengan cepat," ucap Xander menghela nafas berat, saat ini banyak sekali yang harus di selesaikan nya.


Masalah perusahaanya belum juga tuntas, sekarang muncul lagi masalah baru. Xander harus menyelesaikan dulu masalah tentang Joana, karena ia merasa masalah itu akan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri nanti.


"Tapi apakah kau yakin dia tidak hamil anakmu?" Stella memberanikan dirinya bertanya, bagaimanapun juga ia tahu kalau suaminya ini pernah berhubungan dengan Joana.


Xander mengurai pelukannya, ia memutar tubuh Stella agar menatap dirinya. "Aku mungkin memang pernah melakukannya dengan Joana, tapi aku sangat yakin kalau aku selalu bermain aman. Jadi aku bisa pastikan kalau itu bukanlah anakku," ucap Xander lembut.


Stella mengigit bibirnya, meski perkataan Xander sangat lembut, namun tetap saja hatinya sangat sakit karena tahu suaminya pernah berbagi dengan wanita lain.


"Stella, aku benar-benar minta maaf. Aku tahu, aku tidak bisa mengulangi semua dari awal. Tapi aku akan memperbaiki semuanya, tolong maafkan kebodohanku ini," ucap Xander rasanya tak punya apapun yang bisa ia banggakan, rasa bersalah itu selalu menghantam dirinya hingga membuat hatinya luluh lantak.


Stella menghela nafas panjang sebelum mengangguk seraya mengulas senyum tipis.


"Jangan terus meminta maaf, sekarang yang harus kita lakukan adalah mencari bukti tentang Joana. Aku sangat mengenal Papa, dia bisa melakukan apa saja jika ada yang mengusik keluarganya," ucap Stella harus mencoba melupakan semua yang sudah terjadi, ini sudah menjadi pilihannya dan ia harus belajar ikhlas menerima semua takdirnya. Stella percaya, kalau rencana Tuhan akan lebih indah.


"Terima kasih sudah mengerti aku, maukah kau menemaniku melewati ini semua?" ucap Xander tersenyum haru, kenapa ia bisa menyakiti wanita yang memiliki hati begitu baik seperti ini.


"Pasti," ucap Stella balas tersenyum diiringi anggukan mantap.


Pandangan Xander melembut, perlahan ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Stella lalu ia mendekatkan dirinya. Stella memejamkan matanya saat Xander mencium bibirnya dengan lembut, tubuhnya sangat kaku karena hal ini cukup mengejutkannya.

__ADS_1


Xander tersenyum kecil di sela-sela ciumannya, Stella itu sangat polos sekali, hanya karena dia menciumnya saja, tubuhnya sudah gemetaran membuat Xander gemas hingga mengigit kecil bibir mungil itu lalu menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Stella.


Stella mulai kewalahan menghadapi ciuman Xander yang membabi buta, lututnya terasa lemas kalau saja Xander tidak merengkuh pinggangnya.


"Kita ke dalam," ucap Xander dengan hembusan nafas yang berat, terlihat sekali ia sudah sangat bergairah.


Xander langsung menggendong tubuh Stella lalu kembali menciumnya seraya membawanya wanita itu masuk. Dengan perlahan ia merebahkan Stella di kasur, sangat berhati-hati agar tidak menyakiti istrinya itu.


"Xander ..." ucap Stella lirih, tatapan matanya tampak begitu sayu seolah memanggil Xander untuk berbuat lebih.


Xander tersenyum melihat wajah Stella yang memerah menggemaskan. Ia kembali menyentuhkan bibirnya di atas bibir Stella, tangannya perlahan membuka satu persatu kain yang menempel di tubuh istrinya.


Namun saat Xander ingin berbuat lebih, tiba-tiba bayangan bagaimana dulu ia menyiksa Stella muncul di otaknya hingga membuat Xander tersadar dan melepaskan ciuman mereka.


"Maafkan aku ..." ucap Xander mengutuk kebodohannya yang tidak bisa mengendalikan diri.


Stella membuka matanya, ia malah terkejut karena Xander menyudahi aktifitasnya. Stella mengigit bibirnya, kenapa ia seolah tak rela jika Xander tidak melanjutkannya..


"Seharusnya aku bisa menjagamu. Kau pasti sangat lelah, kau juga sedang hamil. Kau harus banyak istirahat, aku akan keluar sebentar," ucap Xander mencium kening Stella lalu beranjak dari atas istrinya.


Stella mengerutkan dahinya, ia menatap Xander yang berjalan menjauh hingga lenyap dari pandangannya. Kenapa Xander tiba-tiba bersikap aneh seperti itu?


*****


Xander mencuci wajahnya berkali-kali. Lagi-lagi rasa bersalah itu muncul hingga ia tidak bisa menyentuh istrinya. Xander sangat takut akan melukai wanita itu lagi nanti. Jadi, ia memilih menghindar dulu untuk sementara. Lagipula apa yang dipikirkannya, Stella itu sedang hamil, tidak seharusnya ia melakukan hal seperti.


"Bodoh! Ada apa denganku sebenarnya," gumam Xander mengambil rokok dan menyalakannya.


Mulai saat ini, ia harus bisa mengendalikan dirinya. Meski hasratnya sudah ada di ubun-ubun, tapi ia tak boleh egois.

__ADS_1


Xander kembali ke kamar setelah malam cukup larut, dilihatnya Stella sudah meringkuk dibalik selimutnya. Pandangan Xander melembut, ia melangkahkan kakinya perlahan mendekati Stella.


"Maafkan aku, kau pasti sangat sedih karena ulahku," batin Xander mengusap lembut pipi Stella.


Xander menatap lekat wajah Stella yang sangat damai saat tertidur. Ia mengecup kening Stella perlahan sebelum ikut menyusul merebahkan dirinya di samping wanita itu.


"Kenapa memilih menghindar?" ucap Stella tiba-tiba membuka matanya membuat Xander terkejut.


"Stella? Kau belum tidur?" tanya Xander menarik dirinya hingga terduduk, Stella pun ikut duduk mengikuti.


"Kau belum menjawab pertanyaanku?" ucap Stella menatap Xander sedikit tajam.


"Apa yang kau pikirkan? Aku hanya ada sedikit pekerjaan tadi. Jangan berpikir apapun, ayo istirahat lagi," ucap Xander meraih bahu Stella agar wanita itu kembali berbaring.


"Sepertinya aku harus mengingatkan padamu Xander, apa tujuanmu memintaku kembali? Kau bilang ingin berubah? Tapi kenapa memilih menghindar? Kau ingin menutupi apa dariku?" kata Stella menepis pelan tangan Xander. Ia tampak kesal karena tahu jika Xander tidak berkata jujur.


Xander menghela nafas panjang. "Aku tidak ingin menyembunyikan apapun, aku hanya ingin menenangkan diriku saja," kata Xander menjelaskan.


"Menenangkan diri dengan menghindari ku? Sebenarnya kau anggap aku apa sih? Aku itu istri kamu, kenapa kau harus ragu untuk bercerita? Apa kau tidak percaya padaku?" cerca Stella dengan suaranya yang tegas.


"Iya aku bakal cerita. Sebenarnya ini bukan masalah penting. Kau tau bagaimana sikapku padamu dulu, aku takut jika aku akan memaksamu kembali, sudah itu saja Sayang. Jangan berpikiran aneh-aneh, Oke?" ucap Xander mau tak mau menjelaskan kepada Stella apa yang dirasakan.


Stella mengernyitkan dahinya, Xander takut akan melukainya lagi? Apa itu alasan pria itu tidak jadi menyentuhnya? Stella tak tahu apakah ia harus senang atau sedih. Ia senang karena artinya Xander benar-benar memikirkannya, tapi juga sedih karena Xander harus menekan perasannya.


"Lalu kenapa kau harus takut? Bukannya kau sudah berubah?"


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ygy ...


__ADS_2