
Devan merupakan pria yang pendendam, sedikit saja ada seseorang yang mengusik dirinya, ia pasti tidak akan langsung melepaskannya. Apalagi jika orang itu sudah berkhianat dibelakangnya, ia pasti tidak akan semudah itu memaafkannya meskipun orang itu menangis darah.
Pernah suatu ketika, ada seorang bawahannya dikantor yang ketahuan menggelapkan uang perusahaan. Devan langsung menghabisi seluruh keluarganya tepat didepan orang itu tanpa belas kasih sama sekali.
Namun, entah kenapa Joana merasa sebenernya Devan itu tidak sejahat itu. Semua orang pasti tidak terlahir jahat, tapi ada sesuatu yang merubah seorang Devan. Karena Joana pernah melihat wajah Devan seperti sedih saat malam-malam mereka bersama.
"Mega, hari ini aku sepertinya aku akan lembur. Apa kamu ingin ikut denganku?"
Pagi-pagi sekali, seperti biasa Devan meminta Joana membantu pria itu bersiap. Pria itu sudah memperlakukan Joana layaknya istri pada umumnya. Kini terlihat Devan menghampiri Joana yang duduk didepan meja rias.
"Ke kantor untuk apa? Bukannya akan sangat menganggu?" Joana menyahut singkat. Ia melirik Devan yang sudah berdiri disampingnya.
"Mana mungkin kamu mengangguku? Hari ini Felix akan datang, dia pasti kaget melihatmu," kata Devan seraya memutar kursi roda Joana agar menatap dirinya.
Joana sudah tahu apa maksudnya, Devan sedang memintanya untuk memasangkan dasi untuk pria itu. Joana melakukan saja, karena sudah biasa melakukannya. Ia masih berpura-pura baik untuk mencari celah agar bisa pergi dari cengkraman Devan.
"Felix itu siapa?" tanya Joana.
"Tidak mungkin kamu tidak mengenalnya, dia sahabatku," sahut Devan tersenyum manis, terlihat sekali ia dalam mood yang baik karena Joana kini lebih perhatian padanya.
"Sahabat?" Joana mengerutkan dahinya, terkejut sebenarnya jika orang seperti Devan memiliki sahabat.
"Ya, dia baru pulang dari Aussy setelah 2 tahun. Disini akan membuka bisnis baru," kata Devan lagi.
Joana mengangguk-angguk mengerti, ia sudah menyelesaikan simpulan dasi pada Devan.
"Sudah," ucapnya reflek saja mengelus dada pria itu karena merasa cukup puas dengan hasil simpulan dasinya.
Devan semakin mengembangkan senyumnya, ia menarik tengkuk Joana lalu mencium bibirnya sekilas.
"Terima kasih, ya," ucap Devan menyempatkan dirinya untuk mengusap pipi Joana sebelum berlalu.
Joana tersentak, ini bukan kali pertama Devan mencium bibirnya, tapi entah kenapa mendapatkan senyuman manis dan ucapan terima kasih yang tulus membuat Joana seperti merasakan sesuatu yang aneh.
'Oh ayolah, Joana. Jangan membuat hatimu terlalu murahan. Ingatlah, dia hanya seseorang yang sudah menghancurkan hidupmu.'
Joana menggelengkan kepalanya, ia harus membentengi hatinya dengan kokoh agar tidak goyah karena sikap manis Devan. Pria itu berbuat baik karena menganggap dirinya adalah Mega, tidak lebih dari itu.
________
Joana melihat semua karyawan yang menunduk begitu melihat Devan datang. Tadinya ia sempat terkejut melihat perusahaan besar yang dulu sering ia lewati adalah milik Devan. Kini ia tahu seberapa berpengaruhnya Devan dalam dunia bisnis. Joana juga yakin kalau kekuatan Devan pastinya tidak main-main. Ia harus mencari celah dan menyusun rencana sebaik mungkin agar bisa pergi.
"Selamat pagi, Tuan Devan dan Nona Mega." Satu persatu karyawan itu memberikan salamnya membuat Joana mau tidak mau membalas senyuman itu.
__ADS_1
Namun, sedetik kemudian ia terkejut saat Devan mencengkram bahunya dengan cukup kuat.
"Siapa yang mengizinkanmu tersenyum pada mereka?" bisik Devan, diiringi hembusan napas yang berat.
"Aku hanya tersenyum, apa salahnya?" Joana memandang Devan bingung, apa yang salah dari membalas senyuman karyawan itu.
"Sekali lagi kamu tersenyum kepada orang lain selain aku, aku pastikan hari ini terkahir dia bernapas."
Siapapun yang mendengar ucapan Devan pasti langsung merinding. Joana bahkan merasakan udara disekitarnya menipis. Ini semua bukan sebuah candaan, bagaimana bisa Devan membuat nyawa orang sebagai hal yang lumrah untuk diambil sewaktu-waktu.
Joana jadi takut jika tersenyum kepada orang lain. Ia akhirnya diam saja sampai mereka tiba di ruangan Devan.
"Ken, tinggalkan kami berdua," titah Devan dengan suaranya yang dingin.
Joana menggenggam tangannya sendiri, ia semakin merasa tidak enak mendengar perintah itu.
Begitu pintu tertutup, Devan langsung mendekati Joana. Pria itu tidak mengatakan apapun, tapi Devan menatapnya sangat tajam sekali.
"A-ada apa, Dev?" tanya Joana gugup.
"Aku benci melihatmu tersenyum dengan orang lain," kata Devan dengan kemarahan yang tidak ditutupi.
"Aku tidak bermaksud apapun, aku hanya merasa tidak enak jika tidak membalas sapaan mereka, aku-"
"Tapi aku punya mata, Dev. Bagaimana aku tidak melihatnya?" Joana memandang Devan tidak mengerti. Bagaimana bisa Devan begitu posesif seperti ini?
Devan bertambah geram, ia mengangkat tubuh Joana lalu menghempaskan wanita itu di sofa ruangannya dengan cukup keras.
"Akhhhhhhhhhhhh!" Joana memekik kaget, ia memandang Devan dengan matanya yang membulat sempurna.
"Kamu mau apa, Dev?" Joana panik, takut jika Devan akan melakukan hal itu padanya.
"Seharusnya kamu tahu apa hukumannya jika kamu tersenyum pada orang lain," desis Devan seraya melepaskan dasi dipakainya.
"Dev, aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Joana memasang wajah raut memohonnya.
Devan hanya diam, ia mendekati Joana lalu menutup mata wanita itu dengan menggunakan dasinya.
"Dev ...." Joana semakin panik, ia berusaha menggapai apa yang ada disekitarnya. Dalam keadaan mata tertutup seperti ini ia semakin takut sekali.
"Jangan lakukan apapun, Dev, aku benar-benar minta maaf," kata Joana memegangi tangan Devan yang masih mengikat dasi itu.
"Berhenti memohon seperti itu, aku tidak akan menghentikannya sebelum kamu sadar akan kesalahanmu." Pria itu kemudian menarik kedua tangan Joana keatas dan menindihnya.
__ADS_1
"Aku tahu, aku tahu aku salah. Aku tidak akan tersenyum kepada siapapun lagi selain kamu, Devan. Aku mohon jangan ...." Joana menggelengkan kepalanya, ia tidak mau lagi jika Devan menyentuhnya, semalaman saja Devan sudah membuatnya lemas, jika ditambah sekarang, Joana tidak akan sanggup lagi.
"Hmmmmm ...." Devan menyusuri telinga Joana dengan bibirnya yang basah, sesekali mengigit kecil cuping telinga itu hingga memerah.
"Devan!" Joana memekik pelan, ia mendorong pria itu menjauh. Entah kenapa ia selalu ingin menangis jika Devan menyentuhnya, menyadari
"Bahkan jika kamu pingsan sekalipun, aku tidak akan berhenti," ucap Devan sebelum pria itu mencium bibir Joana dengan panas.
Joana terus berontak, ia benar-benar tidak sanggup lagi rasanya. Pun hatinya yang selalu sakit setiap Devan menyentuh dirinya. Hubungan itu jelas salah, meskipun mereka sudah menikah, tapi Devan menikahinya sebagai Mega, bukan Joana.
"Devan, hentikan!" teriak Joana terus berontak dengan sekuat tenaga, ia menggunakan segala kekuatan yang ia punya hingga ia merasakan kakinya seperti bisa digerakkan tapi terasa nyeri. Padahal sebelumnya kakinya tidak pernah merasakan apapun.
"Arghhhhhhhh!" Joana memekik kesakitan, rasa nyeri itu seperti kram, tapi terasa lebih nyeri. "Dev, kakiku sakit," ucap Joana memberitahu, ia tidak bisa melihat Devan karena matanya tertutup dasi.
Devan menghentikan aktivitasnya, melirik kearah kaki Joana, ia baru akan menyingkir sebelum terdengar suara bariton yang masuk ke dalam ruangan.
"Selamat siang, Tuan Devandra Dawson. Apakah-" Ucapan pria itu menggantung tatkala melihat posisi Devan dan seorang wanita begitu tidak lazim.
"Ah seriously? Aku ingin memberikan kejutan, tapi aku yang mendapatkan kejutan. Wait, aku akan memutar tubuhku, kamu sedikit menggelikan." Pria itu berbicara luwes seraya memutar tubuhnya membelakangi Devan.
Pastilah ia terkejut karena melihat sahabatnya yang ia kenal begitu dingin kepada wanita manapun malah sedang begitu intim dengan seroang wanita.
Devan mendengus kecil, ia mau tidak mau melepaskan Joana dan membantu wanita itu merapikan penampilannya yang tadi sempat diacak-acak olehnya. Devan juga membuka dasi yang ia pasang pada Joana sehingga mata indah wanita itu terlihat.
Joana langsung menunduk, ia takut jika bertatapan langsung dengan mata hazel Devan yang menghanyutkan itu.
"Apakah sudah, bro?" Pria yang baru saja datang itu bertanya dengan gayanya.
"Kenapa datang tidak mengetuk pintu dulu? Aku pikir pesawatmu mendarat sore nanti," tukas Devan kesal, tapi tidak bisa marah pada sahabat baiknya itu.
Felix terkekeh-kekeh pelan, ia memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan sahabatnya yang sudah 2 tahun tidak ia temui.
"Hanya tidak bersua 2 tahun, tapi kamu sudah pikun, bro. Semalam aku sudah mengabarimu bukan?" Felix berjalan mendekati Devan, mereka saling berdiri lalu bergive five sebagai salam pertemuan.
"Kamu pikir dirimu begitu penting sampai aku harus mengingatnya?" kesal Devan.
"Hahaha, terlalu banyak wanita, maybe." Felix tertawa seraya mengangkat bahunya.
Pada saat itulah pandangan Felix tertuju pada sosok Joana yang diam di belakang Devan. Felix sangat syok hingga mundur ke belakang. Raut wajahnya pucat pasi seperti melihat hantu.
"Mega?"
__ADS_1