
Stella terbangun saat merasakan hawa dingin menyergap punggungnya. Ia membuka matanya melirik api unggun yang sudah padam. Ia lalu meraba-raba nakas untuk menyalakan penghangat ruangan, namun kepalanya tiba-tiba berdenyut sangat pusing.
"Argh ..." Stella mendesis pelan seraya bangkit dari tidurnya. Ia memegang kepalanya yang semakin nyeri seperti dipukul-pukul oleh ribuan gada.
Semakin lama bukannya reda, sakit kepala itu semakin menjadi-jadi membuat pandangan Stella berkunang-kunang. Ia memejamkan matanya erat menahan rasa nyeri itu, hingga ia merasakan sesuatu mengalir di hidungnya.
"Darah ..." gumam Stella panik, ia melirik Xander yang masih tertidur lelap.
Stella mencoba untuk berdiri, tapi kepalanya sangat sakit sekali hingga ia tak bisa menahan suara erangannya. Mendengar suara Stella, Xander jadi terbangun dari tidurnya.
"Stella?" panggil Xander dengan suara serak. Ia melirik ke arah luar yang masih gelap.
Stella semakin panik, ia memegang hidungnya menahan darahnya agar tidak keluar.
"Kau sudah bangun? Ini masih sangat pagi, tidur lagi saja," ucap Xander menepuk-nepuk bantal di sampingnya. Matanya masih lengket karena semalam baru saja lembur.
"Ya, aku mau ke toilet," ucap Stella cepat, ia menahan rasa sakit di kepalanya lalu mencoba berdiri dengan memegang erat selimutnya.
Xander mengerutkan dahinya, merasa aneh dengan tingkah Stella. Ia menunggu sampai istrinya itu kembali ke kamar. Perasaannya mendadak tak enak.
Di dalam kamar mandi, Stella memegang kepalanya erat, sakit itu luar biasa hebat hingga Stella tak bisa menahannya.
"Bertahan Stella, jangan membuat Xander khawatir ..." batin Stella memejamkan matanya erat, berharap bisa mengurangi sakit kepala itu.
Setelah cukup lama, sakit itu berangsur-angsur menghilang. Stella mencuci sekitar hidungnya yang meninggalkan bekas darahnya. Stella lalu menatap wajahnya di cermin, terlihat sangat pucat dan lelah. Mungkin karena cuaca yang tak biasa membuat penyakitnya kambuh.
Stella lalu mengambil sisir untuk merapikan penampilannya agar Xander tidak curiga. Tapi ia terkejut saat rambutnya yang rontok sangat banyak. Stella mengigit bibirnya, menahan tangis saat melihat hal itu.
"Jika memang aku harus pergi, setidaknya biarkan aku melahirkan anak ini Tuhan. Aku mohon beri aku umur panjang sampai hari itu tiba," ucap Stella menangis lirih, ia rela jika harus pergi, tapi setidaknya biarkan dia melahirkan anaknya.
"Stella!" panggil Xander mengetuk pintu kamar mandi karena Stella tak kunjung keluar.
"Ya?" Stella menyahut seraya mengusap air matanya cepat-cepat.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Xander cemas, tak biasanya Stella seperti ini.
"Ya aku baik, aku hanya sedang mandi By," sahut Stella menahan suaranya agar tidak menangis, kenapa selalu ada halangan untuk kebahagiannya.
"Kau yakin? Aku masuk ya?" ucap Xander masih tak percaya begitu saja, ia ingin membuka pintu tapi Stella menguncinya.
__ADS_1
Stella segera mencuci wajahnya lagi, ia lalu mengambil jubah mandi dan keluar kamar dengan kondisi yang sudah rapi. Dilihatnya Xander berdiri dengan wajah cemasnya.
"Are you okay?" tanya Xander memandang istrinya lekat-lekat.
"I'm fine, cuma habis mandi sekalian. Katanya mau lihat aurora," ucap Stella mengulas senyum manisnya agar Xander tak curiga.
"Kau yakin? Kau pucat sekali Sayang," Xander menyentuh lembut lengan Stella, ia melihat wajah wanita itu sangat pucat.
"Hawanya dingin banget by, makanya jadi gini. Mana api unggun nya mati tadi," kata Stella mencari-cari alasan.
"Aku akan menyalakan penghangat ruangannya dulu," kata Xander lupa jika semalam belum menyalakan penghangat karena larut dalam kesenangannya.
"Nggak usah, hubby mandi aja. Nanti nggak bisa lihat aurora kalau kelamaan," ucap Stella lagi.
"Baiklah, aku mandi dulu. Kau pakailah baju yang hangat, diluar cuacanya sangat dingin," ucap Xander mengelus pelan pipi Stella sebelum masuk kedalam kamar mandi.
Stella mengangguk seraya tersenyum tipis, ia bernafas lega karena Xander tak mencurigainya. Entah sampai kapan Stella bisa menyembunyikan penyakitnya ini, jika Xander tahu, entah apa yang akan terjadi nanti.
*****
Aurora atau cahaya kutub adalah fenomena alam yang menghasilkan pancaran cahaya yang menyala-nyala dan menari-nari di langit malam pada lapisan ionosfer dari sebuah planet sebagai akibat adanya interaksi antara medan magnetik yang dimiliki planet tersebut dengan partikel bermuatan yang dipancarkan oleh Matahari.
"Wow! Ini sangat indah By," Stella bersorak riang saat pertama kali melihat cahaya aurora.
"Kau senang?" tanya Xander memeluk istrinya dari belakang.
"Tentu, ini adalah momen yang paling menyenangkan dalam hidupku. Terima kasih by," ucap Stella memalingkan wajahnya lalu mencium pipi Xander.
Xander tersenyum kecil, ia lalu mengajak Stella untuk duduk di kursi yang sudah tersedia di sana. Ia meminta wanita itu duduk di pangkuannya lalu memeluknya erat.
"Suatu saat nanti, kau harus mengajak anak kita kesini," ucap Stella memandang lekat cahaya aurora yang indah.
"Kita, kita yang akan mengajaknya kesini bersama-sama," ucap Xander.
"Ya, semoga aku masih diberi umur panjang agar kita bisa melihatnya sama-sama nanti," ucap Stella lirih.
"Kenapa kau berkata seperti itu?" Xander menatap Stella dengan ekspresi tak suka.
__ADS_1
"Tidak ada, umur orang 'kan memang tidak ada yang tahu by," ucap Stella sekenanya.
"Stella, kau pernah mengatakan padaku kalau suami istri itu harus saling terbuka. Sekarang aku ingin kau menjawab pertanyaanku dengan jujur," ucap Xander memutar tubuh Stella agar berhadapan dengannya.
"Pertanyaan apa?" tanya Stella.
"Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku? Kau sedang sakit 'kan? Sakit apa? Kenapa kau tidak mau jujur padaku?" cerca Xander masih kepikiran soal ucapan Dokter Mazaya kemarin.
"Enggak by, memangnya aku sakit apa? Bukannya kau juga melihat kalau aku baik-baik saja," kata Stella membantah.
"Jangan bohong Stella! Katakanlah apa yang kau sembunyikan, kita bisa mencari solusinya sama-sama," ucap Xander menahan dirinya agar tidak membentak Stella.
"Ini sama sekali tidak seperti yang kau pikirkan Xander. Aku memang sakit, tapi tidak separah itu sampai kau begitu khawatir. Aku hanya harus cukup istirahat, itu saja," ucap Stella tak mau menatap wajah Xander yang sangat mencemaskannya. Biarlah dia menahan rasa sakit ini sampai anak mereka lahir nanti.
"Apa kau yakin? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" tanya Xander menarik dagu Stella agar menatap dirinya.
"Ya, belakangan ini kau sedang sibuk. Makanya aku belum memberitahunya. Selain itu tidak ada yang perlu dikhawatirkan by, aku baik-baik saja," ucap Stella dengan suara tegasnya.
"Sudahlah, jangan membahasnya lagi. Kita kesini mau liburan, bukan bertengkar," ucap Stella kembali mengalihkan pandangannya pada aurora yang indah.
Xander terdiam, kenapa perasaannya kalau saat ini Stella sedang berbohong. Pasti ada sesuatu besar yang Stella coba sembunyikan.
"Aku harus mencari tahunya,"
Happy Reading.
Tbc.
Hai gais, author mau kasih rekomendasi novel bagus nih ...
Mampir ya ke karya teman author ...
Jangan lupa tinggalkan jejak juga ya gengs ...
Judul : Wanita Satu Malam.
Author : Nana Shin.
__ADS_1