Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Tingkah Manja.


__ADS_3

Xander mengangkat wajahnya yang basah karena habis menangis. Ia menatap Mamanya bingung.


"Stella ada di dapur?" Tanya Xander dengan ekspresi kebingungan.


"Iya, dia sedang buat sarapan. Ya ampun, kamu sampek nangis kayak gini," ujar Mama Rita tertawa terpingkal-pingkal. "Stella! Sini Sayang," teriak Mama Rita memanggil menantunya itu, ia ingin Stella melihat tingkah random suaminya yang menangis hanya karena takut di tinggal Stella.


Mata Xander membulat sempurna, ia mengusap sisa air matanya dengan cepat. "Ma, Mama apaan sih? Kenapa manggil Stella," ucap Xander panik, ia tak bisa membayangkan bagaimana malunya dia nanti kalau Stella melihatnya menangis.


"Kenapa? Badan aja gede kamu, tapi tukang nangis," ucap Mama Rita semakin meledek Xander.


"Mama ..." Xander mendengus kesal karena Mamanya justru meledeknya.


"Ada apa Ma? Mama manggil Stella?" Stella tergopoh-gopoh dari dapur saat mendengar Mama mertuanya memanggil. Ia sempat mengernyit begitu melihat Xander juga berada di sana.


"Nggak ada apa-apa, ini suami kamu nyariin kamu sampai ..."


"Ya, aku mencari mu Sayang. Kenapa kau tidak membangunkan aku," Xander langsung menyela sebelum Mamanya selesai berbicara, ia langsung mendatangi Stella dan merengkuh tubuh mungil istrinya.


Mama Rita tersenyum geli melihat tingkah putranya yang sangat lucu itu. Xander sendiri memberi tatapan tajam pada Mamanya, pertanda jangan macam-macam.


"Eh, aku sedang memasak. Kau juga tidur sangat pulas tadi," ucap Stella merasa kikuk karena Xander memeluknya di depan Mama Rita.


"Kenapa harus memasak. Itu bukan tugasmu," ucap Xander menggelengkan kepalanya, tak setuju jika istrinya harus memasak.


"Tidak apa-apa, aku akan membuatkan sarapan untukmu. Hari ke kantor nggak?" Tanya Stella seraya melepaskan pelan pelukan Xander, bukan masalah apa, ia hanya risih jika Xander mengumbar kemesraannya seperti ini.


"Maunya sih enggak, tapi di kantor banyak kerjaan. Ayo, kamu bantuin aku dulu," ucap Xander menarik lembut tangan Stella, membawa wanita itu kembali ke kamar.


"Eh, tapi aku belum selesai membuat sarapan Xander," kata Stella menatap Mama Rita dan Xander bingung.


"Tidak perlu memasak Sayang, urus saja bayi besar itu," ucap Mama Rita kembali meledek Xander.


Xander mendengus sebal, kalau saja wanita itu bukan Mamanya, ia pasti sudah memakinya habis-habisan. Tanpa menggubris ledekan Mama Rita, Xander tetap membawa Stella kembali ke kamar.


"Sini Sayang ..." ucap Xander mengajak Stella duduk di ranjang.


"Kamu ini kenapa sih?" Tanya Stella heran, ia tetap berdiri di hadapan Xander karena merasa tingkah Xander ini berbeda.

__ADS_1


"Memangnya aku kenapa? Aku masih kangen sama kamu," kata Xander dengan santai malah memeluk pinggang Stella seraya mencium perut Stella.


"Semalam kan kita sudah bersama," ucap Stella tersenyum kecil, ia mengelus rambut Xander dengan lembut.


"Kau pikir rindu yang aku tahan selama ini bisa langsung hilang dengan waktu semalam?" Ucap Xander mengerutkan dahinya.


"Ya, tapi kan masih banyak waktu Xander." Ujar Stella mencoba membuat Xander mengerti.


"Ck, kau tidak rindu denganku ya?" Xander berdecak seraya melepaskan pelukannya.


"Bukan seperti itu,"


"Sudahlah, kau memang tidak mencintaiku. Kau tidak rindu denganku," ucap Xander tiba-tiba ngambek dan memilih membelakangi Stella. Ia menjambak rambutnya sendiri karena kesal, kenapa Stella menolak saat ia ingin bermesraan, apa wanita itu tidak tahu apa yang dirasakannya.


Stella mengerutkan dahinya, Xander ini terkadang bisa sangat galak hingga membuat lawannya ketakutan, namun ternyata Xander memiliki sisi manja yang sangat lucu.


Stella tersenyum, ia mendudukkan tubuhnya lalu memeluk tubuh tegap suaminya dari belakang.


"Sabarlah, kita akan selalu bersama nanti, bukankah aku sudah kembali padamu?" Ucap Stella menempelkan pipinya di punggung suaminya, perlahan ia membujuk suaminya yang ngambek bak anak kecil yang tidak di beri permen.


Xander hanya diam saja, rasanya ia benar-benar tak rela jika harus berjauhan dengan Stella.


"Boleh mengulanginya sekali lagi?" Ujar Xander menatap Stella sendu.


"Apa? Kau memintanya lagi?" Stella membulatkan matanya terkejut.


Xander mengangguk cepat-cepat, melihat penampilan Stella yang acak-acakan dengan rambut di cepol ke atas, entah kenapa membuat jantung Xander berdetak kencang. Apalagi ia melihat tanda merah yang sempat di tinggalkannya semalam, membuat Stella terlihat semakin seksi.


"Tapi ini masih pagi," kata Stella mencari-cari alasan.


"Tidak ada larangan untuk melakukannya pagi hari 'kan?" Ucap Xander jelas memiliki seribu satu cara untuk membuat Stella mati langkah.


Stella hanya bisa pasrah saat Xander kembali menyerangnya dengan ciuman yang memabukkan. Ia lama-lama juga ikut terbawa suasana dengan permainan yang diciptakan Xander.


"Xander ..." Stella men de sah lirih.


"Sekarang ya?" Ucap Xander mengangkat wajahnya dari keranuman bukit kembar Stella.

__ADS_1


Stella tak menjawab, namun Xander tahu jika istrinya sudah siap untuk dimasuki. Ia segera melakukan ritual wajibnya, namun saat baru saja setengah, tiba-tiba pintu kamar mereka di ketuk dari luar.


Tok Tok Tok Tok.


"Stella! Tolong bantu Mama sebentar!" Teriakan Mama Rita terdengar membuat Stella panik dan mendorong Xander dengan keras.


Xander tetap bertahan, ia tak akan membiarkan juniornya yang baru masuk setengah lepas begitu saja.


"Xander! Lepas! Itu ada Mama di luar," ucap Stella melotot karena Xander tak mau melepaskannya.


"Biarkan saja, ini sangat tanggung Sayang," ucap Xander bisa gila kalau tidak segera menuntaskan hasrat yang sudah di ubun-ubun.


"Nanti saja, aku temuin Mama dulu," kata Stella tetap kekeh ingin menyudahi aktivitas itu.


"Stella! Sayang, apa kau mendengar Mama?" Suara Mama Rita kembali terdengar.


Xander berdecak kesal, tak menggubris Mamanya yang berteriak-teriak, ia langsung memeluk Stella dan mendorong kembali miliknya hingga terbenam sempurna.


"Xander!" Stella menahan pekikannya di bahu suaminya.


"Aku janji akan sebentar, cepat jawab nenek tua itu. Dia sangat berisik," kata Xander memandang Stella dengan raut wajahnya yang memohon.


Stella mendengus kesal, ia mau tak mau mengikuti perintah Xander. "Stella dengar Ma! Stella akan kesana sebentar lagi," teriak Stella lagi.


Xander tersenyum puas, ia mencium pipi Stella dengan gemas. "Anak manis," ucap Xander.


"Ck, kau benar-benar keterlaluan!" Ujar Stella mencubit kesal lengan Xander.


"Kau memang susah di tolak," ucap Xander tersenyum sebelum me lu mat kembali bibir merah Stella.


Pagi itu Xander kembali mengulangi kegiatan yang sama seperti semalam. Malah menurut Stella, Xander semakin menggila. Cuaca yang setengah mendung seolah mendukung pergumulan panas mereka. Dengan mata yang saling memandang dan bibir sesekali saling bertaut, mereka bersama-masa mencapai kepuasan surga duniawi yang indah.


Happy Reading.


Tbc.


Hai guys, ketemu senin lagi ...

__ADS_1


Jangan lupa bantu dukungan like, komen dan votenya yang guys ...


Happy Monday ...


__ADS_2