Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Fakta Baru.


__ADS_3

Xander mendatangi sebuah restoran yang berada di mall pusat kota Jakarta. Ia berniat mengunjungi salah satu investor yang sudah membuat janji temu dengannya. Saat ia melewati sebuah outlet pakaian, netranya tak sengaja menatap sosok wanita yang ia kenal. Wanita itu kini terlihat berbincang dengan seseorang.


Wanita itu tak lain adalah Mama Joana dan Bibi Tania, mereka sepertinya sedang berbelanja. Awalnya Xander tak begitu peduli, namun tiba-tiba saja Bibi Tania keluar dari outlet pakaian itu. Ia tampak menerima panggilan telepon dan ekspresi wajahnya terlihat berubah.


Entah dorongan dari mana yang membuat Xander melangkahkan kakinya untuk mengikuti Bibi Tania.


"Tuan, Anda akan kemana?" ujar Luke menahan Xander yang ingin pergi.


"Kau duluan saja," ucap Xander tetap melanjutkan langkahnya membuntuti Bibi Tania.


Wanita itu terlihat tergesa-gesa membuat Xander semakin curiga. Ia memilih berdiri tak jauh di belakang Bibi Tania, namun jangan sampai terlihat.


Bibi Tania menemui seorang pria yang mengenakan topi hitam. Xander tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, karena posisinya yang tertutup pilar.


"Untuk apa lagi kau menemui ku? Bukankah kemarin sudah aku transfer uangnya?" Sentak Bibi Tania menatap geram pria di depannya itu.


"Uangnya sudah habis, kau tahu sendiri bagaimana kebutuhanku. Sekarang kirimkan lagi uang itu padaku," ucap pria itu terlihat tak sabar.


"Tidak akan, berhentilah menggangguku lagi Alex, aku sudah memberikan apa maumu," ucap Bibi Tania sangat kesal sekali.


"Baiklah kalau kau tidak mau memberiku uang, jangan salahkan aku, jika nanti aku membongkar semuanya kepada Kakakmu," ucap Alex mengancam membuat Bibi Tania semakin geram.


"Kau pikir aku takut? Semua yang kau lakukan itu sama sekali tidak berguna. Sekarang Joana justru semakin menderita gara-gara kau!" Tukas Bibi Tania menunjuk batang hidung Alex.


"Aku tidak peduli, jika kau tidak segera memberi uang maka aku akan mengadukan semuanya," ujar Alex beranjak pergi meninggalkan Bibi Tania, namun wanita itu dengan sigap menahan tangannya.


"Kau semakin kurang ajar sekarang, katakan berapa yang ku butuhkan?" ucap Bibi Tania mau tak mau menuruti keinginan Alex karena saat ini pria itu memegang kartu AS nya. Ia tak akan membiarkan semua rahasia yang ia tutup rapat akan terbongkar sia-sia.


"Cukup kirimkan aku 20 juta, untung kalau kau memberiku bonus," ucap Alex tersenyum puas.


"20 juta? Kau gila ya? Kemarin kau baru saja meminta 50 juta, kenapa sekarang meminta uang sebanyak itu?" ucap Bibi Tania tak habis pikir kenapa dalam semalam Alex bisa menghabiskan uang sebegitu banyaknya.

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu, cepat transfer saja kalau kau tidak ingin aku mengatakan kepada Tuan Medison jika kau yang telah menjebak Putrinya," sergah Alex sangat tak sabar sekali rasanya menghadapi kecerewetan Bibi Tania.


Bibi Tania mengertakan giginya geram, saat ini posisinya sangat sulit. Alex yang ia pikir bisa diajak kerjasama, nyata terus memo roti dirinya. Bibi Tania tentu tak ingin sampai semua apa yang dilakukannya itu menjadi sia-sia, jadi ia harus terus membungkam mulut Alex dengan uang. Tapi sekarang ia rasa sudah sangat muak dan ingin sekali melenyapkan pria itu.


"Ini, aku sudah mentransfernya. Jangan menemui ku lagi!" Ujar Bibi Tania dengan nada sangat ketus.


"Tergantung nanti, Tania … Tania kamu memang tidak berubah sejak dulu, aku jadi semakin cinta denganmu," ucap Alex mencubit dagu Bibi Tania.


Bibi Tania segera menepisnya kasar. "Jaga sikapmu!" ucap Bibi Tania memperingatkan Alex lalu pergi meninggalkan pria itu.


Xander yang berdiri di sana sejak tadi tentu mendengar jelas apa yang diucapkan oleh mereka berdua. Ia segera bersembunyi saat Bibi Tania lewat, tangan Xander tampak mengepal erat dan ekspresi wajahnya terlihat begitu emosi. Jadi Bibi Tania yang sudah menjadi otak dibalik terjebaknya ia dan Stella.


Xander tentu sangat terkejut mendengar kenyataan ini, ia berpikir kenapa Bibi Tania bisa melakukan hal sekejam itu. Padahal Joana dan juga Stella adalah keponakannya sendiri. Xander sekarang menduga jika ada sesuatu besar yang disembunyikan oleh Bibi Tania.


"Aku harus segera menyelidikinya," batin Xander menatap punggung Bibi Tania yang perlahan menjauh.


"Kau sudah menghancurkan hidupku dan juga Stella, maka aku akan pastikan hidupmu juga akan hancur, Bibi," batin Xander berubah menatap Bibi Tania penuh dendam.


Apalagi Bibi Tania juga pernah mengatakan padanya kalau Stella lah yang sudah menabrak ibunya dulu hingga menyebabkan ibunya terluka parah.


*****


Bibi Tania masih terlihat begitu kesal sampai ia menemui kakaknya lagi. Alex yang baru saja menemuinya tadi adalah mantan kekasihnya dulu. Namun hubungan mereka kandas karena ia menolak saat pria itu ingin menikahinya.


Alasannya tentu saja uang, saat itu Alex tidak mempunyai pekerjaan yang jelas dan Bibi Tania tak ingin hidup susah. Jadi ia memutuskan untuk tidak menikah dan terus tinggal bersama kakaknya Melisa.


"Kamu dari mana?" tanya Melisa ( Mama Joana)


"Aku habis mengangkat telepon," ujar Bibi Tania berbohong.


"Apa masih ada lagi yang ingin kau beli? Jika tidak, ayo kita pergi, aku ingin menemui Joana. Sudah beberapa hari ini dia tidak pulang ke rumah, aku jadi mencemaskannya," ucap Melisa mencemaskan putrinya yang sangat jarang pulang akhir-akhir ini.

__ADS_1


"Tidak, aku sudah tidak membutuhkan apapun. Kita langsung ke tempat Joana saja," ucap Bibi Tania juga sudah merindukan keponakannya itu.


Mereka berdua lalu pergi meninggalkan mall dan langsung menuju unit Apartemen Joana. Sebenarnya Mama Melisa sudah melarang Joana untuk tinggal di sana, tapi putrinya itu mengatakan kalau tempat tinggalnya saat ini cukup dekat dengan kantor jadi memudahkan jika sewaktu-waktu ada panggilan pemotretan.


Mereka langsung memencet bel pintu Apartemen Joana. Namun tidak ada sahutan dari dalam. Cukup lama mereka menunggu, tidak ada tanda-tanda Joana akan keluar atau menyahut. Akhirnya mereka memutuskan untuk langsung masuk ke dalam. Tapi, mereka terkejut saat melihat Marvin yang tiba-tiba saja keluar dari dalam sana.


"Marvin? Ngapain kamu disini?" Tanya Mama Melisa terkejut melihat keberadaan Marvin di sana.


Marvin pun tak kalah terkejutnya melihat kedua orang itu, ia segera menormalkan ekspresi wajahnya yang semula tampak begitu kesal dan panik.


"Iya tante, aku tadi ada sedikit pekerjaan bersama Joana. Sekarang aku mau pulang dulu, permisi" kata Marvin terburu-buru pergi.


Mama Melisa dan Bibi Tania saling pandang, merasa sikap Marvin sangatlah aneh. Namun mereka tak ingin memikirkannya dan memutuskan untuk langsung masuk ke dalam Apartemen Joana.


Tidak ada tanda-tanda Joana terlihat di ruang tamu atau di ruang tengah, Apartemen itu sangatlah sepi. Mama Melisa memutuskan untuk melihat putrinya ke dalam kamar yang ternyata pintunya tidak terkunci. Jadi Mama Melisa bisa melihat kondisi kamar Joana yang sangat berantakan.


"Joana …" panggil Mama Melisa tiba-tiba merasa begitu khawatir.


Ia langsung masuk ke dalam dan kembali dikejutkan dengan melihat tubuh putrinya yang tergeletak di lantai dengan bersimbah darah.


"Joana!" Mama Melisa berteriak terkejut dan tangisnya seketika pecah melihat Joana yang tak sadarkan diri dengan darah yang menggenang di bawah kakinya.


"Apa yang terjadi, Kak?" Ujar Bibi Tania tak kalah terkejutnya.


"Cepat panggilkan ambulance!" perintah Mama Melisa sangat panik sekali, ia sedikit bernafas lega saat masih bisa merasakan denyut nadi dari Joana.


Bibi Tania bergerak cepat, ia segera mengambil ponsel dan menghubungi pihak rumah sakit agar datang ke tempat Joana. Sedangkan Mama Melisa memangku kepala putrinya dan tak henti menangis karena melihat wajah Joana yang sangat pucat. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada putrinya hingga bisa seperti ini.


"Bangun sayang … bertahanlah," ucap Mama Melisa menciumi rambut Joana, sangat berharap putrinya itu baik-baik saja.


Happy Reading.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2