Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Kejutan Kecil.


__ADS_3

Xander baru pulang kerja, ia keluar dari kantornya saat hari sudah cukup malam. Seharian ini tak berbeda jauh dari hari kemarin, ia sering uring-uringan dan perutnya terasa tak enak. Xander merasa ingin secepatnya pulang dan bertemu Stella, sudah itu saja.


Namun alih-alih dia akan pulang ke rumah Stella, sudah dari siang tadi Joana menghubunginya meminta ia datang ke Apartemen wanita itu. Joana marah karena semalam ia tidak menginap,  meski ia sudah menjelaskannya tapi tetap saja wanita itu masih marah.


"Sayang, akhirnya kau datang juga," Joana langsung menghambur ke pelukan Xander begitu pria itu datang ke Apartemen.


Xander hanya tersenyum kecil, ia membalas pelukan itu namun entahlah kenapa rasanya hanya biasa saja, ia tak merasa senang atau bagaimana.


"Kau masak apa hari ini? Aku sangat lelah sekali," ucap Xander melepas dasi yang terasa mencekik lehernya.


"Aku tidak masak, kalau kau lapar aku akan memesankan untukmu, sebentar," kata Joana mengambil ponselnya.


Xander terdiam, ia menatap Joana dengan serius. "Aku sedang tidak ingin makanan luar, buatkan saja aku nasi goreng seperti yang kau buatkan dulu, aku menyukainya," ucap Xander.


"Nasi goreng? Yang benar saja Xander, kau tidak lihat kuku ku baru saja aku cat, nanti bisa rusak. Lagipula aku tidak suka bau bawang, aku pesankan saja ya," kata Joana menunjukkan kuku jarinya yang cantik kepada Xander.


"Bukankah kau sudah biasa memasak? Kau mengatakan itu padaku dulu," ucap Xander mengerutkan dahinya, seingatnya Joana dulu mengatakan kalau sering memasak sendiri, bahkan Joana sering membuatkannya nasi goreng dulu.


"Ya itu dulu, aku sekarang lagi tidak ingin memasak," tukas Joana dengan gaya malasnya, yang benar saja dia harus memasak. Dari dulu ia sangat anti dengan yang namanya dapur.


Untuk masalah nasi goreng itu juga bukan Joana yang membuat, melainkan Stella yang diam-diam sering menitipkan makanan kepada Joana, namun ketika Xander mengatakan kalau makanan itu enak, Joana sengaja mengakui masakan itu buatannya.


"Kalau begitu sekarang belajarlah memasak, aku tidak terlalu suka makanan luar, Stella …"


"Kenapa malah Stella? Oh aku tahu, kau jadi begini karena Stella sering memaksakan mu makanan enak 'kan? Apa aku sudah mulai luluh karena masakannya dan ingin membandingkan dia denganku?" sergah Joana langsung naik darah saat Xander menyebut nama adiknya.


"Bukan seperti itu, aku hanya …"


"Hanya apa? Sudahlah Xander, kalau kau memang mencintainya kembalilah padanya, jangan mencari ku lagi," tukas Joana tak mau lagi mendengarkan perkataan Xander, ia buru-buru masuk kedalam kamar dan membanting pintunya dengan keras.

__ADS_1


Xander mengusap wajahnya kasar, selalu saja begini. Hari ini dia sangat lelah dan ingin istirahat, tapi Joana malah bertingkah seperti ini.


"Joana, dengarkan aku dulu. Aku tidak bermaksud mengatakan hal itu, maafkan aku" Xander menyusul Joana ke dalam kamar.


"Untuk apa meminta maaf? Kau tidak salah," ketus Joana melipat tangan di atas perutnya.


"Aku salah, aku salah karena menyebut nama wanita itu. Maafkan aku, aku tidak akan memaksamu untuk menjadi pintar memasak. Jangan marah ya," ucap Xander mengelus lembut rambut Joana. Selalu saja siklusnya seperti ini, Joana marah dan dia yang selalu mengalah meski ia tak merasa bersalah. Ia hanya tak ingin menyakiti wanita yang dicintainya ini.


"Benarkah?" kata Joana tersenyum sedikit.


"Iya, tidak perlu memasak untukku. Aku akan mandi, hari ini aku benar-benar lelah, kau istirahat saja." Kata Xander tersenyum sedikit sebelum beranjak untuk membersihkan dirinya.


Joana balas tersenyum, namun senyuman itu terlihat cukup sinis. Sepertinya ia sudah sangat berhasil membuat pria itu bertekuk lutut dengannya.


Setelah membersihkan dirinya, Xander ingin langsung tidur, kepalanya mulai pusing dan ingin secepatnya menyentuh bantal.


"Aku tidur dulu, besok bangunkan aku pagi-pagi," ucapnya mencium kening Joana sebentar lalu merebahkan dirinya.


Joana merasa kalau Xander sepertinya memang mulai berubah, Joana lalu ikut merebahkan dirinya, ia mendekatkan dirinya kearah Xander dan mencoba menggoda pria itu dengan membuka kancing piyama miliknya, namun Xander dengan sigap langsung menangkap tangannya.


"Sayang, jangan sekarang," ucap Xander tersenyum sedikit kepada Joana.


"Kenapa?" ucap Joana dengan tatapan sendunya.


"Aku sangat lelah, besok ya," ucap Xander mencium kening Joana.


Joana terdiam, ia mengangguk singkat. Sekarang Joana yakin kalau Xander memang sudah berubah, tatapan pria itu jelas berbohong, tapi Joana tak ingin berdebat dan memancing emosi Xander. Ia harus menggunakan cara lain yang lebih cantik.


"Sepertinya memberikan kejutan kecil untuk Stella sangat menyenangkan,"batin Joana tersenyum puas saat menemukan ide gila di kepalanya.

__ADS_1


*****


Stella terbangun pagi-pagi sekali, sebenarnya semalam tidurnya tidak terlalu nyenyak karena tak sabar ingin segera mengetahui bagaimana hasilnya.


Stella segera membawa testpack itu ke kamar mandi, jantungnya berdetak kencang ia akan mencoba menggunakan test itu. Ia berharap, semoga hasilnya sesuai keinginannya. Dan ternyata …


Dua garis merah? Itu artinya dia benar-benar hamil?


Stella menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca ingin menangis, akhirnya Tuhan mewujudkan keinginannya. Sekarang ada bagian Xander yang menyatu dalam dirinya.


"Kamu sudah tumbuh diperut Mama, sehat-sehat ya sayang …" batin Stella mengelus perutnya yang masih rata. Rasa bahagia yang membuncah membuat air mata Stella tak terbendung lagi. Benar-benar sebuah kabar yang membuat hatinya sangat senang.


Stella segera membersihkan dirinya, ia ingin memeriksakan kandungannya dan Stella sangat tak sabar menunggu Xander pulang, ia ingin pria itu yang pertama kali mendengar kabar kehamilannya.


Tepat pukul 8 pagi, Stella sudah selesai bersiap-siap, tak selang berapa lama ia mendengar derap kaki yang melangkah.


"Itu pasti Xander," gumam Stella tersenyum manis.


Dengan langkah kaki ringan, Stella berjalan menuju ruang tengah bersiap untuk menyambut kedatangan suaminya. Namun saat ia baru saja sampai di ambang pintu, kakinya seolah membeku tak bisa digerakkan.


"Xander …" ucap Stella lirih, suaranya terdengar begitu kaget.


Ya tentu saja ia kaget, karena pagi itu Xander tak datang sendiri, melainkan datang bersama Joana. Yang lebih membuat Stella kaget adalah, mereka datang membawa dua koper besar, jangan bilang kalau Joana akan tinggal disini?


"Hai, selamat pagi Stella. Kau terlihat terkejut sekali," ucap Joana dengan nada riangnya, ia masih asyik bergelayut mesra di lengan kekasihnya Xander.


"Xander, apa ini?" tanya Stella menatap Xander tajam, hatinya tentu tak terima jika Xander akan membawa wanita lain masuk ke dalam rumah mereka. 


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2