Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Menjebak Atau Terjebak.


__ADS_3

Tania mondar-mandir cemas di kamarnya, ia sedang berpikir keras bagaimana caranya mengambil rekaman itu dari Xander tanpa harus menuruti keinginan gila pria itu.


"Aku tidak akan membiarkan semua orang tahu kalau Joana bukan putri kandung keluarga ini. Dia harus mendapatkan seluruh harta keluarga ini dan menguasai semuanya," batin Tania dengan sorot matanya yang kejam.


Ya, dia memang sangat kejam karena sudah menukar anak Kakaknya dengan anaknya sendiri. Tapi ia sama sekali tidak peduli, sudah cukup Kakaknya selalu mendapatkan kebahagiaan, sekarang dia yang harus bahagia karena bisa melihat anaknya dicintai banyak orang dan memiliki status yang jelas.


Tapi bagaimana kalau sampai semua rahasia yang ia simpan rapat selama 26 tahun akan terbongkar begitu saja? Ia tentu tak akan membiarkan semua itu terjadi agar posisi anaknya aman di rumah ini.


"Hanya Joana yang berhak memiliki semua ini, bukan anak sialan itu," ucap Tania sangat benci sekali jika mengingat wanita itu.


Wanita yang sudah merebut semua kasih sayang Kakaknya dari Joana. Wanita licik yang berpura-pura polos. Siapa lagi kalau bukan Stella, ia sengaja menendang wanita itu jauh-jauh karena wanita itu memang putri kandung Kakaknya.


Dulu, Tania sudah menolak mentah-mentah saat Kakaknya ingin mengadopsi Stella saat masih kecil, tapi Joana yang saat itu merengek ingin mempunyai adik membuat ia tak lagi mempermasalahkannya. Apalagi semakin dewasa, wajah Stella semakin mirip sekali dengan Ayahnya membuat Tania hampir saja membunuh wanita itu, namun ia masih punya otak untuk tidak mengotori tangannya sendiri.


Akhirnya dia sengaja menjebak wanita itu hingga tidur dengan Xander dan di usir dari rumah ini. Tapi ia sama sekali tidak menyangka kalau mereka berdua justru jatuh cinta.


"Aku harus melakukan sesuatu," ucap Tania mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


*****


Xander datang ke sebuah Restoran bintang lima yang terlihat cukup sepi. Senyum sinis tampak menghiasi wajahnya yang tampan begitu melihat sosok Tania yang duduk menunggunya. Akhirnya wanita itu luluh juga.


"Selamat siang Bibi," ucap Xander ringan seolah tanpa beban.


"Tidak perlu basa-basi, aku sudah menyuruh Kak Medison untuk berhenti menyerang Perusahaanmu. Sekarang berikan rekaman itu," ucap Tania to the point.


"Hold on, hold on Bibi, kenapa terburu-buru sekali. Saham Perusahaan ku juga belum stabil, bisa saja Kakakmu itu akan mengingkari janjinya," kata Xander memang sudah mendengar kalau beberapa pemegang saham di perusahaanya tidak jadi menjual saham mereka, semua itu pasti ada hubungannya dengan Medison.


"Kau! Kau seorang pria, seorang pria yang di pegang adalah janjinya! Kau mengatakan kalau aku menuruti keinginanmu, kau akan menyerahkan bukti itu!" bentak Tania menekan giginya kuat-kuat, ia merasa di permainkan oleh Xander.

__ADS_1


"Sayang sekali, Bibi memang licik, tapi tidak bisa berpikir dengan logis. Aku mengatakan tidak akan memberitahu Kakakmu, bukan berarti aku akan menyerahkan bukti ini padamu," kata Xander suka sekali memainkan emosi Tania.


"Kau! Apalagi maumu?!" bentak Tania geram.


"Tidak ada, cukup jawab saja satu pertanyaanku," ucap Xander menegangkan tubuhnya dan menatap Tania serius.


"Dimana kau membuang anak itu?" tanya Xander membuat Tania tersenyum sinis.


"Untuk apa kau menanyakan hal yang tidak penting? Itu sama sekali bukan urusanmu!" sergah Tania berdecih.


"Apakah anak itu Stella?" tanya Xander membuat Tania terkejut, Xander bisa melihat hal itu dari matanya.


"Cih, omong kosong apa itu? Kau ingin membuat istrimu yang anak pungut itu naik derajatnya dengan mengaku sebagai anak Kakakku? Jangan bermimpi!" tukas Tania menormalkan ekspresi wajahnya. Tak ingin sampai Xander curiga dengan sikapnya.


Xander mengertakkan giginya, tak terima sekali Tania berkata seperti itu. "Setidaknya dia lebih baik daripada anak haram mu!" ucap Xander pedas.


"Tidak semudah itu, rekaman ini tetap aku simpan agar kau tidak macam-macam padaku," kata Xander langsung pergi begitu saja tanpa memperdulikan kekesalan Tania.


Tania mengepalkan tangannya erat, ia menatap Xander dengan tatapan tajam membunuhnya. Ia lalu kembali mengambil ponselnya.


"Dia sudah keluar! Lakukan sekarang!" perintahnya tersenyum licik, jangan kira ia hanya diam saja meski di tekan oleh bocah ingusan itu.


****


Xander keluar restoran seraya melihat ponselnya, Stella tadi menelepon meminta untuk di belikan makaroni pedas. Ia ingin menghubungi wanita itu apakah jadi memintanya, namun saat ia akan membuka pintu mobilnya, tiba-tiba ada yang memukul tengkuknya dari belakang.


Xander tak sempat melihat siapa orang yang memukulnya, pandangannya langsung gelap dan ia tidak ingat apapun lagi. Teleponnya yang telah tersambung dengan Stella juga jatuh begitu saja.


"Bawa dia ke markas," ucap pemukul Xander membopong pria itu dan membawanya pergi.

__ADS_1


Tania tersenyum puas melihat Xander yang masih tak sadarkan diri. "Setelah ini kau pasti akan menyesal karena sudah menantang ku" batin Tania beranjak meninggalkan pria itu sendiri untuk menemui putri kesayangannya.


*****


"Ada apa Bibi memintaku kemari?" tanya Joana heran saat Bibinya memintanya untuk datang ke Apartemen yang sudah lama ditinggalkan.


"Bibi punya kejutan untukmu," ucap Tania mendorong kursi roda Joana dan membawa wanita itu pergi ke tempat dimana Xander berada.


Joana mengernyitkan dahinya, menebak apa yang akan ditunjukkan oleh Bibinya ini. Saat pandangannya tertuju pada sosok pria yang berbaring di ranjang, mata Joana seketika membulat sempurna.


"Xander?" serunya kaget.


"Apakah kau senang?" tanya Tania.


"Bibi apakan dia?" Joana memandang Bibinya penuh tanya.


"Dia hanya pingsan, dan kau harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin sebelum dia bangun," ucap Tania memandang Joana dengan tatapan berkomplot.


"Maksud Bibi?" Joana sedikit bingung, namun begitu menyadari apa yang diinginkan Bibinya, ia tersenyum manis.


"Aku akan memilikinya kembali, Bi?" tanya Joana begitu senang.


"Ya, Bibi akan membantumu," ucap Tania ikut senang jika melihat putrinya senang.


Joana mengangguk semangat, ia dibantu Tania untuk merebahkan dirinya di kasur. Ia lalu melepaskan bajunya dan juga Xander, namun tidak semuanya. Tania hanya ingin mengambil gambar untuk mengancam pria itu kembali.


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2