Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 32. Aku Tidak Akan Menganggu.


__ADS_3

Ini bukan kali pertamanya Devan membentak dirinya, tapi kenapa sekarang hatinya sakit sekali mendengar suara pria itu yang sangat keras. Haruskah berbicara kasar seperti itu dan memaksanya untuk pulang? Bahkan air matanya tiba-tiba menetes begitu saja tanpa bisa dicegah.


Devan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menguasai dirinya.


"Pulang sekarang," ucapnya dengan nada pelan.


"Aku tidak mau," kata Joana tetap berdiri ditempatnya.


"Pulang." Devan kembali mengulangi perkataannya, kali ini suaranya lebih rendah. Tapi tangannya mengepal erat.


Joana ingin membuka mulutnya, tapi ia tahu saat ini tidak ada gunanya membantah ucapan Devan. Pria itu sedang sangat marah, bisa-bisa Felix yang akan kena amukan Devan lagi.


Dengan menahan rasa kesal, Joana mengambil kruk miliknya. Ia langsung menarik tangannya saat Devan ingin membantu.


"Aku tidak selemah itu," ketus Joana melayangkan tatapan penuh kekesalan pada Devan.


Devan mengertakkan giginya, lagi-lagi ia harus berusaha keras menguasai dirinya. Sebelum ia pergi, ia sempat melirik Felix dengan tatapan yang tidak biasa. Dari tatapannya seolah mengatakan kalau jangan macam-macam padanya.


_______


Sepanjang perjalanan pulang ke mansion, Joana dan Devan tidak saling berbicara. Hanya sesekali Joana menangis dan segera mengusap air matanya.


Hari sudah hampir pagi, matahari juga sudah mulai menampakkan cahaya, tapi masalah mereka belum benar-benar selesai. Jujur kepala Joana sangat pusing sekali sekarang, tapi sepertinya ia masih harus menghadapi masalah lagi yang lebih besar dari ini, yaitu kemarahan Devan.


Sesampainya di rumah, Devan ingin membantu Joana, tapi wanita itu lagi-lagi menolak sehingga membuat kesabaran Devan habis.


"Jangan melewati batasmu, Joana!" teriak Devan dengan suara yang menggelegar sangat keras.


Devan langsung menggendong Joana dan membawanya ke kamar. Ia tidak peduli wanita itu berontak dengan memukuli dan menggigitnya. Devan langsung membawa Joana masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower sehingga air dingin langsung mengguyur tubuh mereka berdua.


"Lepaskan aku!" teriak Joana dengan keras mendorong Devan agar menjauhi dirinya.


"Bersihkan dirimu, aku benci mencium bau tubuh pria itu. Jika perlu bakar baju yang kamu pakai ini," titah Devan dengan sangat emosi menarik baju Joana sampai robek.


"Kamu keterlaluan, Dev!" Joana yang sejak tadi sudah sangat marah langsung menampar Devan dengan keras.


Kepala Devan langsung tertoleh ke samping, pipinya sangat panas karena tamparan Joana sangat kuat sekali. Sedangkan Joana sendiri terkejut dengan apa yang baru saja dilakukannya.


"Dev," ucap Joana dengan suara bergetar.


Devan berdecih pelan, ia langsung merangsek maju dan menghimpit Joana di tembok.


"Akhhhhhhhhhhhh!" Joana berteriak takut, ia pikir Devan akan menyakitinya, tapi ternyata tidak.

__ADS_1


"Aku tidak melarangmu untuk dekat dengan siapapun, kecuali dia," kata Devan.


"Apa hakmu melarangmu? Kita tidak punya hubungan apapun," ucap Joana.


"Jangan melewati batasmu!" hardik Devan kembali tersulut mendengar perkataan Joana.


"Kenapa? Kenapa aku harus mengikuti semua yang kamu katakan? Aku juga berhak menentukan apa yang aku inginkan dan tidak. Selagi dia tidak membuatku terluka, kenapa aku harus menjauhi dia?" tukas Joana memang sengaja ingin membuat Devan marah.


Ia seperti menemukan benang merah yang terjadi sebelum dirinya datang antara Devan, Mega dan Felix.


"Kamu itu egois, Dev! Kamu memintaku untuk menjauhi orang lain tanpa alasan. Padahal sebenarnya orang yang harus aku jauhi adalah kamu," lanjut Joana.


Devan tersenyum, tapi senyuman itu penuh ironi. Ia langsung melepaskan Joana.


"Kamu mengatakan aku egois? Lalu, apa kamu tahu aku alasanku melakukan ini?" kata Devan dengan suara yang terdengar tercekat.


"Aku tidak peduli apa yang telah kamu lakukan dengan dia. Aku juga tidak ingin tahu karena apa yang kamu lakukan denganku itu lebih penting."


"Awalnya aku tidak peduli, tapi ternyata hatiku tidak selapang itu. Entah kita dekat karena wajahmu yang mirip dengan dia, atau bukan, aku sama sekali tidak peduli karena aku menyukaimu."


"Aku tidak bisa memaksamu untuk menyukaiku karena kamu bukan dia. Hanya saja, aku ingin kamu memilihku, tapi ternyata dia lebih cepat dariku."


Devan berbicara panjang lebar dengan nada suara rendah. Wajahnya yang biasanya keras itu terlihat berbeda, dari nada suaranya saja terdengar kekecewaan yang luar biasa. Devan merasa dikhianati untuk kedua kalinya dengan sahabatnya sendiri.


"Tidak perlu memikirkannya, bersihkan dirimu dan beristirahatlah. Aku tidak akan mengganggumu," ucap Devan seraya berjalan mundur lalu meninggalkan kamar mandi itu.


Joana mengigil, entah karena kedinginan atau perasaan lain. Kenapa sekarang rasanya ia yang tidak rela Devan pergi begitu saja?


'Arghhhhhhh, sebenarnya apa sih maunya hati ini?'


_______


Setelah meninggalkan Joana, Devan langsung masuk ke dalam ruangan gym pribadinya. Devan melampiaskan amarahnya dengan memukul samsak tinju dengan sekeras-kerasnya. Ia tidak membayangkan apapun, hanya teringat akan kata-kata Joana yang membuat hatinya terluka.


'Kamu itu egois, Dev!'


'Selagi dia tidak membuatku terluka, kenapa aku harus menjauhi dia?'


Kemarahan Devan langsung mencuat mengingat kata-kata itu. Semua masa lalu yang sangat tidak ingin ia ingat mulai muncul dikepalanya hingga rasanya ingin meledak.


"Arghhhhhhhh!" teriak Devan seraya terus memukuli samsak itu sampai dirinya lelah. Keringat mulai bercucuran dari tubuhnya dan perlahan-lahan pukulan itu melemah lalu ia terjatuh begitu saja dengan mata yang menatap kearah langit-langit kamar.


'Benar katamu, tidak akan ada wanita yang tulus selain dia.'

__ADS_1


________


Hari sudah sangat siang saat Joana bangun dari tidurnya. Ia merasakan tubuhnya nyeri semua, dan matanya seperti mengganjal. Sepertinya ia tadi terlalu banyak menangis hingga tertidur.


Joana lalu melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 2 siang. Pantaslah sudah sangat panas sekali, ternyata sudah begitu siang. Ia lalu melihat sekelilingnya yang sangat sepi. Seperti mencari seseorang, tapi dia tidak menemukannya.


'Sebenarnya apa yang aku pikirkan ini?'


Joana menggelengkan kepalanya, ia memilih segera turun dari ranjang dengan menggunakan kruk miliknya. Ia harus sering berlatih agar bisa terbebas dari kruk itu. Joana segera keluar kamarnya, disana sudah ada Tita yang senantiasa menunggunya di depan kamar.


"Tita, sejak kapan kamu disitu?" tanya Joana.


"Sejak Anda datang, Nona. Sekarang apa yang Nona butuhkan? Mau makan atau pergi?" ucap Tita dengan sikap hormatnya.


"Ehm, pergi?" Joana mengernyitkan dahinya bingung. Pasalnya ia selalu dilarang pergi kemanapun jika tidak dengan Devan.


"Ya, Tuan Devan membebaskan Anda hari ini," ujar Tita.


"Lalu kemana dia?" tanya Joana antara peduli dan tidak.


"Tuan Devan banyak sekali pekerjaan, Nona. Jika ada perlu, Anda diminta untuk menghubungi, Ken."


Joana langsung diam, lagi-lagi hatinya ini merasa aneh karena Devan seperti mengacuhkannya. Padahal seharusnya ini kesempatan bagus untuknya agar terlepas dari Devan.


"Baiklah, aku ingin makan. Setelah itu aku ingin pergi ke dokter," kata Joana ingin memeriksakan kakinya.


"Baik, saya akan menyiapkan sarapan, Anda."


Tita langsung pergi meninggalkan Joana untuk menyiapkan keperluannya. Sedangkan Joana sendiri memilih untuk bersiap-siap mengganti bajunya. Meski masih sangat kesusahan untuk melakukan apa-apa sendiri, Joana lebih nyaman seperti itu daripada diikuti oleh orang lain.


Joana meletakkan kruk miliknya di samping lemari, dan ia perlahan-lahan menggeser kakinya untuk membuka lemari itu.


Namun, kruk yang baru saja diletakkannya itu tidak sengaja mengenai vas bunga yang terletak disana hingga terjatuh dan pecah sehingga berhamburan kemana-mana. Tapi yang menjadi fokus Joana justru ada sebuah benda kecil yang ada di dalam lampu itu.


Joana segera mengambilnya, ia mengamatinya dan seketika terkejut saat tahu jika benda itu merupakan kamera.


'Seluruh rumah Devan itu ada CCTV-nya. Apa kamu yakin kalau sudah meletakkan ponsel itu ditempat yang tidak terjangkau CCTV?'


Joana benar-benar syok, pantaslah Devan secepat itu mengetahui tentang ponsel itu. Ternyata Devan sudah memasang CCTV di dalam kamar dan pastinya bisa memantau Joana kapanpun pria itu mau.


"Dia itu benar-benar keterlaluan," desis Joana meremas kamera itu dengan penuh emosi.


_________

__ADS_1



__ADS_2