
Entah siapa yang telah melesatkan tembakan itu, tapi tiba-tiba lampu di ruangan itu padam sehingga membuat semua orang terkejut termasuk Devan sendiri. Ia menajamkan pandangannya ke arah Joana. Tapi beberapa saat kemudian tangannya ditarik oleh seseorang ke belakang.
Devan semakin terkejut, ia berontak dengan memukuli orang yang telah menarik dirinya, tapi orang itu tetap kekeh membawanya pergi meninggalkan tempat itu. Devan tentu sangat geram, ia belum membawa Joana, kenapa malah dibawa pergi.
"Brengsek! Siapa kamu!" teriak Devan menyikut perut orang itu dan bersiap menyerangnya.
"Tuan, ini saya, Ken."
Bahu Devan yang tadinya tegang langsung lemas mendengar suara Ken. Tapi ia masih marah dan berniat kembali menjemput Joana.
"Dasar bodoh! Kenapa kamu membawaku pergi dan meninggalkan Mega?" hardik Devan dengan segala emosinya, disana sangat gelap, jadi Devan bisa melihat jelas wajah Ken.
"Tuan, saat ini Anda yang sedang diincar mereka. Kita harus pergi sekarang sebelum mereka mendapatkan, Anda." Ken segera menjelaskan situasi yang terjadi saat ini benar-benar rumit.
Devan mengertakkan giginya, ia tahu apa maksud ucapan Ken ini. Jika dia yang tertangkap, akan semakin sulit karena polisi itu pasti sudah merencanakan banyak hal untuk dirinya. Tapi haruskah ia mengorbankan Joana?
Duarr!
Suara tembakan peringatan kembali terdengar, lampu di ruangan itu juga seperti ingin menyala. Dengan sangat berat hati Devan akhirnya segera berlari meninggalkan tempat itu bersama Ken. Mungkin saat ini ia harus mundur dulu, ia akan mengurus Joana saat dirinya sendiri sudah aman.
Devan berlari kearah samping rumah, suasana masih gelap sehingga memudahkan dirinya untuk keluar dari rumah itu tanpa sepengetahuan polisi.
Ia masuk ke dalam hutan-hutan yang gelap lalu ke arah lautan. Disana sudah ada kapal yang siap untuk mengangkut mereka tapi mereka berdua harus berenang terlebih dulu karena lokasi kapal itu cukup jauh, yang jelas yang sampai terlihat oleh polisi.
Byurrrrrrrrr!
Suara riak air yang cukup keras itu terdengar, tapi setelah itu hening karena Devan dan Ken sudah menyelam. Mereka pun sudah aman dari kejaran polisi itu karena para polisi berpikir kalau Devan masih ada didalam.
_______
Joana menggenggam tangannya sendiri dengan sangat kuat. Ia kini sudah dikelilingi tiga orang polisi yang siap menginterogasinya di ruangan yang sempit itu. Lampu ruangan itu remang membuat suasana semakin menyeramkan bagi Joana. Ini juga kali pertama ia masuk ke penjara dan ruangan seperti itu.
__ADS_1
"Siapa namamu?" tanya Rendra dengan raut wajah yang sangat emosi.
Bukan hanya Rendra saja yang emosi, tapi seluruh polisi dari satras narkoba tentu sangat marah. Rencana yang sudah diatur berbulan-bulan justru gagal hanya karena satu tembakan yang membuat Devan bisa meloloskan diri.
Joana hanya diam saja, ia benar takut sekali sekarang ini. Tubuhnya gemetar dan wajahnya pucat. Jika bisa ia ingin sekali menangis, tapi tidak akan merubah apapun.
"Jawab!" teriak salah satu polisi yang berdiri di belakang Joana, pria itu sama emosinya dengan Rendra.
"Joana." Joana reflek langsung menjawab karena terkejut dengan suara polisi itu, ia merasakan gendang telinganya seperti ingin robek karena sangking kerasnya suara polisi itu.
"Masih ingin terus berbohong? Siapa namamu yang sebenarnya?" tanya Rendra sekali lagi.
Rendra sudah melihat situs tentang data-data Joana yang bernama Mega yang baru saja didapatkan oleh anak buahnya.
Joana menggelengkan kepalanya. "Itu memang namaku, Joana," kata Joana jujur saja.
"Shittttt!" Polisi yang dibelakang Joana kembali marah. Ia menarik lengan Joana dengan kasar dan tepat di lengannya yang terluka.
"Sakit," ucap Joana meringis kesakitan.
Joana masih meringis, ia sungguh tidak tahu apapun tentang Devan. Bahkan ia baru mengenal pria itu 2 bulan terakhir ini.
"Fajar, hentikan. Lepaskan dia," titah Rendra.
"Lepaskan apa? Wanita ini jelas sudah diajari oleh Devan untuk membohongi kita semua. Dia sama liciknya dengan kekasihnya itu," tukas Fajar masih saja emosi karena rencana mereka gagal total.
Rendra menghela napas panjang, ia memandang Joana lekat-lekat. Dari sorot mata dan gelagatnya, ia bisa menilai kalau Joana tidak sedang berpura-pura dan sedang melakukan gimic sebagai orang yang sedang ketakutan. Tapi wanita itu memang sedang ketakutan.
"Kami bertanya baik-baik. Jawabanmu bisa saja membuatmu tetap aman. Devandra adalah orang yang berbahaya, menjadi sekutunya tidak akan membuatmu mendapatkan apapun selain kehancuran. Jadi, sekarang katakan saja. Apa yang kamu ketahui tentang Devandra?" Rendra mencoba bertanya dengan lembut agar Joana mau berbicara.
Joana lagi-lagi hanya menggeleng. Apa yang harus dia jawab? Sedangkan ia saja tidak tahu tentang perdagangan narkoba dan senjata yang Devan lakukan. Setahunya Devan hanya pemimpin perusahaan dan itu legal.
__ADS_1
"Tidak ada gunanya! Wanita ini memang harus dipaksa agar mau berbicara." Fajar yang sejak tadi sudah sangat emosi tiba-tiba menarik tangan Joana dengan kasar sampai wanita itu terjatuh karena kakinya yang lemah.
"Akhhhhhhh!"
"Fajar! Apa-apaan kamu ini? Jangan bertindak melewati batas!" hardik Rendra akhirnya ikut terpancing juga melihat Fajar yang terlalu emosi.
"Aku tidak akan begini kalau wanita ini mau berbicara. Kenapa kita tidak melakukan cara yang sama dengan para berandalan itu untuk membuatnya berbicara?" Fajar menyeringai seraya menatap Joana dengan begitu emosi.
"Jangan main-main. Dia wanitanya Devandra, kalau tahu kamu telah membuatnya terluka, berikan salam perpisahan saja kepada kami," cetus polisi lainnya yang juga bertugas di dalam ruangan itu.
"Cih, kita polisi, kenapa harus takut dengan dia? Aku tetap akan membawanya kesana." Fajar tidak menghiraukan ucapan dari temannya, ia malah menarik tangan Joana agar wanita itu berdiri.
"Berdiri! Apa kamu juga ingin berpura-pura tidak tahu caranya berjalan?" tukas Fajar.
"Aku tidak bisa," kata Joana dengan jujur.
"Kurang ajar! Berhentilah membohongi kami, cepat berdiri sekarang!" hardik Fajar kembali menarik tangan Joana lebih kasar dari sebelumnya.
Rendra yang melihat itu langsung turun tangan, ia mendorong bahu Fajar. "Jaga sikapmu, tugas kita disini untuk bertanya padanya, bukan menyiksanya," sergah Rendra.
"Percuma saja, wanita ini tidak akan mau bicara sampai kapanpun kamu tahu? Dia pasti sudah diberitahu oleh Devandra untuk tidak mengatakan apapun. Benar-benar licik," umpat Fajar.
"Diamlah! Sebaiknya kamu keluar sekarang."
Merasa tidak bisa ditenangkan, Rendra segera menyeret Fajar keluar dari ruangan itu. Pria itu sama sekali tidak bisa mengontrol emosinya. Bisa-bisa Joana akan semakin takut dan malah tidak mau berbicara.
Joana hanya bisa meringkuk memeluk dirinya sendiri, ia menutup mulutnya untuk menyamarkan tangisnya. Ia mengingat kejadian saat ia dibawa tadi, ia sendiri kaget kenapa para polisi itu bisa masuk ke dalam kamar.
Joana yang terlalu khawatir dengan Devan justru membuat kesalahan besar dengan keluar dari tempat persembunyiannya. Sekarang ia harus menanggung kesalahan yang telah ia buat sendiri.
'Ibu ... Joana takut. Disini sangat menakutkan, tolong bantu aku ....'
__ADS_1
Joana hanya bisa menunduk menangis, tapi sialnya ia malah kepikiran tentang Devan. Hatinya selalu bertanya, apakah Devan selamat? Apakah Devan benar-benar bisa lolos dari kejaran polisi yang sangat banyak itu.
Memikirkan banyak hal, membuat kepala Joana semakin pusing dan rasanya ingin pecah. Tapi tiba-tiba saja disela-sela tangsinya pintu ruangan itu terbuka, membuat ia langsung waspada.