Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 18. Berpura-puralah Sampai Aku Melupakan Dia.


__ADS_3

Devan kembali pulang ke rumah dengan perasaan tidak menentu. Kata-kata Felix tadi ternyata begitu mempengaruhinya. Apakah benar ia terlalu mengekang? Bukannya ia sudah memberikan segalanya untuk Mega? Tapi wanita itu yang masih ingin terus pergi meninggalkan dirinya.


Namun, terkadang Devan juga berpikir, mungkin saja ia memang sangat berlebihan pada Mega. Wanita itu jelas-jelas tidak akan kabur kemanapun, karena kondisi kakinya yang lumpuh, kenapa ia merasa begitu ketakutan.


Devan mencoba menepikan dulu pemikiran itu, ia segera masuk ke dalam rumahnya. Tapi ia kaget melihat anak buahnya berkerumum di depan pintu kamarnya.


"Apa-apaan ini?" bentak Devan.


Kerumunan itu langsung menyingkir begitu mendengar suara Devan. Wajah mereka sangat panik sekali bercampur ketakutan.


"Tuan, Nona Mega sejak tadi mengunci diri didalam kamarnya. Kami curiga kalau Nona Mega sedang melakukan hal-hal yang akan membuat beliau terluka. Pasalnya saat ini terlihat asap keluar dari kamar Anda," ujar Tita segera menjelaskan tanpa diminta.


"Apa?"


Devan tentu sangat terkejut, ia bergegas mendekati kamarnya dan memang terlihat ada asap yang keluar dari sana. Devan semakin kaget, ia mencoba membuka pintunya tapi ternyata dikunci.


"Dasar bodoh! Apa yang kalian lakukan semua disini? Cepat cari bantuan!" hardik Devan menatap nyalang semua anak buahnya, bagaimana bisa mereka kecolongan seperti ini.


Bagai kerbau yang dicocok hidungnya anak buah Devan segera berlari berhamburan mencari bantuan. Devan sendiri mencoba mendobrak pintu itu tapi hasilnya sia-sia karena kunci itu sangat kuat sekali.


Devan semakin panik, ia benar-benar takut jika Joana akan kembali mengulangi kejadian waktu lalu, dimana Joana akan mengakhiri hidupnya sendiri.


"Menyingkir Tuan!" Ken berteriak dari arah belakang, membuat Devan terkejut. Pria itu terlihat mengacungkan pistolnya.


Devan terkejut, ia lupa karena terlalu panik tadi. Ia segera menyingkir dan Ken lalu menembak engsel pintu itu hingga terlepas.


Seketika asap langsung keluar dari sana membuat Devan terbatuk-batuk. Devan membulatkan matanya, dengan melawan batuk yang terasa sangat sesak, ia berlari masuk ke dalam kamar.


Kamar itu benar-benar sangat kacau, ranjang yang berukuran besar itu terbakar hampir separuh. Lalu benda-benda kembali berserakan. Yang dilihat oleh Devan hanya satu, yaitu dimana Joana.


Dan Devan akhirnya menemukan Joana tengah berdiam diri dibawah jendela yang kordennya juga sudah terbakar sedikit.


"Mega!" teriak Devan.


Devan segera berlari, meraih tubuh Joana agar tidak terkena api itu. Tapi ia terkejut melihat Joana ternyata membakar tubuhnya sendiri, lebih tepatnya membakar tatto yang pernah dibuat Devan di dada wanita itu.


"Mega! Kamu gila? Apa yang kamu lakukan?" Devan berteriak keras, ia melepaskan jasnya untuk memadamkan api itu, untung saja baru sedikit yang terkena, jadi tidak sampai membakar tubuh.

__ADS_1


Joana tertawa seperti orang gila, wanita itu mentalnya benar-benar sudah terguncang. Ia menarik kerah kemeja Devan.


"Kamu bilang ... Kamu akan menghukumku jika aku menghapus tattonya? Sekarang aku menghapusnya, ayo hukum aku," kata Joana tertawa cekikikan.


Devan mengertakkan giginya, ia bisa mencium bau alkohol dari mulut Joana. Wanita itu pasti telah minum minumannya yang ada didalam kamar dan berpikiran untuk membakar kamar itu.


"Ayo, hukum aku lagi, Dev. Hukum aku seperti biasanya, aku sudah membuat kesalahan 'kan?" ucap Joana terus berbicara tidak jelas.


"Kenapa kamu jadi seperti ini? Sadarlah apa yang kamu lakukan ini akan menyakitimu!" bentak Devan.


"Itu memang harapanku, Dev. Biarkan aku pergi," pinta Joana.


Devan tidak bisa menjawab apapun, tapi untuk pertama kalinya Devan memberanikan diri untuk menatap mata Joana. Terlihat sangat sayu dan lelah, seolah memanggil Devan untuk melihat kesedihan yang dialami wanita itu.


"Tuan, cepat keluar darisini. Apinya semakin membesar!" teriak Ken.


Devan langsung tersadar, ia segera meraih tubuh Joana lalu membawanya pergi. Tapi saat ia ingin berlari, kakinya tiba-tiba terpeleset hingga ia dan Joana jatuh secara bersamaan. Belum sampai disitu saja, gorden yang tadinya sudah terbakar tiba-tiba terjatuh hingga mengenai kaki Devan.


"Arghhhhhhhh!" Devan berteriak kesakitan, ia menjauhkan kakinya segera.


"Brengsek!" umpat Devan cukup kesusahan menyingkirkan gorden itu.


Kakinya semakin lama semakin kepanasan karena api sudah mulai dekat dengannya. Jika Devan tidak segera pergi, kakinya pasti akan terbakar. Sementara gorden itu juga cukup berat karena bagian besinya yang mengenai kakinya.


Untungnya para anak buah Devan sudah kembali dengan membawa alat pemadam darurat dan mengambil air dari dalam kamar mandi untuk memadamkan api yang terus berkobar itu.


"Tuan, saya akan membantu, Anda," ujar Ken mengulurkan tangannya untuk membantu Devan bangkit.


"Tidak, selamatkan dia dulu," kata Devan menunjuk Joana yang masih terdiam disana.


"Tapi kaki Anda terluka, Tuan," ujar Ken sangat khawatir.


"Jangan membantahku, cepat selamatkan dia dulu," sentak Devan, masih bisa menahan sakit di kakinya, ia lebih memikirkan Joana yang tadi sempat ingin membakar dirinya, semoga saja api itu tidak mengenai sedikitpun tubuh Joana.


Ken mengangguk, ia segera meminta anak buah lainnya untuk membantu Joana pergi dan ia mengurus kekacauan yang terjadi disana.


Sebelum pergi, Joana sempat melihat Devan, pria itu benar-benar sangat khawatir padanya, padahal Devan sendiri sedang terluka. Hati Joana mendadak merasa kalut, kenapa ia malah tidak tega melihat Devan kesakitan?

__ADS_1


'


________


Malam sudah sangat larut saat Devan masuk ke dalam kamar Joana. Wanita itu mendapatkan infus dan pengobatan di dadanya yang tadi sempat terbakar sedikit. Devan sengaja datang malam karena tidak ingin membuat Joana takut jika melihatnya.


Devan berjalan mendekat sangat pelan agar tidak menimbulkan suara. Ia lalu duduk disamping wanita itu. Memandangnya dengan perasaan tidak menentu.


Devan mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Joana. Tidak ada yang tahu apa yang Devan pikirkan saat ini, ia hanya memandang lekat-lekat wajah Joana yang menurutnya kini terlihat asing. Tidak seperti Mega yang pernah ia kenal.


Mungkin karena merasa diperhatikan, Joana terbangun, ia terkejut melihat wajah Devan, sontak ia langsung menjauhkan dirinya.


"Jangan pergi," kata Devan menahan tangan Joana.


"Jangan ...." Joana menggelengkan kepalanya, ia menatap Devan penuh kengerian, ia takut jika Devan akan menyakitinya lagi.


"Ini aku, aku tidak akan melakukan apapun padamu. Tidurlah lagi," kata Devan tetap memegang tangan Joana, kali ini tidak kasar seperti biasanya.


Joana langsung diam, tapi ia menatap wajah Devan yang tidak menyeramkan seperti biasanya.


"Kenapa?" tanya Devan, merasa Joana terus memperhatikan dirinya.


"Aku bukan Mega," ucap Joana, suaranya terdengar tercekat karena ia merasakan nyeri dihatinya saat menyebut nama wanita itu.


Devan mengulum bibirnya, wajahnya mendadak berubah sendu. Ia menunduk, sekali mengelus tangan Joana.


"Apa kamu tidak bisa terus berpura-pura menjadi Mega-ku? Aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi, setidaknya bantu aku melupakan dia," ujar Devan dengan suara yang sangat berat sekali.


Ternyata benar, sekuat apapun kita mencoba untuk merubah orang lain, hasilnya tidak akan sama. Karena mereka bukan orang yang sama, sekuat apapun Devan memaksa, ia tidak bisa merubah Joana.


Joana sendiri menangis mendengar permintaan itu. "Kamu memintaku untuk menemanimu melupakan masa lalumu. Lalu, bagaimana denganku, Dev? Aku punya hati, aku tidak bisa semudah itu berpura-pura menjadi wanita yang mencintaimu setiap waktu. Kami orang yang berbeda," kata Joana mencoba membuat Devan sadar.


"Tidak perlu berpura-pura mencintaku, tapi belajarlah untuk mencintaiku ... Joana."


________


__ADS_1


__ADS_2