
Siapa yang tidak akan terbawa perasaan mendengar perkataan Devan yang sangat lembut dan terdengar sangat tulus itu. Sorot matanya yang tajam itu membuat siapapun pasti akan terhanyut, termasuk Joana itu sendiri.
Devan tersenyum, ia yakin sudah mendapatkan Joana dengan mudah. Ia mendekatkan wajahnya, mengecup bibir Joana dengan perlahan, tapi wanita itu malah membuang muka sehingga ciumannya hanya mengenai pipi.
"Jangan menolakku," kata Devan menarik dagu Joana, merasa tidak suka ditolak seperti itu.
"Jika kamu memang mencintaku sebagai aku, jangan lakukan apapun padaku. Kita belum menikah dan tidak seharusnya melakukan hal yang dilakukan oleh pasangan suami istri," ujar Joana, sengaja memberikan persyaratan yang berat, jika Devan menerimanya, artinya pria itu benar-benar mencintainya.
Devan menekan giginya, emosi tentunya karena ternyata perkiraannya meleset sangat jauh.
"Bukankah sudah biasa melakukan hal seperti itu sebelum pernikahan? Kita sudah tahu sama tahu, bukan?"
Devan tentu ingat saat pertama kali mereka melakukannya, Joana memang menangis kesakitan, tapi wanita itu sudah tidak lagi bersegel. Dalam artian Joana sudah rusak sebelum mengenal Devan.
"Ya, aku memang bukan wanita yang suci. Bahkan bisa disebut wanita yang kotor. Tapi jika memang kamu ingin aku percaya padamu, jangan melakukannya dulu sebelum aku benar-benar memastikan perasaanku," kata Joana meremas bahu Devan dengan kuat, entah kenapa rasanya malu sekali mengakui tentang kebenaran dirinya.
"Ssssshhhhh ...." Devan mendesis pelan, sebenarnya ia sangat emosi, tapi ia menahan dirinya.
"Tidak masalah, bukan hal sulit untuk tidak melakukannya. Apa kamu juga bisa melakukan hal yang sama?" ujar Devan balas menantang.
"Aku mungkin wanita yang sangat buruk, tapi aku tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kali. Semenjak aku bersamamu, aku tidak pernah-"
"Cukup! Aku sudah tahu, lupakan masalah itu. Aku tidak butuh apapun, cukup kamu ada disisiku, aku sudah bahagia," tukas Devan seraya memegang pipi Joana, sebuah aktivitas yang belakangan ini sangat ia sukai.
Joana semakin mengeratkan pegangannya, ia takut jatuh, tapi ia lebih takut akan jatuh cinta kepada Devan. Ia adalah orang yang sangat lemah jika tentang perhatian dan kasih sayang. Joana benar-benar takut ia akan kalah.
"Disini sangat dingin, ayo masuk." Devan menyudahi acaranya dansanya, ia langsung menggendong Joana dan membawanya masuk kamar.
Udara disana semakin lama memang semakin dingin karena berada ditepi pantai. Tapi terasa nyaman saat digunakan untuk tidur. Devan membawa Joana ke ranjang, pria itu dengan cekatan membantu Joana melepaskan sepatunya lalu menyelimuti kakinya.
Setelah itu barulah ia ikut merebahkan dirinya disamping Joana.
"Kemarilah." Devan mengulurkan tangannya, meminta Joana untuk masuk ke dalam pelukannya.
Joana meliriknya, tapi ia tidak bergerak sama sekali. "Apa perkataanku tadi belum jelas? Aku tidak ingin kita melakukannya sebelum-"
"Astaga, ternyata pemikiranmu tidak sepolos yang aku kira. Aku hanya ingin memelukmu, bukan ingin menidurimu," cetus Devan menggelengkan kepalanya, ia tertawa kecil melihat ekspresi wajah Joana yang kaku itu.
"Itu sama saja, Dev. Kita harus punya batasan," tukas Joana.
Joana sudah pernah merasakan bagaimana rasanya terbawa perasaan dan percaya cinta hingga ia menyerahkan seluruh hidupnya. Jika Devan terus seperti ini, pasti dia akan tetap kalah.
__ADS_1
Devan menghela napas panjang, ia mendekati Joana lalu menarik tubuh wanita itu agar bersandar ditangannya dan ia memeluk wanita itu sangat erat.
"Dev!" Joana berontak, mendorong pria itu menjauh.
Devan lalu mengambil pisaunya yang selalu ia bawa dan menyerahkannya pada Joana. "Bunuh aku jika aku melewati batasku," ujar Devan memandang Joana sangat serius.
Joana terkejut, ia memegang pisau itu dengan tangan gemetaran. "Pisau ini-"
"Itu pisauku, senjata yang sering aku gunakan untuk menghabisi lawanku," kata Devan dengan sengaja memperjelas.
Joana merasakan udara sekelilingnya menipis, berbicara dengan Devan benar-benar harus punya kekuatan mental yang luar biasa. Berbicara tentang pembunuhan dan nyawa seseorang seperti hal lumrah layaknya membicarakan ramalan cuaca.
"Apa kamu ingin tahu, kenapa aku lebih senang menggunakan pisau daripada pistol?" Devan mengambil pisau itu, mengamatinya dengan mata yang berkilat.
"Kenapa?" Joana takut tapi juga penasaran.
Devan tersenyum. "Dengan pistol, kamu bisa mudah menghabisinya dari jarak sejauh apapun. Asalkan bidikanmu pas, kamu akan mendapatkannya. Tapi ... Jika menggunakan pisau ...." Devan menggantung ucapannya, ia melirik Joana dan menghimpit wanita itu semakin erat.
"Jika dengan pisau, kamu perlu mendekati lawanmu hingga sangat dekat. Begitu dia sudah dekat maka das!" Devan tiba-tiba membuat suara seperti seseorang yang memotong sesuatu. "Kamu bisa menusuknya dan menikmati ekspresinya saat dia kesakitan, itu yang lebih menyenangkan," lanjut Devan menyeringai dengan senyuman yang tidak biasa.
Joana menggenggam sprei dibawahnya dengan kuat, Devan benar-benar pria yang sangat menyeramkan. Pria itu seperti psikopat gila yang haus akan darah seperti di film-film yang pernah Joana tonton.
"Hahaha, sepertinya aku menakutimu. Lupakan itu, ini sudah malam. Tidurlah," kata Devan tertawa kecil melihat ekspresi Joana.
"Aku hanya memberitahu. Itulah juga kenapa kamu harus mendekati musuh-musuhmu. Dekati dia dan buat dia percaya padamu. Maka, langkahmu akan sangat mudah nantinya," kata Devan.
"Aku tidak punya musuh, jadi tidak ada yang ingin aku lawan .... kecuali kamu," ketus Joana, tentu saja yang terakhir hanya terucap dalam hatinya.
"Itu bagus, karena kamu memang tidak perlu melakukan apapun. Sudah ada aku yang akan menjagamu, Joana." Devan mengulurkan tangannya kembali, ia mengusap rambut Joana yang sangat lembut itu.
Joana melirik Devan sekilas. Tanpa sadar pria itu telah mengatakan tentang kelemahannya sendiri. Dan kenapa Joana tidak melakukan trik yang sama? Menjerat Devan agar berada di pihaknya, begitu Devan percaya, ia bisa dengan mudah bebas dari tangan pria itu.
'Ya, mungkin memang seharusnya kejatahan dibalas kejahatan dan kelicikan dibalas kelicikan. Jika Devan licik, ia harus lebih licik dari pria itu.' batin Joana dengan mata terpejam, tanpa sadar mulai menikmati elusan rambut Devan yang menenangkan.
'Aku tahu apa yang sedang kamu rencanakan. Kamu tidak akan bisa diam disisiku, Joana. Baiklah, akan aku tunggu bagaimana permainanmu selanjutnya.'
Devan sendiri hanya mengulas senyum liciknya seraya terus mengelus rambut Joana. Tapi lama kelamaan matanya justru mengantuk dan ia tertidur dengan tangan yang masih menyentuh rambut wanita itu.
________
"Joana ...."
__ADS_1
Joana merasakan lehernya terasa sangat dingin sekali, seperti sesuatu yang berat diletakan disana. Joana membuka matanya, ia sudah sangat ketakutan sekali, tapi tidak berani untuk menoleh.
"Joana Sayang ... Bangunlah." Suara lembut itu kembali berbisik ditelinga Joana, serta benda dingin itu terus diletakkan dilehernya.
"Apa kamu masih ingin terus kabur dariku?" bisiknya lagi seraya terus mengusap-usap benda itu.
Joana merasakan seluruh buku kuduknya merinding, ia sekarang tahu benda apa yang sedang diletakkan dilehernya. Keringat dingin langsung membasahi wajahnya dan memucat, ia kemudian menoleh melihat Devan sudah mengangkat pisau itu tinggi-tinggi.
Dan ....
"Arghhhhhhhh!"
Joana berteriak keras saat terbangun dari tidurnya. Ia menatap sekelilingnya yang tampak masih gelap. Joana lalu menoleh, untuk mencari Devan, tapi pria itu tidak ada di sampingnya.
Joana kebingungan, tapi sesaat kemudian ia mendengar suara Devan yang mengumpat kata-kata kasar dari arah luar kamar. Joana semakin terkejut, dengan siapa Devan berbicara?
"Bang sat! Kenapa tidak ada laporan sama sekali? Oh shitttttt!" umpat Devan seraya meremas ponselnya dengan kuat.
"Kami juga baru saja mendapatkan laporan, Tuan. Sebaiknya Anda cepat bawa Nona Mega pergi sekarang," ujar Ken dengan suara yang terdengar panik.
"Sialan!" Devan mematikan ponselnya lalu terburu-buru masuk ke dalam kamar.
Dilihatnya Joana yang sudah terbangun dan kaget dengan kedatangannya.
"Waktu kita tidak banyak, kita harus pergi sekarang," ucap Devan seraya mengambil kursi roda Joana lalu mendorongnya mendekat ke arah wanita itu.
"Ada apa?" tanya Joana dengan raut wajah bingung.
"Diam dan jangan tanyakan apapun. Ikuti saja perintahku," sergah Devan dengan emosi yang tidak bisa ditutupi lagi.
Joana tahu kali ini Devan benar-benar sangat marah, sepertinya ada sesuatu yang besar dan sedang mengusiknya. Ia menurut saja saat pria itu menggendongnya lalu meletakkannya di kursi roda. Setelah itu Devan mengambil senjatanya yang ada di lemari, tak lupa pisau andalannya yang langsung ia masukan jas.
Sepetinya dugaan Joana benar, kalau memang ada masalah besar yang sedang terjadi. Setelah Devan siap, ia bergegas keluar meninggalkan kamar itu dengan dikawal anak buahnya yang sudah bersiaga didepan kamar.
Mereka berjalan cepat melewati lorong-lorong panjang yang tampak cukup gelap dan sepi.
Namun, saat mereka berada ditengah lorong itu, tiba-tiba terdengar suara tembakan yang sangat keras, disusul suara kaca yang pecah di samping mereka.
Duarrrrrrr!
Prangggggg!
__ADS_1
___________