Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 10. Perubahan Total.


__ADS_3

Terkadang manusia bersikap terlalu sombong seolah dirinya selalu akan diatas. Manusia sombong yang lupa caranya memanusiakan manusia. Selalu menganggap orang disekitarnya tidak terlalu penting dan hanya dirinya yang paling tinggi. Mereka lupa jika dirinya juga hanya manusia biasa yang jauh dari kata sempurna.


Joana mengingat betapa jahatnya dirinya dulu saat masih menjadi wanita yang bisa dibilang sempurna. Mempunyai segalanya dan selalu mendapatkan apa yang ia mau. Ia hanya tinggal meminta, semua yang ia inginkan akan ia dapatkan. Membuat Joana lupa jika dunia ini selalu berputar.


Kini Joana merasakan sendiri kehidupannya dijungkir balikkan oleh Tuhan sampai ke titik terendahnya. Menjadi wanita cacat pesakitan, dan kini bertambah menyedihkan saat harus hidup dalam kepura-puraan menjadi orang lain.


Seminggu berlalu dengan cepat, keadaan Joana sudah mulai membaik dan ia sudah beraktivitas seperti biasa. Menjadi seorang Mega yang semua tingkah lakunya diatur dan diawasi oleh seluruh penjuru rumah megah itu.


Tak lupa setiap malam juga ia harus puas menjadi boneka mainan Devan yang selalu pulang dengan kondisi mood yang selalu berubah-ubah. Terkadang begitu menyayanginya, seolah Joana adalah ratunya. Tapi terkadang Devan juga berperilaku sangat kasar, melampiaskan amarahnya kepada Joana.


Pagi itu Joana sarapan seperti biasa, didepannya sudah ada Devan yang membaca koran dengan menikmati kopi.


"Setelah ini kita akan pergi," ucap Devan, entah berbicara kepada siapa.


Joana meliriknya sekilas. "Pergi ke mana?" tanya Joana karena Devan hanya diam saja.


"Aku sudah membuat janji pada dokter spesialis kulit dan stylish. Hari ini aku akan mengajakmu kesana," jawab Devan melipat korannya lalu menikmati kopinya, ia melihat Joana yang pagi itu sudah cantik dengan menggunakan dress bunga yang Devan pilihkan.


"Kamu sangat cantik," puji Devan memandang Joana lembut.


Joana sampai tersedak mendengar pujian itu, ia mengambil minum disampingnya lalu meneguknya dengan cepat.


"Pelan-pelan saja, aku masih banyak waktu. Aku libur ke kantor." Devan mengulurkan tangannya untuk mengusap sedikit sisa nasi yang tak sengaja tertinggal disudut bibir Joana.


"Ehm, kamu ingin mengajakku kemana tadi?" Joana memilih mengabaikan perhatian Devan itu.


"Pergi ke dokter, kulitmu dulu sedikit kecoklatan. Dan aku lihat kamu menghapus tatto yang aku buat ditubuhmu," sahut Devan begitu santai.


"Maksudnya?" Joana menggenggam sendok ditangannya. Entah kenapa firasat buruk menggelayuti dirinya.


"Tidak mungkin kamu tidak tahu maksudku. Kita buat lagi, dan jangan pernah coba-coba untuk menghapusnya. Itu kenang-kenangan dariku," kata Devan berbalut nada ancaman didalam suaranya.


Joana menggigit bibirnya, sudah ingin membantah, tapi hal itu pasti hanya akan membuatnya mendapatkan masalah baru.


Diam, hanya diam dan menurut yang bisa Joana lakukan. Semakin banyak ia membantah, semakin tersiksa dirinya. Tapi begitupun ia sudah sangat tersiksa, Devan benar-benar ingin menjadikan dirinya Mega sepenuhnya.

__ADS_1


'Sampai kapan aku harus terus diam?'


_______


Joana menahan tangisnya yang ingin keluar, dadanya terasa sangat perih saat seorang tukang tatto mengukirkan sebuah tatto dengan bentuk kupu-kupu tepat diatas bagian sensitifnya. Joana berulang kali meringis, perih dan panas itu bercampur menjadi satu saat alat itu menyentuh kulitnya.


Namun, sepertinya Devan tidak begitu peduli. Pria itu serius membuka ponselnya tanpa ingin melihat apa yang terjadi pada Joana.


Hampir dua jam Joana harus menahan rasa sakit itu dan ia mendapatkan hasil yang diinginkan oleh Devan.


"Tuan Devan, sudah selesai," ujar tukang tatto tersebut memberitahu.


Devan mengangkat pandangannya, ia memberikan gestur pada orang itu untuk keluar. Ia lalu berjalan mendekati Joana yang masih terduduk menahan perih diarea yang terkena tatto.


Devan tersenyum tipis, ia memegang tatto yang baru dibuat itu perlahan.


"Shhhhh ...." Joana mendesis pelan, rasanya masih benar-benar perih.


"Seperti tatto yang terukir ditubuhmu, seperti itu juga kamu harus mencintaiku. Jika rasa sayangku setinggi langit, rasa sayangmu harus sedalam samudra. Begitupun rasa cintaku, jika aku lebih mencintaimu, kamu harus lebih, dan lebih mencintaiku. Apa kamu mengerti?" kata Devan memberikan ultimatum yang sangat jelas agar Joana mengerti.


Joana sebenarnya tidak mengerti, apa maksudnya permintaan Devan itu? Apa artinya ia harus memberikan cinta yang lebih besar dari yang Devan berikan? Terdengar sangat egois sekali.


"Dev!" Joana memekik kaget, Devan ini selalu berbuat hal-hal diluar prediksinya.


"Setelah ini kita akan pergi ke stylish, aku mau kamu mengubah rambutmu," kata Devan menatap rambut Joana yang hitam legam itu.


"Aku suka dengan rambutku, Dev," ucap Joana.


"Aku tidak suka."


Hanya tiga kalimat itu yang meluncur, tapi Joana tidak bisa melakukan apapun. Ia benar-benar harus menerima nasibnya diubah menjadi sosok orang lain hanya karena obsesi semata. Joana sendiri bingung, apa maunya Devan ini? Jika memang mencintai tunangannya, kenapa sering memperlakukannya dengan kasar?


Joana beberapa waktu sempat mendengar beberapa pelayan mengatakan jika Devan sebenarnya sangat merasa bersalah atas kematian tunangannya. Tapi melihat bagaimana sifatnya, sepetinya itu sangat mustahil.


Hari ini Devan benar-benar merubah total penampilan Joana. Rambutnya yang semula hitam panjang, diubah menjadi model curly dan berwarna kecoklatan. Kulitnya yang semula putih bersih juga sudah diberikan suntikan agar menjadi lebih kecoklatan. Joana semakin mirip dengan Mega, membuat Devan sampai melongo.

__ADS_1


"Tuan Devan, bagaimana? Apakah sudah seperti yang Anda inginkan?" Stylish itu bertanya dengan suara gemulainya, terlihat sekali ingin menjilat seorang Devandra Dawson.


Devan tidak menyahut, ia melihat Joana dengan wajah yang sangat kaget. Dengan tampilan barunya, Joana terlihat semakin mirip dengan Meganya.


"Mega," panggil Devan dengan suara berat.


Joana hanya diam, merasa dirinya bukan Mega. Jadi ia hanya diam saja.


Devan tersenyum puas melihat penampilan Joana, tapi ia sedikit terkejut, ternyata gadis yang ia temui beberapa waktu lalu benar-benar sangat mirip dengan Mega jika penampilan mereka sama.


"Apakah sudah selesai? Aku ingin pulang," ucap Joana yang merasa sudah lelah seharian berada di luar rumah.


"Kita akan pulang, tapi aku akan mengajakmu ke suatu tempat dulu," ujar Devan.


"Ke mana?" tanya Joana menekuk dahinya bingung.


"Jangan membiasakan dirimu selalu bertanya. Setiap hal yang akan aku lakukan harus kamu lakukan. Begitupun tempat, setiap tempat yang menjadi tujuanku, maka itu harus menjadi tujuanmu. Karena kita adalah satu."


Joana mengerutkan dahinya semakin dalam, apa sih maksudnya ucapan Devan itu. Kenapa suka memberikannya teka-teki.


"Jika tujuanmu adalah tujuanku, apakah tujuanku adalah tujuanmu?" kata Joana.


"Aku tidak sedang berteori," tukas Devan.


"Aku juga hanya bertanya. Jika memang kita adalah satu, artinya tujuanku adalah tujuanmu juga. Benar seperti itu?" tanya Joana.


"Mega, kamu tahu posisimu," sergah Devan mulai melirik Joana tak suka


"Ya, aku sangat tahu posisiku. Tapi melihat caramu yang seperti ini, mungkin Mega lebih senang berpisah darimu," kata Joana.


"Apa maksudmu berkata seperti itu?" Devan langsung menegakkan tubuhnya, kemarahan itu sudah melingkupi dirinya.


"Tidak ada. Aku hanya sedang berpikir tentang ucapanmu. Jika tujuanmu adalah tujuanku, maka seharusnya tujuanku adalah tujuanmu juga. Itu artinya apa yang kita lakukan akan menjadi tujuan kita. Bukan seenaknya memutuskan kamu harus seperti ini, itu namanya bukan cinta, Devan. Tapi sebuah keharusan," ucap Joana dengan suara yang terdengar tegas, sorot matanya begitu serius sekali.


Devan langsung terdiam, ia seharusnya bisa membantah ucapan Joana. Tapi mulutnya seperti terkunci.

__ADS_1


'Bukankah mengikuti keinginanku, sudah seperti mengikuti keinginan bersama? Aku berhak menentukan bukan?



__ADS_2