
Setelah liburannya beberapa saat yang lalu, Xander ternyata menjadi super sibuk. Banyak sekali urusan pekerjaan yang harus diselesaikan. Apalagi Papa Medison berniat untuk menggabungkan saja Perusahaan mereka agar Xander tidak terlalu pusing karena memikirkan dua Perusahaan sekaligus.
Stella sendiri tak mempermasalahkan kesibukan Xander itu, ia mengerti kalau suaminya memang sedang mengembang tanggung jawab besar. Toh, Xander juga masih bisa membagi waktunya antara rumah dan pekerjaan, hanya saja sedikit berkurang.
"By, kamu yakin nggak mau sarapan dulu. Ini makannya udah jadi loh," seperti biasa, setiap pagi jadwal Stella membuatkan sarapan untuk suaminya dan membantu pria itu bersiap.
"Nggak usah, kayaknya aku nanti juga lembur. Kamu nggak apa-apa 'kan kalau periksa di antar Mama?" ucap Xander harus menghadiri beberapa meeting penting hari ini.
"Iya nggak apa-apa by, cuma chek up bisa kok ini," ucap Stella tak keberatan, ia justru senang karena Xander tidak mengantarnya. Ia ingin memeriksakan penyakitnya yang belakangan ini sering kambuh.
Memang sejak ia pulang dari luar negeri, Stella merasa kalau tubuhnya sering lemas dan sering mimisan. Semakin hari rambutnya yang rontok pun semakin banyak. Belum lagi kadang kepalanya yang tiba-tiba sakit hingga menjalar ke perutnya.
"Halo Kak? Kakak sibuk nggak hari ini?" Stella menghubungi Dokter Mazaya terlebih dulu sebelum datang ke rumah sakit.
"Oh lagi di rumah sakit 'kan? Aku datang ya," ucap Stella lagi setelah mendapatkan kabar kalau Dokter Mazaya tidak sibuk.
Setelah merapikan penampilannya sejenak, Stella segera bergegas ke rumah sakit. Ia berharap kalau mendapatkan titik terang dari masalahnya ini. Tapi semuanya itu sepertinya hanya harapan yang sia-sia saja, karena hasil pemeriksaan menyatakan kalau penyakit Stella semakin mengganas.
"Kamu nggak mau dengerin aku, korbankan bayi kamu buat berobat Stella. Kalau kamu sembuh, kamu bisa tetap hamil lagi 'kan?" Dokter Mazaya men de sah kecewa melihat hasil pemeriksaan Stella yang menurun drastis.
"Apa tidak ada cara lain Kak? Sekarang usainya udah hampir 7 bulan, sebentar lagi dia akan lahir," Stella menangis seraya memeluk perutnya dengan perasaan tercabik.
"Semoga kau bisa bertahan selama itu," tukas Dokter Mazaya sudah terlalu lelah dengan sikap keras kepala Stella.
"Memang berapa lama lagi aku akan hidup?" tanya Stella menguatkan mentalnya untuk mendengar kabar buruk sekalipun.
"Aku tidak tahu karena aku bukan Tuhan, tapi jika melihat kekeraskepalaanmu, mungkin umurmu tidak akan panjang," ucap Dokter Mazaya terdengar sangat kejam, tapi memang itulah kenyataannya.
Seseorang dengan penyakit kanker darah seperti Stella hampir tidak ada yang lolos dari jerat kematian jika sudah memasuki stadium akhir. Ditambah lagi Stella yang sedang hamil dan tidak bisa mengkonsumi obat, kemungkinan besar umur Stella memang tidak akan bertahan lama.
Stella terdiam dengan air mata yang terus menetes, kenapa harus dia yang mendapatkan penyakit ini. Tak bisakah Tuhan memberinya umur panjang untuk melihat anaknya tumbuh nanti.
"Baiklah, terima kasih sudah memeriksaku. Aku akan pulang dulu," ucap Stella mengusap air matanya cepat, semua ini sudah keputusannya, jadi ia harus menerima segala konsekuensinya.
__ADS_1
"Tunggu dulu Stella, aku akan memberimu obat pereda rasa sakit. Obat ini aman jika kau minum meski kau sedang hamil," ucap Dokter Mazaya tak tega juga melihat Stella yang sangat terpukul seperti itu.
"Terima kasih Kak," ucap Stella mencoba tersenyum meski gagal.
Setelah Dokter Mazaya memberikan obatnya, Stella segera keluar ruangan. Pikirannya entah melayang kemana saja, banyak sekali gambaran-gambaran saat berbahagia nya dengan Xander. Semua itu, apakah hanya akan tinggal kenangan.
Stella terus berjalan seraya melamun hingga langkahnya terhenti saat melihat sosok pria yang di kenalnya berdiri di depannya.
"Kak Niel?" ucap Stella lirih, sudah lama sekali ia tidak pernah bertemu dengan pria ini.
Daniel hanya diam saja ditempatnya, ia memperhatikan Stella dari atas sampai bawah. Pandangannya lalu berpusat pada perut Stella yang membuncit, Daniel tersenyum kecut, kembali bertemu dengan Stella sama saja menyiram lukanya yang belum sembuh dengan garam, sangat sakit dan perih.
"Kakak apa kabar?" tanya Stella masih sungkan jika bertemu dengan pria ini.
"Aku baik, kau sendiri?" sahut Daniel nyatanya tak bisa mengabaikan begitu saja sosok wanita yang memiliki senyum manis ini.
"Aku baik Kak," ucap Stella tersenyum tipis.
"Xander sedang bekerja Kak, aku di antar supir kok kesini," ucap Stella menjelaskan. "Kakak sedang apa disini?" tanya Stella kemudian.
"Mama sedang drop, lagi diopname," jawab Daniel seadanya.
"Oh ya? Memangnya sakit apa Bibi?" tanya Stella terkejut.
"Biasa, vertigo nya naik. Kau akan pulang sekarang?" ucap Daniel.
"Ya, aku sudah selesai periksa. Ini mau pulang, duluan ya Kak," ucap Stella mengangguk berpamitan, ia masih merasa sangat canggung jika bersama dengan Daniel.
Stella berjalan dengan cepat, ia tahu kalau saat ini Daniel masih memperhatikannya. Tapi tiba-tiba saja kepalanya berdenyut pusing membuat Stella menghentikan langkahnya.
"Aduh ..." Stella memegang kepalanya yang begitu sakit, selalu saja begini, sakit kepala itu sering menyerang di waktu yang tidak bisa di tentukan.
Karena sakit kepala Stella semakin lama semakin menjadi-jadi, ia harus berpegangan pada tembok agar tidak jatuh.
__ADS_1
"Stella? Kau kenapa?" Daniel bergerak cepat untuk membantu Stella yang hampir limbung.
"Kepalaku sakit," sahut Stella bersamaan dengan darah yang keluar dari hidungnya.
"Kau berdarah!" Daniel memekik kaget begitu melihat darah kental keluar dari hidung Stella. Wajahnya tampak sangat cemas dan panik.
"Aku tidak apa-apa, aku tidak apa-apa," ucap Stella juga terkejut, ia segera mengusapnya dengan cepat.
"Kau tidak baik-baik saja, kau harus diperiksa," tukas Daniel tak menunggu persetujuan dari Stella, ia langsung saja membawa wanita itu ke IGD. Ia tak percaya kalau Stella hanya mimisan biasa, semua ini pasti ada kaitannya dengan penyakit Stella waktu itu.
"Kak, aku beneran nggak apa-apa," ucap Stella memejamkan matanya erat, namun ia enggan jika diajak ke IGD.
"Aku akan melepaskan mu kalau Dokter mengatakan kalau kau memang baik-baik saja." Bantah Daniel dengan suara tegasnya membuat Stella tak bisa lagi berkata-kata lagi, ia akhirnya mau tak mau pasrah saja saat Daniel membawanya ke IGD.
Happy Reading.
Tbc.
Happy New Year Gengs ...
Semoga di tahun baru ini kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik ya ...
Jangan lupa like dan komennya gengs ..
Untuk menemani tahun baru kalian, author mau kasih rekomendasi novel bagus nih ...
Mampir yuk ke karya teman author ...
Judul : Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas.
Author : Alinatasya21
__ADS_1