Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
(MM&GL) BAB 35. Ungkapan Perasaan.


__ADS_3

Joana tersenyum mendengar pertanyaan dari Devan. Ia tetap melanjutkan kegiatannya mengompres pria itu tanpa ada niat untuk menjawab pertanyaan itu. Joana sudah merasa jika memang dirinya dan Devan hanya cukup sampai disaat ini.


"Kenapa? Apa kamu benar-benar ingin pergi?" Devan kembali bertanya karena belum mendapatkan jawaban.


"Badanmu sudah lumayan hangat. Aku akan meminta Tita untuk membuatkan sup ikan untukmu. Itu bagus untuk kesembuhan," kata Joana menyudahi aktivitasnya.


Joana lalu bangkit dari duduknya, tapi Devan dengan cepat menahan tangannya.


"Ada apa, Dev?" tanya Joana dengan nada biasa, ia tidak ingin terlalu terbawa perasaan karena hatinya sudah cukup sakit.


"Jangan pergi," kata Devan, ia memandang Joana dengan penuh harap.


"Aku hanya akan memanggil Tita," sahut Joana.


Devan menghela napas panjang, ia menggeser tubuhnya untuk bisa duduk lebih tegak. Tanpa mengatakan apapun, ia langsung memeluk Joana dari belakang.


"Dev, ap-"


"Mungkin aku pernah melakukan hal salah padamu, aku sangat egois dan tidak mau mendengarkan apapun yang kamu katakan. Aku selalu memaksamu menjadi orang lain tanpa memikirkan bagaimana perasaanmu. Aku yang menggila karena menginginkan hatimu tanpa berpikir caraku itu salah atau tidak. Sekarang aku menyadarinya, nyatanya bukan dia lagi yang aku inginkan, melainkan kamu. Berulang kali aku menanyakan pada diriku sendiri, dan kamu tahu jawabannya? Selalu sama, yaitu kamu, Joana," ucap Devan seraya mengeratkan pelukannya kepada Joana, ia membuang seluruh egonya karena nyatanya memang hatinya menginginkan wanita ini.


Joana menangis lirih, ia mendongak untuk mengahalaunya. "Kamu itu memang sangat egois, Dev. Kamu menyakiti hatiku tanpa sungkan dan sialnya hatiku terus memaksaku untuk bertahan. Aku benci dengan perasaan ini, Dev. Ini sangat menyakitkan," kata Joana.


"Maafkan aku." Devan semakin mengeratkan pelukannya, ia bisa merasakan kesedihan itu.


Joana melepaskan pelukan Devan, ia memutar tubuhnya agar bertatapan dengan pria itu langsung. Ia lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Devan.


"Katakan sekali lagi, kalau kamu meminta maaf," ucap Joana, ingin mendengar lagi seroang Devan meminta maaf dengan tulus seperti tadi.


"Maafkan aku." Devan menurut, ia kembali mengulangi perkataannya dengan nada yang sangat tulus, pun tatapan matanya yang sangat bersalah itu.


"Katakan kalau aku yang kamu suka, bukan dia," pinta Joana dengan suara tercekat.


Devan memejamkan matanya, ia menggenggam tangan Joana dengan sangat erat.


"Aku mencintaimu, Joana." Kata Devan membuka matanya dan menatap mata indah Joana yang kini memantulkan wajahnya itu.


"Jika dia datang kembali, apa kamu tetap akan memilihku?" tanya Joana lagi.

__ADS_1


"Tidak ada yang lain, termasuk dia." Devan langsung menjawab tanpa keraguan sama sekali.


Joana menangis sejadi-jadinya mendengar ungkapan cinta yang sangat tulus itu, memuluskan segala keraguan yang selama ini menganggu pikiran dan hatinya. Tanpa ragu ia langsung memeluk Devan dan langsung dibalas ciuman manis oleh pria itu.


Joana sendiri tidak menolak, ia memejamkan matanya dan menikmati ciuman yang saling berbalas itu. Kali ini Joana menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Devan. Biarlah dia dibilang wanita bodoh dan murahan, ia juga lelah membohongi perasaannya sendiri. Semua itu justru lebih menyakitkan untuk dirinya sendiri.


Devan seperti mendapatkan euforia kemenangan atas ungkapan cinta yang baru ia katakan. Semua itu berjalan sesuai isi hatinya dan tanpa ada paksaan sama sekali. Nyatanya benar, hatinya memang menginginkan Joana, bukan Mega. Hal itu membuat Devan lebih berani mencium Joana lebih ganas dari sebelumnya dan wanita itu pun mengimbanginya tak kalah panas.


Semakin lama ciuman itu semakin intens, Joana sesekali menjambak rambut Devan saat dirasa ciuman mereka sangat dalam. Devan pun hanya melepaskan Joana sejenak lalu melu mat bibirnya kembali karena sudah menjadi candunya. Ia lalu mendorong wanita itu ke ranjang tanpa melepas ciuman mereka.


Joana sempat ragu, ia menahan bahu Devan tapi otaknya jelas tidak bisa diajak kompromi. Ia mengeluarkan suara laknatnya saat Devan mencium lehernya seraya mengigitnya kecil.


"Dev." Hanya nama itu yang keluar dari bibir Joana saat Devan mulai bermain-main di lehernya.


Devan semakin terbakar, ia mengusap lembut paha Joana dengan gerakan menggoda. Ia menurunkan ciumannya lagi dan ingin membuka kancing baju wanita itu.


Namun ...


"Tuan Devan, gawat saya, akhhh astaga! Maafkan saya, maafkan saya."


Devan sendiri terkejut, sebenernya tidak juga. Ia terkejut saat Joana mendorongnya sampai ia terjengkang ke belakang.


Devan mendesis pelan, ia melirik tajam ke arah Ken yang kini tengah berdiri membelakanginya itu. Setelah ini ia pasti akan membunuh pria itu karena sudah lancang mengganggunya. Padahal ia sedang mesra-mesranya dengan Joana.


"Katakan." Devan berbicara dengan suara yang terdengar menahan amarah.


"Saya akan keluar saja, Tuan. Maaf menganggu waktunya, saya benar-benar minta maaf," kata Ken masih tidak berani memutar tubuhnya, dalam hati tak henti mengutuk kebodohannya yang lupa tidak mengetuk pintu terlebih dulu.


"Semua yang kamu katakan, Joana juga berhak mendengarnya. Dia wanitaku," kata Devan dengan suara tegas.


Joana langsung mengeluarkan kepalanya saat mendengar perkataan Devan, ia menatap pria itu dengan tatapan bingung tapi Devan hanya diam saja.


"Jadi?" tanya Devan.


"Ada barang baru di club Marko." Ken langsung menjelaskan to the point.


"Barang baru?" Devan mengernyitkan dahinya, cukup terkejut mendengar kabar tersebut.

__ADS_1


"Ya, polisi juga sedang menyelidikinya. Hampir mirip dengan barang kita, tapi jenis permen," jelas Ken.


Devan mengeraskan rahangnya, tidak menyangka jika ada yang berani terang-terangan mengibarkan bendera perang padanya seperti ini. Bisa dikatakan, ini pertama kalinya ada orang yang memproduksi narkoba jenis baru yang jelas-jelas itu menentang dirinya.


"Aku akan segera kesana. Pastikan Marko ada di tempat saat aku datang," kata Devan dengan suara tegasnya.


"Baik, Tuan. Saya akan mengirimkan anak buah kita kesana sekarang." Ken mengangguk mengerti, ia langsung berpamitan setelah melaporkan hal yang ia tahu.


Devan hanya mengibaskan tangannya, wajahnya masih mengeras pertanda masih menahan kesal. Sepertinya kini musuhnya sudah tidak lagi bersembunyi dibalik orang-orang yang sering mengkhianatinya. Tapi kini ia ingin menunjukkan bagaimana wujud aslinya selama ini pada Devan.


'Baiklah, aku sudah lama menunggu kamu datang. Sekarang ingin berperang? Ayo berperang.'


Devan segera beranjak dari tempat tidurnya, ia tidak peduli jika badannya masih sakit, ia harus menuntaskan masalah ini segera dan mencaritahu siapa musuh yang kini sedang menantangnya itu.


Namun, sebelum ia berdiri Joana lebih dulu menarik tangannya sehingga ia mengurungkan niatnya.


"Lepaskan, aku ada pekerjaan," kata Devan dengan suara yang terbilang datar.


"Jangan pergi," ucap Joana, memandang Devan dengan raut wajah penuh permohonan.


Devan menghela napas panjang, ia melepaskan tangan Joana dengan lembut lalu mengusap pipinya.


"Ada hal yang harus aku urus, nanti aku akan kembali," tutur Devan.


Joana menggelengkan kepalanya, ia justru memegang tangan Devan kian erat. Ia sudah tahu apa yang akan pria ini lakukan sekarang. Pria ini pasti hanya akan melakukan hal yang berbahaya dan Joana tidak mau jika nantinya Devan akan terluka lagi.


"Jangan pergi, aku mohon," ucap Joana dengan suara yang terdengar seperti merayu.


Devan menipiskan bibirnya, ia menatap Joana sekilas lalu melepaskan tangannya. "Jangan menghalangiku, Joana. Ini adalah pekerjaanku," ucap Devan berubah dingin tatapan matanya.


Joana tidak hilang akal, ia ikut bangkit dari tidurnya meskipun kakinya masih lemah. Ia menarik lengan Devan lalu mencium bibirnya dan mendorong pria itu ke ranjang. Entahlah, ia pasti akan menyesali perbuatannya ini, tapi ini satu-satunya cara untuk membuat Devan agar tidak pergi.


"Joana!"


_________


__ADS_1


__ADS_2