
Setelah kepergian Daniel, Stella menatap Dokter Mazaya dengan tatapan sendunya. Ia sudah tahu hal apa yang akan disampaikan oleh Dokter Mazaya. Karena dari tatapan matanya saja Stella sudah bisa menebak kalau semua ini pasti tentang penyakitnya.
Dokter Mazaya menghela nafasnya lembut, ia memegang tangan Stella untuk sekedar membagi kekuatan.
"Kamu hamil?" tanyanya dengan lembut.
"Iya Kak, apa ada yang perlu dikhawatirkan?" Ucap Stella.
"Ini semua tentang penyakitmu, aku sudah sering mengatakan padamu untuk memulai pengobatan lebih dini bukan? Tapi kenapa kau selalu menolaknya Stella?" Ucap Dokter Mazaya beberapa kali harus menghela nafasnya karena tak sanggup jika mengatakan kabar yang akan menyakiti Stella.
"Sudahlah Kak, aku sudah menerima semua takdir ini, apa yang ingin Kakak katakan padaku? Apakah kehamilanku ini akan berpengaruh pada kesehatan ku, Kak?" Tanya Stella seolah tahu apa yang akan dikatakan oleh dokter Mazaya.
"Kau benar, mungkin kabar ini akan membuat hatimu terluka, tapi aku harus mengatakannya Stella, kehamilan ini adalah resiko terbesar dalam penyakitmu," ucap Dokter Mazaya menjelaskan bagaimana bahayanya kehamilan untuk penderita kanker darah seperti Stella.
"Tapi aku ingin mempertahankan bayi ini Kak, dia sudah tumbuh di rahimku, bagaimana mungkin aku menolak kehadirannya?" Ucap Stella menahan air matanya yang ingin tumpah.
"Aku tahu apa yang kau rasakan, tapi kehamilan ini benar-benar sangat berbahaya untukmu Stella. Kau tidak bisa mengkonsumsi obat mu dan itu akan membuat kesehatanmu semakin menurun," ucap dokter Mazaya tak menyembunyikan nada cemas di dalamnya.
Stella menggigit bibir bawahnya, ini merupakan pilihan yang sangat sulit baginya. Bagaimana mungkin dia bisa memilih antara anak dan juga kesehatannya? tapi bagi Stella mau dia sakit ataupun terluka tidak ada yang lebih penting selain anaknya sekarang.
"Aku tidak peduli Kak, jika aku harus mati, aku rela, yang penting anakku bisa selamat," ucap Stella dengan tatapan sendunya.
"Stella, apa yang kau katakan? Kau lebih memilih anak dari pria yang sudah menyakitimu? Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Kesehatanmu itu lebih penting! Kau bisa menggugurkannya sekarang, mulailah kehidupan baru, dengan lembaran yang baru, lupakan Xander. Dia tidak akan pernah melihatmu sampai kapanpun Stella!" Tukas dokter Mazaya geram karena Stella seolah dibutakan oleh cintanya kepada Xander.
__ADS_1
Padahal sudah jelas kalau pria itu hanya bisa menyakiti Stella, tapi kenapa dia tidak bisa melupakan atau sekedar membencinya? Apakah memang cinta sebodoh ini.
"Ini bukan sekedar rasa cinta Kak, tapi dia juga buah hatiku. Bagaimana kalau semua ini terjadi di posisi Kakak? Apa yang akan Kakak lakukan? Apa mungkin aku tega menggugurkan darah daging ku sendiri?" Ucap Stella seraya menangis sesenggukan dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ini sungguh pilihan yang sangat sulit, dia harus memilih antara nyawanya sendiri atau nyawa anaknya.
Dokter Mazaya tanpa sadar ikut meneteskan air mata, ia mendekatkan dirinya kepada Stella dan memeluk tubuh ringkih itu. "Maafkan aku Stella, aku tidak bermaksud untuk membuatmu tertekan, tapi aku sangat mohon padamu, tolong ikhlaskan saja anak itu," kata dokter Mazaya sekali lagi ingin membujuk Stella.
Stella mengangkat wajahnya ia mengusap air matanya dengan kasar. "Tidak Kak, aku tidak akan menggugurkan anak ini sampai kapanpun. Lebih baik aku yang mati daripada anakku yang mati, tolong hargai keputusanku Kak," ucap Stella tegas namun tersirat nada penuh kesedihan di dalamnya.
"Tapi …" ucapan dokter Mazaya menggantung karena setelah langsung menggenggam tangan dokter Mazaya dengan erat.
"Kak, aku di sini seorang pasien bukan? Aku berhak memutuskan apa yang terbaik untuk diriku. Jika Kakak terus memaksaku, aku meminta untuk jangan merawat ku di sini Kak, aku akan pulang saja," kata Stella terpaksa mengancam dokter Mazaya karena dia sudah sangat yakin dengan keputusannya ini.
Dokter masih ada tak bisa lagi berkata-kata, ia melihat sorot mata Stella yang tampak begitu serius. Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusan setelah ia tidak bisa melakukan apapun. Dokter Mazaya hanya bisa berharap semoga Tuhan memberikan keajaiban kepada Stella dan juga anaknya, agar mereka bisa berkumpul bersama nantinya.
*****
Daniel lalu melirik ke arah Nanda yang hanya diam saja sejak tadi, melihat hal itu Daniel seolah terpikirkan oleh suatu hal.
"Siapa namamu?" tanya Daniel dengan nada seriusnya.
"Eh, Tuan bertanya kepada saya?" Ucap Nanda sedikit terkejut saat mendengar suara Daniel.
"Ya, kau sangat dekat dengan Stella kan? Kau juga pasti tahu apa yang selama ini terjadi pada Stella," ucap Daniel memutar sedikit tubuhnya hingga menyerong menghadap ke arah Nanda.
__ADS_1
"Maaf Tuan, saya tidak bisa membicarakan hal pribadi yang menyangkut Nona Stella kepada orang luar," kata Nanda dengan suara tegasnya.
"Aku bukan orang luar, aku adalah teman Stella. Kau juga sudah tahu aku bukan?" Kata Daniel lagi.
"Saya tahu, tapi saya benar-benar tidak bisa bercerita Tuan, jika anda ingin mengetahuinya, kenapa anda tidak menanyakannya saja kepada Nona Stella," ucap Nanda tak ingin membicarakan sesuatu yang merupakan suatu rahasia dari Stella.
"Baiklah jika kau tidak ingin memberitahuku, padahal aku bisa saja membantu Stella keluar dari masalahnya. Tapi karena kau tidak ingin memberitahuku, aku juga tidak akan tahu masalahnya dan aku pun pastinya tidak akan bisa membantu," kata Daniel sengaja memancing Nanda ia tahu jika saat ini Stella sedang terlibat masalah besar dan Nanda sebagai teman pasti ingin sekali temannya itu mendapatkan pertolongan.
Terbukti sekarang Nanda melirik Daniel dengan tatapan mempertimbangkan, ia membenarkan perkataan Daniel kalau saat ini Stella memang benar-benar dalam masalah besar dan ia juga tahu kalau Daniel bisa saja membantu Stella. Apalagi Daniel merupakan orang yang memiliki kekuatan yang sama besarnya seperti Xander. Tapi apakah mungkin dia harus mengatakannya kepada Daniel?
"Hari ini mungkin aku ada meeting, aku tidak bisa mengantar Stella pulang. Sebentar lagi aku akan pergi kok bisa kan menjaganya di sini sendiri," ucap Daniel seraya melirik jam tangannya, sebenarnya dia berbohong, tapi dia tahu kalau saat ini Nanda sedang mempertimbangkan ucapannya.
"Tunggu dulu Tuan," kata Nanda menahan tangan Daniel saat pria itu ingin beranjak.
Daniel hanya mengangkat alisnya seolah bertanya.
"Apakah Tuan benar-benar ingin membantu Nona Stella?" Tanya Nanda dengan wajah ragu nya.
"Apa menurutmu wajahku seperti orang yang berbohong? Aku selalu serius dengan perkataanku," ucap Daniel dengan nada serius yang paling pernah ia ucapkan.
Nanda menghela nafasnya berkali-kali, ia akhirnya mengangguk dan menceritakan semua kejadian yang dialami setelah dari bagaimana Stella dijebak dan dipaksa menikah oleh Xander. Dan Stella yang harus mendapatkan kekerasan fisik dan juga mental dari suaminya itu.
"Xander, maksudmu Xander Oliver?" Daniel tentu sangat terkejut mendengar semua perkataan Nanda, ia sama sekali tak menyangka kalau setelah sudah menikah dan memiliki nasib yang sangat buruk. Apakah ini jawaban dari kenapa akhir-akhir ini wajah Stella sering murung?
__ADS_1
Happy Reading.
TBC.