
Xander berdiri gugup di samping Stella yang sudah berbaring di ranjang. Mereka berdua kini sudah berada di dalam ruang pemeriksaan kandungan. Setelah ditanyai beberapa hal oleh dokter setelah lalu disuruh untuk melakukan pemeriksaan USG.
"Sudah masuk minggu ke-15 ya, Nona? Ada gejala lain selain mual dan pusing mungkin?" Tanya Dokter seraya mengoleskan gel khusus ke perut Stella yang terlihat sudah menonjol.
"Tidak ada dokter," sahut Stella.
"Baiklah, kita ketemu dedeknya dulu ya. Papa sini ayo agak dekat, pasti udah nggak sabar banget dari tadi," ucap dokter mengerlingkan matanya kepada Xander yang sejak tadi sangat gugup.
Stella tersenyum lucu memandang suaminya yang memasang wajah kaku. Ia lalu sedikit menggoyangkan genggaman tangan mereka membuat Xander menatapnya.
"Aku hanya terlalu senang," ucap Xander mengutarakan isi hatinya.
"Kita akan melihatnya sebentar lagi," ucap Stella lalu mengalihkan pandangannya ke layar monitor di depannya.
Xander ikut terpaku menatap bulatan kecil yang terlihat di layar monitor. Bentuknya belum terlalu jelas, namun Xander tahu jika itu adalah anaknya.
"Bayinya sehat, semuanya bagus, tangan dan kakinya juga sudah terbentuk. Hai adik say hai dong sama Papa dan Mama," ucap dokter menjelaskan seraya terus memutar-mutar alat itu di perut Stella.
Xander terdiam, matanya tampak berkaca-kaca dan sangat terharu saat melihat anaknya. Xander menyesal kenapa tak dari dulu ia mengetahui hal ini, andai saja ia tahu dari awal, ia pasti akan selalu menemani setela. Melihat tumbuh kembang anaknya.
"By, anak kita," ucap Stella membuat pandangan Xander teralihkan.
Xander mengangguk seraya tersenyum haru, ia mencium tangan Stella lembut. "Terima kasih sudah menjaga anak kita dengan sehat," ucap Xander benar-benar sangat bersyukur memiliki Stella.
Stella hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
Setelah pemeriksaan itu selesai dan dokter sudah meresepkan vitamin. Calon orang tua baru itu langsung meninggalkan rumah sakit. Selama perjalanan pulang, Xander tak henti menawarkan makanan atau apapun yang mungkin saja Stella inginkan.
"Sayang, apa kau serius tidak ingin apapun? Bukannya orang hamil itu suka ngidam?" tanya Xander heran kenapa Stella tidak meminta hal yang aneh-aneh.
"Nggak semuanya, lagipula bukannya dulu hubby yang mabuk kehamilan? Sekarang gimana? Udah nggak suka muntah-muntah lagi?" ujar Stella memandang Xander yang fokus menyetir.
"Muntah-muntah? Memangnya apa hubungannya?" tanya Xander tidak mengerti.
"Itu namanya kehamilan simpatik, jadi saat istrinya hamil, tapi suaminya yang mengalami mual muntah," sahut Stella menjelaskan.
Xander mengernyitkan dahinya seolah tak percaya. "Tapi kau serius tidak ingin apapun? Apa anak kita tidak punya cita-cita merepotkan Ayahnya gitu?" ucap Xander nyeleneh.
__ADS_1
"Hubby itu aneh, itu artinya anak kita emang pinter dong," Stella menggelengkan kepalanya, heran kenapa suaminya ini malah minta direpotkan.
"Anak aku emang pinter, aku sudah nggak sabar menunggunya lahir," ucap Xander mengulurkan tangannya untuk mengelus perut Stella.
"Aku juga nggak sabar," ucap Stella tersenyum tipis, namun sedetik kemudian senyuman itu mendadak hilang saat ia ingat kalau mungkin saja umurnya yang tidak akan panjang.
"Bagaimana kalau kita belanja pakaian bayi sekarang?" ucap Xander tersenyum cerah saat menemukan ide cemerlang di kepalanya.
"Ya ampun By, usia kehamilanku kan baru 5 bulan jalan, masih 4 bulan lagi lahirnya," ucap Stella merasa ide suaminya ini sangat konyol.
"Ya nggak apa-apa, aku cuma mau anak kita nggak kekurangan apapun nanti," kata Xander mengerutkan bibirnya.
"Tahanlah sebentar lagi, mungkin kita bisa membelinya saat usianya sudah 7 bulan nanti. Toh, sekarang kita belum tahu jenis kelamin anak kita," ucap Stella lagi.
"Kira-kira anak kita cewek apa cowok?" tanya Xander.
"Nggak tahu, aku nggak pengen tahu jenis kelaminnya dulu. Yang jelas cewek atau cowok, aku akan selalu menyayanginya By," ucap Stella tersenyum seraya mengelus perutnya.
"Kalau cewek pasti mirip kamu," ucap Xander melirik Stella seraya mengulas senyum manis.
"Apa maksudmu?" tanya Xander menekuk wajahnya. Hatinya terusik saat Stella mengatakan kalau dia tidak ada, seolah Stella akan pergi meninggalkannya.
"Tidak ada, kita jadi pulang ke rumah baru?" ujar Stella mengalihkan percakapan ke hal yang lain. Ia tidak mau sampai Xander tahu tentang penyakitnya, jika memang dia ditakdirkan untuk pergi nanti, Stella ingin memberikan satu kenangan indah untuk suaminya.
"Iya, aku sudah bilang sama Mama tadi," sahut Xander tak lagi memikirkan perkataan Stella.
Stella mengangguk singkat, ia menikmati perjalanan menuju rumah baru mereka yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah sang mertua. Lokasinya pun tampak strategis dan juga sangat asri. Hampir semua perumahan di situ memiliki halaman depan yang luas.
"Ini rumah kita?" tanya Stella berdecak kagum melihat bangunan indah di depannya.
Rumah yang tidak terlalu besar namun sangat elegan. Di depannya ada sebuah taman kecil dan juga kolam ikan yang membuat pemandangan menyejukkan mata.
"Ya, ayo masuk," Xander tersenyum seraya menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam rumah.
Begitu masuk rumah, Stella langsung disuguhkan ruang tamu minimalis, lalu ruang tengah yang langsung bersambungan dengan dapur. Di sisi kanan, ada jendela kaca yang menghubungkan ruang tengah dengan taman samping dan juga kolam renang.
"Aku sudah memperkejakan satu orang yang akan membantumu disini nanti, karena istriku ini senang memasak, saat anak kita lahir nanti, kau bisa mengawasi anak kita sambil memasak di sana," ucap Xander menjelaskan kenapa memilih membuat ruang tengah yang bersambungan dengan dapur.
__ADS_1
"Aku suka By, terima kasih," ucap Stella mendongak memandang suaminya. Ia benar-benar sangat menyukai desain rumah baru mereka.
"Baiklah, sekarang kamu harus lihat kamar tidur kita," bisik Xander mengerlingkan matanya menggoda.
Stella tertawa seraya menggelengkan kepalanya. "Kamar tidur terus nih yang ada di otaknya," ucap Stella mencubit gemas lengan suaminya.
"Ya gimana, itu udah menjadi motto hidup Sayang, ayo" ucap Xander menarik tangan Stella namun wanita itu tetap diam di tempatnya. Xander menekuk wajahnya memandang Stella.
"Gendong ..." ucap Stella manja.
"As you wish ..." Xander justru tersenyum kesenangan, ia langsung meraih Stella dalam gendongannya dan membawa wanita itu menaiki tangga menuju lantai atas.
Stella ikut tersenyum, ia merangkul kan tangannya di leher Xander agar tidak jatuh.
"Kapan hubby tahu kalau aku adalah teman masa kecilmu?" tanya Stella tak lepas memandang suaminya.
"Tidak beberapa lama saat kau pergi," sahut Xander seadanya.
"Apa itu alasanmu mencari ku lagi?" tanya Stella lagi.
"Tidak juga, saat itu aku sudah tahu semua kebohongan Joana dan aku mencari mu untuk minta maaf, tapi ternyata kau sudah pergi meninggalkanku," ucap Xander mengingat bagaimana hancurnya dia saat itu.
"Kau sudah lebih dulu mengenaliku, kenapa kau tidak mengatakannya kalau kau adalah Lala?"
Happy Reading.
Tbc.
Bonus Visual Xander dan Stella.
__ADS_1