
Pukul 7 malam, Joana baru saja menyelesaikan acara mandi dan berniat bersantai sejenak. Akan tetapi Tita sudah menghampirinya dengan membawa kotak pink yang sangat cantik lalu menyerahkannya padanya.
"Apa ini?" tanya Joana bingung.
"Ini hadiah dari Tuan Devan. Satu jam lagi beliau akan sampai di rumah. Beliau berpesan jika ingin Anda siap saat beliau datang nanti," jelas Tita.
Kenapa dua hari ini selalu ada yang memberikannya hadiah? Kemarin Felix, sekarang Devan.
"Ini adalah pakaian yang harus Anda kenakan saat pergi bersama Tuan Devan nanti," ujar Tita lagi.
Joana menghela napas panjang, ia segera mengambil kotak itu.
"Aku akan mengganti bajuku, kamu tunggu saja diluar," titah Joana.
"Saya akan membantu Anda, Nona."
"Tidak perlu, aku ingin menjadi diriku sendiri, bukan Mega!" tukas Joana melirik Tita dengan tatapan tajamnya.
"Maaf." Tita menunduk sebagai permintaan maafnya.
Joana hanya mengibaskan tangannya, menyuruh Tita untuk segera pergi. Setelah itu ia mengambil kado yang diberikan oleh Devan. Sebuah gaun berwarna moccha yang sangat elegan. Joana akui gaun itu sangat indah sekali, desainnya tidak berlebihan tapi terlihat mahal.
Joana lalu mencari-cari kartu yang mungkin saja Devan tulisan. Tapi tidak ada apapun selain dari butik tempat gaun itu dipesan.
"Tidak ada kartu ucapan? Kenapa dia bisa seperti itu?"
Joana bisa mengkategorikan jika Devan ini memang pria yang sangat tidak romantis. Jangankan romantis, pria itu saja sepertinya hanya tahu cinta itu hitam dan putih.
"Ck, apa yang aku harapkan? Dia 'kan memang seperti itu," gerutu Joana segera mengabaikan pemikirannya jauh.
Joana segera bersiap memakai baju yang dibelikan Devan. Malam ini ia benar-benar ingin berdandan seusai keinginannya sebagai Joana, bukan Mega. Mungkin sekilas penampilan mereka itu mirip, tapi penampilan Mega itu lebih feminim. Sedangkan Joana suka penampilan simple tapi tidak meninggalkan kesan seksi yang selalu melekat dalam dirinya.
Malam itu Joana sengaja menurunkan pakaiannya yang ada dibagian bahu sehingga bahunya yang putih terekspos. Bagian depannya belahan dadanya rendah menunjukkan dadanya yang menggoda. Untungnya luka bakar yang pernah ada ditubuhnya sudah hilang, hanya meninggalkan bekas putih kecil yang justru semakin menambah kesan seksi itu sendiri.
Untuk rambutnya, Joana sengaja mengikatnya dengan gaya cepol tapi rapi. Joana benar-benar terlihat sangat cantik malam itu. Penampilannya tidak berlebihan tapi sangat cantik dan seksi tentunya.
Setelah dirasa cukup, Joana mendorong kursi rodanya keluar. Ia niatnya ingin menunggu diluar saja, tapi saat ingin keluar ia mendengar beberapa pelayan berbisik-bisik didepan kamarnya.
"Apa kamu sudah dengar kabar, tadi Tuan Felix masih rumah sakit," ujar salah satu pelayan yang tampak sangat luwes berbicara.
"Masuk rumah sakit kenapa? Tuan Felix sudah lama tidak datang kesini. Apa ada masalah lagi dengan, Tuan Devan?" sahut pelayan lainnya.
"Dari yang aku dengar, Tuan Devan melukai wajah Tuan Felix sampai harus dioperasi. Untuk masalahnya belum tahu, tapi sepertinya sama seperti dulu lagi," ujar sang pembawa berita.
__ADS_1
"Tuan Devan memang sangat menyeramkan kalau marah. Kasihan sekali Tuan Felix, wajah tampannya oh ...."
Pembicaraan itu masih berlanjut tapi Joana hanya ingat kata-kata yang sangat membekas ditelinganya.
"Felix dilukai Devan sampai harus dioperasi?" Joana menutup mulutnya tak percaya, apa yang membuat Devan melakukan itu?
"Apa jangan-jangan?"
Joana membulatkan matanya, ia mengutuk kebodohannya sendiri yang begitu meremehkan Devan. Pria itu pasti sudah tahu apa isi dari kotak itu sebelum Tita memberikannya padanya.
Joana lalu ingat tentang ponsel dan obatnya, seharian ini ia belum melihatnya karena sibuk di galery seni dan Tita juga terus mengikutinya. Joana bergegas mengambil ponsel itu, tapi pintu kamarnya terbuka membuat ia mengurungkan niatnya.
Devan berdiri disana dengan pakaian yang sudah rapi. Jantung Joana rasanya ingin copot, tapi ia berusaha agar terlihat tidak gugup.
"Dev, kamu sudah pulang? Aku pikir masih lama," kata Joana mengulas senyumnya meski kikuk.
Devan tidak menjawab, ia sejak tadi langsung terpana melihat penampilan Joana yang benar-benar cantik. Wajahnya sekilas mirip Mega, tapi juga berbeda. Joana bisa terlihat cantik dan menggoda secara bersamaan.
"Ehm, apakah bajunya aneh? Tita bilang ini darimu 'kan? Kalau iya aku akan menggantinya saja," kata Joana lagi, melirik penampilannya karena Devan memandangnya tak berkedip.
"Tidak perlu," ujar Devan, pria itu bergegas mendatangi Joana dengan langkah mantap.
Joana menggenggam tangannya sendiri, ia sudah mengira kalau Devan pasti akan memarahinya habis-habisan karena mungkin saja tahu tentang apa yang telah ia lakukan bersama Felix.
"Kamu sangat cantik," ucap Devan, ia mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Joana.
Mulut Joana terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi ia sudah gemetaran terlebih dulu.
"Terima kasih," kata Joana terbata-bata.
"Sudah siap? Ayo pergi sekarang," kata Devan.
Joana hanya mengangguk saja sebagai jawaban. Ia benar-benar masih kepikiran dengan ucapan para pelayan itu, apakah benar Felix dilukai oleh Devan? Sekarang bagaimana kondisinya?
Jika kabar itu memang benar adanya, Joana merasa sangat bersalah, karena dirinya Felix justru mendapatkan masalah dan harus terluka.
'Kenapa setiap orang yang membantuku selalu berakhir tragis? Apakah aku sebenarnya tidak pantas untuk dibantu? Dulu Ibuku, sekarang Felix. Atau sebenarnya aku yang anak pembawa sial?'
"Malam ini aku tidak mau kamu memikirkan hal lain. Malam ini aku ingin kamu membuang semua pemikiranmu, apapun itu. Malam ini hanya antara aku dan kamu," bisik Devan secara tiba-tiba.
Joana terkesiap, ia melirik Devan yang wajahnya sangat dekat dengannya. Pria itu tersenyum manis, membuat Joana hampir saja terlena. Untung saja Ken segera datang, sehingga kontak mata itu terputus karena mereka harus naik mobil.
Begitu ia dan Devan sudah naik, mobil segera dilanjukan perlahan, membelah jalanan malam yang sepi karena rumah Devan terletak di daerah perbukitan.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan itu Joana hanya diam, ia ingin bertanya tentang Felix tapi sangat takut jika Devan akan marah.
"Eh?" Joana tersentak saat ia melamun tiba-tiba Devan menggenggam tangannya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Devan, dengan lembut pria itu menarik kepala Joana agar bersandar dibahunya.
Joana mengangkat wajahnya, ia memandang Devan yang terus berekspresi dingin itu.
"Bolehkah, aku bertanya?" Joana bertanya ragu.
"Tidak mungkin aku melarangamu," sahut Devan seraya mengusap lembut lengan Joana.
"Apakah ... Kamu melukai Felix?" tanya Joana, jantungnya sudah berdegup kencang menunggu jawaban dari Devan.
"Sssssshh ...." Devan mendesis pelan, ia menunduk lalu mencium bibir Joana sekilas lalu melepaskannya.
"Devan!" Joana langsung mendorong pria itu tapi Devan dengan cepat menangkap tangannya lalu balas mendorongnya sampai terhimpit di kursi mobil.
"Dev!" Joana kembali berteriak, Devan langsung mengunci pergerakannya dengan memegang kedua tangannya dengan kuat.
"Apa perkataanku tadi belum jelas? Malam ini hanya antara kita berdua, kenapa kamu sibuk menanyakan orang lain?" tukas Devan mencengkram tangan kecil Joana semakin kuat.
Joana meringis, ia merasa kesakitan hingga rasanya ingin menangis.
Melihat hal itu Devan segera melepaskannya lalu membenarkan posisinya kembali. Ia sedang tidak ingin mencari masalah untuk saat ini.
"Lupakan masalah itu, malam ini aku ingin kita berdua menikmati waktu kita," ujar Devan.
Joana lagi-lagi hanya diam, bahkan terus diam sampai akhirnya mereka tiba disebuah gedung yang cukup sepi. Mereka naik ke lantai paling atas gedung itu, hingga akhirnya Joana bisa mendengar suara deru baling-baling helikopter yang sangat keras.
Joana terkejut tentunya, ia melihat kearah Devan. "Kita akan kemana?" tanya Joana dengan takut, kenapa harus naik helikopter?
"Rahasia, Sayang. Percaya saja padaku, aku akan menunjukkan sesuatu yang tidak akan kamu lupakan seumur hidup," ujar Devan dengan senyum misteriusnya.
Joana menelan ludahnya dengan kasar, ia menggenggam tangannya sendiri dengan kuat. Setelah itu Devan menggendongnya lalu membawanya naik ke helikopter.
Pria itu benar-benar tidak mengatakan apapun, bahkan saat didalam Devan hanya membantunya memakai headphone serta sabuk pengaman, setelah itu Devan duduk tenang disampingnya seraya menggenggam tangannya.
"Jangan takut, ada aku disini," tutur Devan mengulas senyumnya yang sangat manis.
Joana hanya balas tersenyum kikuk, hatinya bukannya tenang justru semakin takut. Joana sungguh tidak tenang, ia menebak-nebak apa yang ingin Devan tunjukkan padanya?
_________
__ADS_1