
Toko tanaman hias yang dikunjungi Daniel ternyata sangat ramai pengunjung. Kebanyakan dari mereka sudah berumur seperti Mamanya, namun meskipun begitu penampilan mereka pun sangat modis.
Tentu saja, di toko tanaman hias ini hanya menjual tanaman hias yang sangat langka dan unik. Harganya pun sangat fantastis karena tanaman yang dijual banyak impor dari luar negeri.
"Wah, cantik-cantik banget Kak bunganya," ucap Stella tak henti berdecak kagum melihat banyaknya tanaman hias yang sangat lucu, nuansa bunga dan perpaduan alam yang indah membuat suasana terasa sangat sejuk.
"Ya, disini banyak tanaman unik. Aku mau tanya sama penjualnya dulu, ada nggak bunga Anggrek itu, seingat ku dulu Mama mau beli disini," ucap Daniel menatap sekelilingnya mencari bunga yang diinginkan, namun ia sendiri lupa bunga itu seperti apa.
"Aku mau kesana ya, Kak. Nanti kalau udah panggil aja," kata Stella menunjuk bagian selatan, dimana ia melihat bunga yang sangat cantik dan menarik perhatiannya.
"Iya, kamu mau pilih aja, nanti biar sekalian," ucap Daniel lagi.
Stella hanya mengangguk singkat, ia beranjak menuju tempat bunga yang sangat cantik itu. Bunga itu berwarna merah terang, mirip seperti mawar, tapi juga sedikit berbeda.
"Cantik banget, kira-kira kalau beli berapa ya?" gumam Stella mengira-ngira akan semahal apa bunga ini, ia bukan orang bodoh yang tidak tahu kalau tanaman disana memiliki harga yang fantastis karena Mama angkatnya dulu juga suka mengoleksi tanaman seperti ini.
"Itu namanya bunga juliet rose Nona, bunga ini hanya akan tumbuh di negara yang bercuaca sejuk. Tapi jika kita bisa menjaganya, bunga ini juga akan tetap tumbuh," terdengar suara pria dari balik punggung Stella membuat wanita itu sontak menoleh.
Terlihat seorang pria paruh baya yang memiliki wajah yang ramah, ia menggunakan kacamata bulat yang membingkai wajahnya.
"Pak," Stella mengangguk sebagai bentuk sapaannya.
"Apa Nona ingin membeli bunga ini?" tanya pria tua.
"Hahaha, tidak Pak. Bunga ini pasti sangat mahal, bukankah Bapak juga bilang kalau bunga ini tidak bisa sembarangan merawatnya," ucap Stella dengan tawa kecilnya, kembali melihat bunga juliet rose yang begitu cantik.
"Nona benar, dulu ada mitos mengatakan, kalau orang yang bisa menjaga bunga ini di rumahnya, maka ia juga pasti menjaga pasangannya dengan baik. Bunga ini merupakan lambang cinta Nona, bunga ini juga bisa sebagai bentuk cinta kita terhadap pasangan. Bunga dengan sejuta makna yang indah," ucap pria tua itu lagi, tatapan matanya tampak menerawang jauh seperti mengingat sesuatu.
"Benarkah?" Stella mengerutkan dahinya, merasa hal itu sangat mustahil sekali.
"Itu hanya sebuah mitos, tapi jika Nona percaya, hal itu mungkin saja bisa terjadi," kata pria itu tersenyum kepada Stella.
Stella tak menyahut, ia menatap bunga itu. Semakin lama dilihat, semakin cantik pula menurut Stella, dalam hatinya ia sangat ingin memiliki bunga ini. Terlepas dari mitos yang pria tua itu katakan, Stella hanya ingin memilikinya karena bunga nya yang sangat indah.
"Jika saya ingin merawatnya, berapa harganya, Pak?" tanya Stella menimbang-nimbang uang di tabungannya.
__ADS_1
"Bunga ini dijual secara berpasangan Nona, dengan harga 25 juta per pasang," ucap pria tua itu membuat mata Stella membulat sempurna.
"25 juta?" Hanya mendengar harganya saja membuat lutut Stella terasa lemas.
"Benar Nona, apakah Anda ingin membelinya?" ucap pria itu lagi.
"Tidak, tidak Pak. Lain kali saja," kata Stella menggelengkan kepalanya, sangat sangat jika uang segitu banyak dibuat beli tanaman hias.
"Stella …" panggil Daniel menghampiri Stella.
"Ya Kak? Udah dapet bunganya?" tanya Stella sesekali masih melirik bunga yang diinginkannya tadi.
"Udah, tapi aku bingung pilih warna apa, coba kamu bantuin aku pilih," kata Daniel mengikuti arah tatapan mata Stella.
"Oh, boleh Kak boleh," Stella mengangguk setuju.
"Bunganya cantik," ucap Daniel.
"Ya, namanya bunga juliet rose," ucap Stella tersenyum tipis.
"Ha? Enggak Kak. Kita lihat bunga yang buat Mama Kakak saja," kata Stella menggelengkan kepalanya, ingat harga bunga itu sangat mahal.
Daniel menatap Stella dengan sorot mata tak tertebak, ia tahu kalau wanita ini sangat menginginkan bunga ini karena sejak tadi ia mendengarkan semua percakapan Stella dengan pria tua itu. Ia tak bermaksud menguping, ia hanya tak sengaja mendengar saat ia akan memanggil Stella.
"Ya, kamu kesana aja dulu. Tempatnya di samping tanaman itu, aku mau mengangkat telepon dulu," kata Daniel menunjukkan ponselnya yang ada panggilan masuk.
"Baiklah, nanti menyusul ya Kak" kata Stella mendahului Daniel untuk melihat bunga yang akan di beli.
Daniel mengangguk singkat, ia memastikan Stella sampai tak terlihat lalu ia mendatangi pria tua yang bersama Stella tadi.
"Permisi Pak," ucap Daniel.
"Ya Tuan? Ada yang bisa saya bantu," ucap pria tua.
"Aku ingin membeli bunga yang diinginkan wanita yang ada disini tadi," kata Daniel sangat tahu Stella sangat menginginkan bunga ini, hanya saja harganya terlalu mahal.
__ADS_1
"Oh Nona cantik yang ingin membeli bunga juliet rose tadi," ucap pria tua tersenyum.
"Ya benar, tolong Bapak siapkan semuanya ya," ucap Daniel mengangguk cepat, ia harus menyimpan dulu bunga itu, jika Stella tahu, maka bisa dipastikan wanita itu akan menolak.
****
"Bagaimana? Apakah kau sudah memilihnya?" Daniel kembali menghampiri Stella setelah menyelesaikan misinya.
"Udah, tapi aku bingung antara dua pilihan ini, Kak" kata Stella menunjukkan dua pilihan bunga Anggrek yang dimaksud.
"Menurut Kakak, bagusan yang kanan? Atau yang kiri?" Stella mengambil dua bunga Anggrek dengan warna yang berbeda, ia memegang keduanya dan menunjukkannya kepada Daniel.
Daniel terdiam, menatap dua bunga itu bergantian. Ia lalu melihat Stella yang sedang menunggu jawaban darinya itu.
"Yang tengah lebih cantik," jawab Daniel tersenyum manis menatap lekat wajah Stella.
Stella mengerutkan dahinya, ia menatap kedua bunga yang di pegangnya.
"Yang tengah, berarti …" Stella langsung tersipu saat menyadari jika maksud Daniel adalah dirinya.
"Kakak ih, aku serius …" Stella merengek malu karena tingkah Daniel ini, apalagi disana banyak sekali orang.
"Aku juga serius, tanya aja sama Kakak ini, iya kan Kak? Dia yang lebih cantik 'kan?" ucap Daniel dengan pedenya bertanya kepada Kakak penjual bunga membuat Stella semakin salah tingkah.
"Basi," cetus Stella pura-pura kesal menutupi salah tingkahnya.
"Dibilangin nggak pernah percaya. Yaudah kalau kamu suka yang itu, kita ambil aja dua-duanya buat Mama," kata Daniel tak masalah jika harus membeli kedua bunga itu.
"Terserah Kakak saja," kata Stella setuju saja, tugasnya disini hanya menemani Daniel.
Setelah menyelesaikan pembayarannya, Daniel segera mengajak Stella pulang, tapi sebelum itu ia menyempatkan diri mampir ke salah satu restoran untuk makan siang. Meski Stella menolak, Daniel tetap membelokkan mobilnya kesana.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1