
Tubuh Joana tanpa ampun menabrak pria itu sehingga keduanya jatuh ke arah aspal yang keras. Joana merasakan kakinya nyeri, tapi ia terkejut karena ia menimpa tubuh seseorang. Ia ingin beranjak, tapi kakinya tidak bisa digerakkan.
"Joana, putriku. Apa kamu baik-baik saja?" Tania tergopoh-gopoh menghampiri Joana lalu membantunya untuk bangun.
Joana meringis, kakinya benar-benar nyeri. Padahal sebelumnya ia tidak pernah merasakan apapun.
Sedangkan pria yang ditabrak oleh Joana itu tampak sangat kesal, wajahnya dingin sekali membuat Joana cukup takut melihatnya. Pria itu tinggi dan sangat gagah, membuat ia harus mendongak untuk melihat wajahnya.
"Tuan, Anda baik-baik saja?" sang asisten pria itu juga panik sekali, ia takut mood Tuannya langsung buruk.
Pria itu bergeming, ia menatap kearah Joana dengan sangat tajam.
"Sebenarnya apa yang ada dipikiran kalian? Ini jalanan umum, bukan area bermain. Jangan berbuat sembarangan," keluh Pria itu.
"Maaf, maafkan saya, Tuan. Saya-"
"Putriku tidak sengaja melakukannya, apa kamu begitu buta tidak tahu dengan kondisinya? Dia itu sedang sakit," bentak Tania tidak terima putrinya di marahi.
Joana menarik tangan ibunya, tapi wanita itu tidak peduli. Jika ada yang berani memarahi Joana, ia harus berurusan dengannya.
"Jika memang dia sedang sakit, seharusnya dia di rumah. Bukan malah keluyuran seperti ini, dia itu ...." Pria itu tidak melanjutkan ucapannya, netranya yang tajam mendadak langsung terkunci pada sosok Joana.
Begitu melihat mata Joana serta tahi lalat yang ada diatas bibir wanita itu membuat jantungnya berdetak kencang. Rasa sesak yang begitu menghimpit tiba-tiba menyerang.
"Maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja, lain kali saya akan lebih berhati-hati," kata Joana mengangguk penuh kesopanan.
Mungkin jika dulu ia dibentak seperti itu, ia akan langsung membalasnya. Tapi perjalanan hidup yang menyakitkan telah membuat Joana sadar, tidak seharusnya jika salah harus dibenarkan, salah tetaplah salah.
"Bibi, bantu aku naik," pinta Joana.
Tania masih melirik kearah pria itu, tapi kemudian ia membantu Joana untuk duduk di kursi rodanya. Ia membenarkan dulu kursi roda itu lalu membantu Joana duduk.
Setiap apa yang dilakukan itu tak luput dari pandangan tajam pria itu. Ia semakin terkejut setelah menyadari jika Joana lumpuh.
"Sekali lagi mohon maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja," kata Joana sedikit mengulas senyumnya sebelum ia pergi.
Pria itu semakin terkejut, ia merasakan dadanya semakin sesak sekali. Udara disampingnya seolah menipis.
__ADS_1
"Tuan, apakah Anda baik-baik saja?" sang asisten langsung sigap menahan tubuh Tuannya yang hampir jatuh.
"Mega," ucap pria itu. "Dia adalah Mega," lanjutnya semakin kesusahan bernapas.
"Bukan, Tuan. Dia bukan Nona Mega, dia gadis lain. Nona Mega sudah meninggal," tutur asistennya.
Pria itu memejamkan matanya sangat kuat, seketika kilasan bayangan kecelakaan hebat yang menyebabkan darah berceceran dimana-mana itu tergambar sangat jelas dimatanya. Seorang gadis dengan gaun putih yang penuh darah meringkuk didalam dekapannya.
"Mega ...." Pria itu hanya mampu menyebut namanya, air matanya tidak bisa dicegah untuk tidak keluar.
Sang asisten segera sigap, ia memerintahkan anak buahnya yang lain untuk membawa Tuannya pergi. Tuannya tidak boleh terlihat lemah di depan umum seperti ini, bisa-bisa musuh akan mudah untuk menyerang mereka nantinya.
_______
Devandra Dawson, siapa yang tidak mengenalnya? Seorang pebisnis yang sukses di segala bidang nasional dan juga internasional. Perusahaannya termasuk jajaran perusahaan raksasa yang begitu berpengaruh di negaranya.
Namun, dibalik kesuksesan itu, ada tangan dingin yang siap membantai siapa saja yang berani mengusik dirinya. Bisnis legal yang terdaftar itu hanya kamuflase untuk menutupi bisnisnya yang sebenarnya. Perdagangan senjata ilegal, sindikat narkoba yang mencakup beberapa negara.
Polisi tidak akan berani menyentuh Devan karena mereka tahu sedang bermusuhan dengan siapa. Jika sayang nyawanya, jangan coba-coba untuk mendekati Devan apalagi berniat mencari masalah.
Devan membuka sebuah buku kecil yang tadi diambilnya dari lemari. Ia melihat sosok wanita yang tersenyum sangat manis di foto yang ada didalam buku itu.
"Mega, aku sudah menemukanmu," ucapnya terdengar parau, kesedihan mendalam itu terdengar sangat jelas didalam suaranya.
"Tuan."
Devan langsung menoleh begitu mendengar suara Ken, asistennya yang baru saja datang. Pria itu tampak sungkan karena menganggu malam-malam begini.
"Mohon maaf menganggu waktunya, saya-"
"Kamu sudah mendapatkannya?" Devan bertanya tanpa menunggu Ken menyelesaikan ucapannya.
"Sudah, saya membawa data-datanya sekarang," sahut Ken menyerahkan tabletnya kepada Devan.
Devan mengambilnya, melihat data seorang wanita yang tertulis disana. Membacanya sangat serius sekali.
"Namanya Joana Medison, mantan model Victoria yang sudah mengundurkan diri karena kakinya yang lumpuh. Berita yang beredar, Joana diusir oleh keluarganya sendiri karena ternyata beliau bukan anak kandung keluarga Medison," jelas Ken.
__ADS_1
Devan mengangguk pelan, ia membaca semua riwayat hidup Joana. Namanya dulu sering muncul di berita dan televisi. Tapi ada satu hal yang begitu menarik perhatiannya, sebuah foto yang diambil anak buahnya diam-diam, dimana Joana terlihat sedang melukis di depan rumahnya.
"Dia juga bisa melukis?" tanya Devan begitu terkejut.
"Benar, Tuan. Setelah diusir, kabarnya Joana menghabiskan waktunya di kota kecil pinggiran. Saya dengar, Joana kesini ingin mengikuti pameran lukisan yang akan diadakan di gedung X."
"Gedung X? Kita dapat undangannya 'kan?" Devan langsung menegakkan tubuhnya, ia melirik Ken sangat tajam.
"Saya menolaknya, Tuan. Anda bilang-"
"Aku akan datang kesana," kata Devan dengan sangat serius.
"Baik, saya akan menghubungi pihak penyelenggara pameran itu, Tuan." Ken langsung mengangguk, tidak berani membatah sama sekali.
"Ken," panggil Devan.
"Ya, Tuan?"
"Aku mau, wanita itu untukku," kata Devan begitu enteng seolah sedang meminta jajanan pada orang tuanya.
"Maksudnya, Tuan?" tanya Ken dengan wajah yang sangat bingung.
Devan kembali meliriknya, kali ini lebih tajam dari sebelumnya. "Apa sekarang kamu begitu bodoh? Apa aku perlu mencari penggantimu?" tukas Devan dengan amarah yang tidak ditutupi.
"Tidak, jangan lakukan itu, Tuan. Besok saya pasti akan mendapatkan Joana itu Anda," kata Ken menahan degupan jantungnya yang sangat keras, keringat dingin sudah membahasi dirinya hanya karena lirikan Devan.
"Dia bukan Joana, tapi Mega," ucap Devan seraya mengusap lembut foto Joana, ia menyandingkan dengan foto Mega, dan mereka berdua sangat mirip sekali bagai pinang dibelah dua.
'Dia adalah Mega-ku. Mega-ku sudah kembali.'
Happy Reading.
TBC.
Visual Devandra_
__ADS_1