
"Kopi apa yang paling enak?" Xander bertanya dengan tatapan lurus pada Stella.
"Kopi paling enak disini itu …" Stella menjelaskan dengan luwes macam-macam kopi yang ada di sana. Namun Xander sama sekali tidak mendengarkan hal itu, ia justru terus menatap Stella lekat-lekat.
Kerinduan selama dua bulan kini sedikit terobati saat bisa melihat wajah Stella. Xander menyusuri semua bagian diri dari Stella, hingga pandangannya bertumpuk pada perut Stella. Padangan Xander melembut, di sana sudah tumbuh buah hatinya.
"Maafkan aku …" bisik Xander tanpa sadar, setitik air mata langsung lolos mengenai maskernya.
"Anda mengatakan sesuatu, Tuan?" Tanya Stella seperti mendengar Xander berbicara.
Xander menggelengkan kepalanya cepat, ia memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain agar Stella tidak melihat matanya yang merah.
"Jadi Anda mau memesan kopi apa, Tuan?" Meski sedikit aneh melihat sikap Xander, Stella mencoba mengabaikannya.
"Apa saja, aku akan menunggu disana," kata Xander buru-buru pergi, ia sangat takut tidak bisa mengendalikan diri jika terus menerus ada di dekat Stella.
Xander memilih duduk yang cukup jauh dari Stella, namun ia masih bisa melihatnya. Selama hampir dua jam ia diam memperhatikan apa yang dilakukan Stella. Hanya dengan begini saja, hatinya sudah tenang.
"Stella, kamu ngerasa aneh nggak sih sama orang itu?" Ujar Maira menghampiri Stella yang sibuk menghitung pemasukan.
"Orang mana?" Tanya Stella mengangkat pandangannya, mencari siapa orang yang Maira maksud.
"Itu, orang yang pakai topi hitam. Dari tadi juga aku lihat dia merhatiin kamu terus, lagian aneh banget, mau ngopi tapi kopinya nggak diminum sampai sekarang," kata Maira tentu curiga melihat Xander yang hanya diam saja di sana.
Stella ikut melihatnya, ia membenarkan jika orang yang di maksud Maira itu memang cukup aneh. Merasa diperhatikan terus menerus oleh Stella, Xander memutuskan bangkit dari duduknya. Lagipula semua orang pasti menganggapnya aneh karena membeli kopi tapi tidak membuka masker sama sekali.
"Berapa?" Tanya Xander mengambil dompetnya, bersiap untuk membayar.
Stella sedikit gelagapan saat tiba-tiba Xander sudah berdiri di depannya. Ia segera menatap komputer untuk menghitung kopi yang di beli Xander.
"Semuanya jadi 50 ribu, Tuan" ucap Stella.
__ADS_1
Xander mengambil selembar uang 100 ribu dari dompetnya lalu menyerahkannya pada Stella.
"Maaf Tuan, apa ada uang pas?" Tanya Stella.
"Tidak, ambil saja kembaliannya," ujar Xander meninggalkan uang itu di depan Stella lalu pergi dari sana.
Karena terlalu terburu-buru, Xander tak sengaja menabrak orang yang baru saja masuk ke dalam restoran.
"Sorry, apa Anda baik-baik saja?" Xander langsung mengangkat wajahnya begitu mendengar suara Daniel.
Tatapan matanya berubah tajam saat bertemu lagi dengan pria ini. Emosinya hampir saja memuncak, tapi Xander menahannya.
"Aku tidak apa-apa," ucap Xander menepis tangan Daniel sedikit kasar.
Daniel hanya mengerutkan dahinya, cukup heran dengan sikap Xander barusan. Tapi ia hanya mengangkat bahunya acuh, mungkin pria itu sedang ada masalah, pikir Daniel. Ia lebih memilih langsung menemui wanita yang sudah memenuhi otaknya belakangan ini.
"Stella!" Panggil Daniel membuat Stella terkejut.
"Kak Daniel? Udah disini aja, kebiasaan nggak pernah ngabarin kalau datang," kata Stella bangkit dari duduknya untuk menyambut Daniel.
"Kak?" Stella justru sangat terkejut saat tiba-tiba Daniel memeluknya.
"Aku merindukanmu," bisik Daniel tulus dari hatinya.
Xander melihat semua dengan jelas di depan matanya. Hatinya terasa terbakar saat melihat istrinya berpelukan dengan pria lain. Rasa marah, sedih dan tak terima bercampur menjadi satu membuat emosi yang tidak bisa Xander jelaskan. Yang jelas hatinya sangat sakit melihat ini semua. Apakah perasaan ini juga yang Stella rasakan dulu saat melihatnya dengan Joana.
*****
Xander menunggu Stella di dalam mobilnya, ia sudah berencana untuk menunggu wanita itu sampai pulang agar ia bisa tahu tempat tinggal Stella. Tak peduli rasa lelah menunggu selama berjam-jam, Xander merasa lega saat melihat Stella sudah keluar dari tempat kerjanya. Tapi wanita itu masih bersama Daniel membuat Xander ingin sekali menarik pria itu agar meninggalkan istrinya.
"Aku tidak boleh gegabah, Stella pasti akan semakin marah jika aku melakukan sesuatu pada Daniel.
__ADS_1
Dengan menahan rasa cemburu yang menghimpit di rongga dada, Xander berhasil mengikuti Stella sampai masuk ke Apartemen.
"Kak Daniel langsung pulang saja, ini sudah malam, nggak enak kalau ada orang yang melihat," ujar Stella bukan ingin mengusir, tapi ia hanya tak enak jika harus menerima tamu malam hari.
"Kamu yakin nggak apa-apa? Bukannya kamu bilang Xander ada disini? Bagaimana jika dia menemuimu lagi? Lebih baik kamu pindah saja dari sini," kata Daniel khawatir saat Stella menceritakan apa yang dialaminya seminggu yang lalu.
Xander yang mendengarkan itu semua hanya tersenyum sinis, ternyata Daniel orang yang sangat licik. Dia sengaja ingin menjatuhkan Stella darinya.
"Tidak perlu pindah, Kak. Xander juga tidak tahu tempat tinggalku. Jika dia akan datang menemuiku lagi, aku rasa kita bisa membicarakannya nanti," ucap Stella masih enggan jika harus pindah tempat lagi, disana ia sudah cukup nyaman.
"Baiklah, aku akan pulang dulu kalau begitu. Jangan lupa kabari jika terjadi apapun," kata Daniel menghela nafas panjang.
"Iya, terima kasih Kakak sudah mau datang kesini," kata Stella sedikit memberikan senyumnya.
Daniel balas tersenyum, ia kemudian mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepala Stella dan mengusapnya lembut. Daniel memang sering melakukan hal itu, tapi kali ini berbeda, dia memajukan sedikit tubuhnya lalu mengecup kening Stella.
"Selamat malam, jaga diri baik-baik," ucap Daniel dengan senyum tipisnya.
Stella hanya mengangguk tipis, perlakuan Daniel benar-benar sangat mengejutkan. Stella malah semakin tak enak dengan Daniel, karena ia tahu jika ia tak bisa membalas perasaan itu. Jika pun ia menerima Daniel, justru akan semakin menyakiti hatinya karena ia tak bisa mencintainya.
Xander benar-benar menahan dirinya sekuat tenaga, ia menunggu sampai Daniel pergi lalu mendatangi Apartemen Stella. Xander cukup ragu saat ingin menekan bel, tapi ia meneguhkan hatinya.
Ting Tong …
Stella menghentikan langkahnya begitu mendengar suara bel, ia mengerutkan dahinya. Siapa yang datang? Pikir Stella.
"Apa mungkin Kak Daniel?" Gumam Stella memutar kembali langkahnya untuk membukakan pintu. Ia berpikir kalau Daniel mungkin saja kembali untuk mengatakan sesuatu.
Stella tak bisa menutupi rasa terkejutnya saat melihat siapa yang datang ke Apartemennya. Xander sendiri sudah tak bisa menahan dirinya, ia langsung menarik Stella dan memeluknya erat.
"Stella … aku merindukanmu, sangat merindukanmu, maafkan aku …" ucap Xander memeluk Stella erat dan menciumi rambut wanita itu dengan air mata yang sudah mengalir.
__ADS_1
Happy Reading.
TBC.