
Xander sudah berada di dalam mobilnya bersama Luke. Wajahnya tampak masih begitu kesal karena Stella menolak saat ia akan membawa wanita itu ke rumah sakit dan malah menyuruhnya terus berangkat ke Kalimantan. Memang pekerjaannya sangatlah penting dan tidak bisa diwakilkan. Jadi Xander terpaksa terbang ke Kalimantan.
Xander menyelesaikan semua pekerjaannya dengan cepat. Target yang tertulis adalah selama dua minggu, tapi Xander menyelesaikannya dengan waktu dua hari. Ia memilih menghabiskan waktunya untuk bekerja tanpa tidur sama sekali.
"Setelah ini aku ingin langsung pulang ke Jakarta,"
Begitu pekerjaannya selesai, Xander langsung memerintah Luke untuk memesankan nya tiket penerbangan pulang. Padahal saat itu sudah jam 8 malam. Tapi Xander sama sekali tidak peduli, hatinya selalu tak tenang karena memikirkan Stella.
Xander hanya tidur selama perjalanan mereka dari Kalimantan selama satu jam. Begitu ia mendarat di Jakarta matanya kembali terjaga. Xander tak sabar ingin segera menemui istrinya, tapi saat di perjalanan pulang, tiba-tiba ada mobil putih yang menghadang mobilnya.
"Shiitttt!!! Ada apa Luke?" Xander mengumpat terkejut karena Luke mengerem mobil mendadak.
"Ada yang menghadang mobil kita Tuan," ucap Luke menunjuk mobil putih yang berhenti tepat di depan mobil mereka.
"Siapa yang berani mencari gara-gara denganku," Xander berdecak kesal seraya turun dari mobilnya. Ia sudah siap memaki siapa saja yang berada di mobil sialan itu. Tapi begitu melihat siapa sosok pria yang turun dari mobil, Xander malah mengerutkan dahinya.
"Untuk apa kau datang kesini?" tanya Xander sedikit kesal, merasa waktu Daniel tidak tepat karena saat ini ia ingin segera pulang.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," kata Daniel dengan wajah seriusnya.
"Lain kali saja, aku tidak punya waktu sekarang," ucap Xander mengibaskan tangannya sambil lalu.
"Ini tentang Stella!" ucap Daniel tegas pun dengan tatapannya yang sangat serius.
"Tentang Stella? Apa maksudmu?" tanya Xander mengerutkan dahinya.
"Aku rasa kita tidak bisa membicarakannya disini," kata Daniel menatap lurus mata Xander.
Xander terdiam sesaat, melihat wajah Daniel yang sangat serius membuat Xander langsung tahu satu hal. Ini pasti tentang penyakit Stella, kemungkinan besar, Daniel sudah mengetahui tentang hal itu.
Daniel mengajak Xander untuk membicarakan masalah Stella di kafe terdekat. Mereka terdiam cukup lama dengan pemikiran masing-masing.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Xander tak sabar.
__ADS_1
"Aku tahu kau pasti belum mengetahui masalah ini karena Stella tak akan mengatakan dengan jujur. Dia juga sebenarnya memintaku untuk merahasiakan hal ini, tapi aku rasa kau yang lebih berhak tahu masalah ini sebelum semuanya terlambat," ucap Daniel menghela nafas berat.
Hampir setiap hari Daniel dihantui dengan bayangan-bayangan Stella akan pergi menjauh meninggalkan dunia ini. Daniel merasa ia tak akan sanggup jika sampai hal itu terjadi, lebih baik ia tidak bisa memiliki Stella tapi masih bisa melihat wanita itu setiap hari daripada ia akan melihat wanita itu pergi untuk selama-lamanya.
"Apa benar dia sedang sakit parah?" tanya Xander menundukkan wajahnya, berusaha menyiapkan hatinya jika akan mendengar hal yang buruk.
"Kanker darah stadium akhir," ucap Daniel to the point.
Xander menatap Daniel terkejut, kanker darah? Stadium akhir? Kenapa sampai ia bisa tidak tahu tentang hal sebesar ini.
"Stella memang sudah menderita penyakit ini sejak dia masih kecil. Saat itu kondisinya masih belum parah, tapi Stella tetap tidak mau berobat karena tidak mau membuat orang tua angkatnya khawatir," Daniel menghentikan ucapannya sejenak sebelum melanjutkan kembali.
"Sebelumnya penyakit Stella lumayan membaik karena dia mengkonsumsi obat dari Dokter, tapi dia terpaksa menghentikannya karena dia sedang hamil dan memilih mempertahankan bayinya daripada nyawanya sendiri," sambung Daniel membuat Xander semakin syok.
Itu artinya Stella sudah menahan rasa sakit itu sejak lama. Tapi dengan bodohnya Xander tidak pernah menyadarinya sama sekali. Ia terlalu sibuk dengan urusannya sampai tidak tahu kondisi istrinya yang sangat parah.
"Dia sudah lama menahan rasa sakit itu, aku ..." Xander menjambak rambutnya dan menunduk penuh penyesalan. Matanya berkaca-kaca mengingat bagaimana dulu ia memperlakukan Stella dengan begitu kejam, padahal wanita itu sedang sakit.
"Saat ini mungkin belum terlambat Xander, kau masih bisa membawanya berobat. Tapi kau harus ..." Daniel rasanya tak sanggup jika harus mengatakan agar Xander membunuh anak mereka.
Daniel menghela nafas panjang, ia berharap jika caranya ini berhasil agar membuat Stella mau berobat. Mungkin jika Xander yang membujuknya, Stella akan menurut, pikir Daniel.
Xander tak peduli jika harus mengorbankan anak mereka, yang terpenting Stella bisa sembuh dari penyakitnya. Jika sampai Stella tak tertolong, Xander pasti akan lebih hancur daripada saat Stella meninggalkannya dulu.
****
Stella baru saja kembali dari rumah orang tuanya, tadinya dia ingin menginap, tapi badannya tiba-tiba merasa tidak enak. Karena tak ingin membuat orang tuanya khawatir, Stella lebih memilih pulang.
Sesampainya di rumah, Stella ingin segera tidur dan beristirahat. Namun, sebelum ia sampai di kamarnya, kepalanya terasa sakit bukan kepalang dan pandangannya kabur. Tubuh Stella bergetar hebat hingga perutnya ikut nyeri.
"Ya Tuhan, kenapa ini ..." gumam Stella berpegangan erat pada tangga untuk meredam rasa sakitnya.
Rasa sakit itu lebih sakit daripada biasanya, kaki Stella sampai terasa lemas hingga ia terjatuh ke lantai. Sesaat kemudian hidungnya kembali berdarah, kali ini terlihat lebih kental dari biasanya.
__ADS_1
"Akhh!" Stella memekik kesakitan saat rasa sakit itu semakin menyerang.
Stella berusaha bertahan, tapi tiba-tiba ponselnya berdering. Stella tak begitu mempedulikannya. Namun, nada dering itu adalah nada dering khusus dari suaminya. Jika Stella tak mengangkatnya, Xander pasti akan sangat cemas.
Dengan menahan sakit yang luar biasa, Stella mengambil ponselnya dengan tubuh yang menggigil hebat.
"Halo by," ucapnya sebisa mungkin agar terlihat biasa saja.
"Kamu dimana?" tanya Xander sangat cemas sekali, perasaanya sangat tak enak sekarang.
"Aku ..." Stella menarik nafas panjang untuk menahan rasa sakit itu. "Aku di rumah by," ucap Stella terbata.
"Aku akan pulang, tunggu aku di rumah," ucapan Xander membuat Stella terkejut.
Jika Xander pulang sekarang, pria itu pasti akan melihat keadaanya sekarang. Stella tidak akan membiarkan Xander melihatnya seperti ini.
Stella mencoba bangkit dari duduknya, ia merangkak ke lantai dua menuju kamarnya. Nafas Stella tersengal-sengal begitu sampai dilantai atas. Pun tubuhnya yang semakin gemetar hebat.
"Aku harus cantik, Xander tidak boleh melihatku seperti ini," ucap Stella menangis lirih, kenapa rasanya sakit sekali Tuhan. Tubuhnya sangat lemas sekali.
Hanya demi sampai di kursi rias, Stella harus berhenti beberapa kali. Ia mengambil tisu dan pembersih untuk membersihkan wajahnya. Meski tangannya gemetaran dan kepalanya ingin pecah, Stella berusaha memakai bedak diwajahnya agar tak terlihat kusam. Ia juga memakai lipstik meski entah seperti apa jadinya nanti.
Happy Reading.
Tbc.
Rekomendasi novel bagus gengs ...
Mampir ya ke karya teman author ...
Judul : Tirai Kehidupan Sang Ceo.
Author : El Banjari.
__ADS_1