
"Makan makan sendiri, minum minum sendiri, nyuci baju sendiri, naik mobil pun sendiri..." Glen bersedih.
Sepanjang jalan pulang sudah seperti konser kesepian untuk Glen. Di sebuah lampu merah mobil Cavero dan Samuel berbelok. Tersisa mobil Dave, Reza, Zack, dan Glen yang masih melewati jalan yang sama.
Suasana seperti biasa seperti jalanan pada umumnya. Di siang hari seperti ini jalanan lumayan padat tapi lancar. Mobil Reza dan Glen ketinggalan di belakang karena di dahului sebuah mobil box. Glen berada tepat di belakang bosnya.
"Mobil boxnya lelet banget, kenapa pake nyalip coba?" keluh Glen.
Glen sampai memecet klakson mobilnya. Reza juga melakukan hal yang sama. Maklum saja sekarang mereka memasuki jalanan dua arah yang lumayan sempit. Dan saat memasuki kawasan lahan kosong yang sepi, tiba-tiba saja...
Ciitt,
Glen mengerem mobilnya karena mobil Reza yang ada di depannya berhenti mendadak. Begitu pula mobil box di depan mobil Reza.
"Ah sial!" ucap Glen.
Glen menjadi semakin panik, dari mobil box itu keluar empat orang pria. Ia memilih diam dulu di dalam mobil. Ia tidal berani keluar, bosnya saja juga tidak keluar dari mobil.
Di dalam mobil Reza,
"Siapa mereka, kak!" seru Silvi.
"Aku tidak tahu, sayang!" jawab Reza.
Reza memandangi empat orang pria yang kini sudah mengepung mobilnya. Dua diantaranya menggedor kaca samping Silvi dan Reza.
"Mereka bukan orang baik, kak!" ucap Silvi.
"Kamu tenang ya, sayang!"
Reza mengelus kepala Silvi untuk menenangkannya.
"Setelah aku keluar nanti kamu langsung kunci dari dalam ya, jangan keluar sebelum keadaan aman." lanjut Reza.
"Kakak mau keluar? Mereka ada banyak, kak!" Silvi menunjuk bagian pintu box yang terbuka.
Dari sana keluar lagi empat orang pria, jadi totalnya delapan orang yang mengepung dan berdiri menghadang di depan mobil Reza.
"Aku harus keluar sebelum mereka membahayakan kamu," tanpa pikir panjang Reza keluar dari mobil.
"Kak!" teriak Silvi.
Percuma, Reza tidak mendengarkan. Kini Silvi hanya bisa mengunci mobil seperti yang Reza perintahkan. Silvi mengelus perutnya, ada nyawa lain yang ada dalam tubuhnya yang harus ia jaga.
"Kalau kalian tidak menahanku hal ini tidak akan terjadi," ucap Clara.
Silvi terdiam, ia lalu menoleh ke belakang. Menatap Clara yang duduk di jok belakang.
"Mereka orangmu?" tanya Silvi.
"Ya, mereka menjemputku!" Clara tersenyum smrik.
"Sial!" Silvi mengalihkan pandangannya.
Silvi menatap ke depan, dimana suaminya berdiri tegap menghadap orang-orang yang menyegatnya tadi. Suaminya itu tidak terlihat takut sedikitpun.
"Ada masalah apa kalian?" seru Reza.
"Jangan banyak omong, lepaskan saja Nona Clara. Urusan kita beres!" salah satu dari delapan pria itu maju menatap Reza. Sepertinya itu pemimpinnya.
"Melepaskan Clara? Tidak akan, urusan dia denganku belum selesai." Reza tersenyum sinis.
"Lepaskan atau...." pria itu menggertak.
"Atau apa? Kau mengancamku? Kau salah orang!" jawab Reza.
"Maju!!" pria itu menyuruh dua orang maju menyerang Reza.
Reza mundur beberapa langkah. Beberapa pukulan berhasil ia hindari.
Bug,
Satu tinjauan mengenai pipi Reza.
"Masih pemanasan," Reza menggerakkan tangannya seperti orang melakukan pemanasan sebelum olahraga.
Bug bug bug,
Tangan Reza melakukan beberapa tinjauan secara tiba-tiba. Satu dari dua orang pria itu tumbang. Satunya lagi memegangi perutnya.
"Hiiaaaa....." dia maju lagi menyerang Reza.
Reza menunduk, satu tendangan berhasil ia hindari. Ia tersenyum simpul lalu berbalik dan melompat.
Bug,
"Arrgghh!" pria itu terkapar di aspal karena tendangan maut dari Reza.
__ADS_1
"Sial!" umpat pemimpin dari gerombolan pria itu.
Dirinya tidak bisa menganggap remeh seorang Reza Albert. Isu keahlian bertarung Reza Albert ternyata benar.
"Ayo kalian, serang dia!" serunya.
Kali ini dua orang maju lagi menyerang Reza.
"Ciiatttt!!!" seorang pria melompat bersiap memberikan tendangan dari langit.
Mata Reza memicing, ia menunduk. Tapi tangannya meninju ke atas.
Bug,
"Aaarrggghhhh!" erangan melengking terdengar.
Pria itu tersungkur setelah mendapatkan sodokan maut di pantatnya dari Reza. Dia terjatuh di dekat temannya yang sudah tepar tadi. Pria yang satunya terlihat ketakutan. Kakinya mundur perlahan.
"Heh malah mundur, sini!" Reza melambaikan tangan.
"Kenapa kau takut, bodoh! Ayo cepat lawan!" pemimpin mereka menahan bahu pria tadi.
"Tapi bos..."
"Cepat!" pemimpin itu mendorongnya.
"Aaaaaaaa...." pria itu berteriak.
Reza hanya menggeser kakinya sedikit lalu saat pria itu sampai di hadapannya ia mendorongnya juga tapi lebih keras.
Dug,
Semua orang yang ada di sana merasa ngeri, pria tadi menghantam pembatas jalan dengan keras. Dia tidak lagi bersuara, beberapa detik kemudian ada darah yang mengalir ke jalan. Empat orang yang tersisa merinding disko. Tapi si pemimpin masih berlagak sok berani.
Di dalam mobil Reza, Silvi tersenyum lebar. Suaminya bertarung seperti superhero dalam film-film.
"Lihat hebat kan suamiku?" tanya Silvi pada Clara dengan congkak.
"Masih ada empat orang yang belum dihadapi Reza, jangan senang dulu!" jawab Clara.
Silvi hanya membalasnya dengan senyuman. Ia yakin akan kemampuan Reza. Tapi kemudian senyumannya hilang saat ia melihat apa yang terjadi di depan.
Terlihat empat orang yang tersisa mengepung Reza bersamaan. Yang membuat Silvi jadi cemas adalah dua dari empat orang itu membawa pisau besar yang terlihat tajam.
Berbeda dengan Silvi, Reza yang berada di medan pertempuran hanya tersenyum simpul. Ia tidak gentar melihat mereka membawa senjata.
"Why?" sahut Reza.
"Karena kau akan aku habisi!"
"Coba aja kalau bisa!" Reza menantang.
Pemimpin penyerang itu semakin emosi. Dia menyuruh dua anak buahnya yang membawa pisau untuk maju. Tapi sebelum mereka maju ada teriakan yang mengejutkan mereka.
"Bos, i am comming!!!" teriak Glen.
Reza tersentak, Glen berlari menghampirinya.
"Saya sudah datang, bos! Saya akan membantu!" ucap Glen.
Glen datang dengan membawa peralatan sederhana yang ia temukan di dalam mobil. Ia tidak bisa tinggal diam melihat bosnya dikepung orang. Ia menggunakan helm sepeda sebagai pelindung kepala. Glen gemar bersepeda oleh karena itu di dalam mobilnya selalu ada peralatan bersepeda yang tidak pernah ia keluarkan dari sana.
Kepalanya menggunakan helm, siku dan lututnya juga menggunakan pelindung yang biasa digunakan saat bersepeda. Tangannya menggenggam kunci inggris yang besar. Glen sungguh siap.
Hahahahaha.....
Empat pria yang mengepung menertawakan Glen.
"Ada apa?" seru Glen.
Lantas Glen sadar, mereka membawa dua senjata tajam.
"Astaga! Pisau..." ucapnya.
"Lebih baik kau mudur, Glen! Jangan merepotkanku!" seru Reza.
"Tidak, bos!" Glen teguh pada pendiriannya.
Siap tidak siap Glen akan menghadapi mereka juga. Ia memejamkan matanya sebentar dan berdoa.
"Doakan aku mama...." lirihnya.
"Ayo habisi mereka!" seru si pemimpin.
"Hiiiaaaaa!" mereka maju bersamaan.
"Astaga! Bos bos..." Glen panik.
__ADS_1
Empat pria tadi terbagi menjadi dua. Dua menghadang Reza dan yang dua lagi sekarang mengepung Glen. Kalau yang membawa pisau menghadang Reza semua tidak masalah. Tapi ini salah satu yang bersenjata menghadang Glen. Glen jadi panik sendiri.
"Hajar saja mereka!" seru Reza.
Reza menghajar dua pria yang mengepungnya dengan mudah. Ia menghindari serangan pisau dengan lincah.
Bug,
Satu tinjuan Reza melumpuhkan satu orang. Tinggal satu lagi yaitu pemimpin itupun bersenjata. Reza tidak panik. Ia bergeser ke kanan untuk menghindari sabetan.
Set,
Reza menangkap tangan yang membawa senjata. Reza pelintir tangannya ke belakang tanpa belas kasihan.
Kretek,
"Aaaaa ..." pria itu terduduk di aspal.
Reza berjongkok mengambil sesuatu di kaos kakinya.
Zaaassshhh,
"Aaaaaa....." lengkingan keras terdengar. Beberapa detik kemudian lengkingan itu hilang menjadi sunyi.
Reza menyabet pipi pemimpin penyerang itu dengan pisaunya. Wajah pria itu penuh darah seketika. Bahkan sampai menetes ke aspal. Di dalam mobil, Silvi sampai tidak berani melihat. Kalau Clara, ia sudah terdiam kaku di jok belakang karena ketakutan.
Glen menahan dirinya agar tidak melihat ke arah Reza dan pria itu. Ia fokus pada dua pria yang mengepungnya. Giliran dia yang akan diserang sekarang. Seorang pria maju menyerang Reza. Tinjuan dilayangkan pada Glen.
"Hah!" pekik Glen.
Pung,
Glen menjadikan sikunya sebagai tameng. Alhasil tinjuan itu mengenai pelindung di sikunya.
"Aduh, sakit juga! Ternyata begini rasanya berantem," lirih Glen.
Tidak berhenti di situ, pria tadi menyerang Glen lagi. Kali ini tinjuan lagi. Glen menunduk, tinjuan meleset. Lalu Glen ayunkan kunci inggris yang ia bawa.
Buugg,
"****!" pria itu memegangi perutnya, lantas tersungkur ke aspal.
"Rasakan ini juga!" Glen menginjak perut pria itu.
"Aargghh...."
Satu musuh sudah tumbang. Glen merasa senang.
"Awas kau!" teriak seseorang.
Perasaan senang Glen sirna. Pria satunya yang bersenjata menyerang Glen, dengan pisau.
Jleb,
"Hah hah...." napas Glen terengah.
"Hampir saja!" pisau yang ditujukan pada Glen berhasil dihindari dan menggores body depan mobilnya.
"Sialan!" pekik pria itu.
"Aduh, mobilku!!!" Glen justru fokus pada mobilnya sekarang.
Glen mengelus mobilnya itu berkali-kali. Lecet sudah mobilnya.
"Mati kau!" teriak pria dari belakangnya.
Glen bisa melihat pantulan bayangan pria itu dari kaca mobilnya, dia akan menusuk Glen dari belakang. Lantas Glen bergerak sesuai instingnya saja.
Jleb,
"Hah mobilku!" pekik Glen.
Beruntung Glen bisa menghindar, tusukan pisau itu mengenai body mobil lagi. Sungguh kalau tidak ada pria itu pasti Glen sudah menangis, tapi kepalang malu Glen hanya gigit bibir.
Jleb,
Bruukk,
"Hah!" Glen hampir jantungan.
Tubuh pria itu menimpa dirinya, dengan banyak darah. Di saat yang bersamaan Reza mengelapi darah yang menempel di pisaunya.
"Bos kaki saya gemetaran sendiri!" lirih Glen.
......................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!
__ADS_1