
"Aaaaa...." Silvi berteriak, ia berjalan mundur.
"Tolooonnnggg!!!! Kak Rezaaaa...Gleeennnnn....Tolooonnnggg!" teriaknya.
Prang,
Glen menjatuhkan piring karena terkejut. Dia langsung berlari keluar dapur. Suara istri bosnya terdengar kencang sekali. Pasti trendi sesuatu. Glen berusaha secepat mungkin menuju sumber suara istri bosnya.
"Bu Bos...Ada apa?" teriak Glen.
"Glen tolong...." lirih Silvi.
Silvi tidak berani bergerak lagi. Kakinya bahkan terasa kaku.
"Astaga...Toloonnggg..." pekik Glen.
Glen malah lebih heboh, ia berlari sampai mepet tembok. Glen meneriaki nama bosnya agar datang menolong. Bahkan Glen mencoba menelpon bosnya itu.
"Ada apa, ada apa?" Reza berlarian menuruni anak tangga. Ia hanya menggunakan sehelai handuk yang melilit di pinggangnya.
"Kak..." Silvi menangis.
Deg,
Reza melotot, di hadapannya sekarang ini ada seekor ular kobra besar siap menyerang istrinya. Detak jantung Reza seakan berhenti beberapa saat.
Air mata Silvi menetes, ia menatap suaminya. Silvi mengelus perutnya, ia memikirkan janin yang ada di dalam perutnya.
"Silvi tenang, ada aku di sini." Reza berjalan mendekat perlahan.
Silvi hanya mengangguk. Di sudut ruangan, Glen hanya menatap dari kejauhan. Sungguh ia tidak berani mendekat sedikitpun. Saat ini ia hanya bisa berdoa agar mereka semua selamat.
"Sayang, dengarkan aku baik-baik....Ular hanya akan menyerang jika dia merasa dirinya terancam atau ada musuh yang mendekat. Kamu jangan bergerak secara tiba-tiba..." lirih Reza.
Silvi mengangguk pelan. Sekarang ini Silvi tidak bergerak sedikitpun. Ia menuruti perkataan Reza, ia percaya pada suaminya.
"Huft..." Reza mengambil jas miliknya yang masih berada di sofa sudut ruang tengah. Tadi ia melemparnya sebelum naik ke kamar.
Reza berjalan perlahan, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Kepala ular itu masih berdiri tegak, siap menyerang Silvi saat itu juga. Reza semakin berhati-hati.
"Saat aku kasih aba-aba, kamu lari, sayang!" lirih Reza.
Silvi menjawabnya dengan anggukan. Reza berjalan semakin mendekat lagi ke arah ular itu. Silvi sangat takut, ia sampai menahan napas. Saat Reza sudah berada di jarak yang cukup...
"Lari!" seru Reza.
Hap,
Di saat yang bersamaan Reza melemparkan jasnya. Silvi berlari jauh ke samping. Reza langsung menerkam ular yang tertutup jasnya. Ia memegang kepala ular itu.
"Dapat!" seru Reza saat berhasil menangkap ular itu.
Silvi merasa lega.
Prok prok prok.....
"Wah, bos hebat banget!" puji Glen sambil bertepuk tangan.
"Diam, Glen! Ambilkan karung, atau aku akan menyuruh ular ini mematuk bibirmu itu!" teriak Reza.
"Ampun, bos!" ucap Glen
Tanpa menunggu diperintah dua kali, Glen bergegas mengambilkan karung yang diminta bosnya. Glen berlari, ia takut ularnya lepas lagi.
"Ini bos!" Glen menyerahkan karung.
"Buka!"
Glen membuka karungnya, tapi ia tutup mata tidak berani melihat. Reza memasukkan ular itu ke dalam karung lalu ia ikat karungnya.
"Buang ular ini ke hutan!" Reza memerintah Glen.
__ADS_1
"Siap, bos!" jawab Glen.
Glen hanya memegang sedikit ujung dari karung itu. Ia benar-benar takut.
"Kak..." lirih Silvi.
Reza menoleh, ia menghampiri istrinya. Istrinya itu terlihat masih sangat syok. Reza memeluk Silvi dengan sangat erat.
"Aku takut, kak!"
"Ada aku di sini..." Reza mengelus punggung Silvi.
Silvi terdiam, ia mengelap air matanya. Suara Reza terdengar serak. Ia menyudahi pelukan mereka. Kedua mata Silvi menatap Reza.
"Kakak menangis," lirih Silvi.
Reza menunduk.
"Jantungku hampir berhenti berdetak melihat kamu dan calon anak kita dalam bahaya di hadapanku sendiri," ucapnya sendu.
Silvi memeluk Reza lagi dengan sangat erat.
"Sudah jangan menangis lagi, kak! Kakak sudah menangkap ular itu dan melindungi kami berdua," ucapnya.
"Kalau kamu mau, untuk sementara kita bisa pindah dulu ke rumah mami, sampai aku bisa menyelesaikan masalah ini," Reza mengelap air matanya.
"Tidak perlu, kak. Selama ada kakak di sini, aku merasa aman. Aku takut jika nanti mami dan papi terkena teror juga. Tolong jangan kasih tau orang tua Silvi juga ya, kak! Termasuk Kak Dave, Silvi takut Kak Dave semakin tidak suka dengan kakak."
"Tapi aku takut jika aku sedang di kantor, kamu diteror lagi." Reza protes.
"Aku bisa main ke rumah Kak Dave. Kak Aryn nggak ada teman juga di rumah, dia senang aku disana. Dengan alasan itu Kak Dave tidak akan curiga. Kak Mei sepertinya juga akan sering main ke sana," jawab Silvi.
"Hmm...Seperti biasa, kamu itu keras kepala..." Reza mengacak rambut Silvi.
Dari kejauhan terdengar derap langkah kaki masuk ke dalam rumah. Reza dan Silvi terlalu asik mengobrol, mereka tidak memperhatikan.
"Ularnya sudah saya buang jauh, bos!" ternyata yang datang adalah Glen.
"Kok cepet banget?" tanya Reza.
"Iya, jelas cepet bos. Yang buang orang saya, kalau saya mana berani bawa karung berisi ular berbisa itu," Glen menyengir.
"Dasar!" seru Reza.
"Bu Bos baik-baik saja, kan?" Glen menatap istri bosnya.
"Iya," jawab Silvi.
"Syukurlah...Saya bingung ular sebesar itu kenapa mendadak muncul di sofa ya, bos?" Glen berjalan mengelilingi sofa.
"Sepertinya ada yang sengaja melepas ular itu ke rumah kita, kak!" ucap Silvi, Reza menatapnya seketika.
"Benar, kamu bilang tadi ada teror telepon dan ketukan pintu kan? Pasti itu hanya untuk mengalihkan perhatian. Saat kamu sudah ketakutan dan pergi ke rumah Dave, mereka melepas ular itu..."
"Glen, cek seluruh rumah...Halaman depan, area kolam, bagian belakang, samping, semuanya..." lanjut Reza.
Glen mengangguk.
"Tunggu, satu hal lagi! Cek CCTV!" seru Reza.
"Maaf bos, CCTV bukanya rusak sejak tempo hari?"
"Kau kira aku bodoh, kalau CCTV rusak pasti aku akan segera menggantinya dengan yang baru lah!" jawab Reza kemudian.
"Tapi saya tidak tahu dimana yang baru, saya tidak lihat bos sejak kemarin," Glen masih saja menjawab.
"Mulutmu lama-lama nanti aku jepit pake karet, cerewet banget! Sudah cek seluruh rumah sana, aku ambilkan ponsel dulu untuk mengecek CCTV!" sahut Reza.
"Baiklah, bos..." Glen menyengir.
Glen baru akan balik kanan melakukan tugas, tapi saat Reza berdiri dari sofa karena akan mengambil ponsel, hal yang tak terduga terjadi.
__ADS_1
Glen menutup matanya.
"Ada anakonda!" pekik Glen
"Hah, anakonda? Ular anakonda? Mana?" Reza celingukan.
"Itu!" Glen masih menutupi wajahnya.
"Mana?" Reza menatap Silvi, namun kemudian Silvi sadar.
Silvi tertawa.
"Itu!" ia menunjuk sesuatu.
Reza menunduk.
"Dasar gentong sialan!" umpatnya.
Lantas Reza menarik handuknya yang jatuh ke lantai. Sekretaris laknatnya itu mengatai barang pusaka miliknya yang terlihat karena handuknya melotot. Memang tadi Reza hanya menggunakan handuk, saat Silvi berteriak ia baru akan mandi tadi.
"Ampun, bos! Saya kaget tadi! Tiba-tiba ada...Yang keluar dari sana, emmm..." Glen cengar-cengir.
Anehnya pipi Glen memerah.
"Urus saja cacingmu itu!" seru Reza marah.
Silvi tertawa.
"Ih si bos..." Glen menunduk, memikirkan apa yang diucapkan bosnya.
Reza lantas naik ke kamarnya, ia menuntaskan niat mandinya yang tertunda tadi. Baru ia membawa ponselnya turun ke bawah. Pas sekali Glen juga sudah mengecek semua sudut rumah. Sementara Silvi, dia menunggu sendirian di ruang tengah.
"Bagaimana?" tanya Reza saat tiba di ruang tengah.
"Tidak ada bahaya lain, bos! Hanya saja saya menemukan kantong hitam di dekat tanaman hias depan rumah," jawab Glen.
Glen menunjukkan kantong hitam yang telah ia bungkus dengan kantong plastik bening.
"Mereka membawa ular itu dengan kantong ini," Reza mengamati kantong itu.
Reza meletakkan kantong itu begitu saja. Ia membuka ponselnya, menghubungkannya dengan CCTV yang ia pasang tempo hari.
"Sekarang kita lihat isi rekaman CCTV ini," ucap Reza.
Silvi dan Glen mendekat untuk ikut menonton. Nampak ada salah satu video yang muncul sedikit terhalang dedaunan. Tapi mereka masih bisa melihat ada seseorang yang meletakkan kantong tadi.
Reza mem-pause video rekaman saat pelaku berbalik arah.
"Wajahnya ditutupi," ucap Silvi.
"Saya malah gagal fokus dengan rekaman ini, bos! Kenapa ada dedaunan yang muncul di sini. Kameranya dimana? Kapan bos memasangnya? Saya tidak melihatnya sejak kemarin," tanya Glen sewot.
"Kameranya ada di pagar bagian paling bawah. Dekat dengan rumput hias, daun yang kau lihat itu bagian dari rumput itu," jawab Reza enteng.
"Wow, bos memang terbaik! Tidak ada yang akan tahu jika ada CCTV di bawah seperti itu," Glen memuji.
"Tapi kak, sekarang bagaimana, pelakunya juga menggunakan penutup wajah," ucap Silvi cemas.
"Semuanya akan aku urus, sayang! Kamu jangan memikirkan yang tidak-tidak, teror ini akan aku akhiri," Reza menenangkan Silvi.
Setelah menenangkan Silvi, Reza berjalan menghampiri Glen.
"Sekarang lakukan ini...." Reza berbisik di telinga Glen.
"Serius bos?" pekik Glen.
"Lakukan saja, nanti kau juga tau!" jawab Reza.
...................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!
__ADS_1