
Tiga minggu telah berlalu dari kejadian malam itu. Siang ini Reza sengaja meluangkan waktu istirahat makan siangnya untuk keluar kantor. Dengan Glen yang selalu setia menemani.
"Mau kemana sih, bos?" Glen gelisah sejak tadi mereka tidak sampai-sampai, kemana sebenarnya bosnya mengajaknya pergi.
"Bertemu seseorang," jawab Reza.
"Kita tidak makan dulu? Bos tidak lapar?" yang Glen pikirkan saat ini adalah makanan.
"Pikiranmu itu isinya hanya makanan saja," keluh Reza.
"Soalnya kalau tidak makan saya jadi gelisah bos," jawab Glen.
Reza memutar bola matanya malas.
"Ada-ada aja,"
Mobil Reza berhenti di sebuah area pemakaman. Glen semakin bertanya-tanya, ada angin apa hingga bosnya mengunjungi pemakaman. Nanti Glen juga akan tahu jawabannya.
Glen ikuti saja bosnya yang telah masuk ke area pemakaman itu. Glen tambah terkejut karena Reza membawa bucket bunga dan paper bag lumayan besar.
Ada beberapa orang suruhan Reza di sana yang menyebar. Glen fokus melihat seorang pria paruh baya duduk termangu di dekat sebuah makam. Pria itu hanya duduk sambil mengelus pusaran makan itu, tangannya sampai bermandikan tanah. Juga pakaiannya, sepertinya dia sudah lama duduk di sana. Kaos pria itu basah oleh keringat. Karena memang di sini panas sekali.
"Selamat siang, Mike! Aku bawakan bunga segar, lihatlah papamu masih saja menunggumu di sini," ucap Reza seraya meletakkan bucket bunga yang ia bawa ke atas tanah makam.
"Oh jadi ini makam Mike, dan pria itu pasti Andreas yang diceritakan bos?" bisik Glen pada Reza.
"Yeah," lirih Reza.
Memang Glen hanya tahu kejadian di markas melalui cerita dari Reza. Malam itu ia ditugaskan menjaga para istri. Dilihatnya Reza yang berjalan mendekati Andreas.
Reza tanpa ragu menundukkan sedikit tubuhnya agar bisa menatap wajah sendu Andreas. Glen melihat sosok berbeda dari seorang Reza Albert. Bosnya yang dulu kejam dan tidak kenal belas kasihan, hari ini membawakan makan untuk orang yang berulang kali mengacaukan kehidupannya. Bosnya berubah menjadi orang yang lebih baik sekarang. Glen tidak tahu jika dulu bosnya tidak menikah dengan Silvi.
"Sudahi kesedihanmu, aku tahu dirimu merasa sangat bersalah pada Mike. Tapi ingatlah penyesalan tidak ada gunanya jika kau tidak berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik," ucap Reza, pandangan matanya menatap makam Mike.
Andreas hanya diam saja, masih melamun seperti tadi.
"Aku bawakan makan siang untukmu," Reza menyodorkan paper bag yang ia bawa tadi.
Andreas sama sekali tidak melirik pemberian Reza. Reza tersenyum simpul, ia berdiri lagi dan memakai kacamata hitamnya.
"Tetap jaga dia, tapi jangan mengganggunya." ucap Reza pada salah satu orangnya.
__ADS_1
"Siap, tuan!"
Reza meninggalkan area pemakaman itu. Glen mengekor di belakangnya, sesekali Glen menoleh ke belakang. Ia merasa kasihan dengan nasib Andreas.
Yang ia dengar dari Reza kemarin, Andreas hanya menghabiskan waktunya berdiam diri di dekat pusara makam putranya. Andreas akan pulang jika langit telah gelap. Pria paruh baya itu akan kembali ke rumah megahnya dengan berjalan kaki. Orang suruhan Reza juga menginformasikan jika selama di rumah Andreas mengurung diri.
Andreas memang masih ingat makan, mandi, dan tidur. Tapi pria itu seperti mayat hidup. Pagi-pagi sekali ia akan jalan kaki ke makam putranya. Di sepanjang jalan Andreas memetik bunga liar untuk menghias makam Mike. Panas, hujan, angin kencang, tidak akan menjadi penghalang. Andreas akan tetap di sana. Berkali-kali diseret orang suruhan Reza, tapi dia enggan meninggalkan makam.
Makanan yang dibawakan Reza tadi pasti juga tidak akan dimakan, Andreas akan membawa makanan itu pulang ke rumah. Lalu akan dimakan jika ia akan tidur. Setiap hari selama tiga minggu ini hanya makam Mike yang menjadi tujuan hidupnya. Usaha yang dirintisnya sejak lama ia lupakan begitu saja.
"Bukankah sebaiknya Andreas di bawa ke rumah sakit jiwa atau psikiater, bos?" Glen baru saja masuk ke mobil Reza.
Seperti biasa Reza yang menyetir.
"Hampir setiap hari aku menyuruh orangku membawanya bahkan menyeretnya, tapi dia tidak akan pernah mau meninggalkan makam itu. Beberapa psikiater juga aku datangkan, Andreas hanya diam." jawab Reza.
"Penyesalan memang selalu datang belakangan," Glen masih menatap Andreas dari dalam mobil.
"Yeah! Dan dia sedang menghukum dirinya sendiri." sahut Reza.
Mobil Reza meninggalkan area pemakaman itu. Tidak berselang lama ada sebuah mobil berwarna merah yang berhenti di sana. Siapa lagi kalau bukan Clara. Perut Clara sudah terlihat besar. Ia berjalan perlahan memasuki area pemakaman.
Orang Reza tidak mencegah, Clara telah mengatakan dia tidak akan berbuat macam-macam. Ia hanya ingin mengunjungi makam adiknya dan melihat kondisi papanya.
"Pa..." Clara menepuk bahu Andreas.
Diam, hanya itu yang dilakukan Andreas jika ada orang yang mencoba berinteraksi dengannya.
"Pulanglah bersamaku, pa...Aku akan mengurus papa," ucap Clara sendu.
Tidak ada jawaban.
"Ayo, pa!" Clara menarik lengan Andreas.
Andreas menggibaskan tangan Clara.
"Aauuww..." pekik Clara.
Untungnya Clara tidak sampai jatuh, ia mengelus perutnya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, ia memilih meninggalkan makam itu. Biarlah papanya tetap menunggui makam Mike, papanya masih sangat bersedih. Tidak akan ada yang bisa mengusik atau sekedar membujuknya.
"Aku pulang, pa! Tolong jangan terlalu berlarut dalam penyesalan," Clara berjalan menuju mobilnya.
__ADS_1
Tinggallah Andreas yang masih menatap makam putranya. Kedua mata pria itu sembab dan bengkak. Kalau bisa, mungkin sudah ia gantikan posisi putranya.
...+++++++++++...
"Bos kita tidak makan dulu? Langsung kerja lagi?" Glen terus saja mencerca Reza dengan pertanyaan itu.
Reza dan Glen telah tiba di kantor lagi. Mereka tidak berhenti untuk makan atau membeli makanan dari luar. Karena itu Glen memelas pada bosnya.
"Kau berisik sekali," keluh Reza.
"Namanya juga lapar, bos!" jawab Glen.
Reza memilih untuk tidak menggubris Glen. Ia tetap berjalan santai menuju ruangannya.
"Lihatlah!" tangab Reza menunjuk ke arah meja.
Glen langsung berbinar, wajahnya sumringah seketika seperti habis menang lotre. Di meja sudut ruangan Reza, ada dua paper bag. Glen membukanya satu, isinya ada makanan dan minuman dingin seperti yang dibayangkan Glen.
"Wah, ternyata bos sudah menyiapkannya!" seru Glen.
"Hmm, makanlah!"
"Bos tidak makan?" tanya Glen, karena Reza malah sibuk dengan ponselnya.
"Aku belum lapar, makan saja punyaku kalau kau mau!"
"Wah wah rezeki anak tampan," Glen langsung mengambil makan siang milik Reza.
"Makanlah sampai kenyang, jangan terburu-buru nikmati saja! Pekerjaanmu hari ini aku ringankan," ucapan Reza hampir membuat Glen tersedak.
Sepertinya bosnya tidak mengatakan cuma-cuma. Pasti ada sebabnya sampai bosnya sedikit beda hari ini.
"Setelah selesai makan nanti, belikan kambing guling utuh ya! Silvi pengen makan itu, jangan buat istriku ngiler karena menunggu harus cepat pokoknya!"
Uhuk uhuk....Glen mengambil minumannya. Nah benar, kan! Ada gajah dibalik batu. Glen menatap bosnya.
Yang hamil istrinya siapa, yang jungkir balik menuruti ngidamnya siapa....Semoga babynya mirip aku, batin Glen.
"Ngomong langsung aja nggak usah dibatin!" Reza sewot.
Nah nah...Terbukti kan ikatan batin bosnya kepada Glen itu sekuat baja. Glen tertawa sendiri.
__ADS_1
......................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!