Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
KEJUTAN UNTUK MEI


__ADS_3

Ciittt....


Mobil Zack berhenti di suatu tempat yang dirahasiakan.


"Sudah sampai ya? Kita kemana sih sebenarnya?" tanya Mei.


"Sabar, dong! Kalau aku kasih tau bukan kejutan namanya,"


Zack membuka seat belt-nya dan Mei. Ia menuntun Mei turun dari mobil perlahan. Kedua mata Mei ditutup menggunakan kain sejak dari apartemen tadi.


"Jangan macam-macam ya, Zack!" seru Mei sedikit sewot.


"Nggak macam-macam, cuma satu macam kok!"


"Kamu sudah siap?" lanjut Zack.


"Udah siap dari tadi, bang!"


"Okay, hitung 1 sampai 100 ya! Satu..Dua..." ucap Zack.


"Kelamaan!!!"


Zack tertawa.


"Maksudku 1 sampai 3 hehehe..."


"Kebiasaan," Mei sewot.


"Okay!! Satu...Dua...Tiga..." Zack membuka penutup mata Mei.


Mei mengerjapkan kedua matanya sejenak. Ia melihat ke depan dengan seksama. Ia kenal tempat ini. Iya, tidak salah lagi Mei tahu.


"Apa-apaan sih! Kejutan apaan, ini Rumah Aryn. Hampir setiap hari aku main ke sini," Mei sewot.


"Heh! Rumah Aryn yang di sebelah itu!"


Zack menunjuk rumah yang berada di sebelah rumah hadapan mereka. Mei mengikuti kemana jari Zack menunjuk. Ternyata benar, Rumah Aryn ada di sebelah. Mobil Dave yang terparkir didepan rumah itu. Maklum Mei salah. Rumah di perumahan itu mempunyai desain yang sama. Kalau diperhatikan dari dekat baru terlihat bedanya. Karena beberapa rumah menambahkan desain baru.


"Terus ini rumah siapa?" tanya Mei sok polos, padahal ia tahu maksud kejutan Zack.


"Rumah baru kita! Ini kejutanku!!" seru Zack sumringah.


Meskipun sudah tahu, tapi mendengar Zack mengatakan jika rumah itu rumah baru mereka membuat Mei bahagia. Ia memeluk Zack erat, tak terasa air matanya menitik dari pelupuk mata.


"Terima kasih..." lirih Mei sendu.


"Nggak mau masuk?" Zack melepaskan pelukan Mei, ia mengelus pucuk kepala istrinya itu.


"Maulah!!!"


Lantas Zack gandeng tangan Mei. Mengajaknya masuk ke rumah baru mereka. Menunjukkan semua bagian rumah. Mereka keluar rumah lagi saat terdengar suara bising mobil box mendekat ke rumah mereka. Ternyata mobil box itu membawa perabotan dan barang-barang Mei dan Zack.


"Loh kita pindahan hari ini juga? Kapan kamu mengemas semua ini?" Mei terheran-heran.


"Sekali tepuk semuanya beres sayang," Zack membual.

__ADS_1


"Jin kali,"


Zack tertawa.


"Bawa masuk ke rumah, hati-hati ya! Tidak usah terburu-buru!" Zack mengomando orang suruhan yang mengangkut barang.


Zack dan Mei bersandar di mobil mereka sambil mengamati orang mereka bekerja membereskan barang. Zack celingukan melihat ke rumah Reza dan Dave. Rumah kedua sahabatnya itu masih terlihat sepi. Meskipun sudah ada Mobil Glen di depan Rumah Reza tapi belum ada tanda-tanda mereka akan ngantor.


"Aku ke sana sebentar ya, sayang!"


"Okay," Mei mengangguk.


Zack berjalan ke Rumah Dave yang ada di sebelah rumahnya.


"Woyyy, ada tetangga baru pindahan nih, bantuin kek!" teriak Zack.


Ia melakukan hal serupa di depan Rumah Reza. Mei geleng-geleng kepala melihat kelakuan suaminya. Tak butuh waktu lama, pintu Rumah Dave dan Reza terbuka hampir bersamaan. Mereka semua berbondong-bondong keluar rumah.


"Zack?" seru Dave.


"Hai, tetangga!" sahut Zack.


"What? Tetangga?" pekik Reza.


Zack cengar-cengir.


"Tetangga?" seru Aryn dan Silvi bersamaan.


"Iya, mulai hari ini kita tetanggaan say!" Mei mendekat.


"Iya," Mei tersenyum lebar.


"Aduh senangnya!" Aryn bersorak.


Ketiga emak-emak itu sangat bahagia seperti memenangkan arisan minyak. Lain halnya dengan, Dave dan Reza. Wajah mereka nampak seperti menahan berak.


"Kok kalian nggak senang, sih?" Zack protes.


"Ember," Reza melengos.


Dave tertawa.


"Kalau tetangga barunya lo, mana bisa seneng kita." Dave menambahi.


"Kenapa nggak beli rumah di komplek lain? Harus banget pindah ke sini? Eneg gua kalau harus liat wajah lo tiap hari," seloroh Reza.


"Istri gua pengen banget tetanggaan sama kalian, gua hanya mewujudkan keinginannya," jawab Zack.


Reza dan Dave menghela napas. Apalagi setelah melihat istri mereka bersama Mei sudah merumpi bersama di bangku halaman Rumah Mei. Bangku itu lokasinya strategis, sama seperti Rumah Dave dan Reza, Rumah Zack juga mempunyai sebuah pohon didepan rumahnya. Bedanya, pohon milik Zack adalah pohon alpukat. Daunnya lebih rimbun membuat sekitarnya teduh.


"Lihat, mereka senang, kan?" seloroh Zack.


"Yeah," sulit dipungkiri Dave tau itu. Aryn terlihat sangat bahagia karena Mei menjadi tetangganya.


"Sayangnya cicilan rumahku belum lunas, kalau sudah lunas pengen juga beli di komplek sini, asik kayaknya bisa tetanggaan sama bos juga," seloroh Glen.

__ADS_1


Dave, Reza, dan Zack menatap Glen.


"No no no..." Reza menolak cepat.


"Santai aja, Za! Lunasnya masih lama," Zack terkikik.


Mereka tertawa.


"Cari cewek dulu yang bener! Rumah banyak buat apa kalau cewek tidak punya?" Dave meledek.


Glen cemberut.


"Mobil banyak, rumah mewah ada, saldo rekening apalagi...Stop pelit, Glen! Masa makan siang aja minta uang jatah dari bos, mana ada cewek yang mau!" Reza menambahi.


"Ini strategi agar dapat cewek tulus, bos! Kalau saya kebanyakan show up harta, nanti dapetnya cewek matre!" Glen membela diri.


"Tergantung ceweknya juga! Liat istri gua! Walaupun uangku banyak, dia nggak foya-foya, belanja aja jarang!" ucap Reza.


"Istri gua juga, padahal sebelum nikah kalian tau sendiri dia orangnya gimana. Setelah nikah, dia malah jadi lebih irit dari gua, dia juga lebih mementingkan kebutuhan anak. Anak gua yang kakinya belum jadi aja udah disiapin tabungan hari tua wkwkwk.." Zack menambahi.


"Bos ih, jelas Bu Bos nggak matre. Bu Bos lahir dari keluarga sultan. Dari kecil naiknya BMW....Mei juga! Kalau bukan dari keluarga kaya mana bisa kuliah ke luar negeri. Lulus kuliah jadi pengangguran pula di negeri orang." Glen sewot.


"Okay, mereka berdua dari kecil dari keluarga berduit. Lihat deh istri gua! Yeah, dari keluarga berada juga sih. Tapi masa mudanya disiksa ibu tirinya sendiri sampai hampir dijual. Setelah menikah sama gua nih, boro-boro belanja seperti wanita lainnya. Isi lemari dia aja yang beliin gua. Sampai bingung uang mau dikemanain, punya istri nggak doyan shopping ckckck...." Dave juga menyahut.


Glen menepuk dahinya sendiri.


"Sama.." sahut Reza dan Zack.


"Istri gua juga nggak doyan shopping," ucap Zack.


"Doyannya merumpi wkwkwk..." imbuh Reza.


Mereka tertawa.


Obrolan seru terpaksa dihentikan, mengingat hari mulai siang. Mereka harus pergi ke kantor masing-masing. Jadi mereka bertiga, eh...Berempat termasuk Si Gentong bubar jalan ke kantor.


"Bosnya siapa sih?" Dave membuka kaca mobilnya dan protes.


Saat ini Glen dan Reza akan masuk ke mobil. Yang menjadi masalah Reza lah yang akan menyetir mobil. Glen hanya akan duduk di sebelah bosnya.


"Bos Reza!" sahut Glen.


"Lah yang nyetir bosnya sendiri!" Zack ikut-ikutan meledek.


"Berisik banget kalian!" seru Reza.


"Ember," ucap Zack.


Dave terkikik.


Reza tancap gas, meninggalkan kedua sahabat cerewetnya. Selama ini memang Reza yang selalu menyetir. Alasannya hanya satu, ia tidak sabar karena jika Glen yang menyetir tidak akan lebih cepat dari penyu belimbing.


................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!

__ADS_1


__ADS_2