Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
CALON ISTRI ATAU CALON PEMBANTU?


__ADS_3

Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga semuanya sehat selalu ya!


.............


Apartemen Mei,


Mei meluruskan kakinya di sofa, sembari menonton drama korea kesukaannya. Tidak banyak yang ia lakukan hari ini. Hanya pergi ke kampus, bermain sebentar dengan Davin dan Desmon, lalu pulang ke apartemen. Tapi badannya terasa pegal-pegal. Di saat drama yang Mei tonton sampai pada adegan romantis sang idolanya, ada seseorang yang menekan bel apartemennya.


"Cuekin ajalah, biar dikira tidak ada orang di sini!" ucap Mei pada dirinya sendiri.


Tidak berapa lama kemudian, orang itu tidak lagi menekan bel. Tapi menggedor pintu apartemennya sambil meneriaki nama Mei.


Tok tok tok....


"Woy, Mei! Aku tahu kamu di dalam!" teriak seseorang, suaranya mirip seperti Zack.


Ah bukan mirip lagi, tapi itu memang Zack. Mei malah semakin enggan membukakan pintu.


"Buka woy! Kalau enggak aku gergaji nih pintunya!" ancam Zack.


Gergaji? Oh no, Mei menghela napas kasar sepertinya Zack tidak bercanda kali ini. Ia tidak mau kehilangan uang jajan bulanannya jika pintu itu dirusak. Akhirnya Mei bangkit dari sofa, berjalan ke pintu.


"Apa sih?" seru Mei saat membuka pintu.


"Jangan pura-pura lupa, aku tentu mau menagih kesepakatan pagi tadi!" seru Zack.


"Harus sekarang?" Mei menjawab dengan lemas.


"Iyalah, ayo cepat ke apartemenku! Aku lapar!" Zack menarik tangan Mei.


"Kalau lapar ya tinggal makanlah! Kenapa harus mengajakku kesana?" sahut Mei.


"Bodoh! Sesuai kesepakatan kamu harus menuruti keinginan sang pemenang. Kebetulan aku lapar, jadi cepat masakkan untukku," Zack menunjuk perutnya.


"Order saja, lebih gampang tinggal makan," jawab Mei.


"Ingat kesepakatan tadi!" Zack mengancam.


"Okay okay," Mei mengalah.


Mei mengunci apartemennya. Ia berjalan mengekor di belakang Zack. Mau membantah juga percuma. Begitu sampai, Mei langsung masuk ke dapur. Ia membuka kulkas, isinya penuh dengan bahan makanan dan sayur. Tapi Mei tidak tahu akan masak apa. Walaupun ia tinggal sendiri di apartemen, bukan berarti ia pandai memasak. Biasanya saja Mei hanya membuat sandwich, telur mata sapi, makanan instant, atau terkadang ia mengorder makanan.


"Masak yang enak!" seru Zack dari ruang tengah.


"Kamu mau aku dimasakin apa?" sahut Mei dengan berteriak.


"Sup ayam jamur!" seru Zack.


"Sup ayam jamur?" gumam Mei.


Mei membuka kulkas, mengambil ayam dan jamur. Dengan ragu, ia mengambil beberapa buah wortel dan brokoli. Setahu Mei, didalam sup bahan-bahannya itu. Mei mengeluarkan ponselnya, ia mengetik sup ayam jamur di kolom pencarian. Seketika, muncul banyak sekali video berikut dengan resepnya. Tidak ada cara lain, Mei mengikuti apa yang diinstruksikan dalam video itu. Tanpa sepengetahuan Mei, Zack diam-diam mengambil foto Mei yang sedang sibuk memasak.


"Akhirnya...." Mei menatap sup buatannya dengan puas.


Mei melepaskan celemek yang ia pakai, merapihkan penampilannya sebentar baru ia keluar dari dapur dengan membawa semangkuk sup ayam jamur buatannya.


"Nih!" Mei meletakkan sup itu di atas meja hadapan Zack.


"Hmm... Baunya sih lumayan," ucap Zack.


Zack mengeluarkan ponselnya. Bukannya memakan sup itu, ia malah memotretnya beberapa kali.


"Dimakan jangan difoto!" seru Mei.

__ADS_1


"Sewot...." protes Zack.


"Sudah selesai kan? Aku mau pulang, bye!" Mei melangkah pergi.


"Eittsss, siapa yang bilang sudah selesai? Kamu tidak lihat apartemen ini berantakan?" seru Zack.


"Mataku tidak buta, aku lihat apartemenmu ini sudah seperti kandang ayam. Lalu apa hubungannya denganku hah?" sahut Mei.


"Rapihkan dulu baru boleh pulang!" Zack tersenyum devil.


"Heh, aku ini bukan pembantumu!" protes Mei.


"Hayo!!! Ingat kesepakatan pagi tadi!" Zack meledek.


"Hmm," jawab Mei singkat


Mei berjalan ke sudut dapur, membuka almari perkakas. Dan mengambil vacum cleaner. Ia bersusah payah mengangkat vacum itu. Saat ia membersihkan ruang tengah, Zack menyantap supnya. Ingin rasanya Mei balas dendam.


"Pengen ku vacum itu bibirnya! Aku disuruh bersih-bersih dianya malah sibuk makan!" keluh Mei.


"Kesellll!" Mei mendumel, ia menendang kaki meja karena kesal.


Brakk,


"Aduh.." pekik Mei.


"Makanya jangan ngomong jelek di belakangku, kena karma langsung kan?" Zack terkekeh.


"Bodo..." Mei memalingkan wajahnya.


Lagi-lagi Zack mengambil foto Mei tanpa sepengetahuan wanita itu. Ia memotret tepat saat Mei membersihkan karpet dengan vacum. Zack tersenyum devil. Ia menatap foto yang ia ambil sejak tadi. Ternyata Zack mengirimkan foto itu di grub chat keluarganya. Sepertinya Zack ingin membuktikan kalau ia serius akan menikahi Mei. Dengan menambahkan keterangan di foto itu, yang isinya seperti ini,


Pulang kerja dimasakin calon istri! Masakannya mantab, apartemen juga rapi dan bersih! Jadi nggak sabar kunikahin!🤣


Zack tertawa sendiri setelah melihat foto dan caption yang ia buat. Papanya pasti percaya dan berhenti menjodohkannya. Sementara Zain pasti kesal. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ada pesan masuk dari Zain. Zack mengerinyitkan dahinya. Rupanya kakaknya membalas foto yang ia kirim di grub chat keluarga tadi.


Zain: "Calon istri atau calon pembantu, bro?🤣"


Zack: "Iri bilang, bro!"


Papa Cavero: "Good job, son! Pilihanmu tepat ternyata! Nggak kaya papa, makan masakan pembantu terus!🙃"


Mama Emmy: "Tidur diluar👿!"


Zain: 🤣🤣🤣


Zack: 🤣🤣🤣


Zack tertawa terbahak-bahak. Malah jadi papanya yang tidur diluar, kasihan juga. Zack menatap Mei yang masih sibuk berbenah. Ucapan papanya masih terbayang. Mei itu pilihan yang tepat. Cantik? Iya, Sexy? Lumayan walaupun dadanya minim, Bisa masak? Lumayan juga rasa masakannya. Zack jadi membayangkan jika ia menikah dengan Mei.


"Astaga! Masa aku mikirin nikah dengan Mei!" maki Zack pada dirinya sendiri.


---------------------‐------------


"Terima kasih, pak! Kalau lebih ambil saja kembaliannya ya!" ucap Glen saat membayar taksi.


"Wah, sering-sering ya tuan!" seru sopir bahagia. Sesaat kemudian ekspresi sopir berubah.


"Woy, tuan! Ini uangnya pas!" teriak si sopir.


"Kan saya bilangnya, kalau lebih uanganya!" Glen tertawa.


Glen berlarian masuk ke mansion, meninggalkan sopir yang masih kesal. Si sopir tidak mau ambil pusing, ia juga bergegas meninggalkan mansion itu.

__ADS_1


"Ditinggal bosmu terus, ya?" ledek Erick saat Glen datang.


"Iya, tuan! Saya tadi ketiduran di bawah pohon," jawab Glen.


"Bukankah tadi kalian pergi sama Zack juga?" seru Erick.


"Iya, benar! Tapi saat saya bangun tadi mereka sudah tidak ada. Malah waktu bangun tadi banyak polisi, tuan! Di sekitar saya dipasangi garis polisi, saya sapa aja polisinya pas saya bangun! Eh mereka kaget," jawab Glen.


"Emangnya ada apa?" sahut Katy.


"Saya juga tidak tahu, nyonya! Katanya sih ada temuan mayat gitu." Glen bergabung duduk dengan semua orang.


"Oh..." Katy mengangguk.


"Pantas mereka kaget, kau mayatnya! Dasar stupid!" seru Dave.


"Iyakah? Pasti gara-gara saya mimpi jadi orang kaya, saya tidurnya menjadi terlalu nyenyak!" Glen menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Huuu... Upid (Huuu...stupid)" Davin ikut berbicara.


"Eh, sayang! Tidak boleh bilang seperti itu ya!" ucap Aryn mengingatkan Davin.


"Telcelah apin (Terserah Davin)" ucap Davin.


"Apin? Astaga, boy! Namamu bagus gitu jadi Apin?" Dave menatap putranya.


"Kamu ini, harusnya jangan mengatakan kata-kata kasar di depan Apin! Dia jadi ikutan kan!" protes Aryn


"Davin bukan Apin, sayang!" seru Dave.


"Telcelah mommy, dad!" sahut Davin.


"Ah baiklah baiklah..." Dave mengalah.


"Tuan, nyonya... by the way, bos ada dimana?" Glen celingukan mencari Reza.


Mendengar itu, Dave langsung melihat sekeliling. Reza tidak ada di sana. Entah sejak kapan dia menghilang. Ternyata Silvi juga tidak ada di sana, padahal tadi Silvi duduk di samping papanya. Bagaimana bisa papanya membiarkan pria itu membawa Silvi?


"Silvi juga tidak ada... Beraninya dia!" Dave beranjak dari duduknya.


Dave mencari Silvi dan Reza. Ia langsung menuju kolam renang. Entah mengapa ia merasakan mereka ada di sana. Ia mempercepat langkahnya. Ternyata benar, Silvi dan Reza ada di sana. Dave melihat dengan mata kepalanya sendiri Reza berdiri berhadapan dengan Silvi, jarak keduanya dekat sekali. Reza bahkan mendekatkan wajahnya pada wajah Silvi. Dave tahu apa yang sedang terjadi.


"Ngapain kalian?" teriak Dave.


Silvi dan Reza langsung kelabakan. Keduanya mundur dua langkah, menjauh dari satu sama lain.


"Ini tadi mata Silvi kelilipan," jawab Silvi gugup.


"Jangan banyak alasan! Sekarang kamu masuk ke kamar! Dan lo... pulang sana! Ini sudah malam..." Dave menatap tajam Reza dan Silvi.


"Baik, kak!" Silvi.


"Baik, kak!" Reza.


Jawaban Reza membuat Dave terdiam sejenak. Silvi berlarian menuju kamarnya. Reza berlarian keluar dari mansion. Tanpa sadar Reza juga memanggil Dave dengan sebutan kakak tadi. Reza keluar dari mansion begitu saja tanpa melihat Glen yang masih duduk di sana. Ia tidak tahu Glen sudah sampai.


"Bos....." seru Glen saat ia melihat Reza berlarian keluar mansion.


"Baru aja nyampe...." ucap Katy.


"Sudah ditinggal lagi," lanjut Glen dengan mimik muka sedih, kedua ujung matanya sudah basah.


"Yaahhh... Jangan nangis!" seru Aryn.

__ADS_1


..........................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya! Love you all!


__ADS_2