Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
ZAIN


__ADS_3

Reza baru saja mendapatkan telepon dari maminya. Segera ia pulang ke rumah. Kalau Glen? Ia mengekor di belakang Reza tanpa disuruh. Sisa pekerjaan bisa ia bawa pulang. Terkadang lebih penting untuk ikut kemanapun bosnya pergi.


"Wanita itu menantangku, baru tadi aku peringatkan sekarang malah kirim bunga ke rumah." Reza mengomel di perjalanan pulang.


"Sabar, bos! Jangan mengomel, fokus ke jalanan saja dulu. Saya nggak mau mati mengenaskan di jalan, serem!" sahut Glen.


Glen berpegangan erat. Iya! Reza yang menyetir. Enak jadi Glen, pergi bersama bos tapi yang mengemudi bosnya sendiri.


Pim pim,


Sebuah mobil menyalip Reza. Awalnya Reza cuek, tapi ia baru sadar yang menyalip dia adalah mobil lama Zack.


"Loh loh, kok malah belok bos?" pekik Glen.


Saat ini Reza malah mengikuti mobil di depannya yang berbelok di sebuah pertigaan.


"Di depan itu mobil lama Zack, aku dengar mobil itu dipakai Zain." ucap Reza.


"Kenapa bos mengikutinya?"


"Iseng aja," jawab Reza enteng.


Sejenak Reza lupa tujuannya untuk pulang ke rumah. Ia fokus mengikuti mobil di hadapannya. Reza yakin Zain tidak tahu kalau sedang diikuti. Zain hampir tidak pernah bertemu Reza, jadi ia tidak tahu mobil di belakangnya adalah Reza. Meskipun begitu Reza tidak terlalu dekat dengan mobil Zain agar aman.


Mobil yang dikendarai Zain berhenti di parkiran sebuah cafe. Reza tetap diam di dalam mobilnya memantau Zain.


"Bos..." Glen menyenggol tangan Reza.


"Apa?"


"Bos tadi buru-buru mau pulang loh, sudah setengah jam kita mengikuti Zain. Bos tidak takut dimarahin mami dan bu bos?"


"Astaga!!!" Reza baru ingat.


Reza terdiam sejenak, lalu ia mendapatkan ide jenius.


"Turun!" Reza memerintah Glen.


"Saya?" Glen menunjuk dirinya sendiri.


"Siapa lagi? Hanya ada kau di sini."


"Turun dari mobil, bos?" tanya Glen lagi.


"Iya, Gentong!" Reza sewot.


"Tapi kenapa, bos? Bukannya kita harus segera ke rumah bos?"


"Yang harus segera pulang itu aku, bukan kau!"


"Terus saya di sini ngapain?" tanya Glen.


"Ambil uang ini! Kau masuk ke dalam cafe itu, pesan makanan sesukamu!" Reza memberikan beberapa lembar uang cash.


"Wah, kalau begini saya setuju!" Glen sumringah.


"Tapi ada hal lain yang harus kau lakukan. Kau sudah tahu WAJAH Zain, kan? Awasi dia, laporkan apapun yang kau lihat dan dengar di dalam sana, okay?" perintah Reza.


"Siap laksanakan!" sahut Glen.


Glen turun dari mobil Reza.


"Good luck, Gentong! Bye!"


Mobil Reza meninggalkan cafe itu.


"Semoga ada kabar baik, atau paling tidak sebuah petunjuk..." gumam Reza.


Setelah mendengar cerita Zack di kantor tadi, Reza sedikit menaruh curiga pada kakak Zack itu. Zack menceritakan Zain jadi lebih agresif pada Mei dan selalu memperburuk suasana. Reza curiga ada campur tangan Zain di balik pengakuan kehamilan Clara.


Status sebagai kakak tidak menjamin jika Zain tidak tahu mengenai masalah ini. Justru orang terdekatlah yang kadang menusuk dari belakang.


Citt...


Mobil Reza parkir di garasi rumahnya. Akhirnya ia sampai juga di rumah. Baru saja ia keluar dari garasi. Ia langsung merasa merinding. Suasana sore ini terasa mencengkam. Saat ini Reza tengah ditatap tajam oleh dua orang wanita yang ia cintai.


Tak lain dan tak bukan adalah istri dan maminya. Mereka berdua tampak kompak berdiri di depan pintu. Tangan mereka dilipat di depan dada.


"Bulu kudukku berdiri," gumam Reza.


Reza memaksakan diri untuk tersenyum selebar mungkin. Untuk menutupi rasa takutnya.


"Kalian menunggu di sini?" sapa Reza canggung.


"Iya, kami tidak sabar mendengar penjelasanmu mengenai kiriman bunga dari Zara!" sahut Zela ketus.

__ADS_1


"Nih!" Silvi melemparnya ke arah Reza.


Hap,


Reza menangkapnya. Ia melihat surat kecil dalam bucket itu. Lantas ia remas kertasnya dan ia buang ke sembarang arah.


"Setelah sekian lama kenapa wanita itu muncul lagi?" tanya Zela.


"Apakah kalian berhubungan?" imbuh Silvi.


Reza mengelus leher belakangnya. Berhadapan dengan maminya saja sudah seram apalagi ditambahi Silvi. Mendadak Reza jadi gaguk. Tidak bisa menjawab pertanyaan mereka. Padahal ia sudah berencana merahasiakan kemunculan Zara. Sekarang ia harus bagaimana. Andai papinya sudah pulang kerja dan ada di sini untuk membantunya.


"Kenapa diam saja? Tidak bisa jawab huh?" Zela menggertak Reza.


"Atau jangan-jangan benar Kak Reza menjalin hubungan lagi dengan wanita itu?" imbuh Silvi.


"Itu..." Reza bingung mau mulai dari mana.


Jika ia mengatakan tadi Zara menghampirinya ke kantor. Reaksi mereka berdua akan semakin seram.


"Kak Reza selingkuh? Padahal Silvi masih langsing loh, nggak kalah cantik juga dengan Si Melon itu!" Silvi mulai mewek.


"Tidak, sayang....Tidak! Jangan katakan itu!" sahut Reza dengan cepat.


"Aku tidak ada hubungan apapun. Tiba-tiba saja wanita itu muncul lagi," lanjut Reza.


"Bagaimana bisa dia tahu rumah baru kita?" tanya Silvi.


"Dia selalu nekat, apapun bisa dia lakukan!"


"Dasar wanita jal**ng!" Zela mengumpat.


"Aku janji akan segera mengatasinya. Jika ia mengirimkan atau mengatakan sesuatu tolong kalian jangan percaya. Ini hanya akal-akalannya untuk mengusik hidup kita," ucap Reza.


Untuk sementara Reza berhasil memenangkan istri dan maminya. Semoga wanita itu tidak berulah lagi sampai Reza bisa mengatasinya. Kalau bisa Reza akan membuatnya kembali ke Paris dan tidak bisa keluar dari sana.


++++++++++++


Sementara itu,


Di cafe tadi tempat Reza menurunkan Glen, Glen duduk di salah satu bangku yang ada di sudut. Ia bisa melihat Zain dari sana. Jaraknya hanya satu bangku saja.


"Mumpung diberi uang banyak, pesan banyak ah!" ucap Glen.


Sembari mengamati Zain, ia memesan aneka makanan dan minuman. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.


Glen mengecek ponselnya. Melihat daftar foto yang dikirimkan bosnya.


"Itu Clara, tidak salah lagi! Clara..." gumam Glen.


Ternyata Zain bertemu dengan Clara di cafe itu. Glen terus mengamati dan mendengarkan percakapan mereka yang terdengar samar-samar. Ia sampai mengabaikan pelayan cafe yang datang membawakan pesanannya.


"Sorry, membuatmu menunggu..." ucap wanita bernama Clara itu.


"It's okay. Aku tahu kau pasti sedikit mengalami masalah saat sedang hamil," Zack terkekeh.


"Yeah, bukan sedikit sebenarnya. Tapi banyak masalah," sahut Clara.


"Tapi Zack kan selalu ada untukmu,"


"Tentu, aku selalu mengancamnya." Clara terkekeh.


"Bagus,"


"Sebenarnya kalau bukan karena ide darimu, aku pasti sudah menggugurkan anak ini, hamil membuatku sangat lemah akhir-akhir ini, bentuk tubuhku sudah mulai jelek!" ucap Clara.


Kedua mata Glen melotot, dari ucapan Clara ia bisa menyimpulkan bagaimana watak Clara.


"Apalagi hamil anak Zack," Zain meledek.


Flashback on,


Hari ini adalah hari pernikahan adiknya. Tapi Zain sama sekali tidak ada niat untuk datang. Ia memberikan alasan kepada mama dan papanya jika ia ada urusan penting yang tidak bisa diwakilkan. Yang sebenarnya terjadi adalah ia kecewa karena tahu Zack akan menikahi Mei. Mei mahasiswinya yang dulu selalu mengejarnya. Ia baru sadar ada rasa dengan mantan mahasiswinya itu.


Saat ini Zain duduk sendirian di bangku cafe. Ia melamun tidak jelas.


Entah sudah berapa jam ia duduk di sana. Sampai ada seseorang yang menepuk bahunya, membuatnya tersadar dari lamunannya.


"Zain!" seru seorang wanita.


"Kau?" pekik Zain.


"Kau wanita Zack? Clara?" lanjutnya.


Zain masih ingat betul Clara. Berkali-kali Zain melihat wanita itu dibawa pulang ke apartemen Zack. Kadang Zain menjemput adiknya itu yang mabuk. Dan mereka berdua satu kamar. Apalagi Clara dulu model di bawah agensi perusahaan papa mereka.

__ADS_1


"Ternyata kau ingat aku hahahaha..."


"Bolehkah aku duduk?" lanjut Clara.


"Oh, silahkan!" jawab Zain.


"Aku dengar hari ini adikmu menikah, dengan Mei sekretarisnya itu kan?"


"Benar," jawab Zain lesu.


"Biar kutebak, kau juga tidak suka mereka menikah?"


"Benar," Zain tersenyum dengan dipaksakan.


"Berarti sama," Clara terkekeh.


Zain memanggil seorang pelayan cafe. Ia meminta daftar menu untuk diberikan pada Clara.


"Pesanlah sesuatu, kau terlihat pucat!" Zain menyodorkan buku menu.


"Yeah, sejak pagi aku muntah-muntah. Aku hamil," jawaban Clara mengejutkan Zain.


"Hamil? Sungguh kabar yang mengejutkan? Jangan bilang itu anak Zack?" seru Zain.


"Sayangnya ini bukan anak Zack," Clara tersenyum.


Zain mengangguk. Ia tahu sejak lama wanita macam apa Clara itu. Tapi kemudian sebuah ide jahat melintas di kepalanya.


"Apakah kau masih mencintai Zack?" tanya Zack tiba-tiba.


"Kenapa? Dia sudah menikah, aku juga hamil anak orang lain."


Zain berbisik di telinga Clara.


"Kau sepertinya sangat ingin merebut sekretaris Zack itu ya?" seru Clara kemudian.


Zain mengangkat sebelah alisnya.


Flashback off,


"Jangan meledek, kau tahu persis anak ini bukan anak Zack," seloroh Clara.


Zain tersenyum smrik.


Got it! Glen mendapatkan sebuah fakta mengejutkan. Ia mengingat fakta itu baik-baik di kepalanya, 'Bukan anak Zack'. Dan ide pengakuan Clara hamil anak Zack adalah ide dari Zain kakaknya sendiri. Ternyata keputusan bosnya menyuruhnya mengawasi Zain adalah tepat.


Obrolan kedua orang itu kini masih seputar hal yang sama. Glen memutuskan untuk mendengarkannya sambil makan.


"Sekarang waktunya makan," gumam Glen.


Tapi baru ia menyentuh sendok, dua orang yang sedang ia awasi beranjak dari bangkunya. Glen harus mengikuti Clara sekarang. Mungkin akan ada rahasia lain setelah ini. Ia harus mencari petunjuk dari pihak Clara. Mungkin ia bisa tahu siapa ayah dari anak yang dikandung Clara.


"Padahal belum aku sentuh, bye bye makananku hiks hiks.." Glen berat hati meninggalkan makanan yang sudah ia bayar.


Tapi sayangnya Glen mendapat masalah baru. Ia tadi tidak membawa kendaraan. Memesan taksi online akan membutuhkan waktu. Ia bisa kehilangan jejak Clara.


"Bagaimana ini?" Glen bingung.


Pim pim,


"Bisa minggir nggak? Gua mau parkir!" teriak seorang gadis, kepalanya keluar dari jendela mobil.


Tanpa basa-basi Glen masuk ke mobil gadis itu. Gadis itu marah, ia membuka kacamata hitamnya.


"Lo?" pekiknya.


"Kejar mobil itu, Elie!" seru Glen.


Ternyata gadis itu Elie.


"Atas dasar apa lo nyuruh gua? Masuk mobil orang sembarangan,"


"Ayolah, ini urgent!" Glen merayu.


"No, gua mau makan di cafe ini,"


"Ayo kejar mobil itu, sebagai imbalannya aku akan membantumu. Kau ingat kan pesan itu?" ucap Glen.


Glen mengangkat ponselnya, memperlihatkan pesan yang dikirim Elie beberapa hari lalu. Saat Elie membantu Glen dulu, Glen memberikannya nomor ponselnya. Karena Glen berjanji akan menolongnya jika dibutuhkan sebagai balas budi.


Mengingat dirinya membutuhkan bantuan Glen, Elie langsung tancap gas.


"Terpaksa karena gua juga butuh lo," ucap Elie.


......................

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2