Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
TIDAK MUNGKIN!!!


__ADS_3

Dor dor,


"Arrghh!" Dave meringis.


Darah segar keluar dari lengan Dave. Reza langsung menarik Dave untuk berlindung dari Myra. Myra menembaki semua orang dengan brutal. Semua orang berlindung di tempat seadanya. Samuel menyeret Glen agar berlindung juga, pria satu itu bisanya hanya menangis.


"Dasar j****g!" umpat Dave.


"Hanya tergores!" Reza melihat lengan Dave, cukup banyak darah yang keluar.


Reza celingukan mencari sesuatu, tanpa menunggu lama ia robek kaosnya sendiri. Reza gunakan untuk membalut luka Dave sementara. Dave cukup tersentuh dengan tindakan Reza.


Myra melepaskan ikatan anak buahnya, sekarang semakin sengit kondisi bar itu. Erick dan Zack berusaha melindungi Davin. Erick menutup telinga dan mata cucunya itu agar tidak melihat kejadian ini.


Dor dor,


Samuel, Zack, dan anak buah membalas serangan Myra dan anak buahnya. Ken juga turut membantu tapi ia tetap membawa Frans bersamanya. Frans tidak boleh lolos, mau bagaimanapun Frans bersekongkol dengan wanita itu. Jadi harus dijaga.


"Jangan diam saja!" seru Zack pada Zain.


"Aku harus apa?" jawab Zain panik, ia menutup telinganya sejak tadi karena tidak terbiasa dengan suara tembakan.


"Bantu kita! Ambil ini!" Zack melemparkan sebuah senjata.


Zain gelagapan menangkap pistol yang dilempar Zack. Ini pertama kalinya memegang sebuah senjata. Tapi keadaan memang sudah genting, pihak Myra semakin gencar menyerang. Zain membidik sebisanya walaupun meleset. Lain halnya dengan Glen dan Sisi, keduanya sama-sama bersembunyi di pojok ruangan.


"Mama...." lirih Glen.


"Aduh kamu ini cowok! Jangan penakut dong, harusnya ikut bertarung sana!" Sisi mendorong-dorong Glen.


"Heh kau! Kau itu juga cowok!" sahut Glen kesal.


"Sebentar lagi aku jadi cewek tau! Davin kan selamat, itu artinya aku jadi operasi!" jawab Sisi.


"Yaudah si, diam! Cukup diam saja sampai semuanya aman!" Glen membungkam mulut Sisi.


Sisi menatap Glen, tangannya menyentuh tangan Glen yang membungkam mulutnya. Glen juga turut menatap matanya.


"Astaga! Amit-amit! Sana jauh-jauh, aku masih normal!" Glen langsung melepaskan tangannya.


"Iya iya..." Sisi cemberut.


"Awas saja nanti kalau setelah aku operasi kamu mengejar-ngejar aku!" gumam Sisi.


Dor dor,


Dave dan Reza bekerja sama menumbangkan musuh. Keduanya seperti mesin penembak sekarang.


Aarrgghh....


Satu persatu anak buah Myra tewas terkena tembakan maut Dave dan Reza. Kini mereka berdua semakin maju mendekati Myra. Samuel, Zack, Ken, dan Zain berusaha melindungi keduanya dari belakang.


"Rasakan ini!!!" teriak Myra.


Dor dor dor,


Myra menyerang Dave habis-habisan. Dave berlindung di balik meja yang sudah ia jadikan perisai. Myra tertawa lepas melihat meja yang dijadikan Dave tameng berlubang satu per satu. Tinggal menunggu waktu meja itu akan hancur.


Samuel dan yang lainnya berusaha menyerang Myra agar Myra menyerang balik mereka. Tapi Myra tidak menghiraukan, dia tetap menyerang Davin dari tempat berlindungnya. Reza menghela napas panjang, lagi-lagi ia harus melukai mungkin membunuh wanita. Ia mengambil pisau andalannya.


Dor dor,


Reza menembaki bagian tubuh Myra yang sedikit terlihat, yaitu lengannya. Meleset, untungnya itu cukup membuat Myra marah. Myra balik menyerang Reza. Dave dengan cepat berlari merunduk pindah posisi, agak jauh dari Reza.


Dave menahan perih di lengannya dan mulai menyerang lagi, posisinya cukup kuat. Myra kelabakan mendapat dua serangan dari arah yang berbeda. Reza memanfaatkan kesempatan ini untuk menggunakan pisaunya.


Zaasshhh....


Jleb,

__ADS_1


"Tepat sasaran!" lirih Reza senang.


Prang,


"Arrgghhh!" Myra mengerang kesakitan.


Pistol Myra terjatuh ke lantai, pisau Reza menembus tangan kanannya. Dave berlari dan langsung menendang pistol Myra jauh-jauh. Semua orang menurunkan senjata. Dave berjalan mendekati Myra yang lemah tidak berdaya. Sementara Frans ia berusaha memberontak dari Ken. Ia ingin sekali menolong Myra dan membawanya pergi dari sini. Agar tidak berurusan lagi dengan Dave dan keluarganya.


"Davee!!!" tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing bagi Dave dan semua orang yang ada di sana.


Semua orang melihat ke pintu utama bar. Aryn, Silvi, dan Sonya berdiri di ambang pintu. Ketiganya langsung berlari masuk. Seorang penjaga juga ikut masuk dengan wajah panik. Myra hendak berdiri tapi Reza sudah menendangnya.


"Maaf, tuan! Saya sudah melarang keras mereka, tapi mereka malah memukuli saya dengan panci!" Samuel dan Zack hampir tertawa karena terlihat jelas wajah penjaga itu lebam semua.


"Kukira disengat tawon wajahmu!" seloroh Samuel.


"Dave tanganmu terluka..." Aryn menghampiri Dave.


"Hanya luka kecil, kok! Kamu kenapa kesini?" tanya Dave.


"Khawatirlah!" jawab Aryn.


"Kami tidak bisa tinggal diam di mansion sementara nyawa kalian dan Davin dalam bahaya!" imbuh Silvi.


"Kalian telat! Penjahatnya sudah kalah! Lihatlah!" Reza menunjuk Myra.


"Kak Reza tidak apa-apa, kan?" tanya Silvi.


"Aduh, ini sakit!" seru Reza memegangi dadanya.


"Apanya, kak? Apakah kakak tertembak tadi?" Silvi panik.


"Tidak, Dave yang tergores peluru! Kalau aku...Emm...Ini yang sakit, hatiku.." Reza meletakkan tangan Silvi di dadanya.


"Astaga, kak!" Silvi memukul dada Reza pelan.


Sementara itu, Aryn menatap Myra, ia merasa sedikit kasihan. Tapi Myra tidak pantas dikasihani, putranya celaka gara-gara wanita ini. Aryn mendekati Myra, ia berjongkok di lantai untuk menjajari Myra.


"Dasar iblis!" Aryn menampari wajah Myra dengan brutal.


"Arrgghhh!" pekik Myra.


"Dasar setan!" Sonya menjambaki rambut Myra.


Samuel dan Zack tidak bisa menahan tawa mereka. Aryn dan Sonya membuat Myra berteriak-teriak kesakitan.


"Mommy!" seru Davin.


Suara Davin menghentikan Aryn dan Sonya yang menyerang Myra. Aryn berbalik badan, air matanya meleleh melihat putra kecilnya merentangkan tangan menunggu pelukan darinya.


"Davinku..." Aryn memeluk Davin dan menciumnya.


"Mommih," Davin membalas pelukan Aryn.


"Kamu tidak apa-apa, sayang?" Aryn meneliti seluruh tubuh Davin dan menciumnya.


"Geli mommy!" Davin tertawa.


"Kamu diapakan sama dia?" tanya Aryn.


"Tidak, mom! Apin kasih muka aunty jahat itu muntahan Apin!" Davin menunjukkan deretan giginya.


"Tapi tidak cengaja..." imbuh Davin.


"Yang penting Davin selamat," Aryn memeluk Davin lebih erat, Dave melihat keduanya dengan senyum cinta.


Sonya masih diam di tempatnya, ia melihat Frans ditahan oleh Ken. Apa yang terjadi pada Frans? Frans menatap balik Sonya, kedua matanya terlihat sendu. Sonya ingin menghampiri dan memeluk Frans tapi teriakan seseorang menghentikannya.


"Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia!" teriak Myra.

__ADS_1


"Bos, awas!" Ken berteriak.


Myra bersusah payah mengambil pistolnya, dan berdiri perlahan. Dave menatap Myra tajam, ia langsung pasang badan melindungi Aryn dan Davin. Pistol Myra diarahkan pada Aryn dan Davin. Aryn memeluk Davin dengan erat. Belum sampai Myra membidik, Dave lebih dulu membidiknya.


"Jangan pernah berkhayal akan merusak senyum keluarga kecilku!" seru Dave.


Dor,


Hening,


Bruk,


"Franssss!!!" teriak Sonya.


Semua orang mematung, Sonya berlari menghampiri Frans. Ia meletakkan kepala Frans di pangkuannya. Tangannya menepuk pipi Frans agar dia tetap terjaga. Myra juga terkejut, pistolnya terjatuh ke lantai begitu saja. Ia menatap Frans yang terkulai lemas karena menghadang peluru yang mengarah padanya. Frans baru saja berkorban untuknya. Myra bersimpuh di dekat Frans, ia tidak bisa berkata apa-apa lidahnya kelu.


Aryn membawa Davin agak jauh, di sana semakin banyak korban dan darah. Akhirnya ia meminta penjaga yang mengikutinya tadi untuk membawa Davin ke mobil. Erick ternyata juga mengikuti Davin, ia memutuskan untuk diam di mobil bersama cucunya. Ia masih takut sesuatu terjadi pada Davin. Sementara Aryn kembali ke dalam bar.


"Apa yang kamu lakukan, sayang?" Aryn menghampiri Dave.


"Aku tidak menembaknya! Dia yang melindungi wanita itu!" jawab Dave.


"Frans..." Sonya mengguncang tubuh Frans.


"A...Aku ti..tidak apa..." jawab Frans terbata-bata.


Reza menghampiri Frans, mengecek luka Frans. Peluru itu menembus perut Frans, dia harus segera dibawa ke rumah sakit. Frans melepaskan jaket yang digunakan Frans untuk membalut luka Frans agar darahnya tidak keluar semakin banyak.


"Kenapa kau berkhianat dariku dengannya? Dan sekarang kau mengorbankan dirimu untuknya?" seru Dave.


"A..ku hanya ingin menepati janjiku pada mamaku. Yaitu untuk mencari dan menjaga adik tiriku. Se semua i..ni aku lakukan agar dia


menerimaku sebagai kakaknya. Myra ada...lah Ara...Adik tiriku, anak dari papaku dan istri mudanya." jawab Frans lemas.


"Ara?? Tidak mungkin!!!" teriak Aryn.


"Kamu pasti bohong, kan?" Aryn mengguncang tubuh Frans.


Frans sudah tidak sadarkan diri. Dave menahan Aryn, agar Samuel dan yang lain bisa segera membawa Frans ke rumah sakit. Sonya mengikuti kekasihnya itu. Glen dan Sisi pun ikut ke rumah sakit.


Tinggallah Dave, Aryn, dan Myra alias Ara di bar itu. Myra masih bersimpuh di lantai, wajahnya penuh air mata. Aryn perlahan menghampirinya.


"Apakah Frans benar?" seru Aryn.


Myra diam saja, tidak ada kata yang keluar dari bibirnya.


"Katakan!!!" Aryn mengguncang tubuh Myra.


"Ya, aku Ara...Saudari tirimu. Frans adalah anak sulung dari almarhum ayah biologisku! Ibu dan aku meninggalkan ayah karena ibu ingin hidup bergelimang harta." Myra menangis tersedu-sedu.


"Kami tidak terlihat seperti Ara, jangan menipuku!" Aryn menyangkal.


"Aku sengaja melakukan operasi dan mengganti identitasku. Aku ingin membalaskan kematian ibu..." teriak Myra.


"Kenapa kamu melakukan ini semua? Tidak cukupkah kalian menyakitiku dulu? Ibu meninggal karena kejahatannya sendiri, jika kamu ingin balas dendam.. Bunuh saja aku jangan ganggu kebahagian keluarga kecilku!" sahut Aryn.


Aryn lemas, sudah lama Aryn mencari-cari keberadaan adik tirinya. Saat adiknya sudah berada di hadapannya ia tidak tahu. Yang membuat Aryn semakin sakit hati adalah adiknya sendiri ingin menghancurkan keluarganya. Aryn memukul-mukul kepalanya sendiri.


"Sayang, tenanglah!" Dave memeluk Aryn. Dave tidak kuasa melihat wanita yang paling ia cintai terpuruk.


Myra menatap Aryn, ia tahu kesalahannya. Ia mengambil pistol yang tadi terlepas dari tangannya. Ia menarik napas panjang, dan menutup matanya. Dendam hanya akan membuat hidupnya semakin menderita. Myra meletakkan ujung pistolnya ke dagu bagian dalamnya.


Dor,


"Araaaa!!!" Aryn menghampiri Myra alias Ara yang sudah tergeletak di lantai.


Myra alias Ara sudah meninggal di tempat. Peluru itu menembus kepala hingga mulut, telinga, dan hidungnya mengeluarkan darah. Aryn memeluk adik tirinya itu. Meskipun dia sangat jahat kepadanya tapi sebenarnya Aryn tidak pernah membencinya. Dave tidak kuasa menahan air matanya, saat melihat istrinya berlinang air mata.


........................

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2