
Akhirnya Glen bisa istirahat hari ini. Ia mencari kunci rumah dari saku bajunya. Khusus hari ini ia tidak berhenti tersenyum. Untung tadi tugas rahasia yang diberikan bosnya sudah ia selesaikan sekalian.
Ceklek,
"Halo sayangku, aku pulang cepat hari ini! Dan pastinya akan menghabiskan waktu denganmu!" seru Glen.
Apakah Glen punya kekasih? Tidak! Glen baru saja menyapa rumahnya. Mungkin orang lain akan menganggapnya gila melakukan hal ini, tapi inilah kebiasaan Glen setiap sampai di rumah.
Glen menari-nari bahagia, tangannya menutup pintu perlahan. Ah bukan perlahan lagi tapi memang sangat pelan. Tiba-tiba,
Drrttt...drrrttt.....
Ponsel Glen bergetar.
"Bos?" gumam Glen.
Ternyata itu adalah pesan dari bosnya. Glen membukanya, dan....
From: Bos galak❤
Datang ke rumahku sekarang, Silvi ingin bertemu denganmu. Tidak ada alasan lagi, kau juga bisa beristirahat di sini yang penting kau datang sekarang juga!
Glen menghela napas dengan kasar.
"Harusnya aku mematikan ponselku tadi," ia menggerutu.
Glen pergi ke kamar mandi untuk mandi kilat. Tubuhnya lengket kalau tidak mandi, lalu berganti pakaian. Dalam 10 menit ia sudah siap meluncur. Glen sudah terlatih untuk bersiap secara kilat.
"Dengan berat hati, aku harus pergi lagi rumahku tercinta...See you soon, muaahh!" ucap Glen.
Ia keluar dari rumah. Pikirannya melayang kembali mengingat usia pesan Reza tadi. Glen jadi kesal. Ia melampiaskan amarahnya dengan meraih gagang pintu.
"Aduh, hampir lupa! Cicilan rumah ini masih 5 tahun lagi..." Glen tidak jadi membanting pintu rumahnya, ia menutupnya dengan hati-hati.
Susah payah ia menyicil rumah ini masa ia akan merusaknya. Cicilan belum lunas kalau pintunya patah ia yang rugi sendiri. Ia menyicil rumah itu dari pertama kali kerja dengan Reza.
Glen mengendarai mobilnya menuju rumah Reza. Saat mengendarai mobilnya ia juga hati-hati sekali.
"Ingat Glen, mobil ini juga masih nyicil," Glen menasihati dirinya sendiri.
Kalau mau mobil biasa ia juga pasti bisa membelinya, kerja dengan Reza itu gajinya lumayan. Di garasi mobilnya sudah ada mobil yang cukup mewah untuk golongan sekretaris seperti Glen, sudah lunas pula. Tapi Glen juga pengen mobil mewah seperti milik bosnya. Jadi ia menyicil saja, 1 tahun lagi juga lunas kok.
"Akhirnya..."
Glen sampai di rumah Reza. Ia bergegas turun dari mobil dan masuk ke dalam.
"Welcome, Gentong!" ternyata Reza menunggu Glen di ruang tamu.
"Eh, bos..."
"Cepat masuk kau beri apa istriku sampai bisa kangen!" Reza nampak kesal.
"Itu emang karena saya ngangenin sih, bos!" Glen tersenyum kepedean.
"Dah ayo cepat masuk, Silvi ada di meja makan." Reza berjalan duluan.
"Berarti lagi makan dong, bos! Lumayan nih irit ongkos makan," seru Glen.
"Giliran urusan makan aja cepet!" Reza sewot.
Silvi yang sedang duduk tenang di meja makan, mendadak menengok ke arah depan. Ia sepertinya mendengar suara Glen.
"Halo Bu Bos!" Glen bergabung ke meja makan.
"Ternyata telingaku nggak salah," Silvi tersenyum.
"Sudah aku datangkan Glen untukmu, sayang!" Reza duduk di samping Silvi.
Silvi tersenyum senang.
"Duduk, Glen!" Silvi menepuk kursi di samping kirinya. Samping kanan sudah di tempati oleh Reza.
Reza langsung melotot ke arah Silvi.
"Kamu kangen Glen, aku bawakan Glen. Sekarang apa ini, sayang? Kamu mau duduk bersebelahan dengan Gentong itu?" serunya tidak terima.
"Sayang, please....Tidak setiap hari kok," Silvi merengek.
__ADS_1
"Baiklah..." akhirnya Reza pasrah.
Maminya pernah bilang, selama Silvi hamil Reza harus banyak bersabar.
"Ganteng deh, suamiku..." Silvi memuji Reza sebagai ucapan terima kasih.
Glen duduk di sebelah Silvi. Beberapa saat kemudian pesanan makanan Reza dan Silvi datang. Mereka tidak selalu memasak di rumah apalagi kondisi Silvi menjadi lemah dan mudah capek selama hamil. Jadi tadi Reza pesan makanan online.
"Wah wah...Makanan datang!" Glen sumringah.
"Sabar, aku tahu Glen pasti lapar!" Silvi membuka bungkus makanan itu.
Reza juga membantunya. Kali ini Reza dibuat kesal lagi, pasalnya Silvi langsung menyajikan makanan di piring Glen. Biasanya istrinya itu akan menyajikan untuknya.
"Sabar, Reza! Anggap saja ini cobaan..." Reza berkata dalam hatinya.
"Terima kasih, Bu Bos!" Glen menyantap makanannya.
Silvi dan Reza juga melakukan hal yang sama. Satu suap, dua suap, Silvi mengunyah pelan makanannya. Hingga di suapan ketiga, ia meletakkan kembali sendok ke piringnya. Reza memperhatikan perubahan sikap istrinya itu.
"Kenapa berhenti makannya, sayang? Apakah rasanya tidak enak?" tanya Reza.
"Hmmm," jawab Silvi lemas.
Silvi justru mengabaikan Reza.
"Glen..." Silvi melihat Glen.
"Iya?"
Glen mendongakkan kepalanya.
"Suapi aku!" Silvi menyodorkan piring miliknya.
"Tapi, Bu Bos.." lirih Glen.
"Sayang sayang, tadi kamu kangen Glen aku sudah izinkan untuk ketemu. Kamu mau Glen duduk di sebelahmu, aku turuti. Kamu menyajikan makanan untuk Glen juga aku biarkan, aku terima. Tapi sekarang? Aku tidak bisa terima sayang," ucap Reza panjang lebar.
"Aku cuma minta disuapin Glen, kak!"
"Cuma? Di sini kan ada aku," seru Reza.
Glen malah tertawa.
"Kak...." Silvi merengek.
Kedua bola mata Silvi sudah basah, ia hampir menangis. Tepat di momen seperti itu, Dave dan Aryn beserta Davin datang ke rumah mereka.
"Kami datang!" seru Davin.
Karena sudah berasa rumah sendiri, Davin asal masuk saja. Dave dan Aryn mengikuti dari belakang.
"Eh, Apin! Sini sini!" Reza menyambut.
"Aunty Silvi kok nangis?" Davin menatap Silvi.
Dave dan Aryn yang baru sampai juga reflek menatap Silvi.
"Menangis? Ada apa ini?" Dave langsung naik darah.
"Kau apakan adikku?" Dave sekarang menghampiri Reza dengan tatapan tajam.
Reza menghembuskan napas panjang.
"Pertama-tama, jangan marah dulu...Silvi menangis baru dua puluh detik yang lalu. Asal kau tahu, tadi dia mengatakan kangen Glen. Sudah aku datangkan Glennya. Dia ingin duduk di sebelah Glen, aku kabulkan. Dia menyajikan makanan untuk Glen saja, juga aku terima. Sekarang dia minta disuapi Glen. Coba katakan suami mana yang mau terima?" ucapnya.
Aryn tertawa.
"Aku dulu juga begitu kan, sayang?" Aryn menyenggol Dave.
"Iya,"
Mereka berdua tertawa bersama.
"Izinkan saja, Za! Hamil sering membuat wanita ingin melakukan hal yang aneh-aneh terkadang," seru Aryn.
"Tapi...Ah kau tidak paham perasaanku, Ryn!" sahut Reza.
__ADS_1
"Aku dulu sudah pernah, aku seniormu! Izinkan saja! Ini belum ada apa-apanya. Baru awal kehamilan, cemen banget kau udah protes! Jadilah suami siaga, jangan suami manja!" ucap Dave mengintimidasi.
Aryn melengos, suaminya belum juga berubah. Masih saja tidak suka dengan adik iparnya.
"Hmmm,"
Silvi menatap Reza dalam-dalam. Reza tidak bisa melihat kedua bola mata itu basah.
"Boleh, ya?" bujuk Silvi.
"Ya sudah, boleh! Demi kamu dan bayi kita..." jawab Reza.
"Gantengnya suamiku..." Silvi langsung memeluk sambi memuji.
Reza terkekeh.
"Kalau udah diturutin baru bilang aku ganteng," ucapnya.
Silvi bersemangat duduk di meja makan lagi. Ia melihat Glen lalu,
"Aaakkkk" Silvi membuka mulutnya.
"Masuk..." Glen menyuapi Silvi.
"Nyamm..." Silvi mengunyah makanannya dengan semangat.
Reza hanya bisa sabar melihat pemandangan itu. Berkali-kali ia mengelus dada.
"Sabar sabar...." gumam Reza.
++++++++++++
Di tempat lain,
Zain merebahkan tubuhnya ke sofa. Ia tersenyum sendiri. Baru saja tadi ia melihat Mei di ruang tengah. Wanita yang berstatus adik iparnya itu terlihat galau, beberapa hari terakhir juga nonton film sedih terus. Mei pasti sedih banget tahu suaminya punya wanita lain.
"Sebentar lagi kamu akan berpisah dengan Zack. Emm, pasti berpisah..." Zain tersenyum sendiri.
Ia membuka ponselnya. Ada pesan dari Clara, ternyata isinya foto Zack dengan Clara. Zain melihat foto itu, Zack dan Clara terlihat mesra sekali. Di foto itu Zack sedang menyuapi Clara. Di foto yang lain, terlihat Zack memijit tengkuk Clara saat Clara muntah. Entah siapa yang mengambil foto itu tapi Zain harus berterima kasih. Foto ini akan membantunya.
"Maaf kalau kamu akan menangis lagi setelah melihat ini," ucap Zain.
Ia mengirimkan foto itu pada Mei.
Ting,
Mei yang sedang menonton film mengalihkan perhatiannya sejenak. Ia membuka ponsel, melihat siapa dan apa yang dikirim.
"Pria sialan huuaaaaa...." Mei menangis.
"Ada apa, sayang?" Emmy datang.
Dari dapur Emmy mendengar tangisan Mei, jadi ia mendatangi menantunya itu.
"Lihat ini, ma!" Mei menunjukkan ponselnya.
"Hmm, Zack..." lirih Emmy.
"Mei jadi semakin benci dengan Zack, ma! Mei mau pisah, mau jadi janda secepat mungkin!" Mei meraung-raung(lagi).
Emmy memijit pelipisnya, pusing(lagi).
"Nah kan," Zain melihat pemandangan itu dari tangga.
Lantas ia turun, saatnya beraksi.
"Ada apa, Mei?" tanya Zain.
"Zack makin mesra sama Clara...Huaaa...." Mei sesenggukan.
"Sudahlah, masalah ini pasti akan segera menemui titik terang. Jangan terlalu larut dalam kesedihan, beli ice cream yuk!" seru Zain.
"Nah ide bagus itu, ikut sama Zain sayang! Percaya sama mama, Zack akan menyelesaikan masalah ini. Mama nggak bisa liat kamu sedih terus, berjalan-jalan keluar rumah akan membuatmu lebih tenang..." Emmy setuju.
Mei mengangguk. Zain dan Mei pergi bersama.
...................
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!