
"Kau tidak boleh masuk!"
"Hah? Kenapa? Aku juga pengunjung bar ini..." seru Reza.
"Bukan kau, tapi itu di belakangmu!" jawab sang security dengan ketus.
Reza menoleh ke belakang. Ada seorang pria yang berdiri di belakangnya. Ternyata pria itu yang dilarang masuk. Reza menepuk dahinya sendiri.
"Astaga, pak! Bikin deg-degan aja!" Reza bergegas masuk ke bar.
"Makanya jangan kepedean!" sahut Pak Security.
Reza menghela napas lega, ia kira dirinya ketahuan tadi. Reza memilih tempat duduk. Anak buahnya duduk agak berjauhan dengannya. Agar tidak mencolok.
Baru saja Reza duduk, sudah dihampiri wanita berpakaian minim dengan dandanan menor. Dulu waktu ia masih suka ke bar, ia mungkin akan menikmatinya. Tapi sekarang, menatap wanitanya saja sudah tidak suka. Apalagi wanita itu sengaja duduk dekat dengannya dan menempelkan tubuhnya.
Reza terdiam sejenak, wanita ini bisa saja membantunya. Iya, benar! Wanita ini bisa menjadi sumber informasi. Dia pasti tahu siapa yang sering datang ke bar dan juga siapa pemilik bar ini.
"Aku temenin ya, ganteng!" ucap wanita itu.
"Boleh, siapa namamu cantik?" Reza membelai pipi wanita itu.
"Sisi..." bisik wanita itu dengan manja di dekat telinga Reza.
Astaga! Kalau tidak demi penyelidikannya, sudah ia tendang wanita ini jauh-jauh.
"Oh Sisi, indah namanya persis sama orangnya..." ucap Reza dengan sedikit menampilkan senyum nakal.
Huekk! Jijik aku mendengar rayuanku sendiri, gumam Reza.
"Ihh kamu bisa aja deh," Sisi mentoel hidung Reza.
Anak buah Reza hanya terkikik melihat bosnya berduaan dengan wanita itu. Ia bisa melihat jelas ekspresi bosnya yang dipaksakan. Dengan isengnya dia memotret kebersamaan bosnya dengan Sisi.
"Sisi, aku boleh nanya enggak?" Reza merayu.
"Boleh dong, mau ngamar juga boleh!" jawab Sisi dengan centil.
"Duh duh...Kalau yang itu sabar dong..." Reza tersenyum kaku.
"Okay deh, mau tanya apa ganteng?"
"Bar ini rame terus ya? Aku baru pertama kali kesini," tanya Reza.
"Iya, ini bar yang paling terkenal di sini!" seru Sisi.
"Oh..pantes! Rekan bisnisku yang share tentang bar ini, ternyata terkenal ya!" Reza manggut-manggut.
"Pebisnis-pebisnis kota mainnya ke sini, wajar kalau rekan bisnisnya Mas Ganteng tahu. Coba lihat itu, bukan hanya pebisnis perusahaan, preman pun ada.."
Reza tersenyum, sepertinya Sisi tahu banyak tentang bar ini, sesuai dugaannya. Sisi menunjuk meja yang penuh dengan segerombolan pria bertampang preman. Dari penampilan mereka, Reza menebak mereka hanya berandalan jalanan.
"Kalau pemilik bar ini Sisi kenal? Kayanya akan menguntungkan jika aku buka usaha yang sama atau bekerja sama dengan bar ini," lanjut Reza.
"Untuk jawaban ini, tidak gratis!" ucap Sisi manja.
"Berapa dollar?" sahut Reza cepat.
"Uangnya nanti saja, bayar pakai kiss aja!" Sisi memonyongkan bibirnya.
Euuhh, minta bayaran cium segala! Dicium pisauku baru tahu rasa kau!
__ADS_1
"Pipi aja ya?" rayu Reza.
"Emm...Nggak mau!" sahut Sisi.
Click,
Anak buah Reza diam-diam terus memotret Reza dan Sisi. Rasanya lucu sekali melihat bosnya dipermainkan wanita ini. Selain memotret bosnya, ia juga memotret hal lain. Para pelayan bar, peracik minuman, sampai para pengunjungnya juga. Semua dia lakukan seperti perintah Reza.
"Pipi aja, nanti biar istimewa!" rayu Reza lagi.
"Baiklah!" Sisi mendekatkan pipinya.
Reza menutup matanya, ia membuka maskernya sedikit. Lantas mendekatkan bibirnya perlahan ke pipi Sisi.
Cup,
Reza mencium pipi Sisi sekilas, sebelum Sisi menoleh Reza mengelap bibirnya dengan cepat dan memakai kembali maskernya.
Sumpah Silvi, aku melakukannya karena terpaksa, batin Reza.
"Sekarang katakan!" perintah Reza.
"Aku tahu pemilik bar ini, lihatlah ruangan itu! Di balik ruangan itulah dia berada. Sisi yakin sih tidak ada satupun pelayan ataupun pegawai yang melihat wajahnya. Karena selalu pakai masker seperti kamu ini!" jawab Sisi.
"Oh, jadi dia menyembunyikan identitasnya ya, begitu?" tanya Reza.
"Ya seperti itulah," jawab Sisi.
"Beberapa hari ini ada tidak preman selain mereka yang datang?"
"Ada....Bawa wanita, terus dibawa ke kamar sana!" jawab Sisi setengah berbisik.
"Ohh..." Reza mengangguk.
"Sisi, aku ke toilet sebentar!" pamit Reza, rencananya ia akan menyelinap ke ruangan pemilik bar itu.
"Ke kamar aja, yuk! Nanti ada toiletnya..." Sisi menggaet lengan Reza.
"Em...Jangan!" Reza menolak.
"Aku tahu kamu datang kesini punya sebuah tujuan, kan?" bisik Sisi.
Reza tercekat, ia harus menyetujui Sisi kalau sudah begini. Akhirnya Reza menuruti ucapan Sisi. Sisi membawa Reza ke dalam sebuah kamar yang biasa disewa pengunjung bar. Anak buah Reza mengikuti mereka setelah mereka agak jauh. Reza memberikan nomor kamarnya ke anak buahnya lewat pesan. Alhasil anak buah Reza juga masuk ke kamar itu sekarang.
Saat dia membuka pintu kamar itu, bosnya tengah duduk di ranjang. Dia celingukan mencari Sisi.
"Mau dicoba, bos?" godanya pada Reza.
"Diam, kau! Ingat tujuan kita! Kau tunggu saja di luar, amati ruangan di sudut. Di sana lah pemilik bar ini berada. Kalau aku sudah bisa meninggalkan wanita itu, aku akan menyusul! Ingat, usahakan kau lihat pemilik bar nya, lebih bagus lagi kalau kau bisa memotret wajahnya dan dapatkan informasi tentang dia. Alamatnya, namanya, semua identitasnya!" bisik Reza.
"Baik, bos!"
Saat anak buah Reza hendak keluar dari kamar itu, secara tidak sengaja ia melihat Sisi di dalam kamar mandi. Karena pintunya memang tidak ditutup rapat. Dia membuka sedikit pintu itu, matanya sampai dikedipkan beberapa kali, ia tidak percaya dengan yang dilihatnya. Dalam keadaan seperti ini, ia masih sempat memotret pemandangan yang dilihatnya.
"Bos, bos....Sini!"
"Apa sih!" Reza mendekat.
"Lihat ini, bos!" dia menunjuk Sisi yang ada di dalam kamar mandi.
"Gila! Dia kencing berdiri, mancur pula!" pekik Reza.
__ADS_1
Teriakan Reza membuat Sisi terkejut, reflek Sisi balik badan. Reza dan anak buahnya semakin histeris karena mereka bisa melihat Sisi seutuhnya.
"Aa...Terong!" teriak Reza dan anak buahnya.
Blam,
Reza langsung menutup kamar mandi itu. Sisi minta tolong dari dalam. Reza bergidik ngeri, wanita seksi yang tadi menggodanya ternyata seorang pria. Jadi tadi ia mencium pipi pria?
"Cuih!" Reza meludah sambil mengusap bibirnya berkali-kali.
"Bos...." anak buah Reza menatap Reza dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Apa kau? Ayo cepat keluar!" Reza menarik anak buahnya keluar.
Reza dan anak buahnya bergegas keluar dari kamar itu. Mereka kembali ke meja yang mereka pesan masing-masing. Mereka tidak bisa berlama-lama, karena nanti pasti akan ada yang tahu Sisi dikunci di kamar. Semuanya akan terbongkar.
Reza memberikan isyarat agar anak buahnya mulai melancarkan aksi. Karena ruangan pemilik bar ada di dekat stand peracik minuman, anak buah Reza bisa dengan leluasa mendekat dengan kedok pesan minuman dan melihatnya langsung saat diracik.
Di mejanya, Reza tidak bisa tenang. Ia masih kepikiran Sisi. Memikirkan bibirnya yang mencium pipi seorang pria. Pulang nanti Reza kan menyeterilkan bibirnya. Untung saja tadi Ia tidak mencium bibir Sisi.
Apakah ini yang dinamakan karma? Gara-gara aku merayu di belakang Silvi, dapatnya malah waria. Batin Reza.
15 menit berlalu, Reza celingukan mencari anak buahnya. Reza bingung, terkejut sekaligus takut, anak buahnya tidak ada di mana-mana. Apakah anak buahnya tertangkap?
Ting,
Huft...Panjang umur! Anak buahnya mengirimkan pesan, mengatakan ia sudah ada di dalam mobilnya. Sial! Gara-gara memikirkan Sisi sang waria Reza jadi tidak fokus. Tiba-tiba anak buahnya sudah keluar bar, berhasil atau tidaknya Reza tidak tahu. Reza bergegas keluar sebelum ketahuan.
---------------------------------
Di mansion Dave,
Semua orang tengah cemas, pasalnya Reza sejak tadi tidak kelihatan. Reza juga tidak membaca ataupun mengangkat telepon padahal ponselnya aktif.
"Kamu yang tenang Silvi, Reza pasti baik-baik saja! Mungkin dia keluar sebentar, atau ke apartemennya. Apartemennya sudah dibersihkan, kan?" Katy menenangkan putrinya.
"Tapi, ma! Tidak biasanya Reza tidak mengangkat telepon seperti ini," Silvi cemas.
"Mungkin ponselnya ketinggalan?" sahut Erick.
"Benar itu, Silvi! Coba kamu cek ke kamarnya mana tahu ponselnya ketinggalan," seru Aryn.
"Aku sudah ke kamarnya, kak..pa! Tapi tidak ada ponselnya...Ponselnya itu dibawa!" jawab Silvi.
Dari semua orang yang cemas, hanya Dave yang terlihat biasa-biasa saja. Ia justru pusing melihat Glen yang mondar-mandir di depan pintu utama. Glen malah terlihat lebih panik daripada Silvi.
"Kau bisa duduk diam tidak?" seru Dave pada Glen.
"Saya khawatir, tuan! Maaf..." sahut Glen.
"Yang pacarnya Reza itu aku, aku khawatirnya tidak sampai begitu!" seru Silvi.
"Karena saya pasti ikut kemanapun bos pergi, saya dan bos itu sudah seperti perangko. Lengket kemana-mana...Seperti botol dengan tutup... Kalau ada bos pasti di sana ada saya juga," ucap Glen.
"Iiuuuhhh..." Silvi memutar bola matanya malas.
"Sudahlah, kenapa kalian khawatir! Dia sudah besar, nanti juga pulang sendiri! Tadi syukur sih kalau nggak pulang ke sini lagi," ucap Dave sinis.
"Iihh Kak Dave, jangan sombong dong! Kak Reza sudah melindungi semua orang loh dari serangan tadi pagi, dia juga yang mengungkap penyebar ularnya..." Silvi menatap Dave.
"Hmm..." jawab Dave singkat.
__ADS_1
.................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!