Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
NASI GORENG


__ADS_3

Keesokan harinya...


Reza membuka gorden kamarnya, agar sinar matahari bisa masuk ke kamarnya. Silvi menggeliat pelan.


"Good morning," ucap Reza.


Silvi membuka matanya.


"Good morning," jawabnya.


Reza membawa nampan berisi susu, roti panggang selai coklat, dan potongan buah apel. Silvi duduk bersandar di kepala ranjang. Suaminya selalu saja bisa membuatnya senyum-senyum sendiri.


Cara Reza menunjukkan perhatiannya memang sedikit berbeda dari kebanyakan suami di luar sana. Perhatian kecil seperti inilah yang membuat Silvi jatuh cinta kepada Reza setiap hari.


"Aku sengaja bangun pagi supaya bisa menyiapkan susu hangat dan roti panggang untukmu." ucap Reza.


"Terima kasih, kak!" Silvi ngiler melihat roti panggang kesukaannya.


"Gosok gigi dulu," Reza mengelus kepala Silvi.


Silvi mengangguk lantas beranjak ke kamar mandi. Karena tidak sabar, ia gosok gigi secara kilat. Sikap Silvi yang seperti inilah yang membuat Reza semakin cinta dengannya. Kadang kekanak-kanakkan, kadang Silvi juga lebih dewasa dari Reza.


"Enak," Silvi melahap makanannya.


Reza menunggu sampai Silvi menghabiskan makanannya. Baru kemudian mereka turun ke lantai bawah. Begitu kakinya menginjakkan lantai pertama rumah mereka, Silvi menatap Reza lekat.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Reza.


"Kamu sudah beberes?" Silvi balik bertanya.


Soalnya rumah mereka sudah bersih sekarang. Lantai mengkilap, meja mengkilap...


"Sudah," jawab Reza enteng.


"Rajinnya suamiku, semut bisa kepleset kalau lewat sini," ucap Silvi memuji.


Reza tertawa.


"Perut kamu sudah besar, aku hanya ingin meringankan pekerjaanmu," ucapnya.


"Terima kasih, sering-sering ya kak!" Silvi menyengir.


Reza mengacak rambut Silvi dengan gemas.


"Oh iya, Glen mana tumben belum datang?" Silvi celingukan.


"Sebentar lagi juga datang," jawab Reza enteng.


Ting tong,


"Selamat pagi, Glen ganteng sudah datang ke sini!" terdengar suara teriakan Glen dari depan pintu.


"Nah, datang kan?" seru Reza.


"Panjang umur sekretaris kakak," Silvi terkekeh.


Reza berjalan ke depan membukakan pintu untuk Glen yang sok-sokan jadi tamu sopan pagi ini. Biasanya dia langsung masuk karena ia juga diberi akses rumah Reza.


"Masuk," Reza membuka pintunya.


"Selamat pagi, bos!" sapa Glen sumringah.


"Pagi," seperti biasa Reza ketus.


Glen melenggang masuk ke dalam rumah bosnya. Tak disangka Silvi sudah menyambutnya.


"Kenapa baru sampai Glen?" tanya Silvi.


"Biasanya juga jam segini, Bu Bos.."

__ADS_1


"Masa?" Silvi mendelik.


"Ya sudahlah...Ayo ke dapur yuk!" Silvi menggandeng tangan Glen.


Reza melongo.


"Stop! Jangan pegang-pegang Gentong, sayang!" Reza melepaskan tangan Silvi.


"Ish cuma gandeng doang," protes Silvi.


Daripada bertengkar, Silvi melepaskan gandengan tangannya. Glen mengekor di belakang Silvi. Begitu pula Reza. Sesampainya di dapur, Silvi duduk di meja makan.


"Glen, buatkan nasi goreng!" seru Silvi.


"Saya?" Glen menunjuk dirinya sendiri.


"Yang namanya Glen cuma kamu kan, Gentong!" seru Silvi.


"Siap siap, Bu Bos! Laksanakan!" Glen menurut.


Dilihat dari raut wajahnya Silvi sedang ingin sekali makan nasi goreng. Daripada di marahi Bu Bosnya, Glen masak saja. Lagipula cuma nasi goreng biasa.


"Kamu pengen nasi goreng? Kenapa tadi nggak minta ke aku? Kenapa minta sama Glen?" Reza memberondong Silvi dengan pertanyaan.


"Pengen Glen yang masakin, kak!" Silvi menyengir.


"Aku saja ya yang buatin?"


"Enggak!" Silvi tidak bisa dirayu.


"Yaudah, tapi emangnya belum kenyang? Tadi sudah makan roti sama apel loh, minum susu juga,"


"Nggak tau nih, kak! Aku akhir-akhir ini nggak pernah kenyang," jawab Silvi polos.


Reza tertawa.


"Oh iya Glen, aku mau nasi gorengnya pakai potongan sosis ya, tapi yang sosis ayam dipotong tipis 1 cm. Terus pakai udang juga, udangnya dikupas sama diilangin kepalanya. 6 aja udangnya tapi udang yang kecil-kecil. Terus tambahin juga daun bawang, kecap manis 3 sendok makan, jangan diaduk-aduk tapi nggak boleh gosong." ucap Silvi.


"Bu Bos...." ucap Glen.


"Kau pasti mau tanya apakah hanya itu, kan? Aku lupa tambahin juga perasan lemon, 3 tetes aja ya. Jangan pedes nanti dimarahin Kak Reza. Terus kalau udah mateng, kasih ke piring biru gambar doraemon ya! Udah itu aja, nggak yang macem-macem kok!" Silvi menyengir.


"Okay, Bu Bos!" Glen pasrah.


"Bisa tolong dicatetin nggak, Bu Bos?" lanjut Glen.


"Aku cuma minta simpel gitu masa nggak inget?" protes Silvi.


"Baik, Bu Bos. Saya akan ingat," Glen pasrah.


"Selamat memasak, Gentong!" Reza bersyukur Glen yang disuruh Silvi masak.


Glen tampak cemberut.


"Setelah aku pikir-pikir, Kak Reza mending bantuin Glen." tiba-tiba Silvi berkata demikian.


"Kata kamu, kamu pengen Glen yang masak kan sayang?" Reza panik.


"Sudah aku pikir-pikir, kak! Aku juga udah pengen cepet makan soalnya," Silvi menyengir.


Reza menghela napas. Benar ucapan papinya dan Papa Erick, menghadapi istri yang sedang hamil harus banyak sabarnya.


"Ciiaahh Si Bos, ayo bantuin saya!" Glen meledek.


"Diam kau!" Reza menoyor kepala Glen.


Glen tertawa, bosnya ikut merasakan kesusahan yang ia alami juga. Dua pria itu tampak berhati-hati saat memasak nasi goreng permintaan Silvi. Untuk saat ini mereka terlihat kompak dan bekerja sama.


"Bos bos...." seru Glen, ia menghentikan aktivitasnya yang sedang menumis bumbu.

__ADS_1


"Apa sih?" Reza sewot.


"Ini poni saya ke mata, bos! Tolong benahin ke samping," jawab Glen.


Rambut Glen agak panjang bagian depan. Pakai belahan tengah gitu.


"Merepotkan saja," Reza meletakkan pisaunya.


Reza tadi sedang memotong sosis dengan tebal 1 cm. Lagi serius ngukur sekaligus motong, malah dimintai tolong hal sepele sama Si Gentong. Kalau tidak dibantu pasti mulut Gentong itu teriak-teriak terus.


"Sini!" Reza memegang kepala Glen agar menghadap ke arahnya.


Reza menyelipkan rambut Glen ke belakang telinga. Tapi ternyata susah, tidak bisa sampai ke belakang telinga.


"Nggak bisa," keluh Reza.


Cekrek,


Silvi dengan isengnya mengambil foto saat Reza merapihkan rambut Glen.


"Pasti seru kalau aku sebar ke grub," gumam Silvi.


Silvi mengirim foto itu ke grub chatting. Tinggal tunggu reaksi semua sahabat dan keluarga.


Kembali lagi ke scene romantis dapur,


"Pegangin aja bos," ucap Glen.


"Tetet tetew...." Silvi menirukan musik romantis ala-ala karena Reza dan Glen masih berpose seperti tadi.


Reza buru-buru melepas tangannya.


"Astaga," Reza mengutuki dirinya sendiri.


"Ih Bu Bos..." tapi Glen, kedua pipinya memerah malu.


Silvi tertawa.


"Bos rambutnya nutupin mata, jadi nggak fokus masak!" Glen masih mengoceh.


"Makanya potong!" seru Reza sewot, ia tidak mau harga dirinya jatuh lagi dihadapan Silvi.


Reza punya ide cemerlang. Ia mengambil sesuatu di lemari es. Ia juga mengambil gunting.


Glen masih mengomel sambil terus mengaduk bahan yang sudah dimasukkan ke wajan. Entah apa yang dilakukan bosnya. Kemudian, Reza memegang kepala Glen.


"Diam dulu!" seru Reza.


Glen menurut, tapi tangannya tetap gerak untuk sesekali mengaduk nasi gorengnya agar tidak gosong.


"Jadi!" ucap Reza.


Seketika Silvi tertawa.


"Bagus bagus!" ucapnya.


Glen meraba kepalanya. Kepalanya sekarang sudah dibungkus menggunakan plastik bekas buah sepertinya.


"Rambutmu nggak akan ganggu lagi, sudah cepat masak!" Reza terkekeh.


Cekrek,


Silvi mengambil foto Glen yang memaki topi kantong plastik bening. Ada logo apel di sana. Ide Reza efektif, rambut Glen tidak akan mengganggu pandangan mata lagi.


"Kelewat pinter si bos," keluh Glen.


Reza terbahak.


..................

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2