
Silvi menggandeng tangan Reza dengan erat sejak turun dari mobil tadi. Ice creamnya tidak habis, ia lempar ke tong sampah begitu saja. Ia sudah tidak selera. Semakin masuk ke dalam bandara, rasanya kaki Silvii terasa semakin berat. Ia sungguh tidak ingin melepas orang yang dicintainya.
Keadaan bandara lumayan ramai sekarang, beberapa kali bahu Silvi bersentuhan dengan bahu orang asing. Tapi itu tidak membuat dirinya beralih dari sisi Reza. Reza celingukan mencari Glen tentunya. Sejak sampai di parkiran tadi Reza sudah mencoba menelpon Glen, tapi tidak diangkat.
Reza teringat tadi Glen mengirimkan foto tiket pesawat mereka. Dengan begitu ia bisa menyusul Glen. Reza menggandeng tangan Silvi lebih erat.
"Bro!" seru Zack dari kejauhan.
Reza dan Silvi menoleh ke sumber suara. Reza melayangkan senyuman pada Zack. Sementara Silvi, ia terkejut melihat keberadaan Zack. Ditambah lagi ternyata di sana ada Mei, Samuel, Dave, Aryn, Ken, Erick, bahkan ada Davin juga.
"Mereka semua ada di sini?" tanya Silvi.
"Saat kita makan di restoran tadi, aku menyuruh Glen untuk mengabari mereka. Hanya Zack dan Samuel yang aku kabari, jujur aku terkejut kakakmu mau datang," jawab Reza.
Reza dan Silvi berjalan ke arah mereka. Zack dan Samuel menatap sahabat mereka itu dengan tatapan sendu.
"Kenapa buru-buru banget sih, bro?" seru Samuel.
"Karena gua harus pulang, udah lama gua ninggalin perusahaan," jawab Reza dengan senyuman.
"Hati-hati ya, bro!" seru Zack, ia juga memberikan pelukan perpisahan.
"Jangan sampai putus komunikasi ya, bro!" ucap Ken.
Samuel juga memberikan pelukan pada Reza. Erick dan Aryn secara bergantian juga memberikan pelukan perpisahan. Sementara Dave, ia hanya memandangi momen itu dari tempatnya berdiri.
Sekarang giliran Silvi, Silvi menjadi orang yang paling lama memeluk Reza. Dada Reza terasa hangat, ia tahu Silvi menangis di pelukannya. Ia mengelus pucuk kepala Silvi dengan sayang. Dengan sabar Reza juga menjelaskan mereka akan bertemu lagi secepatnya.
"Jaga dirimu baik-baik, belajar yang giat agar nilaimu bagus nanti. Dan jangan lupa mengabariku, ceritakan apa saja yang kamu lakukan, aku akan sangat menunggu cerita darimu.." Reza mengecup kening Silvi.
"His, curi kesempatan!" Dave memalingkan wajahnya.
"Dave, gua pamit ya!" ucap Reza.
"Iya!" jawab Dave ketus.
"Hati-hati ya, Za!" sahut Aryn.
"Bye bye uncle Ezaaa!" teriak Davin, ia melambaikan tangan kecilnya.
"Titip salam buat Edgar dan Zela!" seru Erick.
Reza mengangguk pelan, ia berjalan perlahan meninggalkan mereka. Pesawat akan segera lepas landas. Reza tidak membawa apa-apa hanya e-ticket di ponselnya, semua barang sudah diurusi Glen. Reza masuk ke sebuah pintu penyekat kaca, ia memasuki boarding room. Hanya penumpang pesawat yang dibolehkan masuk. Silvi melambaikan tangan dari kejauhan.
Rasanya Silvi enggan mengedipkan matanya sekalipun. Ia masih ingin menatap orang yang ia sayangi. Saat-saat seperti ini yang ia benci. Kembali terpisahkan oleh jarak. Hanya bisa berbagi cerita dari layar ponsel menyambut hari-hari penuh rindu.
Semua orang masih tinggal di sana, mereka akan menunggu sampai pesawat yang Reza tumpangi lepas landas. Saat terdengar suara dari pengeras suara bandara, mereka semua berdiri. Karena suara itu mengumumkan agar penumpang masuk ke dalam pesawat. Silvi berjalan lebih dekat dengan kaca penyekat itu.
Dari kejauhan Reza melambaikan tangan. Samar-samar Silvi melihat kedua mata Reza juga berkaca-kaca.
"See you soon!" teriak Silvi sambil melambaikan tangan.
"See you soon!" balas Reza.
__ADS_1
Semua orang menyaksikan pemandangan sedih yang berlangsung sampai Reza menghilang di balik pintu. Samuel, Zack, dan Ken berada di barisan paling depan. Mereka bertiga nampak terbawa suasana haru.
"Bang Ken nangis?" seru Silvi.
"Enggak, Samuel tuh yang nangis!" Ken cepat-cepat menghapus air matanya.
Siku Ken menyenggol lengan Samuel. Silvi dan yang lainnya melihat ke arah Samuel. Ia bisa melihat kedua mata Samuel merah dan berair. Orang bodoh pun tahu Samuel sedang menangis sekarang.
"Apaan sih, enggak kok! Kelilipan ini tadi..." Samuel menggosok kedua matanya.
"Zack tuh yang nangis!" giliran Samuel yang mengoper tuduhan kepada Zack.
Semua orang melihat Zack, seketika Zack langsung terdiam. Padahal ia tadi menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang direbut permennya.
"Sembarangan kalau ngomong, gua nggak nangis! Ini tadi kakiku diinjak Sam, sakit jadi nangis!" Zack mengelak dengan suara yang tersendat.
"Gua nggak nginjak kaki lo!" seru Samuel, suaranya terdengar serak khas orang habis menangis.
"Hidung Uncle Zack kelual ingusnya!" teriak Davin.
"Ewww...." seru Aryn.
Zack lantas mengambil tisu dari saku bajunya. Ia gunakan tisunya untuk mengelap hidungnya.
"Jangan mengelak lagi, kalian bertiga menangis! Aku yang lihat sendiri!" seru Erick.
Samuel, Ken, dan Zack menunduk. Mereka bertiga memang menangis, tapi yang paling parah adalah Zack. Sampai sekarang ia masih menangis tersedu-sedu. Badan boleh besar, tapi mereka hanyalah manusia biasa yang bisa terharu.
"Terharu namanya Dave," Samuel membela diri.
"Benar itu, apalagi saat Reza dan Silvi berpelukan tadi. Huhuhu...Gua nggak tega, sedih banget kisah cinta mereka. LDR-an terus, ngobrol online, dinner online, kisingnya juga online huhuhu..." ucap Zack.
"Kalian kalah cama Apin, kalau nangis banci namanya!" Davin mengoceh.
Samuel, Zack, dan Ken menatap Davin. Bos kecil itu benar mewarisi sifat dari papanya. Di samping itu, Silvi berlarian ke jendela besar di dekatnya. Melihat dari kejauhan pesawat yang ditumpangi Reza mengudara, meninggalkan negara ini. Silvi melambaikan tangannya.
"Ayo pulang!" Dave mengajak Silvi pulang.
"Bentar kak, aku masih ingin di sini pesawat Kak Reza masih kelihatan!" seru Silvi.
Dave menuruti keinginan Silvi, tak hanya Silvi saja yang tetap di sana. Semua orang juga masih di sana. Saat pesawat Reza menghilang di balik awan barulah mereka akan beranjak pergi. Mereka berjalan beriringan, Silvi masih saja menoleh ke belakang.
Tiba-tiba di sebuah kursi tunggu panjang yang mereka lewati, muncul kepala seseorang. Wajahnya tidak asing bagi mereka.
"Kalian mau pulang?" seru orang itu.
"Glen!!!" semua orang terkejut.
"Iya, ini Glen!" jawab Glen.
Semua orang saling menatap, lantas mereka tertawa. Wajah Glen masih terlihat mengantuk, kedua matanya merah.
"Kenapa kau disini?" tanya Erick.
__ADS_1
"Nunggu Pak Bos lama banget, saya tidur dulu. Barang-barang sudah ada anak buah saya yang ngurus. Tadi saya sudah bilang security agar saya dipanggil kalau jam boarding!" Glen menggosok kedua matanya.
"Dasar bodoh! Lihatlah sekarang jam berapa!" seru Dave.
Glen lantas membuka ponselnya, ada banyak panggilan tak terjawab dari bosnya. Kedua matanya menangkap sudut layar, sudah pukul 2 siang.
"Jam 2," jawab Glen polos.
"Benar sekali, sekarang sudah jam 2 siang!" Dave menekan setiap perkataannya.
"Iya jam 2..." lirih Glen.
"JAM 2!!!! ASTAGA!!!!" Glen berteriak gugup.
Glen langsung mengambil ransel yang ia jadikan bantal tadi. Niat hati ingin menghabiskan waktu sambil menunggu bosnya di luar, malah ketinggalan pesawat begini. Ia merapikan bajunya sebentar lalu menjabat tangan dan memeluk singkat semua orang.
"Saya pamit dulu ya, bos kecil! Saya akan merindukanmu..." Glen berpamitan pada Davin yang digendong Aryn.
Semua orang masih terbengong melihat tingkah Glen. Menatap Glen yang sibuk mengeluarkan ponselnya untuk membuka e-ticket.
"Kau mau kemana?" seru Dave menepuk bahu Glen.
"Mau ke boarding room lah, tuan!" jawab Glen.
"Ngapain?" sahut Erick.
"Pesawatnya baru saja berangkat kan? Saya mau ke sana mumpung pesawatnya belum jauh," seru Glen.
Bug,
Gedubrak,
Glen terjengkang di lantai dan langsung pingsan. Bogem mentah Dave mendarat di pipinya dengan keras tadi.
"Daveee!!" pekik Aryn yang terkejut.
"Langsung pingsan loh Dave!" seru Samuel.
"Biar aja! Capek liat orang goblok!" sahut Dave.
"Ken, pesan tiket buat dia, cari yang jadwalnya sore ini juga!" Dave menatap Ken.
"Siap, bos!" jawab Ken.
"Jangan lupa pindahin sekretaris unfaedah ini ke boarding room, siapin tiketnya di tangannya. Kalau perlu taruh anak buahmu untuk menyeretnya kalau pesawat akan berangkat nanti!" lanjut Dave.
"Baik, bos!" sahut Ken, ia langsung balik kanan melaksanakan tugas.
"Emang capek!" Zack jalan duluan keluar dari bandara.
...................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!
__ADS_1