
"Kita akan cari Silvi sampai ketemu kok, jangan khawatir ya!" ucap Edgar.
Mereka sudah tiba di rumah Reza. Tadi mereka menaiki mobil anak buah Edgar. Edgar membuka pintu rumah Reza perlahan. Zela mengajak Reza masuk.
"Duduk dulu, mami buatkan susu hangat dulu!" Zela mendudukkan Reza di sofa ruang tengah.
Mami Zela tidak berubah, apapun suasananya minum susu wajib hukumnya.
"Iya, mami! Jawab gitu dong!" seloroh Edgar.
"Iya, mami!" jawab Reza dengan senyum yang dipaksakan.
Zela tersenyum, ia berjalan menuju dapur.
"Astaga!" pekik Zela saat baru saja masuk dapur.
"Papiii....Rezaaa......" Zela berteriak dari dapur.
Edgar dan Reza panik dan langsung berlarian ke dapur. Mereka berdua sampai berebut untuk masuk ke dapur.
"Ada apa, mi?" seru Edgar dan Reza kompak.
"Silvi di sini!" Zela menunjuk ke meja makan.
Nampak Silvi tertidur dengan posisi kepala yang di senderkan ke meja makan. Di meja makan sudah tersaji roti panggang lengkap dengan selai, kopi Reza juga sudah siap.
"Silviii!" Reza berlari dan memeluk Silvi erat.
"Kamu gimana sih, Za! Silvi ada di rumah begini kamu bikin panik semua orang. Silvi sampai tertidur di meja makan begitu, pasti dia capek nunggu kamu!" Edgar mengomel.
"Kamunya malah panik nggak jelas, besok-besok cek seluruh rumah dulu! Papi dan mami udah panik tadi," imbuh Zela.
"Reza sudah cek seluruh rumah pi, mi! Swear! Silvi tidak ada tadi, Reza sampai cari di kolong meja, kolong ranjang, di dalam mesin cuci, almari, semua pokoknya!" sahut Reza.
Ingin rasanya Zela memukul kepala Reza, supaya otak putranya itu restart lagi. Mana ada mencari istri di dalam mesin cuci?
"Ada apa ini?" Silvi membuka matanya.
"Tadi kamu kemana, sayang? Kami panik!" ucap Reza.
"Aku di rumah,"
"No, bangun tidur aku mencarimu. Kamu tidak ada di rumah." sahut Reza.
"Ohh...Silvi jalan pagi sebentar tadi, kak! Eh di tengah jalan kebelet pipis jadi pulang. Pas sampe rumah Kak Reza keluar rumah pake sepeda, aku panggil nggak noleh!" jawab Silvi.
"Nah sekarang ketahuan siapa yang bodoh," seloroh Edgar.
Reza tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku panik, jadi tidak memperhatikan ada yang memanggil." ucapnya.
"Maaf ya, kak!" Silvi menatap Reza.
"Tidak masalah, lain kali selalu kabari aku ya?"
"Siap!" jawab Silvi.
"Maaf ya mi pi..." ucap Silvi pada kedua mertuanya.
"It's alright, honey!" Zela tersenyum.
Reza mencium kening Silvi.
"So sweet...." ucap Zela.
"Mami pengen?" tanya Edgar.
"Malu, pi!" Zela menutup wajahnya denga tangan.
Reza dan Silvi tertawa.
"Tumben malu?" ucap Edgar.
"Papi....Nanti mami cium pake sepatu, mau?" Zela salah tingkah.
"Eh, kok sepatu mami ganti?" Edgar menyadari sepatu Zela jadi sneakers sekarang. Padahal tadi pakai high heels.
"Tadi mami pegal jalan jauh pakai sepatu mami," Zela tersenyum tidak jelas.
"Sekarang sepatunya mana? Papi nggak mau loh kalau mami minta dibeliin sepatu lagi!" Edgar sewot.
"Tenang aja, nggak mami buang kok sepatunya. Cuma tukeran."
__ADS_1
"Tukeran sama siapa, mi?" tanya Edgar, Reza, dan Silvi kompak.
Ting tong,
Tepat di saat yang bersamaan, terdengar bunyi bell rumah Reza.
"Nah itu dia! Sepatu mami dibawa dia!" seru Zela.
"Siapa?" tanya Edgar.
"Sebentar," Zela berjalan ke depan untuk membukakan pintu.
Edgar, Reza, dan Silvi penasaran, mereka mengekor di belakang Zela. Setelah pintu depan dibuka, masuklah orang yang dimaksud Zela. Tak lain dan tak bukan ialah Glen, si sekretaris serba guna.
"Silahkan masuk madam Glen!" Zela terkekeh.
Glen menghempaskan sepatu Zela di lantai. Sepanjang jalan Glen mengenakannya. Baru di teras tadi ia melepasnya.
"Makanan...Makanan...Aku butuh makanan..." ucap Glen dengan nada yang dibuat-buat.
Mereka semua tertawa.
"Pengorbananmu kali ini sungguh besar, akan aku kasih bonus besar Glen!" Reza terkekeh.
"Siap!" Glen menunjukkan jempolnya.
"Ayo makan!" seru Silvi.
"Laksanakan!" Glen langsung berdiri dan berjalan ke meja makan.
Mereka semua tertawa.
Hingga akhirnya sarapan selesai tanpa drama. Tiba saatnya Reza berangkat ke kantor. Edgar juga akan ke kantor yang ia kelola.
"Mami di sini menemani Silvi," ucap Zela.
"Iya, mi!" jawab Edgar dan Reza.
"Kamu jaga diri baik-baik ya, kalau mami merepotkanmu telpon saja aku!" Reza mengelus pucuk kepala Silvi.
"Reza...." Zela menjewer telinga Reza.
"Ampun, mi! Ampun..." pekik Reza.
Reza tersenyum. Lalu ia mengelus perut Silvi.
"Jaga mommy ya, sayang!" ucapnya.
"Siap, daddy!" Silvi menirukan suara anak kecil.
Reza tertawa.
"Berangkat dulu ya, mi!" Edgar juga berpamitan pada Zela.
"Hati-hati, honey!" seru Zela.
Edgar masuk ke mobilnya. Reza juga, Glen mengekor di belakangnya. Mereka pergi ke tujuan yang berbeda. Karena mereka mengurus perusahaan yang berbeda. Harusnya Edgar pensiun dan membiarkan Reza menangani semua, tapi ia jenuh jika di rumah terus.
Di perjalanan Glen tidak bisa diam karena menceritakan kejadian pagi tadi. Menceritakan betapa perihnya memakai sepatu hak tinggi. Ia baru diam saat mobil yang ia kemudikan sampai di parkiran kantor.
"Ada mobil Zack," ucap Reza.
Reza melihat ada mobil Zack yang terparkir tidak jauh dari mobilnya. Tumben sahabatnya itu datang ke kantornya. Reza buru-buru masuk ke dalam kantor, menuju ruangannya.
Dan sahabatnya itu sudah menunggu di dalam ruangannya. Lebih tepatnya duduk di kursi kebesarannya.
"Saya ke meja saya dulu ya, bos!" Glen memilih untuk ke meja kerjanya, tepat di depan pintu ruangan Reza.
"Ya," jawab Reza singkat.
Setelah pintu ditutup, Reza menghampiri Zack. Saat kursi itu ia putar menghadap ke arahnya, sahabatnya itu tengah tertidur. Reza tersenyum licik. Ia mengambil tisu. Reza gulung tisu itu lalu ia masukkan ke masing-masing lubang hidung Zack.
"Cih..." Reza terkekeh.
Zack tidak bangun, ia membuka mulutnya untuk bernapas karena hidungnya disumpal tisu. Reza tidak kehabisan ide jahil. Reza tutup saja mulut Zack dengan tangannya. Sepersekian detik kemudian, Zack melotot, wajahnya memerah karena tidak bisa bernapas.
"Sialan lo, Za! Mau bunuh gua?" keluh Zack.
"Siapa suruh tidur di ruangan gua, kalau ngantuk pulang minta kelon Mei!" sahut Reza.
Wajah Zack langsung lesu.
"Ada masalah?" Reza langsung paham ekspresi Zack.
__ADS_1
"Iya, lo tahu Clara?"
"Tau lah, cewek terakhir lo sebelum nikah," jawab Reza kemudian.
"Di hamil,"
"Terus kenapa kalau dia hamil?"
"Ya jadi masalah dong, Reza Albert!" Zack kesal.
"Anak lo?" tanya Reza.
"Katanya,"
"Kok bisa sih?"
Zack menceritakan semuanya. Dari awal kejadian sampai kemarin ia berdebat dengan mama dan papanya.
"Terus Mei udah tau?" tanya Reza.
"Udah, bro! Dia tinggal di rumah papa gua, minta pisah dia!" Zack lesu.
"Kok lo ceroboh sih, gua kira lo itu pro player! Kenapa nggak pake pengaman?" Reza sewot.
"Gua mabuk, Reza Albert. Mana sadar, bangun-bangun udah telanjang di ranjang!"
Ingin rasanya Zack jungkir balik. Reza sama saja seperti papanya.
"Gua kesini mau minta solusi," ucap Zack kemudian.
"Jadi ikutan bingung....Tapi gua nggak 100% yakin itu bakal lo sih,"
"Kita sehati dan sepemikiran," seru Zack.
"Cih..." Reza melengos.
"Gua juga mikir gitu, cuma gimana buktiinnya?"
"Lo datang ke tempat yang tepat, sahabat!" Reza menepuk dadanya sendiri.
"Lo punya ide?"
"Adaaa! Tes DNA..." sahut Reza.
Zack berdecak.
"Gua pikir lo pinter, gua udah rencana mau lakuin itu. Tapi harus masih menunggu lagi, lama. Keburu gua dan Mei bener-bener pisah!" Zack sewot.
"Sabar sabar....Lo percaya kan dengan kecerdasan gua? Gua akan cari jalan keluar, just wait!" ucap Reza menenangkan Zack.
"Okay okay," jawab Zack.
Tok tok tok,
Pintu ruangan Reza diketuk dari luar. Glen yang mengetuknya. Reza suruh saja sekretarisnya itu masuk.
"Bos gawattt!" teriak Glen bergitu pintu dibuka.
"Apa?" sahut Reza.
"Ada tamu tak diundang,"
"Siapa?" tanya Reza.
"Si Melon!"
"Apa!!!" pekik Reza.
Reza menggebrak meja.
"Beraninya wanita itu datang kemari!" wajah Reza sangat marah.
"Saya sudah melarang dia masuk kantor, tapi wanita bar-bar itu menerobos masuk. Penjaga keamanan babak belur dihantam tas kremes miliknya. Hanya office girl yang menjadi benteng pertahanan terakhir saat ini, dia sudah sampai di ujung lorong lantai ini!" ucap Glen.
"Bawa dia masuk!" seru Reza.
"Tapi bos,"
"Bawa saja dia masuk!"
"Baik," Glen balik kanan menjalankan perintah.
.................
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!