Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
MABUK


__ADS_3

Satu minggu kemudian,


Malam ini di sebuah hotel, tengah diadakan pertemuan. Pertemuan itu dihadiri para pemilik dan petinggi perusahaan di negara ini, diadakan rutin setiap setahun sekali. Sebagai orang baru di dunia bisnis, Zack menghadiri pertemuan itu untuk menambah relasi. Apalagi ia masih baru memimpin perusahaan ayahnya. Relasi yang banyak akan mempermudah bisnisnya.


Sekarang, Zack sedang duduk di dalam mobilnya yang terparkir di depan apartemen Mei. Karena pertemuan ini untuk alasan bisnis, Zack memutuskan untuk mengajak sekretarisnya, yaitu Mei.


"Kuy!" seru Mei saat membuka pintu mobil Zack.


"Let's go!" Zack menginjak pedal gasnya.


Zack sesekali melirik ke arah Mei. Jujur saja Mei tampak cantik dengan balutan dress hitam panjang. Kulit putih Mei tampak semakin mempesona.


"Nggak usah lirik-lirik, bos! Saya nggak tanggung jawab loh kalau bos jatuh cinta," ucap Mei ketus.


"Siapa yang lihat kamu? Aku lihat spion itu loh!" Zack mengelak.


Keduanya jadi diam selama di dalam mobil. Mereka baru mulai berbicara saat sampai di lokasi. Mei tidak menyangka Zack akan mengulurkan tangannya saat mereka menaiki tangga depan hotel.


"Jangan kepedean, ya! Aku hanya bersikap gentleman saja," lirih Zack.


"Hmm," Mei memutar bola matanya malas.


Begitu mereka masuk ke ballroom hotel, ruangan itu telah penuh oleh orang-orang penting di dunia bisnis. Zack langsung membaur, Mei mengekor saja di belakangnya. Tapi saat Mei melihat deretan makanan di meja, Mei jadi lapar. Kakinya ragu untuk mendekati meja itu, karena tadi Zack memperingkatkannya untuk tidak berperilaku bar-bar apalagi soal makanan. Lebih baik ia coba minta izin Zack saja.


"Bos," Mei menarik ujung jas bagian belakang milik Zack.


"Apa?" tanya Zack.


"Saya mau mencicipi makanan di sana," lirih Mei.


"Hmm, baiklah! Tapi ingat, harus elegan!" bisik Zack.


Mei mengacungkan jempolnya, tanda bahwa ia mengerti. Zack kembali mengobrol dengan rekan bisnisnya. Sementara Mei, ia menuju deretan meja makanan itu.


Kedua mata Mei berbinar menatap makanan yang begitu banyaknya. Makanan itu juga nampak lezat. Seperti yang diperintahkan Zack, Mei mengambil piring kecil dan mengambil sedikit makanan. Mei makan layaknya seperti seorang wanita bisnis yang makan.


Zack bersulang dengan para tamu yang lain. Mei melihat dari kejauhan. Beberapa saat kemudian Zack menghampiri Mei dan mengajaknya bergabung. Awalnya menolak, tapi minuman itu terlihat menggiurkan. Apalagi harganya tidak murah.


"Cheers!" seru mereka semua.


Zack dan Mei sama-sama menikmati minuman itu sampai malam semakin larut. Zack mulai meracau tidak jelas. Mei juga sama, mereka berdua menjadi semakin kacau. Untung saja ada kenalan Zack di sana namanya Petter. Ya walaupun baru kenal, tapi setidaknya kenalannya itu berusaha membantu.


"Petter Petter...Genggam tanganku seperti ini, atau kalau tidak aku akan jatuh. Bumi sedang berputar sekarang," Zack meracau.


"Petter....Genggam tanganku juga!" Mei ikut-ikutan.


"Keadaan kalian kacau sekali," keluh Petter.


Petter menuruti mereka berdua, jadi sekarang mereka bergandengan. Acara sudah selesai, jadi tidak akan ada yang menertawakan mereka. Semua tamu sudah pulang. Baru saja mereka keluar dari ballroom. Zack dan Mei semakin meracau.


"Petter...Pegang aku dengan benar, aku hampir jatuh ini!" Zack berjalan terhuyung.

__ADS_1


"Aku sedang memegangmu!" sahut Petter, ia berusaha sabar.


Padahal tamu yang lain juga minum seperti mereka. Mereka semua juga mabuk, tapi menurut Petter, Zack dan Mei yang paling parah.


"Petter Petter... Di depan ada gorila, aku takut!" Mei berteriak tidak karuan.


Lantas Petter melihat ke depannya. Gorila? Petter tertawa dengan keras. Yang disebut gorila oleh Mei adalah temannya, namanya Lim. Dia juga ikut dalam pertemuan tadi.


"Lo tau alamat mereka, bro?" tanya pria tinggi besar itu.


"Dia putranya Tuan Cavero, kan?" Petter bertanya balik.


"Iya," jawab Lim.


"Kalau gitu tolong bantu gua ngantar mereka pulang ke rumah Tuan Cavero," ucap Petter.


"Tuan Cavero itu papaku ya?" seru Zack semakin kacau.


"Iya, bodoh!" Mei menoyor kepala Zack.


Melihat kondisi Zack dan Mei, mereka harus segera mengantar kedua orang itu pulang.


"Rumah Tuan Cavero jauh dari sini bro, gua nggak mau ambil risiko! Belum lagi nanti kalau kita yang kena masalah!" seru Lim.


"Terus gimana ini?" Petter bingung.


"Lo pesenin aja kamar di hotel ini!" temannya itu memberi ide.


"Sial!" umpat Petter saat mendengar jawaban resepsionis.


"Kenapa?" tanya Lim.


"Kamar yang kosong tinggal satu, banyak tamu yang di pertemuan tadi bermalam di hotel ini jadi penuh." jawab Petter.


"Yaudah ambil aja! Daripada ribet bawa dua orang mabuk ini, udah untung kita tolong!" seru Lim.


"Tapi mereka bos dan sekretaris," Petter menolak.


"Lo yakin dia sekretarisnya?" tanya Lim, ekor matanya mengarah pada Zack dan Mei.


Petter melihat Zack dan Mei yang sekarang duduk di lantai. Nampak Mei bersandar di bahu Zack. Dalam keadaan tidak sadar, Mei mengatakan banyak hal mengenai perasaannya. Dan itu didengar Petter.


"Udahlah, zaman sekarang itu banyak yang menyembunyikan hubungan," Lim meyakinkan Petter.


"Tuan, dia kekasihmu?" tanya Petter pada Zack.


"Yup," jawab Zack.


Petter tidak ada pilihan lain, biarlah dia memesan kamar itu. Lagipula Zack menjawab iya. Bisa jadi Zack mengatakan jika Mei sekretarisnya itu hanya untuk menutupi. Buktinya jika dilihat mereka berdua mesra meskipun dalam keadaan mabuk.


Tanpa menunggu lama, Petter dan Lim langsung membawa kedua orang yang sudah teler itu ke kamar. Lalu meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


"See you again, Petter!" seru Zack saat Petter akan menutup pintu.


Petter hanya tersenyum lalu menutup pintunya rapat-rapat. Ia masih ada urusan lain. Yang penting kedua kenalannya sudah aman di kamar itu.


Di kamar hotel itu,


"Apakah dia Petter Parker?" tanya Mei pada Zack.


Saat ini, Zack duduk di lantai kamar sementara Mei bersandar di sofa.


"Iya, tapi ingat ya ini rahasia kita berdua saja!" Zack berbisik.


"Itu artinya tadi kita diantar spiderman!" Mei meracau.


"Kau pintar sekali!" Zack mengacungkan jempolnya dengan lemas.


"Harusnya tadi aku minta diajari melompat dulu, seperti ini...Ciattt!" Mei melompat ke ranjang.


Mei terjerembab di lantai, kepalanya masuk ke sela-sela bantal. Posisinya tengkurap, ia jadi susah napas.


"Hey, bos! Tolong aku! Aku sesak napas!" seru Mei, suaranya parau.


"Hah! Apakah kau akan mati?" Zack berjalan terhuyung sambil memegangi kepalanya yang terasa berat.


"Sepertinya begitu!" sahut Mei.


"Dimana kepalamu?" pekik Zack.


Kepala Mei tertutup oleh bantal. Jadi saat Zack mendekat le ranjang, kepala Mei tidak terlihat olehnya. Apalagi sekarang ia sedang mabuk. Pandangannya juga jadi kabur.


"Apakah kepalaku hilang?" seru Mei panik.


"Sepertinya begitu, aku tidak bisa melihatnya Mei!" sahut Zack.


"Huhuhuhu..." Mei menangis sesenggukan.


Zack mendekat ke ranjang, ia membuang satu per satu bantal dari ranjang itu.


"Jangan menangis, aku menemukan kepalamu! Kepalamu hanya tertutup bantal sialan ini!" seru Zack senang.


"Syukurlah," Mei berhenti menangis.


"Sini aku bantu bangun!" Zack menarik-narik tangan Mei.


Karena mereka sama-sama mabuk, baik Zack maupun Mei sama-sama lemas. Saat Zack menarik tangan Mei, Mei bisa membalik badannya. Tapi kemudian Zack malah jatuh ke ranjang. Tepat di atas tubuh Mei.


Lantas Zack menahan tubuhnya dengan kedua tangannya. Zack menatap Mei, kedua matanya tampak sayu. Wajah mereka semakin mendekat. Dan entah siapa yang memulai, bibir mereka bertemu.


......................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!

__ADS_1


__ADS_2