
Ciittt,
Mobil Dave berhenti agak jauh dari target, Bar Destiny. Hanya tempat ini yang kemungkinan digunakan Myra. Reza juga berasumsi demikian. Perjalanan cukup jauh, mereka tiba di sana saat masih gelap. Matahari belum menyapa dengan sinarnya. Erick dan Dave tetap menunggu di dalam mobil. Menunggu kabar dari Reza dan lainnya.
Zack, Samuel, Reza, dan Glen turut ambil posisi. Mobil mereka parkir jauh, mereka berjalan kaki dari arah belakang bar. Tidak banyak anak buah yang dibawa karena Reza mengatakan tidak usah ramai-ramai. Terkadang sedikit orang akan lebih baik.
"Masuklah!" ucap Reza di sambungan intercom yang terhubung dengan Dave.
Dave dan Erick turun dari mobil, masuk ke gerbang bar yang terbuka sedikit. Ada tulisan 'Closed' besar di depan gerbang. Baru selangkah mereka masuk, ada suara seseorang dari pengeras suara.
Kalau kau ingin bertemu putramu lagi, tinggalkan semua senjata di luar !
"****!" umpat Erick.
Dave mengedipkan sebelah matanya pada Erick. Erick mengangguk, lantas mereka berdua meninggalkan pistol di sana. Dave tidak bodoh, di kaos kakinya masih ada pistol. Seseorang yang licik harus dibalas licik juga.
Masuk !
Pintu dibuka dari luar. Kosong, bar itu kosong. Jelas kosong karena sudah ada tulisan jika bar ini tutup. Dave dan Erick berjalan pelan, berhati-hati dan lebih waspada. Lampu bar juga dimatikan, mereka tidak boleh lengah.
Dave Winata...Selamat datang!
Lagi-lagi terdengar suara dari pengeras suara tapi tidak ada siapapun. Satu hal yang Dave yakini, suara itu adalah suara seorang wanita. Mungkin masih muda, Dave menebak dia pasti Myra.
"Bicaralah langsung di hadapanku!" teriak Dave.
Baiklah...Ini yang kau minta!
Byar,
Lampu seketika menyala, sangat terang hingga membuat Dave dan Erick menutup matanya.
"Arrgghhh, dasar licik! Lepaskan!" Erick ditangkap oleh dua orang pria berbadan besar.
Di hadapan mereka sekarang ada seorang gadis dengan hoodie hitam. Ada senyum tipis nan sinis menghias wajahnya.
"Apa tujuanmu? Apa untungnya?" Dave mengepalkan tangannya, emosinya memuncak.
"Mudah saja, aku hanya ingin kau bersujud di depanku!" seru Myra.
"Cih! Aku? Bersujud padamu? Jangan harap!" Dave tersenyum sinis.
Dor,
Myra menembak ke langit-langit. Kedua matanya merah, menatap Dave dengan tatapan membunuh. Tangannya kini menodongkan pistol ke arah Dave.
"Kau tidak ingin bertemu dengan putra kesayanganmu?" Myra memiringkan kepalanya.
Di belakang bar,
Reza duduk bersandar di dinding. Ia melonjak kaget saat terdengar suara tembakan dari dalam. Mereka semua saling menatap.
"Ayo masuk, ada suara tembakan!" seru Zack.
"Let's rock baby!" sahut Reza.
"Tunggu... Saya di sini saja, ya?" seru Glen menghentikan mereka semua.
"Ya sudah kau di sini. Tapi jangan nangis kalau ada yang tiba-tiba menyergapmu! Karena kami semua akan masuk tidak akan ada yang melindungimu!" jawab Reza.
"Okay okay, saya ikut!" mimik wajah Glen menunjukkan dengan jelas bahwa ia sedang ketakutan sekarang.
Terpaksa Glen mengekor di belakang Reza. Ia berada di tengah, tidak mau di depan ataupun belakang. Ia hanya mau selamat, sudah itu saja. Samuel yang berjalan paling belakang memberikan aba-aba. Secara serempak mereka menyebar ke posisi dan menodongkan senjata.
Dor dor dor,
__ADS_1
Arrghh.......
Beberapa anak buah Myra tumbang ke lantai dengan peluru yang bersarang di tubuh meraka.
"Astaga!" Glen menutup matanya, ia terus memegang ujung baju Reza dan mengekor di belakang Reza.
Anak buah Myra yang tadi mencekal Erick, sekarang melepaskan Erick. Karena Zack dan beberapa anak buahnya mengepung mereka. Sisanya menodong Myra. Semua anak buah Myra memgangkat tangan dan meletakkan senjata. Glen berdiri di belakang Reza, sungguh ia tidak ingin jauh dari bosnya itu. Kalau sudah dalam medan perang seperti ini, keselamatannya lebih penting dari gengsi.
"Letakkan senjatamu!" Samuel menggertak.
Myra tersenyum sinis. Ia tidak gentar sama sekali. sekalipun ada banyak pistol yang mengarah padanya tapi dia masih tetap menodong Dave dengan pistol.
"Kalian pikir aku takut? Kalian bisa membunuhku, aku tidak peduli! Selagi Dave Winata juga mati, aku akan mati dengan senyum kebahagiaan!" Myra tertawa dengan keras.
"Udah gila nih cewek!" keluh Samuel.
"Padahal cantik loh, tapi gila!" Zack menanggapi.
"Kita sedang di medan perang, kurangin gosipnya!" seloroh Glen.
Dave hanya tersenyum tipis. Ia tidak memikirkan nyawanya saat ini, yang ia pikirkan adalah putranya.
"Kau boleh membunuhku, jika itu yang bisa membuatmu mengembalikan Davinku," ucap Dave.
"Tidak semudah itu...." Myra tertawa.
Reza menghela napas panjang, Myra sudah melewati batas. Ia memang tidak ingij melukai wanita, tapi kalau wanitanya seperti Myra rasanya Reza ingin menusuk setiap jengkal tubuhnya dengan pisau panas. Reza mendekatkan pistolnya ke kepala Myra.
Myra melirik Reza sebentar, lantas ia tersenyum. Tangan kirinya diangkat ke udara.
"Sisi..." seru Myra.
Seorang wanita seksi keluar dari sebuah lorong, yang tak lain adalah lorong yang menghubungkan bar dengan kamar-kamar. Wanita bernama Sisi itu membawa sebuah karung. Ada sesuatu dibalik karung itu, karena karung itu bergerak beriringan dengan Sisi yang mendekat ke Myra.
"Bawa Davin kemari!" ucap Myra dengan nada yang dibuat lembut.
Myra meraih karung yang dipanggilnya Davin. Myra tidak merubah posisi tangannya yang mengacungkan pistol ke Dave. Tangannya yang lain mengelus karung itu.
"Davin?" seru Dave memanggil Davin.
"Iya, Daddy!" terdengar Davin menyahut, suaranya memang suara Davin.
"Are you okay?" tanya Dave.
"Iya, Daddy!" sahut Davin lagi.
Dave sedikit lega, Davin ada di hadapannya sekarang. Begitu juga dengan semua orang, mereka merasa lega Davin tidak apa-apa. Dan semoga saja Davin akan tetap baik-baik saja sampai kembali ke mansion nanti.
Reza mundur beberapa langkah, ia tidak boleh gegabah atau Davin bisa saja dilukai. Saat Reza dan yang lainnya mundur, Dave justru berjalan perlahan, hendak mendekati Davin.
"Stop!" Myra melotot.
Reza dan yang lainnya langsung maju lagi mengepung Myra. Myra tertawa dengan keras. Pistolnya kini ia arahkan ke Davin yang masih ditutupi karung.
"Jauhkan senjatamu darinya!" Dave menggertak.
"Aku ingin kau merasakan apa yang aku rasakan, Dave Winata! Aku dulu Kehilangan orang yang aku cintai, hidupku hancur. Semua itu karena kau! Sekarang aku akan menunjukkan kepadamu bagaimana rasanya kehilangan orang tercinta...Hmm...Tapi sayangnya Aryn tidak ada di sini ya, kalau ada pasti akan lebih seru!" sahut Myra.
"Tutup mulutmu!!!" rahang Dave mengeras.
"Bagaimana kalau sekarang kita berhitung saja?" Myra tersenyum sinis.
"Jika kau berani menyentuh cucuku sejengkal saja, akan aku kirim kau ke neraka!" Erick berteriak.
"Satu...." Myra mulai menghitung.
__ADS_1
"Myra turunkan senjatamu!" seru Samuel.
"Dua...." senyum Myra semakin lebar, jemarinya sudah siap menarik pelatuk senjatanya.
"TIGAAA!!!"
Terdengar suara seseorang melanjutkan hitungan Myra. Myra terkejut, tangannya yang menodong pistol turun. Semua orang juga terkejut, mereka menoleh ke sumber suara.
"Kau kenal dia bukan?" seru orang itu.
"Ken?" pekik Dave terkejut.
"Frans?" Dave tidak kalah terkejut saat melihat yang diseret Ken adalah Frans.
"Bawa dia kemari, Ken!" seru Reza memberikan perintah pada Ken.
Semua orang menatap Reza, mereka semua menuntut penjelasan dari Reza. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Ken bisa ada di sini? Dan mengapa Ken menyeret Frans? Dave tadi menyuruh Frans untuk tinggal di mansion.
"Ada apa ini? Ken, bukankah kau masih bertugas di kantor cabang? Dan kau Frans, aku menyuruhmu untuk tinggal di mansion tadi!" Dave menatap Ken dan Frans.
"Maaf, bos! Saya kembali tanpa izin dari bos!" sahut Ken.
Sementara Frans, ia hanya terdiam. Ia sama sekali tidak berani menatap Dave. Frans hanya bisa menunduk. Semua orang masih belum mengerti. Dave beralih menatap Reza. Reza tahu Ken kembali? Ada apa ini?
"Lo tahu Ken kembali? Apa yang lo rencanakan, ha? Kenapa lo suruh Ken menyeret Frans seperti itu?" seru Dave.
"Jangan bilang ini semua cuma prank ya, bos?" celetuk Glen.
Reza menyikut mulut Glen, bisa-bisanya menyangka ini semua prank. Kalau Reza diberi pertanyaan siapa orang pertama yang ingin dia lenyapkan pasti Reza akan menjawab Glen lah orangnya.
"Kalian sungguh...." Myra marah.
Dor dor dor...
Myra menembaki karung yang ada di sampingnya dengan brutal. Semua orang dibuat kaget lagi. Astaga! Dengan cepat karung itu berlumuran darah.
Bruk,
Karung itu ambruk ke lantai. Seseorang di dalamnya tergeletak tidak bernyawa lagi. Sisi melompat ke samping, darah mengenai high heels-nya.
"DAVIINNNN!" teriak Dave.
Deg,
Jantung Dave seakan berhenti berdetak. Ia melihat dengan jelas darah mengalir dari karung itu. Kedua matanya membelalak, air matanya meleleh. Lidahnya kelu tidak bisa mengatakan apapun lagi.
Bruk,
Dave bersimpuh di lantai, kakinya terasa sangat lemas. Tidak, lebih tepatnya seluruh tubuhnya terasa lemas seperti tak bertulang. Putranya, darah dagingnya berakhir di tangan wanita jahat itu. Ayah macam apa dirinya ini?
"Hahahahaha....." Myra tertawa dengan senang.
Dave mendongakkan wajahnya. Darahnya mendidih mendengar rawa Myra, tangannya merogoh sesuatu di kaos kakinya. Dalam hitungan ketiga, kini ia menodongkan pistol tepat di dahi Myra. Bahkan moncong pistolnya menyentuh dahi Myra.
"J****g sialan! Brengsek!" Dave menatap Myra dengan tatapan membunuh.
Sementara itu Erick mendekati karung itu. Ia sudah menangis histeris. Kedua tangannya gemetar membuka karung yang penuh darah itu.
Tangan Erick tidak sanggup lagi bergerak saat ia sudah melihat lengan kecil dengan sebuah jam tangan melingkar. Erick ingat jam tangan itu adalah jam tangan yang ia berikan kepada Davin sebagai hadiah ulang tahun pertamanya.
"Davin..."
.........................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!
__ADS_1