
Markas kebanggan Red Blood gelap gulita dan hening, gelap gulita. Para musuh yang bersembunyi menatap bos mereka. Apa yang akan mereka lakukan sekarang?
"Sial, tidak ada pilihan lain lagi! Ayo masuk!" seru pria itu, maskernya masih ia pakai.
Orang-orangnya mengangguk, satu persatu dari mereka keluar dari persembunyian. Ternyata jumlah mereka ada dua puluh orang.
"Berpencar!"
Beberapa orang masuk lewat pintu depan, mereka menjebolnya. Ada juga yang masuk lewat pintu samping dan belakang. Markas benar-benar diserbu dari semua arah.
"Mereka sudah masuk," lirih Dave.
Dave dan Zack masih berada di dalam ruang kendali listrik. Sengaja menunggu musuh masuk ke dalam markas.
"Mereka ada banyak, Dave!" sahut Zack.
"Gua juga tau, mereka berpencar, sesuai rencana....." ucap Dave.
"Kita keluar sekarang?" tanya Zack.
"Jangan sekarang," sahut Dave.
Dave mengecek persenjataannya terlebih dahulu. Zack juga melakukan hal yang sama. Meskipun gelap, tangan mereka bisa bergerak cepat mengecek senjata. Pistol seperti ini hanyalah mainan bagi mereka.
"Mereka tidak menggerombol, kita harus berhati-hati. Lo sudah siap?" Dave mencolek bahu Zack.
"Sudah, ayo kita keluar dan habisi mereka!" sahut Zack.
"Lo urus yang di belakang, gua urus di depan!" Dave membuka pintu ruangan itu perlahan.
Baik Dave maupun Zack berjalan perlahan. Gelap tidak menjadi penghalang bagi mereka. Justru ini keuntungan untuk mereka, mereka berdua jauh hapal setiap lika-liku markas ini. Dave dan Zack berpisah di depan ruangan itu. Zack berjalan ke arah belakang. Sementara Dave ke depan.
Zack berjalan mengendap-endap sampai menempel ke dinding.
"Outfit gua mendukung banget," Zack berbicara dengan dirinya sendiri.
Keberadaan Zack semakin tidak terlihat di kegelapan. Hari ini ia menggunakan celana jeans hitam, dan sweeter hitam. Saat ini Zack bisa mendengar suara langkah kaki. Mungkin langkah kaki dari sekitar tiga orang. Zack berhenti sejenak. Ia dengarkan baik-baik suara langkah kaki mereka.
Inilah keuntungannya, musuh tidak pernah masuk ke dalam markas. Mereka tidak tahu lantai di markas tidak menggunakan marmer melainkan berbahan kayu. Sepelan apapun orang melangkah, akan terdengar langkah kakinya. Apalagi Zack sekarang berjongkok, semakin terdengar.
Rasanya langkah kaki itu semakin mendekat dari arah utara. Zack bersiap ambil kuda-kuda. Musuh dekat sekali dengan Zack, walaupun tidak jelas tapi samar-samar Zack bisa melihat. Pakaian dari salah satu musuh mempunyai warna terang. Langsung saja,
Dor dor dor dor....
Arrrgghhh...
Dua orang tumbang tanpa tau siapa dan darimana peluru itu berasal.
Tersisa satu orang lagi. Kilauan pistol yang dipegang musuh menjadi petunjuk bagi Zack.
"Duh tangan gua kaku, masih sisa satu orang lagi, harus kena kali ini!" gumam Zack.
Layaknya pemanasan, Zack memutar-mutar tangannya sebentar. Agar ototnya lemas. Maklum sudah lama tidak menembak. Zack berjongkok di balik bangku kecil.
Kedua matanya memicing. Oh iya, semua gorden di markas masih belum ditutup. Pantulan kaca perabot dapur yang terkena cahaya bulan sedikit membantu juga. Zack mengunci sasaran.
Dor dor...
Bug,
Satu lagi musuh tumbang tanpa tahu darimana peluru berasal. Zack tersenyum senang.
"Huft akhirnya....Dave gila juga sih, nembak gelap-gelapan gini susahnya minta ampun. Untung aja semua gorden masih terbuka, kebantu cahaya bulan. Primitif..." keluh Zack.
__ADS_1
Dor dor...
Zack menempelkan tubuhnya ke dinding.
"Hampir saja...Sial suara tembakanku tadi mengundang mereka semua kesini," lirih Zack.
Zack masih di belakang bangku, tubuhnya sedikit meringkuk. Dari sini ia bisa melihat ada banyak orang berjalan ke arahnya. Tembakan pelurunya pada tiga orang musuh tadi membuat mereka semua datang. Ada banyak sekali derap langkah kaki mendekat.
Dan dimana juga Si Dave? Kacau sekali, rencana Dave malah membuatnya tersudut sekarang.
Dor dor...
"Aawww...." pekik Zack tercekat.
Lengannya tergores peluru yang mengarah padanya. Zack meringis kesakitan. Mereka pasti sengaja menembakkan peluru untuk memancing Zack keluar.
"Okay, tenang....Jangan lihat, jangan lihat, Zack," ia berkata pada dirinya sendiri.
Darah masih menjadi ketakutan terbesarnya. Kalau sekarang juga ia harus mati itu tidak masalah. Tapi darah ini, Zack berusaha agar tidak melihat ke luka di lengan kirinya. Zack menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia keluarkan dua buah pistol. Kalau ia berdiam diri, mereka akan segera membunuhnya.
"Bersiaplah kalian," gumam Zack.
Zack mengarahkan kedua pistolnya ke depan. Belum sempat ia menarik pelatuk,
Byar,
Semua lampu dinyalakan.
"****!" Zack berguling ke samping, bersembunyi di balik dinding pembatas.
Kedua matanya memicing, salah satu dari mereka pasti sudah berhasil menemukan ruang kendali listrik. Sekarang dirinya benar-benar terkepung. Huft...Bergerak atau mati. Zack mengarahkan moncong pistolnya ke depan.
Dor dor dor dor dor.....
Tembakan Zack mengarah ke musuh yang sudah berpencar. Tidak hanya sekali tapi berkali-kali.
Zack kembali bersembunyi, ia mendapat serangan balasan. Serangan balasan tidak membuatnya goyah. Ia kembali menyerang dengan sekuat tenaga. Yang ia pikirkan jangan sampai mereka bisa mengalahkan Dave.
Baku tembak berlangsung sengit, 17 lawan 1. Napas Zack memburu, belum lama ia sudah mengeluarkan kedua pistol terakhirnya. Semua lawan berpencar bersembunyi di balik perabotan, posisi Zack terkepung dari semua sisi. Ia arahkan lagi pistolnya ke dua arah.
Klik klik,
"Damn!" Zack membanting pistolnya.
Pelurunya habis.
Dor dor...
Zack hanya bisa berdiam di sana, berlindung di balik dinding kecil pembatas dapur dengan ruang makan.
"Dave...." lirih Zack, ia memejamkan matanya berharap Dave segera datang.
Dor dor dor...
Suara bising tembakan kembali terdengar. Zack terkejut, ada yang membalas tembakan musuh.
"Zack Zack..." ada yang memanggilnya.
Zack menoleh, Dave sahabatnya muncul dari jendela dapur. Dave melompat dan berjongkok di sebelah Zack.
"Gua hampir mati, Dave!" keluh Zack.
"Hampir, kan? Belum mati juga," Dave sewot, ia terus menembak musuh.
__ADS_1
"Lo kemana aja sih,"
"Gua ambil senjata lagi di ruangan bawah tanah, sekalian ngirim senjata ke kamar Ken kalau nanti kepepet. Gua udah blokir sih akses masuk ke lorong yang menuju kamar Ken. Biar Ken dan Naina aman di sana," jawab Dave.
"Gua pesimis kali ini, Dave!" ucap Zack.
"Sewot lo! Ambil senjata ini, bantu gua! Mereka banyak, man!" Dave menyodorkan senjata, sebuah pistol laras panjang.
"Okay, bergerak atau mati!!!" Zack kembali bertarung.
Dor dor dor....
Baku tembak terus berlangsung. Dave tidak tinggal diam di situ saja, ia merayap ke samping. Ia serang musuh yang bersembunyi di seberangnya habis-habisan, modal nekat. Zack melindungi Dave saat pria itu berjalan perlahan mendekati musuh.
Hingga empat musuh tumbang, Dave rebut senjata mereka. Ia semakin membabi buta. Ia mengeluarkan bubuk cabai yang ia ambil dari meja dapur. Dia lempar bergitu saja ke balik sofa ruang tengah yang dipakai berlindung musuh.
Aaarrghh pedasss!!!!!
Teriakan mereka serta merta terdengar, Dave lalu berlari ke sofa tu. Zack terus melindungi Dave dari jauh agar tidak ditembak musuh yang lain. Dave menghajar satu persatu musuh yang terkena bubuk cabai.
Bug bug bug,
Dave menendang dan menginjak kedua musuh itu tanpa ampun. Kepala mereka juga tidak luput dari serangan Dave. Darah segar mengalir dari telinga dan hidung kedua orang itu, tapi Dave masih menendang kepala mereka seperti sedang bermain sepak bola.
"Dave, cukup! Bantu gua!" teriak Zack dari kejauhan.
Kakinya terpaksa berhenti juggling kepala kedua musuh tadi. Ia beralih ke senjatanya. Ia arahkan moncong senjata api itu lalu membidik musuh. Musuh masih banyak, jumlah mereka tidak seimbang dengan musuh. Kejadian yang sama terulang lagi.
Arrrgghhh....
Lengkingan panjang Zack terdengar. Dave terkesiap, ia melihat Zack dari kejauhan.
"Zackkk!!!!!" teriak Dave.
Zack terkulai lemas di lantai, tadi lengan kirinya tergores. Sekarang lengan kanannya tertembak. Dave terus menembaki musuh agar musuh tidak menyerang Zack lagi. Zack mengatur napasnya agar ia tidak panik melihat darah yang mengucur di kedua lengannya sekarang.
Pertarungan kian sengit, karena hanya Dave yang tersisa. Zack tidak mampu mengangkat senjata. Ia hanya bersembunyi seperti tikus.
Dor,
"Aarrghhh!" kali ini Dave yang berteriak.
"Dave!" Zack mengintip Dave dari kejauhan.
Dave bersandar di sofa dengan lemas. Tangan kanannya terus memegangi perut sebelah kirinya. Dave tertembak, waktu seakan berhenti untuk Dave.
"Aku tidak boleh mati sekarang," lirih Dave.
Di saat yang sulit ini, Dave melepaskan kaos lengan pendek yang ia gunakan. Kaos itu ia gunakan untuk melilit perutnya, agar perdarahannya berhenti. Ia teringat Aryn dan Davin sekarang, dirinya tidak boleh meninggalkan mereka.
Musuh masih terus menembak ke arah Dave. Dave bangkit, susah payah ia mengambil senjatanya. Ia tembak lagi para musuhnya. Zack khawatir dengan Dave dan dirinya. Dia tidak mau mati sekarang. Zack juga bangkit, meskipun kedua lengannya terluka, ia ambil senjata. Ia sandarkan senjata itu ke lantai.
Kekuatan Dave dan Zack semakin melemah, kesadaran mereka bahkan semakin menurun karena perdarahan yang dialami.
Bug,
Dave tergeletak lebih dulu. Kepalanya terasa sangat pusing, apalagi perutnya rasanya luar biasa sakit. Pasrah mungkin keputusan yang diambil Dave sekarang. Perlahan suara tembakan itu menjauh dari pendengarannya.
Dor dor....
"Rezaaa!!!"
Sebelum Dave tidak sadarkan diri, ia masih bisa mendengar samar-samar suara peluru yang ditembakkan ke langit dan juga suara Zack yang memanggil nama Reza.
__ADS_1
.....................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!