
Mobil Reza baru saja meninggalkan markas. Di belakangnya ada mobil Ken. Mereka berpisah di ujung jalan. Reza akan menuju ke rumah sakit. Sementara Ken pulang ke rumahnya. Luka Ken belum sepenuhnya pulih, Reza menyuruh orang untuk mengantarkan Ken dan istrinya.
Dave dan Zack dibawa ke rumah sakit keluarga Dave. Entah sekarang bagaimana keadaan mereka, Reza saja belum sempat membuka ponsel.
"Ah iya, aku harus mengabari Silvi," Reza teringat Silvi.
Ada begitu banyak pesan masuk dan panggilan tidak terjawab dari Silvi.
Kakak dimana? Kakak baik-baik aja kan? Aku sekarang sedang ada di rumah sakit, Kak Dave dan Zack terluka parah. Cepat kabari aku ya, kak! Aku khawatir...
Begitulah isi salah satu pesan yang dikirim Silvi untuk Reza. Pasti Silvi sekarang sangat mencemaskan Reza, sejak tadi Reza tidak ada mengabari Silvi. Reza mempercepat laju mobilnya.
Mobilnya ia parkir tepat di depan rumah sakit. Reza langsung berlari menuju ke ruang emergency. Sudah ada Aryn, Silvi, dan Mei yang menangis sesenggukan di depan ruangan itu. Dan Glen juga turut duduk bersama mereka. Sementara Samuel, dia berdiri di samping pintu emergency room.
"Kak..." Silvi menghambur memeluk Reza.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir!" Reza mengelus kepala Silvi.
Tidak mau kalah dari Silvi, Glen juga menghambur memeluk bosnya itu. Reza melepaskan pelukan Glen dengan paksa. Silvi menyilangkan tangannya di depan dada.
"Maaf Bu Bos, saya kan juga khawatir dengan Bos Reza," ucap Glen.
"Aku baik-baik saja, sudah kan? Sana!" Reza kesal.
Glen mundur beberapa langkah, ia kembali bergabung dengan Aryn dan Mei. Reza diambil alih oleh Silvi.
"Bagaimana keadaan Dave dan Zack?" Reza melepas pelukan Silvi dan menatap kedua netra istrinya yang basah itu.
"Dokter belum keluar sejak tadi, Za!" Samuel menyahut.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kak?" Silvi menuntut jawaban dari suaminya.
"Nanti aku ceritakan, sayang!" lirih Reza.
Reza menuntun Silvi untuk duduk di kursi tunggu. Ia dikejutkan dengan Aryn dan Mei yang bergelayutan pada Glen. Bahkan Glen juga menangis.
"Kenapa dokternya nggak keluar-keluar, sih!" Aryn menggerutu.
"Aku khawatir ini..." Mei juga menggerutu.
"Kalian sabar dulu, okay? Semua akan baik-baik saja, girls!" Glen mengusap air matanya.
"Untung ada kamu disini, Glen!" Aryn menangis di lengan kiri Glen, Glen mengusap kepala Aryn dengan tangan kanannya.
"Iya huhuhu..." Mei juga sama, ia menangis di lengan kanan Glen.
"Kalian tenang aja, Glen tampan akan selalu ada untuk kalian, girls!" sahut Glen.
Tangis mereka berhenti sejenak kala pintu emergency room terbuka. Seorang dokter keluar dari ruangan itu. Langsung saja mereka semua yang menunggu sejak tadi segera menghampiri dokter tersebut.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan mereka berdua, dok?" tanya Reza mewakili semua orang di sana.
Dokter melepas masker yang dikenakannya. Ia menarik napas panjang, lalu memberikan penjelasan.
"Keadaan Tuan Zack baik sekarang, peluru di lengannya telah kami keluarkan. Lengan yang tergores juga sudah kami jahit lukanya. Tuan Zack sudah sadar sekarang, hanya saja masih sedikit lemas. Kalian bisa menemuinya, tapi mohon dengan sangat agar lengannya tidak terlalu banyak bergerak terlebih dahulu. Sedangkan Tuan Dave...."
"Dave juga baik-baik saja kan, dok?" Aryn tidak sabaran, pipinya banjir air mata.
"Tuan Dave....Saat ini kami sedang memberikan transfusi darah. Beliau kehilangan banyak darah karena luka di perutnya. Untung peluru tidak sampai merusak organ dalamnya. Hanya saja Tuan Dave masih belum sadarkan diri. Tapi kalian tidak perlu khawatir, Tuan Dave telah melewati masa kritisnya." lanjut dokter.
Aryn menghela napas lega, begitu pula semua orang.
"Saya bisa menemui Dave, dok?" tanya Aryn.
"Silahkan saja, tapi bergantian. Saya permisi dulu," dokter tersebut meninggalkan emergency room.
Beberapa saat kemudian. Beberapa dokter dan perawat yang tadi turut andil menyelamatkan Dave dan Zack juga meninggalkan ruangan itu. Mei bergegas masuk untuk melihat keadaan Zack. Aryn juga masuk. Yang lainnya nanti akan masuk bergantian.
"Zack..." Mei mendekati Zack.
Zack tampak tersenyum.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Mei.
Zack menggeleng, "Mendekatlah!" ucapnya.
"Mendekatlah lagi!" ucap Zack.
Mei bingung, ia didekatkan saja wajahnya pada wajah Zack. Tampak Zack memandangi wajah Mei.
"Kamu terlihat aneh saat menangis, cepat hapus air matamu!" Zack terkekeh.
"Sedang sakit begini masih saja meledek! Aku menangis juga gara-gara kamu! Paling tidak kamu romantis dikit gitu, hapuskan air mataku!" Mei menggerutu.
Zack tertawa.
"Andai aku bisa, sudah aku lap air matamu dengan kanebo! Kamu tidak lihat lenganku diperban semua?" jawab Zack.
Saat ini Zack mengenakan baju pasien berlengan pendek. Di kedua lengan Zack dibalut dengan perban yang lumayan tebal. Lengan Zack dua-duanya terasa sakit walau hanya bergerak sedikit.
"Apa yang terjadi tadi? Kenapa bisa dua-duanya terluka?" Mei menatap kedua lengan Zack yang terluka.
"Namanya juga perang," Zack memutar bola matanya malas.
"Oh begitu," Mei mengangguk.
Mei dan Zack mengobrol lumayan lama. Reza, Silvi, Samuel, hingga Glen bergantian menjenguk Zack. Hanya saja mereka tidak boleh mengobrol dengan suara yang keras. Mengingat kondisi Dave yang masih juga belum sadarkan diri. Dave dan Zack hanya dipisahkan oleh tirai pembatas.
Aryn menunggu suaminya yang masih belum membuka mata. Selang infus menempel di tangan suaminya. Hidungnya juga terpasang selang oksigen.
__ADS_1
"Aku ada di sini, sayang! Cepatlah sadar, aku merindukanmu..." Aryn menciumi wajah Dave.
Aryn sesekali mengelus rambut Dave. Ia perhatikan wajah Dave dengan sayang. Tangannya meraba dahi, hidung, pipi, dan bibir Dave.
"Biasanya bibir ini tidak berhenti memanggilku. Sayang sayang....Aku rindu mendengarmu merengek minta diperhatikan," ucap Aryn sedih.
"Sabar ya, Dave pasti segera sadar kok!" Mei berdiri di tirai pembatas.
Tadi Mei mendengar ucapan pilu Aryn. Ia belum melihat kondisi Dave tadi, sekalian saja ia memberitahu Aryn mengenai apa yang dikatakan Reza padanya.
"Iya, Mei! Terima kasih," jawab Aryn.
"Reza tadi bilang sebentar lagi Dave dan Zack akan di pindah ke ruang perawatan agar mereka juga lebih nyaman. Baju ganti kita akan disiapkan Reza dan Silvi. Kalau urusan Davin, kamu tenang saja Glen sudah diutus Reza untuk mengurusnya." ucap Mei.
"Terima kasih," Aryn mengangguk.
Seperti yang dikatakan Mei, beberapa perawat masuk ke emergency room itu. Mereka terbagi menjadi dua tim. Yang satu memindahkan Dave ke ruang perawatannya. Sementara yang lain membawa Zack. Aryn dan Mei mendampingi suami mereka masing-masing.
Ruang rawat Dave dan Zack berhadapan, dipisahkan lorong antar kamar. Sebagai putra dari pemilik rumah sakit, Dave mendapatkan ruang rawat eksklusif. Begitu juga Zack, ia turut kecipratan karena dia adalah sahabat baik Dave.
Sejak pindah ruangan tadi Zack terlihat seperti menahan sesuatu. Mei baru memperhatikannya saat keluar dari kamar mandi. Ruang perawatan itu dilengkapi kamar mandi pribadi, TV, sofa, hingga lemari es.
"Kamu kenapa?" tanya Mei.
"Tidak," Zack memalingkan wajahnya.
"Beneran?"
"Iya..." jawab Zack.
Karena Zack mengatakan dirinya tidak apa-apa, jadi Mei kembali duduk di sebuah kursi kecil di samping bed Zack. Tiba-tiba saja Zack bertingkah lebih aneh. Kakinya digerak-gerakkan.
"Sebenarnya kamu kenapa sih?" Mei kesal.
"Jangan ketawa tapi..." jawab Zack.
"Iya iya!" Mei sewot.
"Aku kebelet buang air kecil," ucap Zack malu.
Saat ini mendadak kedua pipi Zack merah. Ia menahan malu.
"Yaudah ayo!" Mei beranjak dari kursi.
"Kemana?" Zack gugup.
...................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!
__ADS_1