
Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga semuanya sehat selalu ya!
.............
Reza mengemudikan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Tidak peduli lampu lalu lintas yang menyala merah. Tidak sedikit pengendara lain memaki Reza. Sekarang Reza mengejar waktu, serangan kali ini bukan main-main. Tidak hanya 5 atau 10 orang yang menyerang. Tapi lebih banyak dari itu. Anak buahnya saja kewalahan, tidak ada pilihan lain ia harus pergi ke mansion Dave. Sekarangpun Reza memilih jalur yang berbeda, untuk menghindari kejaran.
"Bos, kaki saya kesemutan! Saya tidak bisa merasakan kaki saya!" rintih Glen.
"Diamlah! Nyawa kita terancam saat ini!" Reza membentak Glen.
"Baiklah...." jawab Glen sendu.
Glen menahan kakinya yang terasa kesemutan sekarang akibat memangku Zack. Wajar saja jika kakinya kesemutan, Zack itu pria yang tinggi dan kekar. Tingginya bahkan lebih dari tinggi badan Glen.
Reza awalnya akan meminta bantuan pada Dave. Jika Dave enggan membantu masih ada Erick yang akan membantunya. Silvi juga handal dalam bertarung dan menggunakan senjata. Tapi harapannya pupus. Baru saja ia melewati kebun Silvi, ia bisa melihat tengah terjadi kekacauan di mansion Dave. Mobil Samuel bahkan sudah terparkir di halaman, sudah pasti ada yang tidak beres.
Sebelum keluar dari mobil, Reza melihat sekeliling. Sepertinya tidak ada yang mengikutinya. Ia bergegas membantu Glen untuk membawa Zack masuk juga ke mansion. Zack sudah berhasil ia keluarkan dari mobil, tinggal Glen yang belum. Entah kenapa Glen malah diam saja di dalam mobil.
"Ikut enggak?" seru Reza.
"Bos,sebentar!" jawab Glen.
"Apa lagi?" keluh Reza.
"Kaki saya, bos! Lemas!" Glen memijat kakinya pelan.
Reza menunggu beberapa saat sampai Glen bisa berdiri dan membantunya. Mereka memapah Zack masuk ke dalam.
"Sahabat bos ini kebanyakan dosa apa hutang, ya? Berat.." keluh Zack.
"Kebanyakan dosa, dia itu penjahat wanita!" Reza terkekeh.
Kebetulan mereka berpapasan dengan seorang penjaga. Penjaga itu terlihat teburu-buru keluar dari mansion.
"Ada apa ini?" tanya Reza pada penjaga itu.
Penjaga itu tidak merespon, ia berlarian begitu saja melewati Reza. Sepertinya ia mendapat tugas penting. Reza bersama Glen dan Zack masuk ke dalam, agar lebih tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka bertiga berpapasan lagi dengan beberapa penjaga, tetapi membawa beberapa karung.
"Apa itu?" Reza menghentikan salah satu penjaga.
"Ular, tuan!" jawab penjaga itu.
"Ularrr??" Glen bergidik ngeri, ia langsung waspada dengan sekelilingnya.
"Semua karung ini isi ular? Berbisa?" seru Reza.
"Iya, tuan! Semua karung ini isinya ular, ada banyak yang berbisa tapi ada juga yang tidak berbisa! Kami permisi dulu, kami harus memusnahkan ular-ular ini!" Para penjaga itu keluar dari mansion.
Apa yang sebenarnya terjadi? Tadi Reza dan Zack diserang habis-habisan. Ternyata mansion ini pun diserang. Ular-ular sebanyak itu pasti sengaja dilepaskan oleh orang suruhan yang menyamar.
Semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah. Reza, Zack, dan Glen bergegas ke sana. Saat mereka tiba, wajah semua orang terlihat tegang dan ketakutan. Reza dan Glen membaringkan tubuh Zack di sofa.
"Kak Reza kenapa ke sini?" Silvi menghampiri Reza.
Reza bisa melihat dengan jelas, Silvi ketakutan. Reza memeluknya sebentar, perhatiannya teralihkan oleh darah pada tangan Silvi.
"Kamu berdarah!" pekik Reza.
Reza memegang tangan Silvi yang berlumuran darah. Ia mengolak-alik tangan Silvi, sepertinya tangan Silvi terluka cukup parah. Reza merasa sangat cemas.
"Tenang, kak! Ini darah ular-ular sialan itu!" jawab Silvi membuat Reza menghela napas lega.
"Apa yang terjadi?" Reza menatap semua orang.
__ADS_1
"Tadi tiba-tiba ada Ily berteriak, saat aku turun ternyata sudah ada banyak ular. Dan para penjaga berusaha menangkapnya, bahkan Babang Samuel sampai dipanggil ke sini! Lihat itu masih ada banyak kayaknya di halaman belakang!" Silvi menunjuk penjaga yang membawa karung.
"Bagaimana bisa ada ular sebanyak ini? Bukankah penjaga selalu stand by?" seru Reza.
"Ini semua terjadi saat semua orang sudah bersiap tidur di kamar masing-masing. Pasti ada penyusup, dan melepaskan ular-ular itu! Untung anak-anak aman!" sahut Erick.
"Zack kenapa, Za?" Samuel angkat bicara.
"Sebenarnya apartemen Zack tadi diserang," jawab Reza.
"Zack tertembak?" seru Dave dengan suara keras.
Semua orang langsung menatap Zack yang masih terbaring lemas di sofa. Dave dan Samuel menghampiri sahabatnya itu. Memeriksa bagian tubuh Zack mana yang tertembak atau terluka.
"Tidak... Dia itu pingsan karena melihat darah orang yang menyerang itu," jawab Reza.
"Astaga! Belum sembuh ternyata anak ini," Samuel terkekeh.
"Terus kenapa lo ke sini?" tanya Dave dengan sinis.
"Gua cari tempat aman, Zack pingsan. Kalau ada serangan lagi mana mungkin bisa bertahan kalau gua sendirian? Anak buah gua aja kewalahan. Makanya gua memutuskan untuk ke sini," Reza menjawab dengan menatap Dave.
"Itu kacung lo? Nggak bisa bertarung?" tanya Dave.
"Lihat musuh mati saja dia nangis," Reza menatap Glen.
"Cih, lemah!" Dave meledek.
Dari arah halaman belakang. Frans datang, kondisinya payah. Bajunya berantakan, bahkan kotor dengan tanah. Semoga semua ularnya sudah tertangkap. Semua penjaga sudah dikerahkan untuk menyisir setiap sudut, untuk memastikan apakah masih ada ular. Kalau ditanya, Frans sebenarnya juga takut dengan ular. Tapi mau bagaimana lagi, demi keamanan tuannya ia harus menghadapi rasa takutnya.
"Baru kembali bekerja sudah dapat tugas berat," gumam Frans.
"Bagaimana? Sudah beres? Aku tidak mau kalau sampai keluargaku celaka!" seru Dave dengan lantang.
"Okay!" Dave mengangguk.
Syukurlah, situasi sudah membaik. Erick menyuruh Katy dan Aryn untuk membawa anak dan cucunya ke kamar. Zack juga sudah sadar dari pingsannya. Para pria sedang berdiskusi sekarang, Silvi tidak mau ketinggalan. Mereka merundingkan langkah apa yang akan mereka ambil. Serangan kali ini tidak bisa dianggap remeh.
"Tadi saat aku sampai, aku berpapasan dengan beberapa penjaga. Tapi saat aku bertanya mereka tidak menjawab, mereka terlihat terburu-buru. Kemungkinan besar ada yang disembunyikan penjaga itu!" Reza mengingat kejadian saat ia sampai di mansion tadi.
"Nah, pasti mereka terlibat! Tidak salah lagi," seru Samuel.
"Masalahnya kenapa lo biarin penjaga itu pergi?" Dave terlihat kesal pada Reza.
"Gua nggak mikir sejauh itu lah!" sahut Reza.
"Orang kayak lo gini nggak dibutuhin di sini! Pergi dari mansionku!" seru Dave.
"Gua datang ke sini baik-baik, jangan nyolot dong! Gua juga diserang di waktu yang sama. Besar kemungkinan orang dibalik semua ini sama! Di saat seperti ini jangan mikirin ego!" Reza mencoba tenang.
"Benar itu, Dave! Sekarang kita harus bekerja sama untuk mengurus semua ini. Reza bisa diandalkan, apalagi urusan melacak dan meretas. Kau tidak kasihan sahabat sekaligus calon adik iparmu diserang musuh di luaran sana?" Erick membela Reza.
"Gua setuju dengan Om Erick, Dave! Come on! Jangan biarkan perselisihan membuat kita lemah! Musuh kali ini tidak tahu siapa kita sebenarnya, harus kita bereskan sebelum orang tersayang yang diserang!" sahut Samuel.
"Please jangan egois di saat genting seperti ini, kak!" imbuh Silvi.
"Okay, fine!" Dave mengalah, di sini hanya ia yang tidak sepihak tentu pasti kalah suara.
Hening,
Masing-masing dari mereka sibuk dengan pikirannya. Beberapa pelayan menghidangkan minuman dingin dan aneka snacks. Kejadian tadi pasti menguras tenaga mereka.
Glen merasa ada sesuatu yang aneh di tubuhnya. Sesuatu yang bergerak di punggungnya. Awalnya Glen cuek, ia berpikir mungkin tangan bosnya usil. Karena Reza duduk di sampingnya sekarang. Tapi Glen salah, benda itu terus bergerak merayap di punggungnya. Ada sensasi dingin menyentuh kulitnya. Reza melihat tingkah Glen yang aneh.
__ADS_1
"Kau kenapa?" tanya Reza, semua orang menatap Glen sekarang.
"Ada sesuatu," jawab Glen.
Glen memberanikan diri menelusupkan tangannya ke punggung. Astaga! Glen memegang sesuatu yang kecil dan empuk. Glen menekan-nekannya sebentar, seperti permen pikirnya. Tanpa menunggu lama, ia mengeluarkan benda itu.
"Seperti permen, bos!" ucapnya saat mengeluarkan benda itu dari punggungnya. Semua orang tertawa kecil mendengar ucapan Glen.
"Itu..." seru Frans.
Melihat ekspresi Frans, Glen mengerinyitkan dahinya. Ia belum melihat benda empuk apa yang ia pegang. Glen melihat ke tangannya.
"Aaaaaa..." teriak Glen.
Ternyata yang dipegang Glen adalah seekor ular kecil. Berwarna belang-belang, tidak berbisa. Tangan Glen gemetaran.
"Bos, ini bukan permen yupi! Ini cacing..." teriak Glen histeris.
"Bukan cacing, tapi ularrrr! Sssshhh..." Reza menirukan gerakan ular.
"Aaaaa....." Glen melemparkan ular itu.
"Aaaaaa....." teriak Frans, ular itu jatuh di tangannya.
Frans terkejut sekaligus takut. Tadi saat menangkap ular saja ia menggunakane4 tongkat khusus. Sekarang malah memegangnya langsung. Frans melemparkan ular itu.
"****!" umpat Samuel, ular itu jatuh padanya.
Samuel melempar ular itu lagi. Bukannya takut, ia sudah lelah menangkap ular sejak tadi, ia tidak ingin berurusan dengan ular lagi. Terjadilah aksi lempar-lemparan ular.
"Damn!" Zack terkejut, ular itu mendarat di kepalanya.
Karena rambutnya yang sedikit gondrong, ular itu bergelayutan di rambutnya. Silvi tidak berhenti tertawa melihat Zack.
"Sudah seperti raja ular," Silvi terkekeh.
Zack merasa kesal. Ia mengambil ular itu dari rambutnya. Ia tidak merasa takut sama sekali, lalu ia melemparkan ular itu pada Silvi.
"Hahahaha..." tawa Silvi semakin keras.
Bukannya mengenai Silvi, ular itu mengenai Dave. Jatuh di pangkuan Dave. Melihat ekspresi dingin Dave, Silvi yang tadinya tertawa jadi diam. Semua orang juga diam. Dave beranjak dari sofa, tangannya memegang kepala ular kecil itu. Dave memberikan ular itu pada penjaga dan menyuruhnya untuk membuangnya. Semua orang tidak berani menatap Dave, mereka saling senggol-senggolan bahu.
"Gara-gara kau!" bisik Reza.
"Kok saya, bos? Salah ularnya masuk ke baju saya!" sahut Glen.
"Dasar!" bisik Reza.
"Tuan Dave nggak ada kalem-kalemnya sama sekali ya, bos?" ucap Glen.
"Ssshhh!" Reza menyuruh Glen diam.
Drrttt...drrttt....
Ponsel Reza berdering. Ia mengangkat telepon itu, dari anak buahnya yang ia tugaskan mengurus musuh di apartemen Zack. Reza sangat terkejut. Anak buahnya bilang, musuh berhenti menyerang anak buah Reza dan justru membuat kerusuhan di area gedung apartemen. Beruntung apartemen Zack sudah dibereskan, bekas pertarungan tadi sudah dibereskan. Tapi lantai tempat unit apartemen Zack berada dikuasai musuh. Sepertinya orang misterius yang dibunuh Reza tadi bagian penting dari mereka.
Kabarnya ada seorang gadis yang masih ada di dalam unit apartemennya. Para polisi berdatangan untuk mengamankan lokasi. Polisi ada di pihak anak buah Reza. Walaupun anak buah Reza terlibat dalam perkelahian itu, tapi anak buah Reza berusaha memukul mundur para perusuh.
"Mei..." lirih Zack.
Zack meminta kunci mobilnya yang dibawa Reza. Ia langsung berlari keluar mansion dan meluncur ke apartemennya. Samuel, Reza, dan Dave tidak tinggal diam. Mereka tidak akan membiarkan sahabat mereka yang takut darah menghadapi bahaya sendirian, mereka menyusul Zack. Frans dan Glen ditinggal di mansion, mereka berdua akan berjaga dengan Erick.
..................
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!