Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
KAMBING GULING


__ADS_3

"Go Glen go Glen go! Kau pasti bisa!"


Aryn, Mei dan Silvi riuh menyemangati Glen. Mei sampai baik ke sofa sambil melompat-lompat. Glen menatap nanar kambing guling di hadapannya.


Tadi ia disuruh Reza untuk membelinya. Setelah ia bawakan ke rumah, Silvi hanya mencicipnya sedikit. Dan sekarang, Glen yang diminta untuk menghabiskan kambing guling itu.


"Go go go! Glen pasti bisa!" teriakan Silvi terdengar paling keras.


Bibir Glen dipenuhi minyak. Kedua tangannya belepotan pipinya juga. Kambing guling itu baru berkurang 1 kaki depannya. Masih banyak sekali.


"Minum dulu, nih minum!"


Mei memberikan satu botol air mineral. Glen meneguknya cepat. Sejurus kemudian ia mengangkat kedua tangannya.


"Tidak kuat, Glen tampan menyerah!" Glen mengangkat tangannya, ia menunduk bersiap jika Bu Bos mengomel. Ternyata tidak, Silvi malah memanggil Reza, Zack, dan Dave mendekat.


"Iya sayang?" Reza mendekat.


"Ada apa Silvi?" Zack mendekat.


"Kenapa memanggil?" Dave juga mendekat.


Dave dan Zack sama-sama telah pulih. Luka jahitan mereka kering dan membaik. Hanya saja Dave jalannya masih berhati-hati. Dari luar jahitan di perutnya memang sudah kering. Tapi kalau mengangkat yang berat sedikit saja, rasanya masih sakit.


"Karena Glen kewalahan, aku mau kalian bertiga yang menghabiskan sisanya,"


"APAAAA!!!!!" ketiga pria itu terkejut bukan main.


"Kukira ucapanku tadi cukup jelas dan sangat mudah dipahami,"


"Sayang sayang...Kamu tidak takut nanti kolesterolku tinggi? Tekanan darahku juga bisa jadi tinggi nanti," Reza menatap Silvi memohon.


"Aku punya riwayat kolesterol loh, Sil!" Zack menatap Silvi.


"Aku juga," Dave ikut-ikutan mengatakan alasan.


"Kamu tidak punya riwayat kolesterol apalagi darah tinggi," Aryn dan Mei berjaya serempak.


Zack dan Dave saling menatap. Istri mereka tidak mendukung. Aryn dan Mei cekikikan suami mereka ikut dikerjai si bumil yang satu ini. Jarang-jarang mereka melihat suami mereka berwajah melas.


"Kambing gulingnya enak loh padahal. Atau kalian mau anakku nanti ngiler ya? Anakku loh yang minta,"


"Kapan dia mengatakannya, sayang?" sahut Reza.


"Tadi,"

__ADS_1


"Kasihan anak kita loh sayang, masih dalam kandungan saja sudah kamu fitnah,"


"Jadi maksud kakak, aku berbohong? Ini permintaan anakmu loh, sayang!" ๐Ÿ˜ก


"Ah tidak begitu, sayang! Aku tidak bermaksud,"


"Kalau kamu protes, kenapa tidak kamu saja yang mengandung!"๐Ÿ˜’


"Ma-maaf sayang..." Reza memegang tangan Silvi.


"Nah loh, ngambek!" Zack tertawa.


Reza hendak mencium tangan Silvi tapi ditepis. Sial, istrinya ngambek beneran.


"Ayo Dave, Zack! Kita makan kambing guling ini!"


Reza menarik Dave dan Zack, tidak ada pilihan lagi. Ia tidak bisa melihat istrinya bersedih. Permintaan ini tidak seberapa dibanding pengorbanan Silvi mengandung darah dagingnya.


"Makan makan makan!" sorak Aryn, Mei, dan Silvi memenuhi ruangan. Bahkan Davin ikut-ikutan.


"Semangattt!!!" teriakan Glen yang paling kencang.


"Oh god, selamatkan kami!" Zack berdoa dalam hati.


Ketiganya mengiris kambing guling di hadapan mereka menggunakan pisau secara bergantian. Dan meletakkannya di piring masing-masing. Tidak terjadi apapun di suapan pertama mereka.


Saat bersiap menuju suapan kedua, ponsel Dave berdering. Dave mengangkat teleponnya, Reza dan Zack lanjut makan.


"Halo, Sam!" Dave menempelkan ponselnya ke telinga. Samuel yang menelponnya.


"............."


Mendadak Dave jadi sumringah.


"Katakan sekali lagi, Sam! Aku sudah menyalakan load speaker, kebetulan Reza dan Zack bersamaku!" suara Dave sengaja dikeraskan.


Seketika semua orang menutup mulut. Reza dan Zack berhenti makan, fokus mendengarkan karena nama mereka dibawa-bawa tadi. Apalagi yang menelpon Dave adalah Samuel. Mungkin ada hal penting atau Genting. Semoga saja, agar mereka bisa meninggalkan kambing guling itu.


"Tahap pembangunan Red Resort sudah 75%. Sebaiknya kalian semua kemarilah, mungkin nanti kalian ingin mengusulkan rancangan tambahan."


Seperti pelangi yang hadir setelah hujan badai, suara Sam membawa kebahagiaan untuk Dave, Reza, dan Zack. Zack langsung memejamkan kedua matanya, ia satukan tangannya.


"Kau mengabulkan doaku," gumam Zack.


Diam-diam tangan Reza dan Dave mengepal, mereka senang. Telepon dari Samuel menyelamatkan mereka bertiga dari siksaan kambing guling Silvi.

__ADS_1


"Maaf Silvi, kita bertiga harus pergi sekarang!" Zack kini menatap Silvi.


"Iya benar itu sayang, kami harus pergi! Kamu dengar sendiri kan?" Reza menggenggam tangan Silvi.


"Baiklah. Tapi kemana, kak? Aku baru mendengar Red Resort,"


Reza mengalihkan pandangannya dan menatap Dave. Dari tatapan matanya seperti meminta izin.


"Kita semua akan pergi ke sana. Pertanyaanmu akan terjawab di sana, Silvi!" seru Dave.


"Ya sudah, kambing gulingnya dibawa saja!" Reza merasa was-was setelah mendengar ucapan istrinya.


"Untuk apa, sayangku?" Reza menatap Silvi.


"Dimakan dong, bos! Bos kan belum jadi makan tadi...Iya kan, Bu Bos?" Glen cengar-cengir.


"100 buat kamu, Glen!" Silvi mengacungkan dua jempolnya.


Dave dan Zack menatap Reza. Reza harus membujuk Silvi, ia tahu itu. Kedua sahabatnya selalu menumbalkan dirinya. Tatapan Reza terkunci dengan Glen.


*Awas saja kau, Gentong! Kau bahagia diatas penderitaanku, aku pecahkan perut gentongmu itu baru tahu rasa, batin Reza.


Maaf, bos! Agar bos juga merasakan mabuk kambing guling, batin Glen*.


"Kalau dibawa nanti mobilku bau kambing guling dong, sayang!"


"Jadi kamu lebih sayang mobil daripada anak ha?" ๐Ÿ˜ก


"Bukan begitu, aduh salah terus perasaan..." Reza mengelus dadanya bersabar. ๐Ÿ˜Œ


"Kambing gulingnya ditinggal saja sih, Sil! Ribet kalau dibawa, ayo buruan berangkat! Aku sudah penasaran sama resort yang dibicarakan Samuel." Mei menggandeng tangan Silvi.


Silvi mengikuti langkah Mei, ia juga tidak sabar ingin tahu Red Resort. Akhirnya kambing guling itu ditinggal. Silvi seperti lupa begitu saja.


"Istriku, man!" Zack menunjuk Mei dengan bangga.


Mei menyelamatkan ketiga suami tampan itu. Mereka semua bergegas menyusul Silvi dan Mei. Glen keluar paling akhir, ada surat kekecewaan di wajah Glen. Ia gagal melihat bosnya mabuk kambing guling sepertinya tadi. Sepertinya besok hanya dirinya yang akan mengeluh tekanan darah menjadi tinggi sendiri.


Para suami berada satu mobil dengan istri masing-masing. Mobil Reza di masuki penumpang tambahan, yaitu Glen. Iring-iringan mobil mereka perlahan meninggalkan kompleks perumahan.


Di antara mereka, para istri lah yang paling antusias. Mereka belum tahu sama sekali mengenai Red Resort. Para suami sengaja tidak memberitahukan mengenai pembangunan resort itu pada istri mereka. Sekitar 40 menit, mobil mereka telah memasuki kawasan tujuan. Mobil mereka berhenti di halaman. Satu persatu dari mereka turun dari mobil.


"Selamat datang di Red Resort!" Reza, Dave, dan Zack bergaya sambil merentangkan tangan.


"Waahhh...."

__ADS_1


....................


Yuk dilike dulu sekalian divote juga boleh, kalau likenya banyak author kan jadi semangat mau up๐Ÿ˜Š


__ADS_2