
"Gua ada sesuatu, lo harus liat!" Zack mengambil ponselnya.
Reza mengkerutkan kedua alisnya. Ia mendekat ke Zack, menunggu apa gerangan yang akan ditunjukkan sahabatnya itu. Glen juga mendekat karena penasaran.
"Nih nih..." Zack membuka sebuah video. Entah video apa, karena sampulnya hanya hitam, " Lo pasti kaget," ucap Zack.
Video diputar, 5 detik pertama hanya gambar hitam yang terlihat. Dan di detik ke-6....
"Eh eh eh...Malah kuda-kudaan!" teriak Glen histeris.
Kedua mata Reza melotot, ia menatap tajam sahabatnya itu. Zack ternyata memutar video yang seharusnya tidak dilihat.
"Aduh kenapa malah koleksi gua," Zack langsung mematikan video itu.
"Ya ampun Tuan Zack kalau kita video di cek dulu gitu, kedua mata suci saya ternodai jadinya, kan!" Glen menutup kedua matanya.
Reza menatap Zack sambil geleng-geleng.
"Bukan ini kok yang mau gua tunjukin, serius!" Zack kelimpungan.
"Gua nggak habis pikir lo masih....Jujur sama gua, koleksi lo masih komplit?" sahut Reza.
Zack mengangguk, "Gua lupa hapus, jadi ya masih komplit deh!" Zack menunjukkan isi ponselnya dia memperlihatkan video-video serupa pada Reza,"Yang koleksi lama juga masih," ucapnya kemudian.
"Gila, masih ada semua!" sahut Reza.
Namanya juga kaum pria. Isi otaknya hanya urusan pekerjaan dan ranjang, Reza malah fokus melihat koleksi Zack. Reza sebenarnya hanya heran, Zack sudah menikah tapi masih mengkoleksi hal seperti itu. Ia berpikir, mungkin saja pernikahan sahabatnya itu dalam masalah.
"Tuan, Bos...Ini jadi tidak? Atau mau menonton video itu saja?" Glen geram.
"Oh iya, sorry sorry terbawa suasana..." jawab Zack.
Zack mencari video sebenarnya yang akan ia tunjukkan pada Reza. Ia merasa tidak enak dengan Glen. Karena kejadian ini Glen jadi tau kebiasaan buruknya di masa lalu.
"Ini video aslinya kan, tuan?" Glen memastikan.
"Iya, kalian harus lihat ini!" ucap Zack.
Video diputar, nampak Clara dan adik tirinya bertemu di depan apartemen Clara. Mereka berdua berbicara serius, bisa dilihat dari gurat wajah mereka. Reza menyimak baik-baik percakapan diantara dua orang itu.
"Ini nomor baruku,"
"Baru lagi? Kau juga sudah pindah rumah? Identitas baru lagi?" seru Clara.
Adik tirinya itu mengangguk.
"Mau aja nerusin usaha papa? Kau selalu menuruti semua perkataan papa, kalau suatu hari dia menyuruhmu masuk ke jurang tidak mungkin kau menurutinya, kan?" tanya Clara.
"Kau hanya anak tirinya, kau tidak tau apapun mengenai papa ataupun usahanya," sahut adiknya.
Clara meninggalkan adik tirinya. Adik tiri Clara juga langsung meninggalkan tempat itu.
Video itu selesai sampai di situ.
"Darimana lo dapat video ini?" Reza penasaran.
"Waktu gua dijebak Clara, nggak sengaja aja orang gua dapet video ini. Walaupun nggak ada hubungannya sama kasus gua, gua simpan videonya siapa tau berguna nanti. Seperti sekarang," jawab Zack.
Reza mencerna percakapan antara Clara dengan adik tirinya di video tadi. Dari percakapan itu, Reza mempunyai rencana.
"Telpon orangmu, Glen!" perintah Reza.
"Siap, bos!" jawab Glen.
__ADS_1
"Sekarang," lanjut Reza.
"Siap, bos!" Glen mengambil ponsel dari sakunya.
"Kau tau apa yang harus kau lakukan?" tanya Reza.
"Emm....Tidak tau bos! Saya harus apa?" Glen menyengir.
Zack menoyor Glen.
"Suruh orangmu mencari tau tentang papa tirinya Clara, stupid!" serunya kemudian.
"Ohh siap siap!" Glen sekarang mengerti.
Glen menyuruh orangnya untuk melakukan tugas seperti yang diminta oleh bosnya dan Zack. Sementara itu, Reza duduk di sofa. Wajahnya menunjukkan ia sedang gelisah, memikirkan banyak hal sekarang.
"Gua minta maaf kalau video blue tadi bikin lo gelisah gini, nanti gua kirim semua videonya khusus buat lo," Zack duduk di dekatnya.
"Hmm?" Reza menatap Zack aneh.
"Simpan aja buat lo sendiri, pemandangan di kamar gua jauh lebih bikin gelisah dari video itu....Gua gelisah karena gua kepikiran masalah ini," Reza sewot.
"Okay okay, calm bro!" Zack menepuk bahu Reza.
"Gua jadi kepikiran Zack, lo juga kenal kan adik tiri Clara ini. Tapi dari dulu gua nggak pernah kepikiran cari tau background keluarganya. Siapa orangtuanya, siapa papanya, gua sama sekali nggak menganggap hal itu penting." ucap Reza.
"Sama, gua juga! Sekarang harus lebih hati-hati aja, Za! Orang kalau udah dendam, nggak akan berhenti sebelum dendamnya dibalaskan," sahut Zack.
Reza mengangguk setuju.
"Lapor bos, orang saya mulai bergerak!" ucap Glen.
"Okay," jawab Reza.
"Beli sendiri ya, Glen! Gua cuma beli dua tadi," ucap Zack jutek.
Glen mengangguk pasrah.
"Boss..." lantas ia menatap bosnya.
"Apa?" tanya Reza dengan jutek juga.
Glen menggerakkan jari jemarinya.
"Apa sih?" tanya Reza.
"Uang, buat beli makanan," Glen menyengir.
Reza memutar bola matanya malas.
"Nih!" Reza memberikan beberapa lembar uang.
"Kembaliannya dibalikin nggak, bos?" tanya Glen.
"Ambil aja, Udah pergi sana!" sahut Reza.
"Saya pergi dulu ya, bos!" Glen memberikan kiss bye pada Reza.
Uhuk uhuk....
Reza sampai tersedak makanannya. Mau mengumpat, Glen sudah lari dari sana.
"Kayaknya lo harus hati-hati juga sama sekretaris lo itu," Zack menahan tawa.
__ADS_1
"Gua masih normal Zack," Reza sewot.
Zack tertawa.
"Iya, lo normal. Tapi dia normal apa enggaknya kan nggak tau," ucapnya.
Reza bergidik ngeri mendengar ucapan Zack.
+++++++++
Di tengah hutan,
Setelah lama ditinggalkan, sebuah bangunan yang mewah dan besar itu masih terawat. Setiap harinya masih ada orang yang mengunjungi tempat itu, bahkan bermalam di sana. Meskipun tidak seramai dulu.
Markas Red Blood, begitulah bangunan mewah itu dinamakan. Sejak berakhirnya pencarian adik tiri dari istri sang pemimpin, Red Blood dibubarkan. Namun, hanya bisnis dan usaha mereka yang dibubarkan. Mereka semua anggota Red Blood tetap menjadi saudara. Markas ini juga masih digunakan untuk berkumpul para anggota.
Dor dor...
Suara tembakan timah panas terdengar nyaring.
"Kebanyakan di rumah bidikanmu meleset terus, Sam!" ucap Ken.
"Woah, kau kesini juga!" Samuel terkejut.
"Mampir sekalian, mumpung kerjaan dikit," Ken terkekeh.
"Dave?" Samuel celingukan.
"Biasalah, dia di rumah nempel sama istrinya. Minggu lalu aku dan Dave kesini, tapi baru satu jam dia pulang. Katanya kangen," jawab Ken.
Samuel terkekeh.
"Kehidupan kita semua berubah drastis setelah menikah. Yang penting komunikasi kita masih lancar aja," sahut Samuel.
Mereka berdua berbincang bersama. Beberapa teman yang lain juga bergabung. Mereka membicarakan banyak hal. Terutama tentang istri mereka.
"Kalian tau sendiri bagaimana Si Angel, setiap detik dia memintaku untuk ini itu..." seru Samuel.
"Untung Naina nggak gitu. Aku malah seperti raja kalau di rumah. Makan diambilin kadang disuapin, minum diambilin, pakaian disiapin, mau apa tinggal bilang... " Ken pamer.
"Nanti kalau sudah brojol anak kau, taulah sendiri.." sahut Samuel.
"Ini aja Angel mau punya anak lagi," lanjut Samuel.
"Kelyn sudah besar, jadi gas lah bro!" Ken menepuk bahu Samuel.
"Nanti dulu ah, belum siap kerja rodi😭,"
Ken terkekeh.
"Sam...Ken...." tiba-tiba ada yang meneriaki nama mereka.
Samuel dan Ken langsung berdiri, dan berlari ke depan. Mereka celingukan mencari ke arah sumber suara.
"Ada apa?" tanya Samuel pada temannya yang ada di teras.
"Gawat!" seru pria itu.
Dia memberikan teropongnya pada Samuel.
...........
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!
__ADS_1