
Malam harinya,
"Cepatlah sedikit!" teriak Zack dari ruang tamu apartemen Mei.
Sejak 30 menit lalu Zack sudah ada di apartemen Mei. Tujuannya adalah menjemput Mei untuk pergi bersamanya ke apartemen Clara. Hal itu merupakan ide gila Zack. Zack sebenarnya cukup muak dengan kelakuan Clara. Ia hanya membayar Clara untuk menjadi pacar yang ia ajak pulang ke rumah bertemu mama dan papanya, tapi tingkah Clara melebihi batas.
"Apakah kau mau dandan sampai besok pagi ha?" teriak Zack lagi.
Zack menatap isi apartemen Mei. Sembari menunggu ia memikirkan apa yang akan ia lakukan di apartemen Clara nantinya. Membawa Mei ke sana mungkin akan menjadi cara terindah memutuskan hubungannya dengan Clara.
Mei keluar perlahan dari kamarnya. Ia sengaja membuka pintu kamarnya perlahan agar Zack yang sedang melamun tidak terusik dengan keberadaan Mei. Mei sangat tidak percaya diri kali ini. Zack tadi memberikan pakaian untuk ia kenakan. Pakaian itu membuat Mei tidak nyaman.
Tiba-tiba Zack menoleh ke arah Mei. Mei langsung gugup dan hampir terjatuh. Ia memakai sepatu hak tinggi sekarang.
"Hati-hati!" Zack memegang tangan Mei, membantunya menyeimbangkan tubuh dengan sepatunya.
Dalam beberapa detik Zack terpana dengan penampilan Mei yang super berbeda malam ini. Dress ketat warna hitam dengan panjang selutut yang Zack belikan, memperlihatkan lekuk tubuh Mei yang jarang diekspos Mei. Pasalnya Mei selalu memakai pakaian yang longgar.
Ternyata dia cantik dan seksih, batin Zack.
Plak,
"Lihat apa kau?" Mei memukul wajah Zack. Mei tahu kemana mata Zack menatap.
"Sakit tau..." Zack mengelus pipinya.
"Makanya matanya jangan traveling!" seru Mei.
"Sopan sedikit kalau bicara, aku bosmu!" Zack membenahi rambutnya yang sedikit berantakan.
"Di luar kantor aku bebas berkata sesukaku!" jawab Mei.
"Okay okay..." Zack mengedipkan sebelah matanya.
Zack mengulurkan tangannya pada Mei. Mei justru menatap Zack dengan mimik wajah bingung.
"Kau sedang demam?" Mei menempelkan punggung tangannya ke dahi Zack.
"Tidak panas," ucap Mei setelah menempelkan punggung tangannya yang tadi menyentuh dahi Zack ke dinding.
"Sudah jangan bawel! Ikuti perintahku, gajimu langsung naik!" seru Zack.
"Awas saja kalau aku disuruh macam-macam!" sahut Mei.
"Nanti kau senyum saja, dan mesra denganku!" jawab Zack.
"Heh?" Mei terkejut.
"Clara itu pacar bayaran, aku bosan dengan dia! Jadi tugasmu bantu aku putus dengannya!" Zack langsung to the point.
"Baiklah...Demi pekerjaan dan gaji!" Mei bersemangat.
"Good..." ucap Zack.
Zack berjalan keluar apartemen Mei duluan. Karena tadi Mei menikah tangannya, jadi ia duluan saja. Mei menyadari sesuatu.
"Hey! Tunggu!" teriak Mei.
"Apa?" Zack berhenti tapi tidak menoleh.
"Aku bagaimana? Aku tidak bisa pakai high heels ini..." protes Mei.
"Hmm...Coba dulu berjalan ke sini!" Zack balik badan menghadap Mei.
Mei menelan ludahnya. High heels yang ia pakai tinggi. Seumur-umur Mei belum pernah memakai sepatu setinggi ini. Apalagi dengan pakaian yang ketat dan pendek.
__ADS_1
Mei menguatkan mentalnya, ia berjalan perlahan menghampiri Zack. Sangat sulit sekali, kaki Mei tidak bisa berjalan dengan seimbang. Mei terlihat seperti anak kecil yang berlatih berjalan. Hal itu membuat Zack menepuk dahinya. Zack melihat dari cela pintu kamar Mei yang belum tertutup sempurna. Ada almari kaca yang berisi sepatu.
"Sebentar, kalau pakai sepatu itu yang ada Clara langsung mengejekmu!" ucap Zack, ia masuk ke kamar Mei.
Zack mencari sepatu flat yang cocok untuk dress yang dipakai Mei. Rasanya akan aneh jika dress secantik itu disandangi dengan flat shoes. Tapi tak apalah, daripada malu.
"Ini dia...Tidak terlalu buruk," Zack menemukan sepatu yang lumayan cocok.
Gedubrak,
Tiba-tiba saja saat Zack akan keluar dari kamar Mei terdengar suara barang besar jatuh dari luar kamar. Zack bergegas berlari keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi.
"Hahahaha...." Zack tertawa kencang.
Di hadapannya sekarang, Mei jatuh bersujud dengan kepala masuk ke tong sampah yang ada di dapur.
"Gelapp!" seru Mei.
"Hahahaha..." Zack memegangi perutnya, Mei berdiri dengan tong sampah di kepalanya.
"Zack...Bantu aku heh!" protes Mei.
"Astaga, aku tertawa sampai menangis.." Zack menghampiri matanya.
"Huh dasar!" Protes Mei.
"Kenapa kau bisa nyangkut di sini? Sudah kubilang diam di tempat!" Zack melepaskan tong sampah dari kepala Mei.
"Aku haus tadi, aku jatuh dan langsung gelap semua!" jawab Mei.
"Aku bingung mau ketawa atau menangis hahaha..." Zack memegangi perutnya.
"Diamlah! Rambutku jadi rusak ini!" di rambut Mei ada kulit apel.
"10 menit? Aku bukan pesulap," Mei protes.
"Waktumu sudah berjalan dari sekarang!" Zack melihat jam di tangannya.
"Dasar Pak Bos cerewet!" Mei kembali ke kamarnya dengan cemberut.
Mei mencuci rambutnya dan mengeringkannya secara kilat. Zack langsung menariknya keluar apartemen saat Mei selesai dengan rambutnya. Mereka berdua dikejar waktu. Zack pun mengendarai mobilnya sepeti kesetanan. Mereka tiba di apartemen Clara hanya dalam 5 menit saja. Mei berasa terbang tadi. Sampai turun dari mobil pun, Mei masih linglung.
"Ayo cepat sedikit!" Zack menarik tangan Mei masuk ke lift.
"Sabar, kakiku masih gemetaran. Kau bawa mobil cepat sekali tadi. Aku merasa malaikat maut masih mengikuti kita," ucap Mei.
"Hmm," Zack melengos.
Mei mengekor di belakang Zack yang sudah hapal letak unit apartemen Clara. Zack pun tidak lagi menekan bel ataupun mengetuk pintu. Tapi langsung memasukkan kode keamanan dan membuka pintu itu dengan mudah.
"Welcome, baby!" nampak Clara menyambut Zack dengan gaun yang sangat seksi.
Mei jadi paham, maksud Zack menyuruh Mei berpakaian seperti ini pasti agar Mei tidak terlihat biasa saja di depan Clara. Clara menghambur ke arah Zack. Mei merasa jijik melihat Clara membusungkan dadanya dan berjalan melenggak-lenggok. Tiba-tiba tangan Mei ditarik dan,
Hap,
"Aku merindukanmu....Baby..." ucap Clara dengan manja. Clara menempelkan tubuhnya, memeluk dengan sangat erat.
"Sungguh?" seru Zack dari samping Clara.
Clara menoleh, Zack tersenyum mengejek di sampingnya. Bukan Zack yang ia peluk. Clara lantas mengendurkan pelukannya dan melihat wajah orang yang ia peluk.
"Kenapa kau memelukku? Ihh..." ternyata yang dipeluk Clara adalah Mei.
"Kau yang memelukku..." protes Mei.
__ADS_1
"Kenapa kau membawa sekretarismu ini, baby?" Clara menggandeng lengan Zack.
"Dia menemaniku," jawab Zack.
Zack mendudukkan bokongnya di sofa. Ada banyak botol minuman di meja hadapannya. Zack mengambil salah satu botol dan menuangkan sedikit ke dalam gelas.
"Tapi malam ini adalah malam kita," Clara duduk di pangkuan Zack.
"Sudah jangan banyak bicara, aku baru saja transfer uang bayaranmu minggu ini," Zack meletakkan ponselnya.
"Baiklah kalau begitu," Clara kegirangan mengecek ponselnya, sudah ada notifikasi dari m-banking rupanya.
Mei memutar bola matanya malas, setelah mendapat transferan Clara jadi semakin girang. Sekarang wanita itu justru asik berkutat dengan ponselnya. Sepersekian detik kemudian Clara menghampiri Zack lagi.
Cup,
Clara mengecup bibir Zack sekilas. Wajahnya terlihat bahagia sekali. Sementara Zack, ia terlihat biasa saja. Mei memalingkan wajahnya. Ia kesal kenapa Zack hanya diam saja dicium oleh wanita seperti itu.
Tapi ternyata Mei salah, Zack mengelap bibirnya yang disosor Clara. Zack mengelapnya beberapa kali. Clara cemberut, ia kesal ciuman darinya justru dilap oleh Zack.
"Kapan kita akan berkunjung ke rumah orang tuamu lagi?" tanya Clara bersemangat.
"Kemarin adalah yang terakhir. Aku tidak akan menggunakan jasanya lagi. Terima kasih sudah mau bekerja sama." ucap Zack.
"Ayo sayang kita pergi dari sini, urusanku sudah selesai!" lanjut Zack yang sudah menggandeng Mei.
"Tunggu tunggu! Jelaskan baby, kenapa kamu memberhentikanku? Apakah aku kurang baik?" Clara menahan Zack.
"Aku bosan denganmu, selain itu sekretarisku tidak kalah cantik darimu." jawab Zack singkat lalu ia menggandeng Mei keluar dari apartemen Clara.
Clara menghentak-hentakkan kakinya ke lantai karena kesal. Ia menatap tangan Zack yang menggandeng tangan Mei dengan erat.
"Ini gara-gara sekretaris baru itu..." gumam Clara.
Zack menggandeng tangan Mei sampai di depan mobil. Zack bahkan membukakan pintu mobil untuk Mei. Mei hanya diam saja. Mei masuk ke dalam mobil tanpa berbicara apapun. Benar-benar diam, berbeda dengan Mei yang sebenarnya.
"Sekarang aku antar pulang," Zack melajukan mobilnya.
Mei diam saja, tidak menjawab. Sepanjang perjalanan Mei hanya diam menunduk. Sampai mereka tiba di apartemen Mei, Mei masih tetap diam seperti itu. Zack tidak ambil pusing, yang terpenting Mei sudah sampai apartemen. Dan sekarang hubungannya dengan Clara si penggoda sudah selesai.
Zack membukakan pintu mobil untuk Mei. Mei turun tanpa berkata apapun. Zack menatap gadis itu dari depan mobil.
"Thanks untuk tadi," teriak Zack.
Tapi Mei masih tetap diam. Sampai Zack menyadari sesuatu. Gedung apartemen Mei jelas ada di hadapannya. Nampak Mei justru jalan terus.
"Mei tunggu! Kau mau kemana?" teriak Zack dari kejauhan.
Mei berhenti, ia menoleh ke belakang.
"Gedung apartemenmu ada di sini!" Zack menunjuk bangunan yang ada di hadapannya.
Sontak Mei langsung melotot, ia melihat sekelilingnya. Apa yang terjadi pada dirinya sekarang? Lantas Mei berlari balik arah. Ia berhenti sebentar di depan Zack lalu masuk ke dalam apartemen dengan kedua pipi yang merah.
"Setiap saat bertemu, selalu ada hal konyol yang gadis itu lakukan! Dasar!" Zack tertawa.
Mei sangat malu. Tadi ia ketahuan tidak bisa pakai high heels. Lalu jatuh ke dalam tong sampah. Dan sekarang, apartemen di depan mata tidak terlihat.
Lubang semut mana lubang semut?
Mei ingin sembunyi saja di dalamnya. Selalu saja ada hal konyol yang terjadi jika ia bersama Zack. Ditambah lagi tadi sikap Zack saat mereka ada di apartemen Clara. Mei tidak menyangka jika Zack menggunakannya untuk mengakhiri hubungan dengan Clara. Ya walaupun Clara hanya pacar sewaan.
Gara-gara dipanggil sayang, batin Mei.
..............
__ADS_1