
Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga semuanya sehat selalu ya!
.............
Silvi dan Reza baru saja turun dari mobil. Keduanya saling bergandengan tangan saat akan masuk ke mansion. Tepat di depan pintu utama, Silvi menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Reza sampai hampir terjatuh karena tangannya tiba-tiba ditarik ke belakang.
"Aduh, Silvi! Kalau mau berhenti bilang-bilang," keluh Reza.
"Aku deg-degan, kak!" ucap Silvi.
"Semua akan berjalan sesuai harapan kita, jangan khawatir!" Reza mencium tangan Silvi sekilas.
"Huft... Baiklah! Ayo kita hadapi!" Silvi masuk ke dalam mansion dengan semangat.
Keduanya masuk ke dalam mansion. Terdengar suara ramai orang mengobrol dari ruang tengah. Silvi mengajak Reza menuju ruang tengah. Benar saja, semua orang sedang berkumpul di sana. Davin bermain dengan Desmon yang digendong oleh Aryn. Sekarang semua pasang mata menatap Silvi dan Reza.
"Reza?" seru Katy.
"Hai, tante! Apa kabar?" sapa Reza.
"Kabar tante baik...Ya ampun, kamu kapan datang? Aduh, tambah ganteng aja nih!" Katy menghampiri Reza.
Katy mencium pipi kanan dan pipi kiri Reza layaknya pada putranya sendiri. Katy mengenal baik Reza, karena Reza cukup lama bersahabat dengan Dave. Saat Reza pindah ke Paris kemarin Katy juga merasa sedih. Akhirnya sekarang ia bisa bertemu Reza kembali.
"Semalam Reza sampai sini, tante!" jawab Reza.
Katy melirik tangan Reza yang menggandeng tangan Silvi. Lalu ia menatap wajah dua sejoli itu bergantian. Sekarang Katy mengerti, Silvi menjalin hubungan dengan Reza. Dan alasan putrinya cemberut beberapa hari ini pasti juga karena bertengkar dengan Reza. Katy tidak menyangka anak gadisnya sudah remaja sekarang, sudah mengenal cinta.
"Ayo duduk sini!" seru Erick.
Silvi dan Reza duduk di samping Erick. Dave memperhatikan kedua sejoli itu. Silvi sampai tidak berani melihat kakaknya, pandangannya hanya tertuju ke bawah.
"Kalian? Sudah ehem ehem..... ya?" tanya Aryn.
"Iya," jawab Reza.
Dave langsung menatap tajam Reza. Reza menunjukkan senyum terbaiknya. Dave beranjak dari duduknya, berjalan ke arah Reza dan Silvi. Lantas Reza dan Silvi langsung berdiri.
"Silvi, kam...." ucapan Dave langsung dipotong Silvi.
"Kak Dave harus percaya ya, Kak Reza sekarang sudah berubah. Dia bukan playboy lagi kak. Dia sangat mencintai Silvi. Dan satu hal lagi, Kak Reza bukan anak manja, kak! Dia sekarang memang menuruti kemauan orangtuanya untuk meneruskan perusahaan, karena Kak Reza kan anak satu-satunya. Tapi Kak Reza punya usaha lain, dia punyai caffe dan beberapa restoran yang dia kelola sendiri. Lagipula dulu Kak Reza lebih memilih untuk bekerja dengan kakak kan? Jadi sudah terbukti Kak Reza bukan anak manja. Kalau untuk masalah perasaan Kak Reza pada Kak Aryn, Silvi yakin... Sekarang hanya ada Silvi di hati Kak Reza! Kak Dave tolong jangan usir Kak Reza lagi, jangan pukul dia, jangan tembak dia!"
Silvi sudah berdiri di hadapan Reza, merentangkan tangannya untuk melindungi Reza. Bersiap menghalau serangan Dave.
"Kamu in kenapa, kakak mau ke sana! Davin memanggilku itu," ucap Dave.
"Dad...dada....dada!" seru Davin.
"Hah?" Silvi melongo.
Astaga! Padahal Silvi sudah sangat takut. Ternyata Dave hanya akan menghampiri Davin yang sedang bermain di belakang Reza dan Silvi.
Silvi menatap lekat Dave. Terakhir Dave ketemu dengan Reza, mereka bertengkar hebat. Tapi kenapa sekarang Dave bersikap biasa saja, seperti tidak ada masalah apapun di antara mereka. Atau jangan-jangan Dave sudah merestui mereka?
"Kak Dave?" ucap Silvi.
"Apa?" tanya Dave.
"Kakak tidak marah?" Silvi menghampiri Dave.
"Marah untuk apa?" tanya Dave.
__ADS_1
"Itu," Silvi menunjuk Reza.
"Aku sudah merestui kalian," jawab Dave singkat tapi mampu membuat Silvi mematung.
"Kak?" lirih Silvi.
"Apa lagi?" tanya Dave.
"Kakak serius?" Silvi berjalan mendekati kakaknya.
"Iya, jika adikku kecil ini bahagia maka aku akan bahagia juga!" jawab Dave.
"Terima kasih, kak!" Silvi memeluk erat Dave, kedua matanya sudah basah oleh air mata.
Semua orang terharu menatap pemandangan itu. Termasuk juga Reza. Reza mendekati Dave dan Silvi yang sedang berpelukan. Ia bermaksud untuk ikut memeluk.
"Mau apa lo!" seru Dave.
"Ikut berpelukan lah!" jawab Reza.
"Jangan macam-macam!" Dave melotot.
"Cih, masih rese aja lo!" Reza menjauh.
Silvi menghela napas panjang. Ia kira setelah Dave merestui, ia akan memperlakukan Reza seperti dulu lagi. Ternyata masih saja seenaknya sendiri. Ah sudahlah, kakaknya pasti tahu apa yang dia lakukan! Yang terpenting restu kakaknya sudah ia dapat. Kalau mama dan papanya sudah pasti merestui apalagi mami dan papi Reza. Jika sudah tiba waktu yang tepat, tinggal gas kawin!
"Silvi, terus itu si Mike bagaimana? Dia mulai PDKT gitu kan, sayang? Kamu udah jelasin sama dia? Atau langsung kamu tolak?" celetuk Katy.
"Sudah selesai urusannya, tante!" jawab Reza.
"Ohh, baguslah! Lagipula kamu lebih ganteng kok, Za!" Katy mengacungkan kedua jempolnya.
"Uncle Mon...ini obil acu...(Uncle Desmon, ini mobil aku)" celoteh Davin. Davin mulai bisa mengatakan beberapa kata-kata yang mudah.
"Wah, Davin sudah nggak sabar bermain bareng uncle, ya?" Aryn mentoel pipi gembul Davin.
"Yes, mommy!" jawab Davin.
"Nanti kalau uncle sudah besar, ya? Sekarang jangan dikasih mobil dulu! Uncle masih kecil," ucap Dave.
"Obilnya kan uda ecil, dad (Mobilnya kan juga kecil, dad)!" seru Davin membuat semua orang tertawa.
"Tetap tidak boleh!" Dave mengacak rambut Davin.
"Ok," jawab Davin.
Davin meletakkan mobil mainannya. Ia duduk dengan sambil melipat tangannya di depan dada. Davin memalingkan wajahnya, memasang wajah jutek pada Dave.
"Mirip parah denganmu Dave!" Erick tertawa kencang melihat cucunya ngambek.
"Benar itu pa, seperti pinang dibelah dua!" imbuh Katy.
"Tuh, Davin ngambek kan! Ayo sayang, tanggung jawab! Bujuk dia," Aryn mendorong pelan bahu Dave.
"Iya, sayang!" jawab Dave.
Dave mendekati putranya perlahan. Semakin Dave mendekat, Davin bertambah cuek. Bahkan Davin sekarang menggeser duduknya.
"Davin sayang..." ucap Dave.
"Hmm," jawab Davin.
__ADS_1
"Jangan marah ya, sayang?" ucap Dave.
"Hmm," jawab Davin singkat.
"Uncle Desmon kan masih kecil, bahaya kalau diberi mobil mainan kecil seperti ini!" lanjut Dave.
"Telcelah (Terserah)!" jawab Davin.
"Davin belajar dari mana kata-kata itu? Tidak boleh seperti itu kalau menjawab dady," ucap Dave dengan lembut.
Bukan hanya Dave, semua orang juga terkejut dengan cara ngambeknya Davin hari ini. Bahkan Davin menggunakan kosakata horor yaitu "Terserah".
"Dari mommy," jawab Davin.
"Hah? Mommy?" Aryn terkejut.
"Mommy uga cepelti itu (Mommy juga seperti itu)" jawab Davin.
"Pantas saja pakai kata terserah," Dave terkekeh.
"Sayang....." rengek Aryn.
"Makanya kalau kalian berdua sedang mengobrol atau bertengkar usahakan jangan sampai didengar Davin. Di usia Davin sekarang, dia hanya mencontoh apapun yang dikatakan dan dilakukan orang-orang di sekitarnya," seru Erick.
"Baik, pa" jawab Dave dan Aryn serempak.
Dave kini mencoba untuk membujuk Davin lagi, tapi Davin masih saja mengatakan kata terserah dan bersikap cuek. Di saat semua orang masih sibuk tertawa akan tingkah Davin. Reza menarik tangan Silvi dan membawanya ke dekat kolam.
"Ada apa, kak?" seru Silvi.
"Ingin mengobrol berdua denganmu," jawab Reza.
"Nanti kalau Kak Dave lihat, bisa-bisa dia cabut restunya loh!" Silvi melihat ke sekeliling untuk memastikan.
"Hmm baiklah," jawab Reza pasrah.
"By the way, kok kakak tadi nggak bilang kalau Kak Dave sudah merestui? Bagaimana bisa Kak Dave merestui, ceritakan kak!" seru Silvi.
Biar kejutan hahaha... Dia merestui karena aku menyakinkannya tentang perasaanku yang hanya untukmu. Om Erick dan Zack juga membantuku," jawab Reza.
"Tapi ingat loh, kak! Aku masih belum memaafkan Kak Reza sepenuhnya!" seru Silvi.
"Ah iya, aku ingat! Sekarang katakan syarat apa yang kamu katakan tadi? Aku sudah tidak tahan jika kamu belum memaafkanku," sahut Reza.
"Syaratnya adalah...."
"Apa?" Reza penasaran.
"Aku ingin melihat kakak dan Kak Dave makan bersama," Silvi terkekeh.
"Apa tidak ada yang lain?" seru Reza.
"Ya sudah kalau tidak mau," Silvi berlarian kembali ke ruang tengah.
"Tunggu, Silvi! Bisa kita bicarakan baik-baik dulu," Reza mengejar.
Permintaan yang sulit. Sebenarnya Reza dulu tidak ada masalah dengan Dave. Sampai Dave mengusirnya secara tidak hormat dan memperlakukannya seperti sampah. Kalau bukan karena ia mencintai Silvi, pasti Reza sudah melawan Dave sejak lama. Apa yang harus Reza lakukan sekarang? Dave juga masih memperlakukannya buruk. Reza mau-mau saja kalau hanya makan, tapi Dave?
..................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!
__ADS_1