
Ternyata rencana Zack dan Mei bukan hanya sekedar rencana. Baru sore tadi mereka selesai mengucap janji suci berdua. Dan sekarang adalah acara resepsi pernikahan mereka. Sebuah gedung di pusat kota sudah disulap menjadi tempat pernikahan mereka. Gedung itu terlihat sangat menawan dengan hiasan lampu super mewah di bagian atapnya.
Meja untuk tamu disusun rapi dipinggir. Hanya menyisakan sepetak kecil ruang kosong. Cahaya keunguan dari lampu hias dipadukan dengan lampu bersinar remang-renang di sudut gedung. Beberapa pohon hias juga menambah kesan kemewahan acara malam itu. Di semua meja tamu, sudah disiapkan jejeran minuman kelas atas.
Tidak ada pelaminan. Karena pada intinya acara resepsi ini lebih mengutamakan Zack dan Mei untuk berkumpul bersama keluarga dan teman untuk merayakan pernikahan mereka. Mei tampak cantik dengan gaun warna silver selutut. Ada rangkaian bunga cantik melingkar di kepalanya. Rambutnya dibiarkan terurai. Sementara Zack, pakaiannya terlihat elegan tapi mewah. Ia menggunakan jas yang dipadukan dengan celana selutut dan sepatu bermerek.
Para keluarga dan sahabat hadir dengan menggunakan pakaian berwarna serupa dengan pasangan suami istri baru itu. Hanya Edgar dan Zela yang tidak hadir. Karena Edgar sedang ada pekerjaan penting di Singapura yang tidak bisa diwakilkan.
"Selamat ya," Aryn memeluk erat sahabatnya itu.
"Terima kasih, Aryn!" sahut Mei.
"Kalian kelihatan bahagia banget," ucap Aryn.
"Sengaja ya biar digerebek terus dinikahin?" Dave terkekeh.
"Kak Dave kalau ngomong ih..." ucap Silvi.
"Bener banget!" seru Silvi dan Reza bersamaan.
Mereka semua tertawa.
"Hai para suami!" seru Glen.
Glen berjalan mendekati mereka semua. Di kedua tangannya masing-masing membawa segelas wine kualitas baik. Wajahnya sumringah menatap para suami.
"Apa kau?" seru Dave.
"Dimana gelas kalian?" Glen mengejek.
"Wait," Zack celingukan ke meja sebelahnya.
"Cari apa ha?" Mei berkacak pinggang.
"Wine," jawab Zack.
"Enak aja, tidak boleh!!!" Mei melotot.
"Rasakan...." seru Dave.
Para pria tertawa,
Sekarang Zack merasakan apa yang para pria rasakan di sana. Saat ini baik Katy, Aryn, Naina, Angel, Silvi bahkan Mei juga ikut berkacak pinggang sambil terus melotot pada suami mereka masing-masing.
"Angkat gelasmu, para suami!" Glen sombong.
"Tidak boleh minum, ya?" lanjut Glen.
"Sekretaris kurang ajar!" seru Reza.
"Mentang-mentang belum menikah!" seru Samuel.
"Pecat saja dia, Za!" Zack menambahi.
"Potong gaji!" seru Ken ikut-ikutan.
"Atau nikahkan saja dia, biar segera merasakan penderitaan kita!" Erick juga ikut menambahi.
"Ya, betul itu!" sahut yang lainnya.
"APA PENDERITAAN??" sahut para istri dengan kompak.
"Ah tidak tidak..." nyali para suami langsung ciut.
Glen langsung tertawa,
"Suami-suami takut istri," ucapnya.
__ADS_1
"Tertawalah sepuasmu! Paling-paling dua gelas langsung teler!" Zack meledek.
"Benar itu!" sahut para pria yang lain.
Acara berlangsung dengan sangat meriah. Apalagi saat game berlangsung. Semua pasangan yang hadir diminta untuk mengikuti game. Di bawah kaki masing-masing pasangan diletakkan kertas yang lebar. Peraturannya para pasangan harus berdansa dan setiap musik berhenti salah satu dari mereka melipat kertasnya. Jika salah satu dari mereka keluar dari kertas yang diinjak, maka pasangan itu didiskualifikasi. Begitu seterusnya sampai tersisa satu pasangan dengan lipatan kertas terkecil.
"Maaf sayang," ucap Erick.
Erick dan Katy tereliminasi. Diikuti Ken dan Samuel beserta istri mereka. Cavero dan Emmy juga tereliminasi ternyata. Tinggal Reza, Dave, dan Zack yang tersisa. Lipatan kertas mereka semakin kecil. Dan musik berhenti lagi, mereka harus melipat kertasnya lagi. Lantas musik dimainkan lagi. Mereka mulai berdansa lagi. Tapi karena kertas semakin kecil, ruang gerak mereka semakin dibatasi.
"Zack out!" sorak Samuel.
"Pengantinnya malah kalah!" imbuh Erick.
Di kehebohan acara itu papa dan mama Mei hanya tersenyum sambil melihat acara dansa di kursi mereka.
"Mertua lo pendiem banget," ucap Samuel.
"Masa?" sahut Zack.
"Dari tadi mereka tidak bergabung mengobrol dengan kita! Nggak mau gabung atau gimana? Lo ada masalah ya?" lirih Samuel.
"Bukannya mereka nggak mau gabung...Mereka nggak paham kita ngomong apa," Zack terkekeh.
Mereka berdua tertawa pelan,
Tersisa Dave dan Reza beserta istri mereka di panggung. Kedua pasangan itu berusaha agar tidak keluar dari lipatan kertas yang mereka injak. Sampai mereka hanya bergerak sedikit.
Musik berhenti lagi, saatnya mereka melipat kertas lagi. Kertas menjadi semakin kecil. Hanya akan muat untuk sepasang kaki. Lantas Dave, ia menggendong tubuh Aryn. Masalah Dave dan Aryn selesai. Mereka bisa berdansa lagi jika musik dinyalakan lagi. Reza dan Silvi saling menatap.
Hap,
Bukan Silvi yang digendong Reza, melainkan Silvi yang menggendong.
"Kak Reza ih!" protes Silvi.
"Hahahaha..." Reza tertawa cekikikan.
"Ah..Maaf sayang!" sedikit dari ujung sepatu Dave keluar dari kertas.
"Dave out!" sorak Samuel.
"Reza menang!" sorak Zack.
"Cih, dia menang karena Silvi! Dasar anak manja!" Dave tampak kesal.
Prok prok prok,
Semua orang bertepuk tangan memberikan penghargaan pada Reza dan Silvi yang telah memenangkan game kali ini. Acara dilanjutkan dengan hiburan. Musik kembali mengalun merdu. Semua tamu undangan menuju ke tengah gedung, mereka berdansa bersama. Beberapa dari mereka memilih untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan.
"Glen!!" Reza memanggil Glen.
Sejak menawarkan minuman tadi Glen tidak kelihatan lagi. Reza jadi penasaran ada di mana sekretarisnya itu.
"Mungkin sedang bersama Desmon dan Davin, kak!" ucap Silvi.
"Dia tadi kan mabuk, lagipula itu Desmon dan Davin ada bersama mama mereka!" Reza menunjuk Desmon dan Davin duduk bersama mama mereka.
"Nanti juga ketemu, kak!" sahut Silvi.
"Benar juga," Reza mengangguk.
"Aaaa..." Silvi hendak menyuapkan daging steak yang sudah ia potong-potong di piringnya.
"No!" Reza membungkam mulutnya.
Perut Reza rasanya langsung bergejolak saat melihat steak di hadapannya. Padahal Reza termasuk penggemar steak.
"Mual lagi ya, kak?" Silvi cemas.
__ADS_1
"Iya," jawab Reza lemas.
"Ya sudah, kakak mau makan apa biar Silvi yang ambilkan!" ucap Silvi.
"Pancake durian?" sahut Reza.
Silvi malah tertawa.
"Tidak ada menu berbahan durian di sini, kak!" jawab Silvi.
"Salad saja," ucap Reza lemas.
"Siap, suamiku!" Silvi langsung berdiri untuk mengambilkan semangkuk salad segar untuk Reza.
Reza menunggu Silvi dengan sabar.
"Ini dia!" Silvi meletakkan semangkuk salad di hadapan Reza.
"Terima kasih, sayangku!" Reza mengelus pucuk kepala Silvi.
Reza menatap salad di hadapannya. Sebenarnya ia tidak terlalu suka dengan salad tapi di antara semua menu, hanya salad yang tidak membuatnya ingin muntah.
"Ayo dimakan!" Silvi membuyarkan lamunan Reza.
"Dave dimana?" Reza malah menanyakan kakak iparnya.
"Tuh di meja seberang!" Silvi menunjuk.
"Kayaknya enak makan bersama Dave, sayang!" ucap Reza.
Silvi tertawa dengan keras.
"Aku nggak salah dengar? Biasanya juga kalian sering berdebat," sahut Silvi.
"Aku serius, sayang! Pengen makan bareng Dave," Reza menatap Silvi.
"Di sana penuh, suamiku tersayang! Makan sama aku saja ya," Silvi terkekeh.
Di meja Dave memang sudah penuh sesak. Apalagi ada Desmon dan Davin yang selalu rusuh.
"Baiklah, tapi suapin!" rengek Reza.
Silvi tertawa,
"Suamiku ini semakin manja," Silvi mencubit pipi Reza dengan gemas.
"Aaaa..." Silvi mengarahkan sendoknya ke mulut Reza.
"Nyamm..." Reza mengunyah makanan di mulutnya sambil terus tersenyum menatap Silvi.
Berbeda dengan Reza yang terganggu nafsu makannya karena mual. Justru Silvi semakin hari semakin suka makan. Rasanya perutnya tidak pernah kenyang akhir-akhir ini. Setelah menyuapi Reza sampai salad habis, Silvi menghabiskan steaknya. Tapi tidak cukup sampai di situ.
Silvi mengambil satu porsi steak lagi, sup jamur, semangkuk kentang goreng, chicken wings, ditambah lagi satu gelas penuh jus semangka. Reza sampai tidak berkedip melihat semua makanan yang diambil istrinya.
"Sayang..." lirih Reza, ia menutup hidungnya sedikit. Takut jika mual lagi.
"Iya?"
"Kamu yakin bisa menghabiskan semua ini?" tanya Reza.
"Yakinlah, kak! Aku kayak nggak pernah kenyang akhir-akhir ini, kak!"
Reza langsung tertawa,
"Serius! Rasanya mulutku ini tidak mau berhenti mengunyah!" lanjut Silvi.
Reza semakin tertawa dengan keras,
"Ya sudah, aku temani kamu makan!" Reza mengusap pucuk kepala Silvi.
__ADS_1
.................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!