
Tak terasa sudah 1 bulan Reza dan Silvi menempati rumah baru mereka. Hanya berdua, tanpa pembantu ataupun orang lain. Silvi membersihkan rumahnya sendiri. Ia bangun pagi, jalan pagi bersama Mira, membersihkan rumah, dan juga memasak untuk suaminya.
Seperti pagi ini, Silvi baru selesai mandi dan sekarang ia berkutat di dapur miliknya. Silvi akan membuatkan sarapan untuk Reza.
"Masak apa ya?" gumam Silvi, ia menatap isi kulkasnya cukup lama.
Silvi memang tidak pandai memasak. Jujur saja ia baru mulai memasak setelah menikah. Tapi suaminya, menerimanya apa adanya. Misalnya saja minggu lalu, Silvi memasak sup jamur. Walaupun rasanya tidak karuan, tapi Silvi terharu suaminya tetap memakannya sampai habis.
Pagi ini ia akan memanggang roti tawar dan membuat telur setengah matang saja. Menu sarapan paling simple. Kemungkinan gagalnya juga rendah. Tinggal memasukkan roti tawar dalam alat toast. Mesin akan mati jika roti sudah matang.
Silvi memulai acara memasaknya. Roti tawarnya sudah ia masukkan dalam mesin, tinggal tunggu matang saja. Sekarang ia mengambil teflon, ia taruh sedikit margarine. Lantas ia masukkan telur yang sudah ia pecahkan cangkangnya. Silvi taburkan sedikit garam dan lada.
"Tinggal diangkat," Silvi mengangkat telur yang kelihatannya kematangannya sudah pas itu.
Ia teruskan memasak satu telur lagi. Silvi sangat senang, dua telurnya bisa jadi tanpa cacat. Rotinya pun sudah matang. Sebagai pelengkap, Silvi memotong tomat dan daun selada. Semua komponen ia susun dalam piring yang lumayan besar. Roti panggang, telur setengah matang, selada, dan tomat dalam tumpukan. Silvi menyiapkan botol saus juga.
"Menu sarapan nanti gagal," Silvi terkekeh menatap hasil karyanya.
"Wah wah wah, masakan istriku terlihat menggugah selera!" seru Reza yang baru turun dari kamar.
"Good morning, sayang!" ucap Silvi.
"Good morning," Reza langsung duduk di meja makan. Ia manusia ingin mencoba masakan Silvi.
"Ayo dimakan, kak!" Silvi menatap Reza.
Panggilan 'Kak' sepertinya sudah melekat di lidah Silvi. Panggilan itu cukup lama digunakan. Tidak masalah, yang penting rasa cintanya masih sama hehehe.
Reza memotong sandwich itu perlahan, ia memasukkan sedikit potongannya ke dalam mulut. Ia tersenyum saat mengunyah makanan itu.
Telurnya asin banget, batin Reza.
"Bagaimana kak? Pasti enak kan?" tanya Silvi antusias.
"Enak kok," Reza mengembangkan senyum.
Ini dimakan pakai roti sama tomat dan selada saja rasanya asin banget, gimana kalau dimakan telur doang, batin Reza.
Reza menghabiskan makanan itu dengan lahap. Yang aneh bagi Reza adalah, telur itu memang asin. Tapi entah kenapa Reza suka saja dengan masakan buatan istrinya itu. Silvi menatapnya dengan senang. Akhirnya makanannya bisa berhasil.
"Ini tambah punyaku!" Silvi menyodorkan sandwich miliknya.
"Nggak usah, ini buat kamu!" Reza menolak.
"Aku bisa bikin lagi, aku memaksa! Jadi makan, kak!" seru Silvi.
"Baiklah!" Reza memakan bagian Silvi.
"Good morning!" Glen nyelonong masuk ke dalam dapur.
Baru saja Reza akan memasukkan sepotong sandwich dalam mulutnya dan Glen datang. Ibarat pepatah, pucuk dicinta ulam pun tiba. Reza rasanya ingin melihat Glen makan sandwich itu juga. Tidak tahu kenapa ia ingin lihat Glen makan.
"Kebetulan kau datang awal pagi ini, nih makan!" Reza langsung menyuapkan separuh sandwich ke dalam mulut Glen.
Glen mengunyah sandwich yang masuk dalam mulutnya. Lidahnya bisa merasakan rasa asin yang luar biasa.
"Bos, ini..." belum sempat Glen meneruskan mulutnya disumpal lagi dengan sandwich.
Ini pasti masakannya Bu Bos! Ah bos sukanya main aman, batin Glen.
"Iih kakak, kenapa dikasih Glen semua!" protes Silvi.
"Dia belum makan dari kemarin, ya kan Glen?" Reza melotot pada Glen.
"Iya, Bu Bos!" kedua mata Glen memerah.
Lantas Glen mengambil air dan minum banyak sekali. Entah berapa kilo garam yang dimasukkan Bu Bosnya itu.
__ADS_1
"Enak kan, Glen?" tanya Silvi.
"Aaa...." Glen langsung ciut saat ditatap Reza.
"Enak kok," ucap Glen.
"Besok datanglah lebih awal, aku bikinin lagi! Tapi telurnya extra!" seru Silvi senang.
"Hehehe, siap!" Glen menggaruk tengkuknya.
Tamat riwayatku, batin Glen.
Reza tersenyum puas melihat Glen memakan habis sandwich itu. Tiba-tiba ponselnya terasa bergetar.
Drrttt....drrt...
Silvi melihat Reza, tanpa Silvi mengatakan apapun atau bertanya apapun Reza paham. Silvi ingin tahu siapa yang menelpon suaminya itu.
"Aryn," ucap Reza.
"Tumben Kak Aryn telponnya ke ponsel kakak?" tanya Silvi.
"Mungkin ponselmu tidak bisa dihubungi?" jawab Reza.
Silvi mengambil ponselnya yang tergeletak di meja makan. Benar saja, ponselnya mati. Pantas saja Aryn menelpon Reza bukan dirinya.
"Angkat kak!" perintah Silvi.
Reza menggeser tombol hijau, ia mengaktifkan speaker agar Silvi juga bisa mendengar.
"Hallo, ada apa, Ryn?" sapa Reza.
"Hallo, ponsel Silvi tidak aktif jadi aku menelponmu,"
"Iya, ponsel Silvi mati. Ini aku sudah aktifkan load speaker, Silvi ada di dekatku. Apakah ada hal penting, di sana pasti masih tengah malam," sahut Reza.
"Bukan penting lagi, ini urgent! Aku mau menyampaikan undangan dari Zack untuk kalian berdua,"
"Lusa, Zack dan Mei akan menikah!"
"APAAA?????" seru Reza, Silvi, dan juga Glen.
"Pasti kaget, kan? Aku dan Dave juga kaget, cepatlah pulang nanti kita sidang mereka berdua!"
"Mendadak sekali!" seru Silvi.
"Silvi, apa kabar? Apakah anak manja itu merepotkanmu disana?"
Terdengar suara Dave ikut bergabung dalam telepon mereka. Reza yang biasanya kesal saat dipanggil 'anak manja'. Kali ini ia justru senang, apalagi bisa mendengar suara Dave.
"Justru Silvi yang merepotkan Kak Reza loh, kak! Jangan panggil suamiku dengan sebutan itu lagi, kak!" sahut Silvi.
"Kalau dia merepotkanmu, katakan padaku ya!"
"Dave...Dave kau apa kabar?" seru Reza tiba-tiba.
"Dave pergi, Za!"
Reza nampak kecewa karena Dave tidak mendengarnya dan langsung pergi. Padahal Reza ingin sekali mendengar suara Dave lagi. Sementara itu, Silvi dan Glen sama-sama bingung. Kenapa mendadak Reza jadi bersikap seperti itu pada Dave? Biasanya Reza sama cueknya dengan Dave. Mereka berdua jika bertemu lebih sering marah-marahan.
"Kalian cepat pulang, ya!" imbuh Aryn.
"Okay, kak!" sahut Silvi.
"Sudah dulu ya, aku tutup telponnya! Davin sama Desmon belum tidur dan buat ulah,"
"Titip peluk cium untuk mereka, kak! See you!"
__ADS_1
Tut,
"Glen pesan tiket pesawat!" ucap Reza.
"Tuan Edgar pernah mengeluh pada saya, bos! Jet pribadi bagus-bagus tidak pernah dipakai," sahut Glen.
"Jawab saja lebih enak membaur dengan orang lain, sudah sana pesan!" seru Reza.
"Tunggu, Glen!" Silvi menahan.
"Iya, Bu Bos?" tanya Glen.
"Sekalian pesankan snack untuk Mira, ya!" ucap Silvi.
"Itu saja?" Glen menyiapkan ponselnya untuk mencatat.
"Oh iya, mampir ke supermarket ya! Beli sabun mandi, pasta gigi, deterjen, pelembut pakaian, keju, susu bubuk cokelat, roti, tepung, air mineral, soda kalengan satu dus, yogurt, dan ice cream. Terus beli juga udang, daging, sama ayam yang frozen itu," Silvi seperti mengingat-ingat jika ada yang kurang.
"Udah itu aja, kalau bisa belinya banyak sekalian! Biar pas pulang semua ada stok," lanjut Silvi.
"Beli durian juga, Glen! Di toko asia ada," imbuh Reza.
"Bukannya kakak benci buah asia itu?" tanya Silvi.
"Nggak tau, lagi pengen sayang," Reza tersenyum.
"Uangnya, bos?" Glen menegadahkan tangannya.
"Pakai uangmu dulu lah!" sahut Silvi.
"Tapi..."
"Berangkat sekarang!" seru Reza.
"Siap!" Glen langsung bubar jalan.
"Nasib nasib...Punya dua bos kejam," gumam Glen.
Reza duduk di sofa depan televisi, Silvi menghambur di sampingnya. Ponsel Reza terdengar ramai, banyak pesan masuk. Ia membukanya dan membacanya sekilas. Samuel dan Ken lah pengirim pesan itu di grub. Mereka heboh dengan kabar pernikahan Zack dan Mei. Namun, Zack tidak muncul di grub. Hal itu membuat mereka semua jadi semakin penasaran.
"Apa jangan-jangan Kak Mei dihamili Kak Zack ya, kak?" Silvi penasaran.
"Zack memang brengsek, tapi tidak mungkin dia menghamili wanita seperti Mei, sayang!" sahut Reza.
"Iya juga ya, kak!" Silvi manggut-manggut.
Silvi bergelung manja di dada Reza. Kesukaannya adalah mencium aroma parfum Reza. Ia mulai membenamkan kepalanya di dada Reza. Reza tersenyum, mengelus pucuk kepala Silvi. Mereka bertahan dalam posisi nyaman itu. Silvi mengambil snack cemilan yang sengaja diletakkan di atas meja. Saat itu juga Reza mencium bau yang tidak enak. Secara reflek, ia menjauh dari Silvi.
"Kak?" Silvi terkejut.
Reza menekan hidungnya, ia hampir muntah. Silvi mencium sekitarnya, tubuhnya sendiri dan juga rambutnya. Semuanya wangi.
"Kakak kenapa?" tanya Silvi.
"Tidak apa-apa," jawab Reza.
Reza sudah bisa menenangkan dirinya. Ia mengambil napas dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Silvi mendekat, ia khawatir dengan keadaan Reza. Ia hendak memegang dahi Reza, mungkin Reza sedang sakit.
"Stop, sayang! Jangan mendekat jika kamu masih bawa makanan itu! Jauhkan toples makanan itu!" seru Reza.
"Hah? Jadi gara-gara snack ini kakak mau muntah?" Silvi bingung.
"Pokoknya jauhkan dariku!" sahut Reza.
"Okay okay," Silvi memindahkan semua makanan itu.
"Aneh, biasanya Kak Reza paling doyan makan semua ini, tapi kenapa sekarang cium baunya saja sudah mau muntah? Terus mendadak kangen Kak Dave, ditambah lagi pengen Durian. Aduh..Hari ini kakak benar-benar aneh," gumam Silvi.
__ADS_1
.....................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!