
"Kalian jawab dong pertanyaanku, kalian tetanggaan?" seru Mei.
Aryn, Dave, dan Silvi menoleh.
"Iya," jawab mereka kompak.
"Aduh pasti enak banget tetanggaan, rumahnya sebelahan..." seru Mei.
Aryn, Dave, dan Silvi hanya tersenyum simpul.
"Kamu udah sarapan belum?" tanya Dave pada Silvi.
"Belum," seru Mei.
Aryn tertawa.
"Yang ditanya aku, kak!" protes Silvi.
"Sama saja, intinya kan Dave mau mengajak sarapan kan? Kebetulan aku belum sarapan, dapet pesan dari Aryn aku langsung mandi dan meluncur ke sini," sahut Mei.
"Terserah kau saja!" Dave berjalan duluan ke meja makan.
"Kak aku udah sarapan tadi, aku mau nonton tv aja ya," ucap Silvi pada Aryn.
"Iya," jawab Aryn.
Aryn menyusul Dave dan Mei yang sudah duduk manis di meja makan. Mei tampak sumringah menatap makanan di hadapannya. Sementara Dave, wajahnya ditekuk. Tentu ia terusik karena kedatangan Mei di rumahnya.
Di ruang tengah, Silvi langsung menyalakan televisi. Ia sebenarnya tidak semata ingin menontonnya, Silvi hanya beralasan agar bisa mengirim pesan kepada suaminya mengenai apa yang terjadi tadi dengan tenang. Karena Silvi tidak ingin Dave atau Aryn tahu masalah teror ini.
"Kak di rumah baru saja ada yang menelpon berulang kali. Saat aku angkat tidak ada yang menjawab. Jendela dapur juga diketuk berkali-kali dari luar, kak. Sekarang aku di rumah Kak Dave,"
Silvi mengirim pesan itu pada Reza. Tidak berselang lama, suaminya langsung membalas pesan Silvi.
"Kamu jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Kamu tetap di sana, jangan ke rumah sebelum aku pulang. Love u !"
Balasan pesan dari Reza membuatnya jauh lebih tenang. Silvi percaya Reza akan melindungi dan menjaganya.
Kembali lagi ke meja makan,
Sarapan hampir selesai. Mereka bertiga menikmati sarapan tanpa bersuara. Hanya suara sendok yang bersentuhan dengan piring yang terdengar.
"Selesai! Kenyangnya..." Mei mengelus perutnya.
"Makan di sini nggak gratis," celetuk Dave.
"Biasanya juga gratis," sahut Mei.
"Sayang...." Aryn menatap Dave.
Dave menekuk wajahnya.
"Rumah sebelah kalian ada penghuninya enggak?" tanya Mei.
"Ada, Reza dan Silvi!" jawab Aryn.
"Itu kan sebelah barat kalian, yang sebelah timur?" lanjut Mei.
"Kayaknya masih kosong,"
"Aku pengen tinggal di daerah sini juga," seru Mei.
Uhuk uhuk....
Dave tersedak.
"Bagus itu, nanti bisa tetanggaan. Kawasan perumahan ini nyaman loh, strategis lagi. Dekat supermarket, fasilitas olahraga, taman... " berbeda dengan Dave, Aryn malah antusias.
"Kalau Zack sudah pulang dari kantor nanti aku mau ngomong soal rumah sebelah,"
"Nggak, nggak bisa! Kau tidak boleh pindah ke sini!" seru Dave.
"Dave kenapa sih?" Mei mencolek Aryn.
Aryn menatap suaminya itu.
"Sayang, jangan gitu ih!" ucapnya.
Dave diam tidak berkutik. Kalau istrinya sudah menatap dengan tatapan begitu, itu artinya ia harus diam. Ia akan mencegah hal ini lewat belakang saja. Ia akan membujuk Zack agar menolak keinginan Mei.
__ADS_1
+++++++++++
Reza duduk santai di meja kerjanya. Masih ada beberapa berkas yang harus ia periksa. Secangkir kopi menjadi teman kerjanya. Sedangkan Glen, ia tidak kembali ke meja kerjanya.
Glen mondar-mandir di dalam ruangan Reza. Ia sangat khawatir dan cemas. Reza sampai jengah mendengar suara tapak sepatu Glen yang berjalan bolak-balik.
"Glen diamlah!" seru Reza.
"Tidak bisa, bos! Saya khawatir," jawab Glen.
"Masalah teror?"
"Iya tentu, bos! Bos ini bagaimana bisa setenang ini? Padahal Nona Silvi juga mengabari mendapat teror lagi kan?" sahut Glen.
"Silvi aman, dia di rumah Dave sekarang. Aku melarangnya pulang sebelum aku datang." jawab Reza.
"Saya tidak bisa hidup tenang jika diteror begini, bos. Bernapaspun jadi tidak sesantai kemarin," ucap Glen.
"Awalnya saya berharap pada CCTV depan rumah bos, tapi ternyata sudah dirusak CCTV itu. Kalau di rumah saya boro-boro ada CCTV, rumahnya saja belum lunas..." lanjut Glen.
Reza menghela napas.
"Justru jika kau takut, teror ini tidak akan berhenti. Musuh sengaja meneror karena mental kita yang mereka serang terlebih dahulu. Mereka akan semakin menggila jika kita jadi lemah. Tenangkan dirimu, aku tahu apa yang harus kita lakukan! Semua akan baik-baik saja," ucapnya kemudian.
"Baik, bos!"
"Sekarang kerjakan tugasmu. Kita akan pulang awal," perintah Reza.
"Setiap hari juga kita pulang awal, bos!" Glen menyengir.
"Memang iya. Lihat saja nanti kalau Silvi sudah lahiran, aku akan pulang awal dan bermain dengan anakku di rumah. Sedangkan kau, kau akan menginap di kantor!" ucap Reza.
"Ah, Bos tidak adil!" Glen kembali ke mejanya dengan bibir yang mengerucut.
Reza tertawa jahat
+++++++++++
Tak jauh dari rumah Reza, ada sebuah mobil yang parkir di belakang mobil tetangga Reza. Entah sejak kapan mobil itu ada di sana. Yang pasti ada dua orang pria yang mengawasi dari dalam mobil.
"Lapor bos sekarang!" ucap salah satu dari pria itu.
"Istri Reza Albert pergi ke rumah Dave yang ada di sebelah rumah Reza. 10 menit kami menunggu dia tidak kembali, mungkin sebelum Reza Albert pulang dia juga tidak akan pulang, bos!" ucapnya.
"...................."
"Siap, bos!"
Tut,
Sambungan telepon diputus. Pria itu menatap temannya.
"Lanjut," ucapnya.
Mereka berdua bersiap, lalu turun dari mobil. Sepertinya sudah lama mereka memantau kawasan tempat tinggal Reza, mereka sudah hafal jam berapa tempat itu sepi, rumah mana saja yang kosong karena ditinggal kerja.
Mereka berjalan santai menuju rumah Reza.
Duk,
Kedua pria itu masuk dengan cara memanjat pagar depan. CCTV tidak menjadi penghalang mereka, karena memang sudah dirusak tempo hari.
"Ambil ini!" satu dari pria itu menyerahkan sebuah kantong ke pria yang lain.
Pria yang menerima kantong itu bergegas ke depan rumah Reza. Ia meletakkan begitu saja kantong itu di dekat tanaman hias. Lalu kedua pria itu keluar dari pagar rumah Reza dan melajukan mobilnya meninggalkan kawasan itu.
Kantong itu tergeletak di antara tanaman hias. Entah apa rencana kedua pria misterius itu. Sampai sore hari kantong itu masih di sana.
"Bye bye, Aryn....Silvi...." teriak Mei dari dalam mobil.
Aryn dan Mei berdiri di luar pagar rumah Dave. Aryn melambaikan tangannya melepas sahabatnya yang akan pulang ke apartemennya. Sedangkan Silvi hanya melambaikan tangan secara terpaksa.
Jangan tanya Dave ada dimana, dia hanya melihat dari pintu rumah. Akhirnya Mei si pembuat rusuh pulang juga.
"Ayo kalian cepatlah masuk," seru Dave.
"Baik..." jawab Aryn dan Silvi serempak.
Belum jauh kaki Aryn dan Silvi melangkah masuk ke rumah, terdengar seru mobil milik Glen. Hari ini Reza hanya ikut mobil Glen.
__ADS_1
"Reza sudah pulang, ya?" Aryn menatap Silvi.
"Iya, kak!"
Nampak Reza berjalan masuk ke rumah Dave.
"Aku pulang, Silvi!" ucap Reza.
Silvi tersenyum dan menghampiri Reza.
"Maaf Aryn jika Silvi merepotkanmu hari ini," ucap Reza.
"Tidak, kok. Aku malah senang jika Silvi sering di sini, kasihan dia kalau di rumah sendirian," jawab Aryn.
"Kami pulang dulu,"
Reza tersenyum pada Aryn dan Dave sambil menggandeng tangan Silvi.
"Bye, Kak Aryn....Sampai jumpa Kak Dave!" Silvi melambaikan tangan pada Dave dan Aryn.
Dave tersenyum, tapi hanya kapada Silvi. Aryn sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya yang masih saja tidak suka dengan adik iparnya.
"Bagaimana harimu?" tanya Reza.
Mereka masuk ke rumah mereka. Seperti biasa Glen mengekor di belakang mereka. Tidak ada yang menyadari ada kantong misterius di dekat tanaman hias depan rumah.
"Kakak tau sendiri, aku masih sedikit cemas mengenai teror tadi," Silvi bergelayutan manja di lengan Reza.
"Jangan cemas, ada aku! Aku akan menjaga kalian berdua," Reza mengusap perut Silvi yang sudah terlihat agak buncit.
"Iya," jawab Silvi.
Reza duduk di sofa ruang tengah. Tangannya mencari tempat televisi lalu menyalakannya. Silvi juga duduk di sebelah Reza. Ia membantu suaminya melepas jas yang digunakan. Di sofa yang berbeda, Glen duduk meluruskan otot. Ia enggan menatap pasangan itu, karena mereka mesra sekali.
Setelah mengobrol sebentar dengan Reza, tiba-tiba Silvi beranjak dari sofa.
"Mau kemana?" Reza menahan tangan Silvi.
"Siapin makan buat kakak,"
"Tidak usah, aku sudah beli makanan tadi. Biar disiapkan Glen," Reza menyuruh Silvi untuk duduk kembali.
Tanpa disuruh Glen langsung bangkit dari sofa. Namanya sudah dimention untuk menyiapkan makanan. Glen bergegas ke dapur, makanannya dibeli tadi sudah ia letakkan di atas meja makan. Tinggal mengambil peralatan makan, dan minuman.
Silvi kembali menikmati waktu mengobrolnya dengan Reza. Reza menceritakan pekerjaannya. Begitulah kebiasaan mereka. Mereka akan saling menceritakan hari yang mereka lalui. Obrolan seperti ini akan berlanjut sampai sebelum tidur nanti.
"Aku ganti baju sebentar ya," Reza merasa tidak nyaman menggunakan kemeja kantor.
"Nggak mandi dulu sekalian?"
"Nggak ah," Reza menyengir.
"Yaudah, biar airnya hemat!" jawab Silvi.
Reza tertawa.
"Aku akan mandi," Reza mengecup kening Silvi.
Silvi sekarang duduk sendirian di sofa ruang tengah. Ia asyik menonton serial di televisi. Akhir-akhir ini punggungnya cepat pegal, maklum kandungannya sudah memasuki minggu ke-18 jadi ia senderkan punggungnya ke sofa.
"Apa ini?" gumam Silvi.
Silvi merasakan ada sesuatu yang bergerak di punggungnya. Mungkin hanya bajunya yang tersingkap, pikirnya. Silvi menghiraukannya sampai baru beberapa detik kemudian dirinya merasakan hal yang sama.
"Astaga, beneran ada yang bergerak di dekat punggungku," lirih Silvi.
Ia beranjak dari sofa.
"Tidak ada apapun," ucap Silvi.
Karena penasaran, bantal sofa diambil Silvi satu per satu. Sebenarnya apa yang bergerak tadi. Hingga akhirnya...
"Aaaaa...." Silvi berteriak, ia berjalan mundur.
"Tolooonnnggg!!!! Kak Rezaaaa...Gleeennnnn....Tolooonnnggg!" teriaknya.
........................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!
__ADS_1