Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
FRANS


__ADS_3

Kabar baik sekaligus kabar buruk datang dari rumah sakit tempat Frans dirawat. Kabar baiknya Frans diizinkan untuk pulang dari rumah sakit sore ini juga. Kabar buruknya, dokter mengizinkan Frans pulang karena Frans memaksanya. Kondisi Frans masih lemah, jahitannya saja masih basah.


"Hati-hati," Sonya menuntun Frans masuk ke dalam mobil.


Dengan tertatih-tadi akhirnya Frans bisa duduk dengan nyaman di dalam mobil. Sonya mengelap keringat di dahinya, sejak tadi Ia khawatir dengan kondisi Frans. Mobil perlahan melaju meninggalkan rumah sakit. Mereka pulang ke mansion tanpa mengabari seorangpun, sesuai dengan kemauan Frans.


"Seharusnya kamu harus di rawat, baru juga kemarin pagi kamu sadar. Lihatlah, wajahmu pucat sekali!" ucap Sonya.


"Aku sudah baik-baik saja! Aku harus menemui Dave, banyak kesalahan yang sudah diperbuat! Aku juga harus menemui Myra!" jawab Frans.


"Okay okay," sahut Sonya.


Sebenarnya Sonya merasa prihatin dengan kondisi Frans. Pengorbanannya untuk Myra sangat besar, tapi adik tiri Frans itu sudah meninggal karena bunuh diri. Demi kesehatan Frans, sejak sebelum Frans sadar semua orang sudah membuat Sonya berjanji agar tidak mengatakan kebenaran kematian Myra dulu. Dan sekarang Frans malah memaksa untuk pulang. Sonya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi nanti.


Frans tertidur sepanjang perjalanan hingga mereka tiba di mansion. Frans terbangun tepat saat mobil berhenti. Ia langsung beranjak turun dari mobil. Sonya dengan sigap membantu Frans turun dari mobil dan masuk ke mansion.


Ting,


Dave keluar dari lift dengan menggendong Davin dan menggandeng Aryn. Mereka akan masak cemilan sore.


"Dave..." Aryn menghentikan langkahnya, tangannya mengayunkan tangan Dave agar melihat apa yang ia lihat.


"Ada apa, sayang?" Dave melihat ke arah yang sama.


Otot di rahang Dave menegang, kedua matanya melotot. Bahkan sekarang tangannya mencengkeram tangan Aryn.


"Bos!!" Frans berjalan mendekat dengan tertatih.


"Sayang tenangkan dirimu..." Aryn mengelus lengan Dave.


"Kau masih berani kemari rupanya?" seru Dave.


"Saya minta maaf," ucap Frans menunduk.


"Kau tahu kesalahanmu?" Dave berjalan mendekat.


Frans menjawab Dave dengan anggukan. Ia sendiri pasrah, jangankan Dave, Frans sendiri saja tidak bisa memaafkan kesalahannya.


"Putraku hampir saja tiada karena kesalahanmu. Apa salahnya? Dia tidak tahu apa-apa, dan teganya kalian menyeret anak kecil ini!" seru Dave.


Aryn mengambil alih Davin dari gendongan Dave. Aryn berjalan agak menjauh agar Davin tidak mendengar ucapan mereka. Ia hanya menatap Frans dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Sebagai seorang ibu, Aryn merasa sakit hati dengan perbuatan Frans. Silvi berlarian menghampiri Aryn, menenangkan kakak iparnya.


"Maaf, bos!"


Frans jatuh bersimpuh di lantai, tepat di hadapan kaki Dave. Ia tidak mempedulikan jahitannya yang masih basah. Sonya merasa khawatir, ia memaksa Frans untuk berdiri lagi. Tapi Frans malah menggibaskan tangannya.


Di waktu yang sama, Reza dan Silvi datang. Reza menjemput Silvi ke sekolah. Begitu mereka masuk ke dalam mansion, mereka berdua langsung disuguhi pemandangan Frans yang berlutut di hadapan Dave.


"Frans?" seru Reza.


Lantas Reza berjalan mendekati Frans, ia memaksa Frans berdiri tapi Frans juga menolak. Reza melihat kemeja hitam Frans basah di bagian perut. Dengan cepat Reza langsung membuka baju Frans.


"Lukamu berdarah, ayo berdirilah!" seru Reza.


"Biarkan saja, tuan! Saya pantas menerimanya, dan jika Tuan Dave mau menghukum saya, saya akan menerimanya!" jawab Frans lemah.

__ADS_1


Dave menoleh, ia bisa melihat perban di perut Frans menjadi berwarna merah. Dave menarik napas dalam, haruskah ia memaafkannya? Dave rasanya ingin menendang Frans sekarang juga, ia merasa muak dengan wajah Frans.


"Dave maafkan dia," ucap Reza.


"Hmm, mudah mengucapkannya tapi melakukannya? Itu sangat sulit, nyawa putraku yang dia permainkan!" sahut Dave.


"Saya mohon, bos! Saya tidak bisa hidup dalam rasa bersalah ini! Jika ada hukuman untuk menebus kesalahan, saya akan menerimanya apapun itu!" Frans meneteskan air matanya.


Wajah Frans terlihat semakin pucat. Pipinya basah oleh air mata, dari mimik wajah Frans terlihat jelas rasa sakit di perutnya yang ia abaikan sejak tadi.


"Franss..." Sonya tidak bisa membendung air matanya.


Sonya merasa sangat khawatir, keadaan Frans semakin lemah. Darah yang merembes pun semakin banyak.


Dave berjalan satu langkah lebih dekat dengan Frans. Frans mendongak. Tangan Dave merogoh sakunya. Frans sudah siap jika ini saatnya Dave menghukum dirinya. Reza bahkan sudah balik badan.


"Sayang..." tatapan Aryn memohon.


Pluk,


"Aku memaafkanmu, tapi mulai dari sekarang sampai 5 tahun ke depan jangan tunjukkan wajahmu di hadapanku. Aku tidak memecatmu tapi gantikan posisi Ken di anak perusahaanku di Singapura. Tunjukkan kerja kerasmu, dan juga bawa Sonya bersamamu menikahlah dengannya sebelum tinggal satu atap di sana!" Dave menjatuhkan kartu debit pada Frans.


Dave menggandeng Aryn, membawanya ke dapur. Masalah sudah selesai. Sekarang rencana mereka untuk masak bersama tidak boleh gagal. Sementara itu, Frans masih tertegun sambil menatap Sonya.


"Sekarang lebih baik kau kembali ke rumah sakit, istirahatlah beberapa hari baru kalian berangkat sesuai perintah Dave!" ucap Reza.


Reza merasa lega, Dave hanya menyuruh Frans untuk mengurus anak perusahaan. Setidaknya Frans tidak dibunuh di tempat.


"Sebelum itu, saya mau menemui Myra dulu tuan!" sahut Frans.


"Frans...Sebenarnya Myra..." ucap Sonya tercekat.


"Iya, Myra dimana? Apakah dia dikurung Bos Dave?" tanya Frans.


"Myra bunuh diri tepat di hari itu," lirih Sonya.


Hahahahaha...


"Kamu bercanda kan? Myra pasti dikurung bos!" Frans terkekeh.


"Itu kebenarannya, Frans!" seru Sonya.


Frans tertegun, lalu ia tertawa lagi dengan keras. Adiknya bunuh diri? Sepersekian detik kemudian Frans menangis meraung-raung. Apa yang akan ia katakan pada mamanya? Dia telah gagal menjaga amanah terakhir mamanya.


"Aku gagal...Mama pasti kecewa di atas sana! Aku bukan kakak yang baik...Dia bunuh diri...." Frans menangis.


Plak,


Reza menampar Frans, sampai Frans tersungkur di lantai. Reza merasa kesal dengan sikap Frans yang menyalahkan dirinya sendiri.


"Sadarlah! Jangan salahkan dirimu sendiri! Kau sudah berusaha yang terbaik untuk mendapat pengakuan sebagai kakak darinya! Kau sudah berbuat banyak. Jika dia bunuh diri, itu bukan salahmu. Itu semua sudah menjadi takdir dan jalan hidupnya. Yang berlalu biarlah berlalu, sekarang kau masih bisa menjalankan amanah ibumu. Kau masih bisa menjalankan tugas sebagai seorang kakak dengan mendoakannya! Pastikan dirimu pulih lalu kau kunjungi makamnya sebelum kalian berangkat tugas, doakan dia! Dan maafkan kesalahannya," seru Reza.


Akhirnya Frans tenang, Reza memanggil beberapa penjaga untuk membawa Frans ke mobil. Frans butuh perawatan medis. Reza menepuk bahu Sonya. Ia berpesan agar Sonya memperhatikan Frans. Frans sangat butuh dorongan dari orang terdekat sekarang.


Reza menatap kepergian mobil yang membawa Frans. Walaupun Frans itu menyebalkan dan penakut sama seperti Glen, tapi Frans sudah banyak berjasa dalam membantu urusan mereka. Apalagi Frans menjaga Silvi selama dirinya tidak ada bersama Silvi. Hari ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Frans, ada sedikit rasa sedih dalam hatinya.

__ADS_1


"Aku merasa senang dan sedih. Kak Frans tidak disiksa tapi ia dikirim jauh ke luar negeri," Silvi merangkul lengan Reza, ia sendiri juga sedih akan kepergian Frans.


"Semua ini yang terbaik. Aku paham bagaimana perasaan Dave. Dia hampir saja kehilangan putranya," sahut Reza.


"Iya, kak!" Silvi bergelayutan manja di lengan Reza.


Drrttt....drrttt......


Reza merogoh saku jaketnya, ia melihat layar ponselnya. Ada nama Glen di layar ponselnya.


"Glen," Reza memberitahu Silvi.


"Oh, baiklah!" jawab Silvi.


Reza menggeser tombol hijau, ia mengangkat telepon di depan Silvi.


"Apa?" seru Reza di telepon.


"........................."


Tapi sepertinya ia menyesal karena mengangkat telepon itu di situ. Glen mengatakan hal yang penting. Reza tidak ingin Silvi mengetahui masalahnya.


"Okay!" ucap Reza.


Tut,


Reza memutuskan sambungan teleponnya. Ia tersenyum menatap Silvi. Tapi Silvi, ia memasang wajah curiga pada Reza.


"Kak? Apa yang kakak bicarakan? Kenapa singkat sekali?" tanya Silvi.


Silvi belajar dari kesalahannya dalam beberapa hari ini. Tempo hari Reza menjalankan rencana yang besar untuk menangkap Myra sekaligus menyelamatkan Davin tanpa melibatkan dirinya. Reza selalu menyembunyikan masalah darinya. Jadi sekarang, Silvi merasa curiga. Bisa jadi ada masalah yang tidak ia ketahui sekarang.


"Begitulah percakapan bos dengan anak buahnya," jawab Reza santai.


"Benarkah? Kakak tidak menyembunyikan sesuatu, kan?" Silvi menatap tajam Reza.


"Tidak ada, kalau bicara panjang lebar Glen itu tidak akan paham!" ucap Reza.


"Ohhh..." seru Silvi.


"Ya sudah, aku pulang dulu ya?"


"Ini belum malam, kak! Kok pulang?" seru Silvi.


"Suasana hati kakakmu sedang tidak baik, jika aku berlama-lama di sini mungkin suasana akan menjadi semakin buruk. Aku akan mengantarmu ke sekolah besok, oke?" Reza mengelus pucuk kepala Silvi.


"Baiklah, siap komandan!" Silvi terkekeh.


Silvi melambaikan tangan sampai mobil Reza menghilang di balik gerbang.


"Ah iya! Aku lupa lagi! Aduh bagaimana sih? Aku harusnya bertanya apakah Kak Reza akan kembali ke Paris, jika iya aku kan harus tahu kapan Kak Reza akan pergi! Dengan begitu aku bisa merencanakan untuk mendaftar kuliah di sana.... Pokoknya besok aku harus tanya!" maki Silvi pada dirinya sendiri.


....................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!

__ADS_1


__ADS_2