Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
KUMPUL


__ADS_3

Hari demi hari berlalu tak terasa tiga bulan berlalu semenjak kepergian Reza ke Paris. Kehidupan mansion berjalan seperti semula walaupun tanpa kehadiran candaan dan kehebohan Reza dan Glen. Silvi memenuhi janjinya untuk belajar dengan tekun. Seminggu terakhir ini Silvi hanya keluar kamar jika lapar. Biasanya juga memang bergitu tapi kali ini alasannya karena ia belajar bukan bermain video game lagi. Ujian penentuan berlangsung sejak minggu lalu. Dan hari ini yang terakhir. Besok pagi hasilnya bisa diketahui.


Hari ini makanan Silvi di antar pelayan ke kamarnya. Jadi sejak pulang sekolah sampai malam ini Silvi sama sekali tidak keluar kamar. Mungkin Silvi sedang ingin beristirahat setelah berhari-hari berjuang menghadapi ujian. Dan besok adalah hari penentuan malam ini pasti Silvi juga ingin menenangkan diri sendiri di kamarnya. Padahal malam ini Dave dan yang lainnya sedang berkumpul di dekat kolam renang. Mereka merayakan keberhasilan proyek perusahaan Dave.


"Ayo tuang bro!" seru Samuel.


"Penuh?" tanya Zack.


"Pasti dong!" Samuel menatap Dave, seperti menyindir.


"Gua juga!" seru Ken.


Samuel dan Ken sama-sama menyiapkan gelas mereka, menunggu wine yang akan dituangkan Zack. Sementara Dave dan Erick, mereka berdua hanya bisa gigit jari. Mereka sebenarnya ingin meneguk minuman itu juga. Tapi apa daya, istri mereka mengawasi dari seberang kolam renang.


Di seberang kolam, Aryn dan Katy mengawasi suami masing-masing. Para istri itu melarang keras suami mereka menyentuh minuman beralkohol itu. Beruntung Samuel dan Ken tidak mengajak istri mereka. Mungkin jika mereka mengajak istri mereka, nasibnya akan sama.


Mei juga berada di sana, ia bermain bersama Davin dan Desmon. Di saat kumpul seperti ini jasa Ily tidak dibutuhkan untuk mengasuh Davin dan Desmon. Karena sudah ada Mei dan yang lainnya hehehe.


"Apin sedang apa sih? Serius banget!" tanya Mei.


"Uncle Emon lucu!" Davin tengkurap di hadapan Desmon yang sedang berlatih merangkak.


"Apin dulu juga latihan merangkak seperti itu..." ucap Mei.


"Benelan aunty? Kok Apin lupa?" tanya Davin.


"Soalnya Apin masih kecil jadi lupa..." jawab Mei sebisanya.


"Oma sudah besal tapi kenapa lupa?" Davin menatap Mei menunggu jawaban.


"Ya itu beda..." Mei bingung.


"Beda gimana aunty?" Davin menuntut jawaban.


"Aduh, aunty nggak tahu deh! Davin tanya mommy aja deh.." Mei menyerah.


Davin beranjak dari tempatnya, menghampiri Aryn. Mei bernapas lega, akhirnya Davin tidak bertanya lagi padanya. Ia duduk di dekat Desmon.


"Mommih mommih..." Davin menghampiri Aryn.


"Apa sayang?" jawab Aryn, pandangan matanya tetap fokus pada Dave.


"Apin mau tanya..." ucap Davin.


"Tanya sama oma aja ya, sayang! Mommy sedang sibuk memantau daddy," Aryn mengelus pucuk kepala Davin.


Davin mengangguk lantas ia menghampiri omanya. Sama seperti mommynya, oma fokus menatap ke seberang kolam renang.


"Oma oma..." seru Davin.


"Ada apa sayang, main sama Aunty Mei dulu ya... Oma sedang sibuk," ucap Katy to the point.


"Iihh kecel..." Davin menghentakkan kakinya ke lantai.


"Davin....Sssttt!" Aryn menempelkan telunjuknya di depan bibirnya.


Davin lantas menghampiri Mei dan Desmon lagi. Mommy dan Omanya sedang sibuk katanya.


"Awas aja kalau sampai minum," gumam Aryn.


Di seberang kolam, Erick melirik putranya. Ia merasa ketakutan karena dari seberang kolam, Katy menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


"Aku merinding, son!" bisik Erick.


"Sama, pa! Bulu kudukku berdiri semua...Mereka berdua menatap kita seperti ingin menguliti kita!" jawab Dave.


"Daripada kita celaka, tahan saja! Jangan sampai kita minum!" ucap Erick.


"Iya, pa! Sejak tadi aku menahannya ini.." Dave memegang tengkuknya.


Di atas penderitaan Dave dan Erick, ketiga sahabat Dave itu mengangkat gelas mereka ke udara tanpa rasa bersalah. Mereka bertiga malah sengaja mengejek Dave dan Erick.


"Cheers!" seru Samuel.


"Cheers!" sahut Zack dan Ken serempak.


Glek,


Dave dan Erick hanya bisa menelan ludah.


"Enaknya..." Samuel berekspresi sembari meraba lehernya.


"Segerrr..." Ken menambahi.


"Ada manis-manisnya..." Zack tidak mau kalah.


"Tahan, pa!" Dave mencengkeram lengan Erick.


"Sepertinya kau yang harus menahan....Lihat di sana!" Erick menggerakkan bola matanya ke arah seberang kolam renang.


Srek srek,


Aryn menggosokkan pantat panci yang ia bawa. Entah kapan ia mengambilnya tadi. Di samping Aryn, Katy juga membawa senjata. Katy membawa sebuah wajan. Hal itu membuat Dave dan Erick semakin ketar-ketir.


"Hah?" Erick bingung.


"Biar kita nggak lihat minuman itu, biar aman!" jawab Dave.


"Ah benar juga!" jawab Erick.


Akhirnya Erick dan Dave menutup mata mereka. Menurut mereka ini cara yang paling aman. Semua orang terkekeh melihat kelakuan bapak dan anak itu.


Pukul 12 malam,


Samuel, Zack, dan Ken menghabiskan banyak minuman. Sampai ketiganya meracau karena mabuk. Alhasil acara mereka bubar. Erick dan Dave bisa bernapas lega. Sekarang tinggal bagaimana mengantar tiga pria itu pulang.


"Mei, kau antar Zack pulang!" ucap Dave tiba-tiba.


"Loh kenapa? Bukanya Samuel dan Ken diantar anak buahmu, kenapa Zack tidak sekalian diantar?" sahut Mei.


"Apartemen Zack beda arah, sudah jangan banyak alasan!" Dave menatap Mei dengan tajam.


"Mau beda arah, beda kota, ataupun beda negara kalau kau tinggal suruh anak buah apa susahnya sih? Ribet banget!" Mei masih protes.


"Anak buahku, ya terserah lah!" sahut Dave.


Dave menggandeng Aryn, mengajaknya ke kamar. Lantas Aryn menggandeng Davin. Tapi tangan kecil Davin menolak untuk digandeng.


"Jangan pegang Apin!" seru Davin.


"Kenapa sayang?" Aryn berjongkok di depan Davin.


"Mommih hanya peduli dengan daddy!" Davin menyilangkan tangannya di depan dada.

__ADS_1


Aryn terdiam, ia ingat pasti Davin marah karena ia mengacuhkannya tadi.


"Kamu baru tahu, son? Mommy cintanya sama daddy," Dave malah menggoda, ia merangkul bahu Aryn.


"Daddyyy!!!" Davin mendorong Dave agar jauh dari mommynya.


"Kamu yang jauh-jauh dari mommy!" Dave menggeser Davin.


"Mommy milik Apin!" seru Davin.


"Kalian ini, minggir!" Aryn meninggalkan keduanya.


Dave dan Davin saling menatap. Sekarang malah Aryn yang ngambek meninggalkan mereka. Keduanya berlarian menyusul Aryn. Mereka masih sempat saja bertengkar di sepanjang menuju kamar.


Sementara Mei, ia menghampiri Zack dengan muka cemberut. Kalau ia tinggal kasihan juga pria tampan begini masa ditinggalin. Mei dengan susah payah memapah tubuh tinggi besar Zack. Tinggi besar tapi bukan genderuwo ya hehehe...


"Ayo!" seru Mei.


"Kemana?" tanya Zack.


"Pulang lah!" sahut Mei sadis.


"Naik apa?" tanya Zack saat mereka tiba di depan mobil.


"Itu di depanmu!" Mei kesal.


"Wow...Kau bisa mengemudikan pesawat? Hebatnya..." seru Zack histeris.


"Kau itu mabuk bukan buta! Ini mobil!" Mei membawa Zack masuk ke dalam mobil.


"Pasang sabuk pengamannya! Aku tidak mau jatuh ke laut, banyak hiu!" Zack meracau.


Mei melengos, ia masuk ke dalam mobil juga. Membantu Zack mengencangkan sabuk pengaman baru jalankan mobil menuju apartemen Zack. Sepanjang perjalanan Mei pusing sendiri. Zack terus meracau hal yang tidak-tidak.


"Kau kenal Mei?" tanya Zack membuat Mei hampir tersedak.


"Hmm," jawab Mei singkat.


"Mei sahabatnya Aryn itu loh, yang matanya sipit hidungnya lebar!" Zack memperjelas maksudnya.


"Itu aku!" Mei mencoba sabar menghadapi Zack.


"Ah jangan bohong! Mei tidak galak sepertimu..Dia juga lebih cantik!" sahut Zack.


Kedua pipi Mei langsung memerah. Apa yang baru saja dikatakan Zack membuat dirinya seperti terbang ke awan. Biasalah wanita paling suka dibilang cantik.


"Atau jangan-jangan kau kembarannya ya?" seru Zack.


"Hmm.." Mei tidak punya ide untuk menjawab.


"Astaga! Jadi aku harus pilih yang mana? Atau aku nikahi saja ya dua-duanya?" ucap Zack.


"Lebih baik kau diam," Mei menjejalkan snack ke mulut Zack. Kebetulan selalu ada cadangan makanan ringan di mobilnya.


"Mmm..mmmmm mmmm..." Zack masih mengoceh dengan mulutnya penuh snack.


Mei memijit pelipisnya, menghadapi Zack mode mabuk lebih sulit daripada menghadapi Zack mode normal.


............


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!

__ADS_1


__ADS_2