Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
GARA-GARA SAKIT


__ADS_3

"Kemana?" Zack gugup.


"Ke kamar mandilah! Emangnya kamu mau pipis di sini?" sahut Mei.


"Ya enggak, tapi...." Zack tidak tahu harus berbuat apa.


"Panggil perawat aja!" lanjut Zack.


Mei tidak menjawab sepatah katapun. Ia menekan bel yang ada di dinding dekat gantungan infus, bel itu untuk memanggil perawat yang berjaga.


Tidak perlu menunggu lama, seorang perawat mengetuk pintu. Mei membukakan pintu dan yang datang adalah perawat wanita.


"Apakah ada perawat pria yang berjaga hari ini?" seru Zack.


"Ada, tuan! Tapi hanya satu orang, itupun sedang mengantar salah satu pasien yang akan minta pindah rumah sakit," jawab perawat itu.


"Ya sudah, tidak jadi! Lanjutkan pekerjaanmu," Zack berkata tanpa menatap lawan bicaranya.


Mei menatap Zack, kedua tangannya berkacak pinggang. Zack tidak berani menatapnya.


"Aku akan menunggu Reza atau Samuel saja," ucap Zack.


"Reza sedang membantu Silvi membereskan pakaian ganti kita. Samuel, dia ke rumah si Mike karena disuruh Reza katanya. Kalau kau mau menahannya ya terserah," sahut Mei.


Zack terdiam, ia menimbang-nimbang keputusannya ini. Tidak ada orang yang bisa membantunya. Mei yang statusnya adalah istrinya dengan senang hati akan membantunya. Jika ia terima bantuannya, dia merasa malu. Kalau ka tolak, Mei pasti terluka. Lagipula Mei dan dirinya telah sepakat memulai hubungan ini. Mereka suami istri, tidak apa jika Mei membantunya dalam urusan pribadi ini.


"Ayo bantu aku!" Zack menatap Mei.


"Nah gitu dong dari tadi," Mei mendekati Zack.


Zack bangun dari posisinya dibantu oleh Mei. Mei mengganjal punggung Zack dengan beberapa bantal. Mereka istirahat sebentar karena Zack merasakan sakit di kedua lengannya. Baru kemudian Mei membantu Zack berdiri.


Kondisinya sulit, Mei tidak bisa memegangi lengan Zack. Padahal Zack masih lemah dan langkahnya terhuyung. Mei takut suaminya itu terjatuh. Jadi Mei rangkul saja pinggang Zack. Dengan begitu ia tidak akan membuat Zack merasa kesakitan.


Aku jadi deg-degan gini dekat dengan Mei, batin Zack.


Berada sedekat ini dengan Mei membuat jantung Zack bekerja lebih cepat dari biasanya. Dag dig dug, semoga saja Mei tidak mendengar suara detak jantungnya.


Aku deg-degan banget, batin Mei.


Mei juga merasakan hal yang sama. Perlahan tapi pasti keduanya tiba di kamar mandi. Mereka saling menatap sejenak, lalu akhirnya masuk ke kamar mandi. Susana menjadi canggung. Mereka berdua mendadak bingung apa yang akan mereka lakukan setelahnya.


"Kamu bisa keluar sekarang," Zack menengah keheningan.


Mei menatap Zack.


"Kamu bisa?" tanyanya.


"Bisalah!" jawab Zack.


Tangan kanannya bergerak perlahan hendak membuka ikat pinggang yang dikenakannya, detik itu juga Zack meringis kesakitan. Tadi Zack memang sudah diganti bajunya dengan baju rumah sakit oleh perawat. Tapi celananya tidak, pasti mereka canggung. Luka tembakan di kedua lengannya membuat Zack sulit menggerakkan tangannya. Jangankan membuka ikat pinggang, sekedar mengangkat tangan saja Zack tidak bisa.


"Katanya bisa?" Mei berkacak pinggang.


"Enggak," Zack kini menggeleng.


"Zack, kita sudah sepakat akan memulai hubungan ini dari awal. Sekarang saatnya, kamu sedang sakit. Biarkan aku merawatmu, ini adalah kewajibanku sebagai seorang istri." ucapan Mei membuat Zack tersentuh.


"Baiklah,"


Mei berjongkok di depan Zack, mulai membuka ikat pinggang Zack. Tapi entah kenapa tiba-tiba Zack menghentikan kegiatan Mei.

__ADS_1


"Hentikan, Mei!" seru Zack.


"Ada apa lagi sekarang?" tanya Mei.


"Jangan lakukan itu sambil berjongkok, please? Aku tidak bisa," kedua mata Zack tampak sayu.


Mei tidak tahu apa maksud Zack, dia iyakan saja permintaan Zack. Mei berdiri tidak berjongkok lagi. Perlahan ia buka ikat pinggang Zack, berikut membuka retsleting dan kancing. Untuk selanjutnya Mei menutup matanya, Zack memberikan komando.


"Stop turunkan sampai di situ saja," pekik Zack.


Mei berhenti.


"Terus apa?" tanya Mei.


"Bagian ini aku bisa melakukannya sendiri," jawab Zack.


"Baiklah,"


"Berbaliklah, menghadap ke dinding!" lanjut Zack.


"Hellooo...Aku sudah menutup mata,"


"Jangan memperpanjang perdebatan ini, aku tidak bisa menahan kencing terlalu lama, kalau aku mengompol kamu sendiri yang repot nanti," Zack mengomel.


"Baiklah baiklah,"


Mei berbalik menghadap ke dinding. Tidak hanya matanya yang tertutup, Mei berinisiatif menutup kedua telinganya. Suara di belakangnya mungkin akan membuatnya tidak bisa tidur. Tidak lama, mungkin hanya 1 menit, Zack selesai.


Giliran Mei melakukan tugasnya. Ia harus memakaikan kembali celana Zack luar dan dalam. Tangan Mei bergerak sangat hati-hati. Sepertinya kemalangan berpihak pada Mei, padahal sudah berhati-hati, tangannya tetap saja menyentuh sesuatu.


Tuing,


"Apa itu? Maaf ya, maaf...." ucap Mei kaku.


"Cepat selesaikan ini!" sahut Zack.


Zack mati-matian menahan gejolak di tubuhnya. Hanya sentuhan begitu bisa membuatnya panas dingin seperti ini. Padahal kalau mengingat masa lalu, ada banyak wanita yang melakukan hal lebih dari tadi. Reaksi Zack tidak seperti ini.


Berbeda dengan Zack, Mei malah menyimpan pikiran yang berbeda.


Harusnya aku mengintip sediki tadi, batin Mei.


Mei menuntun Zack kembali ke bed pasien. Mereka diam-diaman untuk beberapa saat. Hingga akhirnya saling berbicara lagi.


"Aku haus," mau bagaimana lagi, Zack tidak bisa melakukan apapun sendiri.


Ucapan Zack tidak dijawab Mei, ia langsung mengambilkan segelas air mineral yang sudah ada sedotan di dalamnya.


"Terima kasih," Zack meneguk habis tanpa bersisa.


"Air putih doang, doyan atau haus?" Mei meledek.


"Namanya juga haus," akhirnya suasana mencair kembali.


Rasa bosan melanda, buah di lemari es habis dimakan Mei. Kebanyakan diam membuat perutnya lapar. Zack hanya geleng-geleng melihat tingkah tak biasa Mei. Jangankan berbagi, menawari saja tidak. Buah itu lenyap ke dalam perut Mei semua.


"Doyan atau lapar?" giliran Zack meledek Mei.


"Tidak keduanya, aku hanya bosan!" jawab Mei judes.


Zack tertawa, "Ribetnya jadi perempuan," ucapnya.

__ADS_1


Mereka baru berhenti saling meledek saat Reza dan Silvi datang. Pasutri itu membawakan pakaian ganti, aneka makanan dan buah untuk Zack dan juga Mei. Beruntung sekali Zack mempunyai sahabat yang perhatian.


Reza dan Silvi hanya sebentar. Mereka mengantarkan keperluan serupa untuk Dave dan Aryn. Selain itu, perut Silvi yang sudah besar menjadi alasan utamanya. Silvi tidak boleh sampai terlalu lelah.


Dan untuk keadaan Dave, dua jam yang lalu Aryn datang ke ruang rawat Zack untuk mengabari jika Dave siuman. Mei sampai menangis memeluk Aryn karena turut merasa senang. Dave juga tinggal melewati masa pemulihan luka saja seperti Zack.


Tak terasa hari sudah berganti malam. Pukul 7, sedangkan Zack belum mandi. Kalau Mei, dia baru saja keluar dari kamar mandi. Kulit Zack terasa lengket dan kotor. Zack termasuk pria yang menjaga kebersihan, tidak pernah malas mandi.


"Aku ingin mandi!" seru Zack.


"Mana boleh mandi? Tanya bileh dilap saja, lukamu tidak boleh sampai terkena air," Mei barus selesai mengeringkan rambutnya.


"Ya sudah. Panggilkan perawat!" seru Zack.


"Untuk apa?" tanya Mei.


"Membantuku mengelap tubuhku," Zack menjawab dengan enteng.


"Kamu lupa tadi apa yang dikatakan Aryn? Di rumah sakit ini perawat pria hanya ada beberapa saja. Dave saja mengotot ingin dilap Aryn istrinya. Kenapa kamu selalu mengotot ingin diurusi perawat?" Mei mengomel, tidak lupa sambil berkacak pinggang.


"Kenapa memangnya? Perawat di sini cantik-cantik..." Zack mengererlingkan matanya.


"Aku adukan Mama Emmy baru tau rasa!" Mei mencubit perut Zack.


"Auw auw...Sakit Mei!"


Mei melepaskan Zack, ia menelpon perawat melalui telepon yang tersedia di meja sudut ruangan. Beberapa saat kemudian, perawat membawakan dua baskom yang besar beserta kain lap khusus di dalam sebuah troli. Mei menerimanya dan langsung menyentuh perawat itu pergi.


Mei mengisi kedua baskom itu dengan air hangat dari kamar mandi. Ia juga meletakkan sabun di sana. Baru ia bawa mendekat ke sisi bed Zack.


"Kamu mau apa!" saat ini Mei melepas kancing dari baju Zack.


"Badanmu lengket kan? Aku akan membersihkannya," jawab Mei.


"Tapi..."


"Aku ini istrimu, bukan? Biarkan aku melakukan tugasku untuk merawatmu," sergah Mei.


Lantas Zack menurut, ia diam saja saat Mei membuka pakaian bagaian atasnya. Selimutnya diturunkan ke bawah perut oleh Mei. Perlahan Mei mengelap dari wajah berurutan sampai ke perut Zack. Mei menahan napas saat mengelap perut sempurna milik Zack.


"Jangan ngiler!" Zack masih bercanda.


"Ihh," Mei kesal.


Mei melanjutkan tugasnya. Setelah bagian atas selesai, Mei pakaikan baju yang bersih untuk Zack, tidak lupa ia berikan lotion dan juga deodorant. Sekarang ia menyibak selimut dan membuka celana Zack, saat celana mulai turun detik itu juga Mei menurunkan selimutnya lagi. Mei membersihkan bagian bawah Zack hanya dengan asal mengelap saja. Mei sama sekali tidak melihat 'Itunya'.


Zack lagi-lagi harus mengontrol dirinya. Sejak tadi bahkan. Disentuh sedikit oleh Mei cukup membuat seluruh tubuhnya meremang.


Setelah selesai, Mei menyisir rambut Zack. Keringat Mei bercucuran, kegiatan membersihkan tubuh Zack memerlukan tenaga ekstra karena postur Zack yang mirip raksasa.


****! Padahal aku hanya mencium aroma keringatnya, batin Zack.


Tubuh Zack panas dingin karena wajah Mei sangat dekat dengan dirinya. Saat ini ia bisa melihat buliran kecil keringat yang menetes di leher putih Mei.


Sadar Zack!, batin Zack.


Zack bertarung dengan dirinya sendiri yang memikirkan hal kotor sekarang.


..................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!

__ADS_1


__ADS_2