Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
BERSAMA ZACK


__ADS_3

Apartemen Zack,


Mei baru saja sampai, ia memarkirkan mobilnya dengan terburu-buru. Karena asik mengobrol di rumah Aryn tadi Mei jadi lupa kalau hari ini Zack pulang lebih awal dari biasanya.


"Semoga dia belum pulang, bisa gawat kalau yang sampai rumah dia duluan..." gumam Mei.


Mei masuk ke dalam lift, saat di dalam lift saja ia sudah tidak sabaran. Begitu pintu terbuka, Mei langsung berlari ke unit apartemennya dan masuk.


Ceklek,


Mei membuka pintu menggunakan kartu akses. Alangkah terkejutnya Mei, bagian dalam masih gelap. Tidak ada tanda-tanda Zack sudah pulang.


"Untung dia belum pulang...Pakaian kotor belum kucuci, piring juga...Lantai pun masih berdebu, kalau dia lihat...Emmm..." Mei berjalan menuju saklar lampu sambil mendumel.


Klik,


Mei menyalakan semua lampu.


"Astaga!" Mei hampir terjengkang ke lantai.


Hahahaha....


Terdengar gelak tawa saat Mei hampir serangan jantung karena terkejut.


"Haii!!!" Zack duduk berleha-leha di sofa.


Ya, orang yang mengejutkan Mei adalah Zack. Zack sengaja duduk di sofa sudut ruang tamu tanpa bersuara dan tanpa menyalakan lampu.


"Aku aduin mama Emmy baru tau rasa," Mei mengelus dadanya yang masih bergemuruh.


"Aku hanya ingin memberi pelajaran untuk istri nakal." Zack terkekeh.


"Heleh,"


"Pakaian kotor belum dicuci, kamar seperti kapal pecah, piring kotor numpuk, lantai berselimut debu....Kamu yang bilang sendiri. Terus sudah dibilang aku pulang awal, eh sampai di apartemen tidak ada orang." Zack mengomel.


"Okay okay, aku salah. Maaf...." ucap Mei kesal.


"Hmm, baiklah. Dimaafkan. Ayo!" Zack menarik tangan Mei.


"Kemana?" Mei bingung.


"Kita kerjakan sama-sama," jawab Zack.


"Itu semua tugasku sebagai istri," Mei menyangkal.


"Siapa yang bilang? Ini tanggung jawab kita berdua," Zack menarik Mei ke dapur.


Zack mulai mengguyur piring, sendok, gelas, dan peralatan masak yang kotor menggunakan air kran. Mei sampai tidak berkedip melihatnya.


"Kamu lihat apa?" seru Zack.


"Eh, tidak kok!" Mei salah tingkah.


Peralatan makan dan peralatan masak yang telah dibersihkan oleh Zack, Mei masukkan satu per satu ke dalam mesin cuci piring dan memasukkan sabun ke tempat khusus. Setelah mesin dinyalakan, mereka hanya tinggal menunggu saja.


Tidak selesai di situ, Zack bergegas mengangkut keranjang pakaian kotor ke dapur. Mesin cuci mereka ada bersebelahan di dapur. Zack nampak cekatan memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin. Mei turut membantu.


"Sekarang kamu yang masukkan detergen dan pelembutnya, lalu nyalakan!" ucap Zack.


Mei melakukannya.


"Beres juga pakaian kotor!" seru Zack saat melihat mesin cuci mulai berputar.


"Aku kira kamu akan marah melihat apartemen berantakan," lirih Mei.


"Tidaklah, aku ikut andil dalam kerusuhan rumah ini. Karena aku juga tinggal di sini, kan! Lagipula aku menjadikanmu istri bukan untuk sekedar diam di rumah bersih-bersih rumah saja. Aku tau kamu juga butuh waktu berinteraksi dengan temanmu, kamu ke rumah Aryn kan tadi. Kemarin-kemarin juga apartemen ini selalu bersih dan rapi. Jadi tidak masalah," sahut Zack.


"Terima kasih," Mei salut dengan sikap Zack.

__ADS_1


Ternyata cerita Mama Emmy mengenai Zack benar adanya. Sekarang ini, Zack membuka lemari es dan mengeluarkan bungkusan udang frozen dan beberapa sayuran.


"Biar aku saja yang masak!" seru Mei.


"Aku tidak mau diare lagi, kamu bantu potong-potong sayur aja!" jawab Zack.


Mei tersenyum malu.


"Maaf, aku belum juga bisa memasak.." ucapnya.


Zack tersenyum, ia mengelus kepala Mei.


Deg,


Jantung Mei berdetak tidak karuan. Ia juga menjadi gugup.


"Cuci dan kupas wortelnya ya, lalu potong kotak-kotak," Zack memberikan instruksi.


"Okay!" jawab Mei.


"Wortel wortel..." Mei mengambilnya, Zack sudah mengeluarkannya dari lemari es tadi.


Mei melakukan apa yang di instruksikan oleh Zack. Ia bisa mengupas wortel dengan lancar tanpa halangan. Tapi, Mei kesulitan saat memotong. Tidak bisa memasak ditambah rasa gugup yang ia dapat karena dielus Zack membuat tangan Mei memotong wortel jadi tidak karuan. Tiba-tiba,


"Aauuww..." pekik Mei.


"Astaga!" Zack meraih tangan Mei.


Zack mengarahkan Mei ke wastafel, ia membersihkan luka Mei di bawah air mengalir. Baru Zack berlari mengambil plester luka untuk dibalutkan ke luka Mei.


"Hati-hati motongnya, masih sakit?" Zack menatap Mei.


Bukannya menjawab Mei malah senyum-senyum sendiri melihat Zack khawatir padanya.


"Malah senyum-senyum," Zack terkekeh karena tingkah Mei.


"Eh tidak.." Mei malu.


Zack ke kanan, Mei juga ikut ke kanan. Lalu Mei ke kiri Zack juga ikut ke kiri, sampai...


Duk,


"Aauuww!" Mei memegangi dahinya.


Kepala Mei bertubrukan dengan dada Zack.


"Maaf," ucap Zack.


Keduanya saling menatap dan terkunci dalam tatapan itu.


Deg deg...


Jantung keduanya berdetak tidak sesuai irama. Bergemuruh di rongga dada.


"*Kalau dilihat dari dekat Mei cantik juga...Hmm ada apa dengan jantungku ini, apa ada masalah ya dengan jantungku?" gumam Zack.


"Setiap dekat dengan Zack akhir-akhir ini detak jantungku nggak beraturan...Jangan jangan aku sudah...." gumam Mei*.


Cukup lama keduanya saling menatap, kepala Zack lama-lama menunduk ke arah Mei dan posisinya semakin miring.


"Aduh, kenapa kepala dia miring-miring gitu, sih? Apa mau nyium aku ya?" gumam Mei.


Mei memejamkan matanya karena Zack semakin mendekati wajahnya. Mei tidak kuasa melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.


Hampir setengah menit Mei menutup matanya, tapi belum terjadi apa-apa. Kira-kira apa yang dilakukan Zack? Akhirnya Mei membuka sedikit matanya.


"Ini dia garamnya," ucap Zack.


Mei membuka kedua matanya lebar-lebar. Wajah Zack memang berada sangat dekat dengannya. Tapi ternyata Zack sedang mengambil garam dari rak bumbu di belakang kepala Mei.

__ADS_1


"Cuma mau ngambil garam aja sampai dekat begini," lirih Mei, tak disangka Zack masih bisa mendengarnya.


"Emang kamu kira aku mau ngapain? Nyium kamu ya? Makanya tadi kamu merem..." Zack meledek.


"Eh..Kata siapa? Eng..Enggak kok!" Mei gugup.


Zack tertawa.


Mei balik badan, malu sekali dia. Ia cepat-cepat menuju tempat dia memotong wortel tadi. Tapi sepertinya kesialan sedang berpihak pada Mei.


"Motong pake pisau!" Zack terkekeh.


"Iya ini!" Mei mengangkat benda yang sedang digunakannya.


Zack tertawa.


Mei mengangkat sebelah alisnya, lalu ia lihat apa yang ia pakai.


"Sendok?" lirih Mei.


Zack semakin tertawa.


Mei meletakkan sendok itu dan mengambil pisau. Astaga, kesialan apa yang sedang menimpanya.


"Tambah malu kan jadinya..." gumam Mei.


++++++++++


Glen berada di dalam mobilnya. Ia merasa sangat cemas, semoga saja perintah yang diberikan bosnya tadi memang sungguhan. Glen merasa ragu saat akan melakukannya.


"Semuanya sudah siap, bos!" seseorang bicara di depan kaca mobil Glen yang sedikit di turunkan.


"Kalian sembunyi saja dulu, aku telpon Bos Reza sebentar," jawab Glen.


"Baik," jawab orang itu.


Glen mengambil ponselnya dan menghubungi Reza. Rasanya Glen memerlukan konfirmasi lagi dari bosnya itu.


"Apa?"


Terdengar sahutan judes dari seberang telepon.


"Bos semuanya sudah siap, apakah bos yakin akan melakukannya?"


"Lakukan saja! Sudah kubilang orangku memberikan laporan saat mengikuti dia, dia terlibat dalam teror ini,"


"Baiklah, bos!" jawab Glen.


Tut,


Sambungan telepon terputus.


Orang suruhan Reza tadi memberikan laporan ke kantor. Glen juga ada di sana. Orang itu ditugaskan Reza membuntuti Clara, karena Reza curiga dengan wanita itu. Ternyata saat dibuntuti Clara bertemu dengan adik tirinya. Dan adik tirinya itulah yang melakukan teror selama ini.


Dan sekarang ini Glen berada di kawasan apartemen Clara atas perintah Reza. Glen tidak tahu kenapa Clara yang mereka serang terlebih dahulu. Yang ia tau Reza pasti punya rencana besar.


"Lakukan!" ucap Glen kepada anak buahnya melalui telpon.


Saat itu juga orang Glen melakukan tugas mereka. Glen memantau dari jauh saja.


"Sekarang tinggal hitung mundur...3...2...1!" ucap Glen.


Aaaaaaaa.......


Terdengar teriakan dari gedung apartemen itu. Walaupun Glen hanya samar-samar mendengarnya, teriakan itu cukup membuat Glen yakin bagaimana kengerian di dalam sana.


"Nggak kebayang jika apartemen ku yang dimasuki ratusan kecoa, ya walaupun kecoa mainan tapi pasti kaget itu Clara..." lirih Glen.


Ya, Glen disuruh Reza untuk memasukkan kecoa mainan ke dalam apartemen Clara. Tidak hanya satu buah, tapi lima karung besar. Kebayang kan ngerinya....

__ADS_1


.......................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2