Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
SILVI MELAHIRKAN


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Silvi?" Reza tiba dengan napas ngos-ngosan.


"Dasar suami nggak berguna!" Dave langsung mencengkeram krah kemeja Reza.


Zack berlari mendekat, ia menahan tangan Dave.


"Nyebut, Dave! Nyebutt...." seru Zack.


Dave melepaskan krah kemeja Reza.


"Nyebut, Dave! Reza sudah perjalanan pulang tadi, cuma abis nganter Glen, ban mobilnya bocor. Baterai ponselnya habis juga. Inget, adik lo butuh suaminya sekarang!" Zack menepuk bahu Dave.


Reza tidak berkata apapun, semuanya telah dijelaskan Zack. Seharusnya dia tiba di rumah 1 jam yang lalu kalau ban mobilnya tidak bocor. Jujur saja saat ini Reza juga mengutuki dirinya yang tidak berguna sebagai suami.


"Masuk!!!" seru Dave dingin.


"Thanks," Reza berlarian masuk ke ruang persalinan.


Dibukanya pintu penyekat ruang persalinan itu, kedua mata Reza langsung fokus memandang istrinya yang bermandikan peluh.


"Honey..." lirih Silvi.


Perawat yang menemani Silvi menyingkir dari sisi Silvi, Reza berlari mendekat. Diciumnya pucuk kepala Silvi berkali-kali.


"Maafkan aku, maaf..." ucap Reza penuh rasa bersalah.


"Kamu baik-baik saja, kan? Aku khawatir tadi ponselmu tidak aktif," lirih Silvi.


"Aku baik-baik saja, ban mobilku bocor ponselku habis baterai. Maafkan aku, seharusnya aku bersamamu tadi,"


Silvi tersenyum.


"Sakit?" tanya Reza, ia mengelus perut Silvi.


Silvi mengangguk, ia meringis kesakitan kontraksi terasa lagi. Reza menghampiri perawat yang berdiri di sudut ruangan.


"Dimana dokternya?" tanya Reza.


"Dokter sedang mengecek pasien lain, tuan."


"Istriku sedang kesakitan begitu, kenapa dia malah mengecek pasien lain? Kalian tahu kan, wanita yang sedang berbaring di sana salah satu pemilik saham rumah sakit ini." seru Reza.


Rumah sakit ini rumah sakit milik keluarga Silvi yang dipimpin langsung oleh Erick papanya. Masing-masing dari Dave dan Silvi mempunyai saham di sini. Jadi Reza tidak sembarang mengatakan hal itu pada perawat.


"Saya paham tuan, dokter juga mengetahuinya. Tapi Nona Silvi saat ini baru pembukaan 2, masih butuh waktu untuk siap melakukan persalinan,"


Ah iya, istri kecilnya itu selalu mengotot untuk melakukan persalinan normal. Reza pernah membaca sebuah artikel, persalinan akan dilakukan jika pembukaan sudah lengkap. Artinya Silvi akan kesakitan dalam waktu yang lama. Dia menghampiri Silvi.


"Sayang...." panggilnya.


"Tidak honey, sudah beribu kali aku bilang aku akan melakukannya secara normal bukan?" Silvi sudah tahu apa yang akan dikatakan suaminya.


"Tapi sayang..."


"Honey, percayalah..." lirih Silvi.


"Baiklah..."


Orangtua Reza dan Silvi, Samuel, bahkan Ken juga datang. Kalau Zack dan Mei, mereka baru meninggalkan rumah sakit 5 menit yang lalu. Mei sedang hamil, tidak baik jika dia terlalu lelah apalagi ada 3 bayi yang dikandungnya. Ruangan jadi ramai. Sebagai pemilik rumah sakit, Erick sengaja mengosongkan ruang persalinan itu. Mereka semua memberikan semangat untuk Silvi.


Reza dengan setia duduk di kursi dekat dengan Silvi. Tangannya memijit punggung Silvi. Disaat kontraksi datang lagi Reza akan membiarkan tangannya dicengkeram oleh istrinya.


"Aaarrhhh..." keringat Silvi mengalir di keningnya.


Saat kontraksi Silvi mereda, Reza mengelap wajah istrinya. Ia juga memberikan air minum dan menyuapi Silvi buah, Silvi butuh tenaga ekstra.


"Satu lagi sayang," Reza menyuapi potongan apel terakhir.


waktu cepat berlalu, Silvi kesakitan tapi ia tidak mengeluh. Masih pembukaan 5. Dokter menyarankan Silvi untuk melakukan beberapa gerakan seperti menangging dan berjongkok. Dengan begitu proses pembukaan akan lebih cepat. Gerakan demi gerakan dilakukan Silvi dengan dibantu Reza tentunya.


"Kamu pasti bisa sayang!" Mama Katy menyemangati Silvi.


"Iya, sayang! Mama yakin jagoan kita ini pintar, dia tidak akan menyusahkan mamanya seperti dia dulu!" ucap Mama Zela sambil melirik Reza.

__ADS_1


"Memangnya Reza dulu lahir normal atau cesar?" tanya Mama Katy.


"Dia lahir normal, tapi ya gitu. Menyusahkan. Lama sekali pembukaannya, ternyata harus dibantu alat sedot karena tidak ada dorongan dari bayinya. Terus pas masih anak-anak, dia itu bandel. Jadwalnya tidur siang baru ditinggal 10 menit buat susu saja sudah masuk got belakang rumah anaknya. Hitam semua badannya, say! Dari rambut sampai ujung kaki, yang kelihatan cuma giginya. Abis dia aku mandiin 3 jam," cicit Mama Zela.


"Maa...." rengek Reza.


Silvi tertawa pelan.


"Mama serius, Silvi! Bandel banget suamimu ini, dari janin!" Mama Zela terkikik.


Meski merasakan sakit, Silvi masih bisa tertawa. Melihat tawa Silvi, Reza mengurungkan niatnya. Ia tidak jadi memprotes mamanya. Tidak apa dia digosipkan di hadapannya sendiri, tawa Silvi lebih dari cukup untuknya. Pukul 8 malam, kontraksi Silvi datang lebih sering. Silvi tidak sempat untuk beristirahat.


Napasnya mulai tersengal, karena sudah dari pagi ia merasakan sakit ini. Dokter mengecek jalan lahir, dan akhirnya mengatakan pembukaan lengkap. Segala persiapan dilakukan. Silvi diposisikan Litotomi, Reza diinstruksikan untuk berdiri di samping Silvi sambil memegangi paha Silvi. Seorang perawat juga melakukan hal yang sama di sisi Silvi yang lainnya. Selain Reza, anggota keluarga lain diinstruksikan untuk berada di luar ruang persalinan.


"Ikuti instruksi saya ya, nona! Kalau belum saya minta mengejan jangan mengejan dulu," ucap dokter.


Silvi mengangguk pelan. Wajah Reza terlihat sangat khawatir.


"Atur napasnya, nona..." dokter memberikan arahan.


"Kamu bisa sayang," Reza mengecup pelipis Silvi.


"Sekarang dorong!"


"Aaarrgghhhh!!!" Silvi mengejan dengan kuat.


"Aarrggghhh!!!" entah mengapa Reza juga turut mengejan.


Dokter tertawa.


"Bagus, nona! Sangat bagus.... Terus lanjutkan mengejannya Tuan Reza, sepertinya Nona Silvi akan tambah bersemangat karena ada yang membantunya," ucap Dokter.


Reza tersenyum kaku.


"Dorong lagi, nona!"


"Aarrggghhh!" teriak Silvi dan Reza bersamaan.


Sama seperti Silvi, Reza juga tampak mengatur napasnya dalam-dalam. Perawat yang berdiri di sana menahan tawa. Wajah Reza sampai merah semua karena ikut mengejan. Ditambah rambutnya yang berantakan karena dijambak Silvi, tapi anehnya Reza tidak merasakan sakit. Reza fokus menatap Silvi, ia biarkan saja rambutnya dijambak.


Reza sesekali melihat ke jalan keluarnya bayi. Sejurus kemudian ia lebih memilih melihat wajah Silvi, ia tidak tega jika melihat ke sana. Pasti rasanya sangat sakit.


"Bagus, nona! Atur napasnya.......Dan, dorong sekali lagi!"


"Aarrggghhh!!!" Silvi dan Reza mengejan bersama.


Reza melihat wajah Silvi, dan melihat sekilas jalan lahir anaknya. Ia menangis, air matanya mengalir deras.


"Ayo sekali lagi!"


"Aarrggghhh!" teriak Silvi dan Reza.


"Atur napas......Ayo dorong sekali lagi!"


"Aarrggghhh!!!"


"Bagus bagus....Sekali lagi!!!" seru dokter.


Silvi mengejan.


"Dari tadi sekali lagi terus, dok! Sudah berkali-kali kami mengejan!" protes Reza dengan derai air mata.


Dokter tertawa.


"Kali ini saya tidak bohong... Ayo dorong sekali lagi, kepala bayinya sudah terlihat." serunya.


"Aaarrhhh!!!" teriak Silvi dan Reza.


"Yeah...Ayo sayang papa dan mamamu sudah menunggu,"


Oooweee ooweeee,


Bayi mungil itu diletakkan di dada Silvi, ia menangis.

__ADS_1


"Anak kita, honey! Anak kita," Silvi terisak.


Semua rasa sakit yang ia rasakan seolah hilang begitu saja. Bahkan saat dokter melakukan beberapa jahitan di bawah sana, Silvi tidak merasakan apapun.


"Iya, sayang! Anak kita, bukan anak tetangga!" Reza menangis menciumi Silvi dan bayi mereka.


"Lihatlah, honey! Caranya menangis mirip denganmu," ucap Silvi.


Mereka tertawa sambil menangis bersama.


"Tangannya kecil sekali," Reza terisak.


"Baiklah, tuan nona...Izinkan perawat membersihkan dan mengecek putra kalian terlebih dahulu. Nona Silvi akan dipindahkan ke ruang perawatan, dan perawat akan mengantarkan putra kalian ke sana setelah pemeriksaan selesai." ucap Dokter.


Bayi Reza dan Silvi dibawa perawat ke ruang sebelah yang terhubung dengan ruang persalinan. Reza turut mendorong brankar Silvi keluar dari ruangan itu. Semua keluarga mereka menyambut di luar.


"Selamat ya, sayang!" Katy mencium kening Silvi.


Dave, Aryn, Samuel, dan yang lainnya juga mengucapkan selamat. Zack dan Mei juga sudah datang di sana. Tiba-tiba Reza menghambur ke arah mamanya.


"Mama..." Reza merangkul mamanya.


"Eh eh, ada apa ini tumben-tumben kamu memeluk mama sekencang ini," ucap Mama Zela.


"Maafin Reza kalau dulu Reza suka masuk ke got, bikin mama susah setiap hari. Mama pasti juga merasakan sakit yang sama dengan Silvi tadi..."


"Iya, sayang!" Mama Zela menepuk punggung Reza.


Mereka semua mengikuti brankar Silvi yang didorong menuju ruang perawatan. Dave, Samuel, Zack, Glen, dan Ken berjalan sejajar dengan Reza.


"Selamat ya, Za! Hari ini lo resmi jadi papa," seru Ken.


"Thanks," jawab Reza, kedua matanya sembab.


"Baru kali ini saya liat bos nangis sampai sembab," seloroh Glen.


Mereka tertawa.


"Sekarang lo udah jadi papa, awas aja kalau kejadian pagi tadi terulang!" Dave mengancam.


"Iya, kakak ipar!" jawab Reza sambil tersenyum.


"Sudah siap dengan tugas seorang papa, Za?" tanya Samuel.


"Siap, dong!" Reza menepuk dadanya bangga.


"Biarin aja, Sam! Dia belum cium bau popok soalnya!" seloroh Dave.


"Belum merasakan puasa 40 hari juga dia wkwkwkwk..." imbuh Ken.


"Puasa apa?" tanya Reza.


"Jangan kasih tau, jangan kasih tau!" seru Samuel.


Mereka tertawa.


"Puasa apa, Zack?" Reza menatap Zack, karena Zack juga diam saja.


Sepertinya ada bagian artikel kehamilan yang ia lewatkan.


"Nggak tau," Zack mengangkat bahunya, ia juga tidak tahu.


"Tong,"


"Jangan tanya saya, bos! Saya punya pacar saja belum, tanya sama suhunya saja," Glen angkat tangan.


"Besok juga tahu sendiri," Ken terkikik.


Dave dan yang lainnya tertawa.


...........


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!

__ADS_1


__ADS_2